Kabut di Rumah Sutra

Setiyarini
Chapter #16

Buncah di balik dinding mes

Kabut di kaki Gunung Kamojang pada Rabu petang mulai turun menyelimuti kawasan Rumah Sutra Putri Fajar. Dinginnya udara pegunungan perlahan merayap, memaksa para pekerja di kebun, gedung pemintalan, hingga gedung tenun untuk menyudahi aktivitas mereka.

Sebagian buruh yang rumahnya berada di dusun sekitar tampak berjalan beriringan menuju gerbang keluar untuk pulang. Namun, sebagian lagi melangkah menuju bangunan paviliun belakang rumah induk yang berfungsi sebagai mes karyawan.

Di dalam ruang makan mes perempuan yang diterangi lampu neon putih, atmosfer mendadak berubah kaku dan tegang. Hasni—buruh tetap, paruh baya bagian perebusan kokon yang sudah bekerja sepuluh tahun lebih di Rumah Sutra—ia duduk di kursi kayu sembari meremas jemarinya yang dingin. Di hadapannya, empat temannya yang juga buruh tetap di bagian yang berbeda sedang berkumpul sejak tadi tak sabar ingin mendengar kabar darinya tentang isu pengurangan tenaga kerja.

“Jadi beneran Teh Hasni, kabar tentang pengurangan pegawai itu? Kacau ini mah, kalau sampai ada,” ucap Jihan, buruh tetap bagian tenun yang sudah delapan tahun mengabdi di Rumah Sutra. Logat Sundanya terdengar bergetar hebat memecah keheningan di dalam mes.

"Ya, tadi sih, katanya begitu. Aduh, bagaimana ya kalau sampai kejadian?" sahut Hasni dengan wajah pucat dan sikap yang gelisah.

Tiwi, seorang buruh tetap bagian pemintalan yang sudah bergabung delapan tahun. Ia sedang berdiri di dekat pintu dengan handuk melingkar di lehernya. Ia menunda langkahnya untuk mandi. “Kabar itu beneran, Teh? Maksudnya, siapa orang yang pertama kali nyebarin isu itu?"

Tiba-tiba dari arah luar, Tarsih, office girl yang tadi membawakan minuman ke ruang rapat, melangkah tergesa-gesa masuk dan ikut bergabung dengan obrolan mereka.

“Kalian semua harus tahu berita ini. Menurut saya, keuangan di rumah usaha ini sekarang sedang kacau berat!” seru Tarsih setengah berbisik, matanya melirik waswas ke arah pintu keluar.

"Nah, ini nih, ini dia sumber info A satu-nya. Kamu tadi pergi sama Asep kan, Sih? Mengantar perlengkapan anak-anaknya si Nyonya besar? Terus, Nyonya besar itu udah pulang?" Cetus Hasni raut wajah sinis yang tak bisa disembunyikan.

"Belum lah, Teh Hasni. Dia mah bakal pulang malam pastinya. Saya aja, ke sini lagi enggak dianterin Asep, tapi saya carter ojek pangkalan. Habis kalau enggak begitu, mau sampai jam berapa saya tiba di sini lagi?! Haduh... tekor deh enam puluh ribu! Padahal bukan untuk urusan pribadi!" Gerutu Tarsih yang seketika berwajah memelas.

"Oh, iya, Sih, itu gimana sih ceritanya tentang pengurangan tenaga kerja itu? Katanya, kamu dengar sendiri sewaktu anak-anak Abah lagi pada rapat?" tanya Jihan menatap Tarsih dengan tatapan serius, seolah sedang menginterogasinya.

"Tadi siang sewaktu saya menyuguhkan minuman di ruang rapat, telinga saya dengar sendiri anak-anak dan mantu Abah Fajar lagi kusut sama manajemen Rumah Sutra. Intinya mereka ngeributin soal efisiensi. Terus, nyinggung-nyinggung pengurangan pegawai."

Roni, seorang buruh senior di bagian pemintalan benang murni asal dusun tetangga, tiba-tiba nyelonong masuk ikut bergabung dengan mereka. Mendengus pelan sambil meletakkan cangkir kopi susunya di meja.

Melihat teman pria-nya main masuk saja ke ruang mes perempuan, Tiwi langsung menegur dengan suara keras. “Eh... Kang Roni! Jangan masuk-masuk ke sini, Kang, nanti kalau ada keluarganya Abah yang melihat, kan enggak enak. Beliau paling enggak suka banget soalnya, kalau ada pegawai laki-laki yang masuk ke mes perempuan dan juga sebaliknya."

“Tiwi, saya cuma mau kasih kabar penting. Kalau kalian enggak mau dengar, ya sudah.” Sahut Roni sambil mengambil cangkir kopinya di meja, kemudian buru-buru melangkah keluar.

"Eh! Kang! Mau ke mana?! Enggak jadi kasih apdetannya buat kita-kita?!" Seru Jihan berteriak memanggil Roni. Seketika buruh senior itu menghentikan langkahnya.

"Emang masih butuh?!" sahut Roni menoleh sedikit.

"Emang apa lagi kabar terbarunya yang Kang Roni dengar?" tanya Tarsih dengan nada tinggi.

Roni kembali bergabung dengan teman-temannya di meja makan "Sebenarnya yang bikin tempat ini kacau itu kan, anak-anaknya Abah Fajar sendiri yang pada saling saingan ego! Terutama si Sultan itu, tuh! Si tukang potong anggaran divisi lain!” Ucap Roni yang mulai bercerita. Kemudian ia langsung menarik kursi lalu duduk memulai obrolan yang serius.

Lihat selengkapnya