Dua hari setelah Aulia mengumbar undangan arisan secara lisan kepada teman-teman sosialitanya di sebuah kafe mewah, dampaknya mulai terasa seperti ombak pasang yang menghantam dermaga. Keputusan sepihak yang lahir dari dahaga akan gengsinya itu kini bertransformasi menjadi bumerang yang mematikan bagi ketenangan Rumah Sutra Putri Fajar.
Hari Sabtu pagi itu dimulai dalam khidmat yang sejuk. Sejak gema azan subuh membelah kabut tebal di kaki Gunung Kamojang, hampir seluruh penghuni dan perajin di Rumah Sutra telah berkumpul untuk melaksanakan ibadah salat subuh berjamaah di musala besar yang terletak di dalam kompleks inti.
Di Rumah Sutra, hari Sabtu dan Minggu bukanlah hari libur total. Sebagai pabrik alam yang bergerak dari hulu ke hilir, bagian produksi—mulai dari perebusan kokon, pemintalan benang, hingga penenunan kain—tetap beroperasi menggunakan sistem libur bergilir atau shift mingguan. Jika pada hari biasa gedung penenun diisi penuh oleh dua puluh perajin, maka khusus pada hari Sabtu ini, hanya setengah dari mereka yang masuk sesuai jadwal, begitu pula di bagian pemintalan dan kebun. Sementara itu, seluruh staf kantor menikmati pola lima hari kerja, kecuali bagian humas dan marketing yang juga harus siap masuk di akhir pekan terkait kegiatan perusahaan dan klien.
Selesai salat subuh, roda kesibukan langsung berputar cepat. Di dapur rumah induk dan ruang rapat kantor manajemen, tampak kesibukan luar biasa dari para pekerja eduwisata yang dikomandoi langsung oleh Mutiara. Dibantu dua karyawan tetap dan dua mahasiswa magang yang masih canggung, Mutiara berpacu dengan waktu untuk mempersiapkan isi goodie bag suvenir.
Setiap tas blacu sablon berlogo Rumah Sutra Putri Fajar diisi dengan taktis: teh tubruk daun murbei dalam kemasan kecil yang memiliki lima varian rasa—orisinal, melati, apel, jeruk, dan mint. Dimasukkan pula tiga macam makanan ringan berupa jajanan pasar tradisional yang masih hangat, sebotol air mineral, serta manisan buah murbei kemasan kecil.
Sebagai bagian dari penguat identitas perusahaan, di dalam tas itu juga diisi dengan gantungan kunci akrilik lucu berbentuk ulat sutra dan daun murbei bertuliskan Rumah Sutra Putri Fajar, pulpen insert paper berlogo serupa, serta brosur profil terbaru seputar Rumah Sutra. Tak lupa, sebuah buku agenda eksklusif ikut disisipkan. Agenda tersebut tidak hanya dilengkapi kalender Masehi tahun berjalan dan tahun depan serta catatan hari libur nasional, tetapi juga menyediakan ruang khusus untuk mencatat jadwal harian hingga target produksi.
Lebih dari sekadar alat tulis, agenda itu memiliki beberapa lembar kertas yang berfungsi khusus untuk pembatas buku yang menceritakan sejarah berdirinya Rumah Sutra Putri Fajar dan proses produksi sutra dari hulu ke hilir—mulai dari budidaya murbei, pemeliharaan ulat, perebusan kokon, pemintalan benang, hingga penenunan kain. Lembar demi lembar bagian dalamnya pun dipercantik dengan ilustrasi cat air dan kutipan-kutipan inspiratif yang memanjakan mata pembaca.
“Ini semua untuk paket seratus enam puluh murid yang datang hari ini, ya,” instruksi Mutiara sembari memeriksa kelengkapan isi kemasan. “Lalu, untuk sembilan orang guru pendamping, masukkan tambahan syal tenun semi-sutra ke dalam tas mereka. Dan jangan lupa, siapkan enam goodie bag eksklusif lagi untuk tim media yang mau meliput hari ini.” Selesai mengemas suvenir, jadwal padat langsung berlanjut dengan sesi olahraga pagi yang diinstrukturi langsung oleh Mutiara di halaman kompleks inti untuk menjaga kebugaran para pekerja.
