Kabut di Rumah Sutra

Setiyarini
Chapter #11

Kepergian sang abdi tua

Dua bulan telah berlalu sejak aula bernuansa alam milik Mega resmi berdiri di bawah pengawasannya. Lanskap lahan seluas empat hektar di kaki Gunung Kamojang kini telah banyak berubah wajah.

Perubahan paling mencolok tampak di sektor barat. Kavling lahan seluas dua ribu meter persegi yang dulunya hanya berupa tanah kosong di dekat kompleks penginapan lama, kini telah berganti rupa. Di sana berdiri kokoh sebuah bangunan aula pertemuan panggung kayu etnik bernuansa alam—impian Mega yang akhirnya terwujud nyata. Bangunan itu berdiri anggun, siap menyambut para tamu instansi dan menjadi simbol baru kejayaan Rumah Sutra.

Seiring tuntasnya proyek bangunan aula baru tersebut, berbagai terobosan cemerlang dari Rahmadi pun ikut terwujud di setiap sudut Rumah Sutra. Galeri pameran yang dulu hanya memajang kain sutra premium dan pakaian jadi biasa, kini tampil jauh lebih segar. Di atas rak-rak kayu yang estetik, berjajar variasi produk baru di bawah kendali Mutiara; mulai dari batik sutra, setelan kebaya, kerudung, pasmina, hingga sarung bermotif tradisional Bugis-Sunda.

Tak kalah mencuri perhatian, sudut kuliner kini selalu diserbu pengunjung. Di sana tersaji jus murbei segar, teh murbei bubuk berbagai varian rasa: orisinal, aroma bunga melati, apel, daun mint dan daun jeruk, hingga aneka camilan kering hasil diversifikasi pertanian tumpang sari. Semua produk itu bersanding manis dengan gantungan kunci akrilik lucu berbentuk karakter ulat kecil bertuliskan “Rumah Sutra Putri Fajar”. Bahkan, program ekowisata pembuatan warna alami dan pengolahan limbah pupa ulat menjadi pakan kering berprotein tinggi untuk komunitas burung kicau pun sukses dijalankan.

Suatu pagi, sehabis memetik dan memilah daun murbei segar serta mengecek ketat kondisi kandang ulat harian, Rahmadi duduk termenung di atas bongkahan batu besar. Ia memandangi hamparan perkebunan murbei dan sayur yang menghijau royo-royo, lalu bangkit dengan mata yang berkaca-kaca menatap fasad Rumah Sutra Putri Fajar yang berdiri kokoh namun tetap membumi.

Dalam keheningan itu, pikirannya terbang kembali ke masa-masa saat ia pertama kali bergabung sebagai karyawan pertama di tempat rintisan ini. Rumah Sutra bukan sekadar tempat untuk bekerja. Tempat inilah yang telah menghidupinya, membimbingnya, hingga ia mampu menyokong ibunya yang seorang buruh tani dan sudah lama menjanda.

Dari keringat di kaki Gunung Kamojang ini pula, ia bisa membiayai sekolah adik-adiknya, termasuk kebutuhan ongkos, seragam, dan peralatan sekolah hingga mereka tumbuh menjadi remaja yang mandiri dan mapan, hingga akhirnya membangun keluarga kecil sendiri. Bahkan, Rahmadi berhasil mengantarkan kedua anak laki-lakinya mengenyam pendidikan sampai lulus dari jenjang perguruan tinggi. Sebuah pencapaian besar bagi Rahmadi yang hanya memegang ijazah Paket C.

Namun, ketenangannya perlahan terus terusik dalam tiga bulan terakhir. Sejak ayah mertuanya wafat, hampir setiap malam layar ponsel Rahmadi menyala. Di ujung telepon, suara sang istri dari Ciomas, Bogor, selalu terdengar penuh harap agar ia menyudahi pengabdiannya di Rumah Sutra Garut dan menetap di Bogor.

Industri kerajinan sepatu kulit milik mendiang mertuanya kini berada di ambang kehancuran. Semenjak kendali hulu ke hilir dipegang oleh sang kakak ipar yang serakah dan tak cakap dalam mengelola keuangan, perputaran uang usaha itu terus menipis drastis.

