Kabut di Rumah Sutra

Setiyarini
Chapter #12

Gelembung ego yang membesar

Keesokan paginya, aktivitas di atas lahan seluas empat hektar di kaki Gunung Kamojang sudah berdenyut kembali sejak matahari baru saja menyembul di balik kabut. Di area perkebunan murbei, belasan pekerja yang mengenakan caping bambu tampak sibuk memilah dan memetik daun-daun murbei yang hijau dan segar.

Sementara di sela-sela jalur pembatas lahan, beberapa pekerja lain juga tak kalah sibuk memanen cabai, tomat, jeruk purut, singkong, hingga talas Garut dan aneka tanaman herbal untuk segera disetorkan ke pengepul pasar. Suara tawa renyah mereka sesekali terdengar di antara derit keranjang bambu yang perlahan penuh, menciptakan harmoni pagi yang begitu hidup.

Dari luar, Rumah Sutra Putri Fajar kini terlihat seperti sebuah ekosistem agrowisata dan pertanian yang sempurna serta harmonis. Keuntungan finansial meningkat pesat sejak proyek aula pertemuan panggung kayu etnik di sebelah barat itu selesai dibangun dan mulai ramai disewa. Aula baru itu hampir setiap akhir pekan selalu kebanjiran penyewa, mulai dari keperluan acara pernikahan, kumpul keluarga, acara kantor, ulang tahun, rapat instansi, hingga seminar kedinasan.

Tidak jauh dari sana, di dalam gedung pemeliharaan ulat yang suhunya terjaga hangat, beberapa pegawai dengan telaten membersihkan rak-rak anyaman. Mereka menaburkan potongan daun murbei segar di atas ribuan ulat sutra yang langsung menyambutnya dengan bunyi gemerisik yang ritmis.

Geliat kehidupan itu seketika menular ke gedung-gedung di sekitarnya. Di divisi penyortiran, jemari terampil para pekerja bergerak cepat memilah kokon-kokon putih murni, memisahkannya berdasarkan kualitas serat terbaik. Tak jauh dari sana, uap air mengepul hangat dari ruang perebusan kokon, tempat kepompong pilihan dilunakkan dengan suhu presisi agar jalinan serat alaminya siap terurai.

Suasana kian hidup saat memasuki ruang pemintalan benang, mesin-mesin pemintal berputar halus, menarik helaian serat sutra yang tipis dan lembut menjadi gulungan benang yang kuat dan berkilau. Puncaknya, riuh entakan alat tenun di divisi hilir kembali bergemuruh konstan, saling bersahutan menenun helaian benang tersebut menjadi lembaran kain sutra bermotif Kamojang serta motif khas Sunda berpadu khas Bugis yang indah. Seluruh lini produksi Rumah Sutra kini telah resmi kembali bernapas, bergerak serempak.

Sementara itu, di dalam bangunan kantor Rumah Sutra, para staf galeri mulai sibuk menata semua jenis produk sutra premium beragam model dan motif khas Bugis dan Sunda di atas rak pajang, memastikan setiap helai benangnya berkilau sempurna saat diterpa cahaya lampu ruang galeri.

Uang memang memiliki caranya tersendiri untuk mengubah atmosfer sebuah rumah. Di satu sisi, lembaran-lembaran rupiah yang mengalir deras ke rekening perusahaan berhasil menyulap galeri lama menjadi lebih estetik dan modern, hingga mampu menambah dua armada mesin pemintal otomatis, dan memperluas jaringan pasar hingga ke butik-butik besar di Jakarta serta beberapa kota besar lainnya.

Namun di sisi lain, tumpukan keuntungan itu bertindak seperti sekat dinding kaca yang tebal, yang membuat empat bersaudara di rumah itu bisa saling melihat, namun tidak lagi bisa saling mendengar dengan hati. Gelembung ego di bawah atap Rumah Sutra semakin hari kian menggebu, membesar, dan bersiap meletus hanya dengan satu tusukan jarum saja.

Apalagi pagi itu, sebuah kertas formulir kritik dan saran yang tergeletak di atas meja lobi kantor Rumah Sutra sukses membuat atmosfer di tempat usaha itu mendadak mendidih. Sepasang tamu suami-istri—sang suami merupakan warga lokal asal Bali dan istrinya merupakan warga negara asing asal Jerman—meninggalkan catatan komplain yang menohok tajam sebelum memutuskan check-out secara mendadak. Mereka memprotes fasilitas vila eksklusif Mega karena aliran air panasnya mendadak mati total di tengah dinginnya udara Kamojang.

Tidak hanya itu, sang istri bule juga mempertanyakan mengapa sprei kasur di penginapan tersebut tidak menggunakan bahan kain sutra jacquard berkualitas tinggi, tidak seperti yang disediakan oleh penginapan kompetitor di kawasan sekitar Kamojang. Hingga akhirnya mereka memutuskan pindah ke penginapan lain.

Membaca formulir komplain itu, Mega langsung naik darah. Ia merasa fasilitas vilanya dibanding-bandingkan dengan vila-vila yang ada di sekitaran Kamojang. Dadanya bergemuruh menahan malu sekaligus dongkol. Ia tentu ingin segera merombak dan memperbaiki fasilitas vilanya demi menjaga gengsi, namun niatnya lagi-lagi terbentur dinding tebal bernama anggaran.

Sisa dana pembangunan aula panggung miliknya kemarin sudah telanjur ditarik kembali ke kas pusat atas perintah sang ayah, dialihkan untuk membiayai kelancaran operasional di divisi lainnya. Setelah kepergian Rahmadi, ketiadaan dana taktis inilah yang memicu sumbu konflik baru saat mereka untuk menggelar rapat darurat di ruang rapat kantor pagi itu.

Sultan adalah orang pertama yang merasa dirinya paling berhak berdiri di tempat yang sangat tinggi. Sebagai anak sulung yang memegang divisi produksi tekstil dan konfeksi partai besar, ia merasa seluruh urat nadi keuangan usaha Rumah Sutra ada di bawah kendalinya.

Lihat selengkapnya