Begitu keringat reda, Mutiara segera mengumpulkan sembilan pekerja senior gabungan dari divisi tenun, pemintalan, perkebunan, dan pengawas kandang ulat untuk diberikan pengarahan. Mereka sengaja dipilih sebagai pemandu (guide) para pengunjung di hari itu, karena sudah menghafal seluruh rantai produksi di luar kepala.
“Pagi ini tepat jam delapan, tiga bus pariwisata yang mengangkut seratus enam puluh pelajar kelas dua SMA dari Bandung akan tiba,” ujar Mutiara tegas di hadapan barisan pekerjanya. “Total kunjungan mereka sebenarnya tiga ratus dua puluh orang, tapi sengaja kita pecah menjadi dua hari—Sabtu dan Minggu. Kalau seluruhnya datang hari ini, kita akan kewalahan dan ulat-ulat kita di kandang bisa stres karena bising. Tolong nanti usahakan jaga SOP yang ketat. Batasi dengn kelompok maksimal dua puluh orang, durasi sepuluh menit per sektor, dan pastikan area pembibitan steril dari suara keras dan bau-bau menyengat.”
Satria dan tim dokumentasi media risetnya yang berjumlah tujuh orang ikut berdiri menyimak pengarahan tersebut. Satria membagi timnya dengan sangat profesional demi konten digital Rumah Sutra. Ia menurunkan tiga kamerawan untuk mengambil gambar bawah (ground footage), satu pilot drone untuk gambar udara (aerial), satu editor yang bersiaga di studio, sementara dua orang lagi bertugas sebagai pembawa acara (host), termasuk Satria sendiri.
Sementara itu, di dekat pos keamanan gerbang depan, suasana sudah mulai menggeliat seiring kepulan asap kopi. seorang jurnalis dari portal berita online lokal Garut Kota sudah bersiap sejak pagi. Ia duduk santai di pos jaga, mengobrol akrab bersama dua petugas keamanan dan tiga pekerja kebun yang sedang bersiap untuk bekerja.
Tepat pukul delapan pagi, tiga bus pariwisata berukuran besar bergerak perlahan memasuki pekarangan. Bus-bus itu terparkir rapi di area khusus pengunjung yang letaknya sangat luas dan terlihat jelas dari kompleks inti Rumah Sutra. Sesuai prosedur, salah satu petugas keamanan langsung menghampiri bus dan memberikan arahan kepada guru panitia agar mengirimkan satu atau dua perwakilan untuk melakukan konfirmasi di bagian registrasi yang ada di lobi kantor manajemen.
Atas arahan matang Mutiara, rombongan besar siswa itu langsung dipecah menjadi kelompok kecil beranggota dua puluh anak. Sembilan pekerja senior Rumah Sutra yang bertugas sebagai guide berbaris rapi di depan kantor. Satu per satu dari mereka maju dengan senyum hangat, menghampiri kelompok siswa untuk dipimpin melakukan kegiatan observasi.
Alur observasi diatur bersilang demi memecah kepadatan. Beberapa rombongan memulai petualangan dari hamparan hijau kebun murbei, sementara yang lain diarahkan langsung menuju gedung pemeliharaan ulat, sebelum semuanya berakhir di ruang tenun hilir dan di titik akhir lobi galeri pameran itulah, nanti para siswa mengantre dengan teratur untuk menerima goodie bag dari tangan mahasiswa magang.
Pukul delapan lewat lima belas menit, tim media dari stasiun TV swasta nasional asal Jakarta tiba di lokasi. Sang reporter langsung melapor kepada petugas keamanan bahwa mereka sudah memiliki janji untuk meliput kegiatan kunjungan tersebut seklaigus bertemu eksklusif dengan Teh Mutiara. Melalui sambungan handy talkie, satpam berkoordinasi dengan staf eduwisata, lalu mengantar sang reporter beserta juru kameranya menuju halaman kompleks inti.