Berharap pada kedua anak lelaki Rahmadi pun terasa mustahil. Si sulung terikat kontrak kerja sebagai pegawai BUMN di Jakarta yang hanya bisa memantau sesekali dari jauh di sela-sela kesibukannya. Sedangkan si bungsu, seorang arkeolog muda yang tengah meniti karier, hampir tak pernah berada di rumah karena tugas ekskavasi sering membawanya keluar kota selama berbulan-bulan untuk menggali jejak masa lalu.

Istri, adik ipar, bahkan anak-anak Rahmadi sendiri terus mendesaknya agar ia pulang ke Bogor. Mereka semua menaruh keyakinan besar pada pundaknya. Logika mereka begitu sederhana; jika Rahmadi mampu membantu membesarkan usaha Rumah Sutra milik majikannya di Garut dari nol, ia pasti punya ketajaman kemampuan yang sama untuk menyelamatkan bisnis sepatu keluarga di Bogor dari kebangkrutan.

Sebelumnya, Rahmadi terus bergeming karena harga dirinya yang tinggi. Ia tidak pernah mau dicap sebagai benalu yang menumpang hidup pada harta warisan mertua. Itulah alasan mengapa selama puluhan tahun ia memilih membanting tulang secara mandiri di Garut, dan rela melakoni rutinitas melelahkan: pulang ke Bogor pada Jumat sore, lalu kembali bertolak ke kaki Gunung Kamojang pada Senin pagi dini hari. Namun kali ini, situasinya sudah darurat. Ini bukan lagi tentang gengsi atau mencari materi, melainkan takdir sebuah warisan keluarga yang terancam punah.

Maka, tepat setelah seluruh ide segar yang ia semai di Rumah Sutra berkembang dan berbuah manis, Rahmadi akhirnya membulatkan tekad. Pria sepuh itu membuat sebuah keputusan yang seketika menyentak ketenangan Fajar dan Putri. Hari itu juga ia memutuskan untuk berpamitan kepada dua orang yang selama ini telah berjasa membimbing, menghidupinya, dan sudah dianggapnya seperti kandung sendiri.

Langkah besar yang teramat berat itu harus ia ambil demi sebuah tanggung jawab baru yang besar di Ciomas, Bogor, tanpa diketahui pasti sampai kapan batas waktu ia akan kembali ke tempat pengabdian lamanya.

Sore harinya, suasana ruang tengah rumah induk terasa lengang, diselimuti keharuan yang menekan dada setiap orang di dalamnya. Sebuah koper tua milik Rahmadi telah diletakkan di teras depan, menunggu kedatangan mobil travel yang akan membawanya ke Ciomas, Bogor.

Fajar duduk di kursi rotan dengan tatapan mata berkaca-kaca, seolah menahan gelombang perasaan yang tak terbendung. Putri berdiri setia di sampingnya, jemarinya sibuk menyeka sudut mata yang basah dengan selembar tisu, namun air mata tetap jatuh tanpa bisa ditahan.

Mega berdiri di antara ayah dan ibunya, wajahnya diliputi mendung kesedihan yang tak mampu ia sembunyikan. Wanita itu hanya bisa menunduk, merasakan sesak yang kian menekan dada, seakan kepergian Rahmadi bukan sekadar perpisahan seorang abdi, melainkan hilangnya sosok pelindung yang selama ini menjaga keseimbangan Rumah Sutra.

Kemudian Rahmadi melangkah mendekat, lalu bersimpuh di hadapan dua pilar utama Rumah Sutra tersebut dengan takzim. “Kang Fajar, Teh Putri, Neng Mega, abdi mohon izin dan pamit untuk berangkat ke Bogor sore ini,” ucap Rahmadi, suaranya bergetar namun sarat ketulusan. “Terima kasih atas segala kebaikan, ilmu, dan bimbingan selama puluhan tahun di Rumah Sutra ini. Jika bukan karena kebaikan Kang Fajar dan Teh Putri yang dulu membina dan membiayai sekolah abdi, abdi tidak akan pernah menjadi manusia yang mengerti arti sebuah perjuangan seperti sekarang.”

Lihat selengkapnya