Di depan lobi kantor manajemen Rumah Sutra yang sekaligus berfungsi sebagai galeri pameran, Asep, sang sopir pribadi, telah bersiap menunggu majikan perempuannya, Aulia. Mesin mobil keluarga kecil Sultan menderu halus memecah keheningan di depan lobi. Sembari menanti, Asep menyempatkan diri mengelap sisa embun yang menempel di kaca depan menggunakan kain kanebo.
Beberapa detik kemudian, Aulia melangkah keluar dari arah lobi galeri. Langkah kakinya yang anggun mendadak terhenti di teras lobi ketika matanya menangkap sosok pekerja kebun paruh baya yang sedang mendorong gerobak sorong kosong ke arah area kebun. “Pak Jajang... Pak...!” panggil Aulia dengan nada memerintah, tanpa beban.
Pekerja itu tersentak, buru-buru menghentikan langkah dan meninggalkan gerobak sorongnya. Sambil menyeka keringat di dahi menggunakan ujung kaos oblongnya yang kusam dan lembap, ia berlari kecil menghampiri sang majikan. “Iya, Bu Lia? Ada yang bisa saya bantu?”
“Pak, nanti jam dua siang, Pak Jajang sama Tarsih tolong antarkan perlengkapan pribadi untuk anak-anak saya di asrama, ya. Tadi pagi, sih, saya sudah pesan ke Tarsih untuk bawakan jaket, selimut, sprei, sama beberapa makanan instan untuk mereka. Tarsih sudah bilang ke Pak Jajang, belum?” tanya Aulia ketus sembari membetulkan posisi tas mewahnya.
Pak Jajang menggaruk kepalanya yang tidak gatal dengan wajah polos. “Oh, tapi dari tadi pagi Tarsih enggak bilang apa-apa tuh ke saya, Bu Lia.”
“Apa?! Enggak bilang apa-apa?! Masa, sih?!” Suara Aulia seketika meninggi, emosinya tersulut. Tanpa memedulikan etika, ia berteriak lantang memanggil sang office girl tepat di depan pintu lobi, “Tarsih...! Tarsih...! Haduh... ke mana, sih, orang itu?!” Aulia berkecap lidah, menggerutu panjang-pendek.
Sementara itu, mendengar namanya diteriakkan berulang kali, Tarsih yang sedang standby di pantri segera melangkah terburu-buru. Ia keluar dari arah lobi dengan wajah tegang, menyiratkan ketakutan yang mendalam.
“Hapunten, Bu... ada apa ya, Bu Lia?” sahut Tarsih dengan suara gemetar. Kepalanya tertunduk dalam, sama sekali tidak berani menatap sorot mata menyala dari istri anak sulung pemilik Rumah Sutra itu.
“Kamu ngapain saja, sih?! Lama banget dipanggil!” seru Aulia ketus dengan nada tinggi. Baru saja Tarsih akan membuka mulut untuk menjelaskan, Aulia sudah menyela dengan cepat, “Tadi pagi saya pesan apa ke kamu, sih?! Kamu enggak sampaikan pesan saya ke Pak Jajang, ya, buat antar keperluan anak-anak saya di asrama nanti siang?!”
Tarsih mengatupkan kedua tangannya di depan dada, badannya sedikit membungkuk khidmat. “Hapunten, Bu, sebelumnya. Memang tadi pagi Ibu Lia berpesan ke saya untuk mengantarkan perlengkapan Den Candra dan Neng Citra di asrama. Tapi... tadi pagi Bu Lia pesannya ke saya untuk disampaikan ke Asep, bukan ke Pak Jajang,” jelas Tarsih sambil mengangkat wajahnya sedikit untuk menatap wajah sang majikan sebentar dengan suara pelan.
Mendengar penjelasan runut dari Tarsih, wajah Aulia seketika memerah padam. Malu yang mendadak mengggelayut di wajahnya segera ditepisnya dengan keangkuhan baru. Ia langsung berteriak memanggil sopirnya dengan suara lantang, “Asep... Asep...! mana si Asep?!”
Mendengar namanya dipanggil bagai alarm darurat, Asep berlari tergopoh-gopoh dari arah serambi belakang rumah induk sambil memeluk botol minum plastik yang penuh terisi air. “Muhun, Bu Lia, hapunten. Saya habis mengisi botol dulu, Bu, sekalian ke kamar kecil,” ucapnya dengan napas terengah-engah.
Sementara itu, Mutiara yang hendak melangkah keluar dari pintu lobi menahan langkahnya. Ia berdiri mematung di balik kaca lobi yang besar. Sejak awal, ia memperhatikan gerak-gerik kakak iparnya yang sedang mengumbar amarah sepihak kepada para pekerja kecil di Rumah Sutra. Mutiara menggelengkan kepala dengan dada yang kian sesak melihat keangkuhan yang ditebarkan oleh istri kakak sulungnya itu.