Kabut di Rumah Sutra

Setiyarini
Chapter #4

Benang-benang ambisi yang berbeda

Sore itu, kabut tipis mulai turun menyelimuti hamparan perkebunan di Rumah Sutra Putri Fajar, menyisakan butiran embun di ujung-ujung daun di kaki Gunung Kamojang. Fajar, yang kini rambutnya telah memutih, tengah berdiri di serambi samping rumah induk sambil memandang ke arah perkebunan dengan tatapan mata yang dalam. Tangan kanannya bertumpu kokoh pada sebuah tongkat kayu berkepala ukiran ulat sutra, sementara jemari tangan kirinya perlahan memainkan sebutir kokon ulat sutra berwarna putih bersih di dalam saku beskapnya—sebuah kepompong berserat halus namun teramat kuat.

Dari balik jendela ruang tengah, terdengar suara tawa yang berbaur dengan perdebatan kecil yang bergaung dari dalam ruangan. Keempat anaknya—Sultan, Mega, Mutiara, dan Satria—serta dua menantunya—Aulia, istri Sultan yang selalu tampil modis, dan Arifin, suami Mega yang memiliki tatapan tajam—sedang berkumpul di meja makan besar kayu trembesi untuk menikmati teh dan camilan sore.

Di atas meja berlapis kaca bening tebal itu, enam cangkir enamel bermotif bunga mengepulkan asap tipis, berisi teh murbei beraroma melati. Wanginya berpadu serasi dengan bolu Koja panggang khas Garut buatan sang Ibu yang masih hangat, bersanding dengan piring enamel berisi singkong goreng merekah—olahan Mutiara yang baru saja ia hidangkan dari dapur sebelum ikut bergabung duduk di meja makan.

Dari balik kaca jendela serambi, Fajar memandangi anak-anaknya yang kini telah tumbuh dewasa dan memiliki keluarga kecil sendiri. Tatapan itu perlahan melempar pikirannya jauh ke masa lalu—kembali ke masa-masa awal pernikahannya dengan Putri yang penuh dengan perjuangan emosional.

Namun, waktu terus berlari begitu cepat. Keempat anak Fajar dan Putri yang dulu tangannya sering belepotan getah murbei dan langsung ikut menyortir kokon di bawah pengawasan Rahmadi, kini telah bertransformasi menjadi sosok-sosok dewasa yang matang. Sang sulung yang sudah berkepala empat kian mapan dengan perannya, sementara si bungsu yang baru menginjak usia seperempat abad mulai mantap bergabung membantu memajukan bisnis keluarga.

Seiring bertambahnya usia, fisik Fajar dan Putri perlahan digerogoti waktu, meski sang istri masih tampak lebih bugar dibanding suaminya. Dua pilar Rumah Sutra itu pun mulai memercayakan tongkat estafet pengelolaan usaha kepada keempat anaknya untuk dikelola bersama-sama.

Pada rapat bisnis keluarga yang pernah digelar secara sakral di ruang rapat rumah induk sekitar empat bulan yang lalu, di bawah kesepakatan bersama, Fajar dan Putri membagi divisi-divisi di Rumah Sutra tersebut berdasarkan keahlian dan minat anak-anaknya. Divisi hulu dan hilir tekstil dipercayakan kepada Sultan, anak pertama mereka. Divisi wisata penginapan—yang membawahi operasional dua unit vila panggung kayu lama, kafe dan resto, serta galeri pameran di rumah induk—diserahkan kepada Mega.

Sementara itu, divisi eduwisata kunjungan dan agrowisata dipercayakan kepada Mutiara. Terakhir, menyesuaikan dengan kemajuan teknologi informasi yang kian pesat, dibentuklah divisi media sosial yang dilengkapi studio editing lengkap di bawah pantauan si bungsu yang jebolan jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) untuk menyokong konten kreatif Rumah Sutra Putri Fajar.

Fajar yang berdiri di serambi samping rumah induk menghela napas panjang sambil bertumpu pada tongkat kayu miliknya. Senyumnya tersungging samar. Ada rasa bangga yang membuncah ketika melihat garis keturunannya tumbuh sehat, namun di saat yang sama, ada kecemasan kelam yang menyelinap perlahan ke dalam hatinya.

Fajar tahu betul, sutra yang paling indah hanya bisa lahir jika kepompongnya direbus di dalam air mendidih, membiarkan serat-serat ego terurai secara paksa tanpa memutus benang intinya. Dan kini, ia merasakan bahwa rumah yang ia bangun dengan tetesan keringat dari akar Sengkang ini, perlahan mulai mendekati tungku api panas itu.

Tak lama kemudian, datanglah sang istri dari arah serambi belakang. Ia membawa nampan berisi teko isi ulang teh murbei panas, empat potong bolu Koja panggang tambahan, serta sepiring singkong rebus yang masih mengepulkan asap hangat khusus untuk suami tercintanya.

“Diminum dulu teh murbeinya, Yah, mumpung masih hangat. Nah, ini Bunda bawakan singkong rebus. Sengaja tidak digoreng seperti punya anak-anak di dalam, biar aman untuk tensi dan kolesterol Ayah. Singkongnya pulen lho, Yah,” seru Putri lembut sembari menatap suaminya dengan penuh perhatian.

Fajar menoleh kembali ke balik jendela, menatap anak-anaknya yang sedang berkumpul di ruang tengah. Dengan nada suara yang mendadak berat, ia berbisik, “Aku mengkhawatirkan mereka, Bun, jika suatu hari nanti kita sudah tidak ada lagi di dunia ini.” Putri menatap suaminya dengan dahi sedikit berkerut.

“Kenapa Ayah tiba-tiba cemas begitu?” tanyanya bingung. Sambil memegang lengan Fajar dan menuntunnya duduk di kursi bambu serambi, ia melanjutkan, “Ayah selalu saja berpikir terlalu dalam. Kebiasaan itu yang buat tensi Ayah sering naik.”

Lihat selengkapnya