Malam minggu di sektor selatan kaki Gunung Kamojang tidak lagi membawa kedamaian. Di dalam kamar tidur utama rumah panggung modern milik Sultan, atmosfer terasa begitu pengap oleh ego yang terluka. Aulia duduk di tepi ranjang dengan wajah memerah padam, menyeka air mata tiruannya menggunakan selembar tisu. Di hadapannya, Sultan baru saja mengambil sarung dari lemari.
“Gara-gara adik kamu, Mas, teman-temanku jadi menjauhiku!” adu Aulia dengan suara yang bergetar menahan dongkol dan malu. “Mereka semua mengira aku ini pembohong yang mengaku-ngaku sebagai nyonya besar di sini. Aku dipermalukan di depan pegawai gudang, Mas! Coba deh kamu tegur adik kamu itu!”
Sultan menghentikan gerakannya membuka sarung yang masih terlipat. Ia menghela napas panjang, namun kali ini rahangnya tidak mengeras karena marah kepada Mutiara. Sebagai Sarjana Teknik Tekstil yang memimpin divisi produksi, kepalanya yang panas sejak siang hari tadi perlahan mulai mendingin oleh kalkulasi logika bisnis. Sultan memilih untuk membela adiknya, bukan karena ia mendadak lunak, melainkan karena ia sadar apa yang dilakukan Mutiara di gudang itu telah menyelamatkan muka divisi tekstilnya di mata klien besar.
“Sudahlah, Mah, jangan seperti anak kecil begitu kamu,” tegor Sultan dengan nada datar yang dingin.
Aulia mendongak, terkejut mendengar suaminya yang tidak langsung membelanya seperti biasa. “Mas! Kok kamu malah—”
“Kamu itu juga seharusnya berpikir pakai logika, Mah,” potong Sultan cepat, menatap istrinya dengan lekat. “Kalau sampai siang tadi kamu nekat mengambil paksa syal sutra murni premium di lemari gudang sebanyak lima belas helai, aku enggak tahu apa yang bakal Butik Tribuana lakukan kepada kita setelahnya. Pesanan itu harus dikirim tepat waktu ke Semarang dan cabang butiknya yang di Surabaya. Kalau sampai Jeng Laksmini tahu barangnya kurang, lalu dia memilih untuk menyudahi kerja sama kontraknya dengan Rumah Sutra kita, kita bakal kehilangan orderan tetap produksi syal itu setiap empat bulan sekali! Kamu tahu enggak, nilai kontrak dari Butik Tribuana itu salah satu pemasukan terbesar yang menopang divisi produksi kita selama ini?!”
Penjelasan teknis yang keluar dari mulut Sultan seketika mengunci mati lidah Aulia. Ia terdiam seribu bahasa, menelan ludah dengan dada yang naik-turun menahan dongkol karena tidak menyangka ambisi suaminya kali ini lebih besar daripada gengsi arisannya.
Sementara itu, di lantai atas rumah induk yang berjarak tiga ratus meter dari sana, suasana jauh lebih sunyi. Di dalam kamarnya, Satria berbaring telentang di atas kasur dengan lengan yang menyangga kepala. Seluruh tubuhnya terasa letih setelah seharian penuh berdiri di lapangan, memimpin tim dokumentasi untuk mengawal kegiatan kunjungan ratusan siswa SMA Negeri Bandung dan tim media nasional.
Dengan dahi berkerut, Satria meraih ponselnya. Di bawah temaram lampu kamar, ia memutar kembali hasil rekaman video rahasia yang ia ambil secara sembunyi-sembunyi siang tadi dari balik celah jendela nako gudang stok barang jadi. Di layar gawai itu, wajah angkuh Aulia yang sedang membentak Rafi dan Ahmad terekam jelas dengan kualitas audio yang teramat jernih.
Namun, bukan hanya video itu yang tersimpan di dalam galeri ponselnya. Ibu jari Satria menggulir layar, membuka sebuah klip video kedua yang ia rekam secara sembunyi-sembunyi pada Kamis sore dari balik rimbunan pohon murbei yang lebat.
Kejadian itu murni ketidaksengajaan. Kamis sore, setelah selesai mendokumentasikan aktivitas para pekerja di kebun murbei hulu, Satria dan Yudi berjalan kaki untuk pulang menuju rumah induk. Satria sengaja memilih jalur memutar, berniat melewati jalan depan rumah kedua kakaknya, Sultan dan Mega, yang posisinya saling berhadapan di dataran tinggi sektor selatan.
Karena posisi rumah panggung Mega berada jauh masuk ke dalam sektor selatan, otomatis atmosfer di sekitar sana terasa teramat sepi dan lengang. Di tengah keheningan sore itu, riuh suara tonggeret yang saling bersahutan dari balik dahan-dahan pohon murbei terdengar begitu ramai, menjadi melodi alami yang membelah sepinya kaki lereng gunung.
Sayup-sayup dari kejauhan, suara embikan sapi milik warga dusun ikut terdengar, berpadu dengan obrolan para pekerja kebun yang berjalan pulang sembari saling bercanda menggunakan bahasa Sunda kental. Namun, di antara harmoni alam tersebut, langkah kaki Satria dan Yudi mendadak terhenti kaku di balik rimbunan daun.
Dari jarak dua puluh meter, suara perdebatan Mega dan Arifin terdengar menggaung samar, namun tetap tertangkap jelas oleh telinga Satria karena suasana sekitar yang begitu sunyi. Arifin tampak sedang menyodorkan sebuah map biru tebal kepada Mega. Gerak tubuh pria itu terlihat sangat agresif, terus-menerus merendahkan tubuh dan menggenggam tangan istrinya, seolah sedang meyakinkan Mega dengan setengah memaksa agar memercayai dan mendukung rencana rahasianya. Sementara Mega, hanya bisa mengangguk pasrah dengan wajah labil.
Merasakan ada sesuatu yang tidak beres, Satria langsung menghidupkan kamera ponselnya dan merekam interaksi mencurigakan tersebut dalam diam. Kini, di dalam kesunyian kamarnya malam ini, Satria menatap pendar layar gawai itu dengan pikiran yang berkecamuk."
"Kenapa Mas Arifin memaksa sekali Teh Mega, sih?’"pikir Satria, didera rasa heran yang mendalam. "Apa serius dia mau merenovasi bangunan vila itu dan mengganti semua fasilitasnya dengan yang baru? Memangnya dana sebesar itu bisa mereka ajukan? Sementara kata A Sultan saja, keuangan operasional pusat lagi diperketat habis-habisan. Bukannya belum lama ini vila itu baru direnovasi?"
Satria menghela napas berat, menaruh ponselnya di atas dada, lalu menatap langit-langit kamar. Potongan-potongan teka-teki yang ia rekam sejak kemarin mulai membentuk sebuah pola kabut yang mencurigakan di batinnya. Menurutnya, akhir pekan yang kacau ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Hatinya didera kebingungan yang teramat sangat.
Sebagai anak bungsu, ia ingin sekali menumpahkan seluruh beban pikiran dan kekhawatirannya mengenai kejadian heboh tadi siang kepada seseorang. Pikiran pertamanya tertuju pada Mang Rahmadi, sang abdi tua yang selalu bijak. Namun, Satria buru-buru menepis niat itu. Ia tahu Mang Rahmadi pasti sedang sibuk dengan urusan bisnis sepatu kulitnya di Bogor, dan Satria tidak ingin menambah beban orang tua yang sudah dianggapnya seperti paman kandung sendiri tersebut.