Kabut di Rumah Sutra

Setiyarini
Chapter #24

Pilar penyangga yang lelah

Senja itu, deru mesin mobil keluarga berwarna hitam yang dikemudikan Hendi memecah kesunyian lobi gedung Instalasi Gawat Darurat (IGD) rumah sakit terbesar di pusat Kota Garut. Belum sempat ban mobil berhenti dengan sempurna di bawah kanopi drop-off, Satria sudah melompat turun dari kursi depan, membuka paksa pintu geser penumpang dengan wajah yang pias berlumur panik.

“Dokter! Suster! Tolong, Ayah saya!” teriak Satria, suaranya yang bariton menggema serak di antara selasar koridor rumah sakit. "Tolong lakukan yang terbaik untuk ayah saya!" Sambung Satria dengan nada tegas dan bergetar.

Dua orang perawat jaga bergegas berlari keluar sembari mendorong ranjang beroda (brancard). Dengan gerakan cepat yang taktis, tubuh renta Fajar dibopong turun dari kabin tengah oleh Sultan, Satria, dan Hendi. Pria berambut putih itu sudah tidak sadarkan diri, wajahnya seputih kapas dengan bibir yang membiru menahan himpitan pasokan oksigen di dadanya .

Begitu tubuh suaminya dibaringkan di atas kasur dorong dan dilarikan masuk menembus pintu kaca IGD, tangisan Putri pecah sejadi-jadinya. Langkah kakinya yang gemetar hampir membuat nyonya besar itu tersungkur ke lantai jika Satria tidak dengan cepat merengkuh bahunya. Putri memeluk erat lengan Satria, dadanya sesak oleh derai air mata dan rapalan doa yang terputus-putus. Topeng wibawa dingin yang beberapa jam lalu ia kenakan saat menyidang anak-menantunya di aula panggung, kini luluh lantak digantikan oleh ketakutan luar biasa akan kehilangan belahan jiwanya.

Satria sendiri tidak mampu lagi menahan bendungan di matanya. Air mata mengalir deras membasahi pipinya, berbaur dengan rasa perih yang teramat sangat melihat sang ayah yang selama ini menjadi tameng pelindungnya kini terbaring tak berdaya di bawah kepungan selang medis.

Beberapa detik kemudian, mobil operasional yang dibawa Pak Wahyu mengerem mendadak di belakang mobil keluarga yang berhenti. Mega melangkah turun dengan tubuh yang limbung. Isak tangisnya terdengar terengah-engah, tersedu-sedu menahan beban rasa bersalah yang teramat berat. Ia menatap pintu IGD yang tertutup rapat dengan pandangan kosong, menyadari bahwa draf proposal renovasi fiktif senilai dua ratus lima puluh juta rupiah yang ia paksakan waktu itu, kini telah berubah menjadi belati tajam yang meremukkan jantung ayahnya sendiri. Mega merosot di samping pilar selasar, menyembunyikan wajahnya di atas lutut sembari menangis histeris dalam penyesalan yang terlambat. Mutiara yang sejak tadi berada di dekatnya, langsung mendekapnya dengan tangis kesedihan.

Di sudut taman rumah sakit yang agak tenang, Satria duduk mematung di kursi. Tatapan matanya lurus menatap sebuah tanaman hias, namun jemarinya mencengkeram erat tali kamera digital yang masih menggantung di lehernya. Anak bungsu itu dilanda kecemasan yang teramat mendalam, batinnya bergejolak hebat memikirkan nasib Rumah Sutra jika sang ayah tidak mampu melewati masa kritis ini.

Melihat si bungsu yang tampak begitu rapuh, Irfan, Reza dan Yudi—tiga staf dokumentasi tim kreatifnya yang menyusulnya dengan mobil milik Yudi dan baru tiba di rumah sakit—segera melangkah mendekat. Reza menepuk pundak Satria dengan mantap, mencoba menyalurkan kekuatan.

“Sat... tenangkan dirimu, Sat,” bisik Reza dengan nada suara yang hangat dan mengayomi. “Ayahmu itu orang kuat. Beliau sudah dua kali melewati masa kritis seperti ini, dulu. Sekarang tugas kita adalah berdoa dan tetap siaga menjaga Bunda dan Teteh-tetehmu di sini. Jangan ikut tumbang, Sat. Kita selalu ada di belakangmu.”

Yudi ikut mengangguk takzim, meremas pelan lengan Satria. “Betul, Sat. Kamu harus yakin. Ayahmu pasti bisa melewati masa krisisnya.”

Irfan pun tak ketinggalan, ia juga memberikan semangat pada sahabatnya yang kondisinya kini tengah diselimuti kabut kesedihan.

Dukungan tulus dari para sahabat lapangannya itu perlahan meniupkan sedikit kekuatan di dada Satria. Ia menarik napas dalam-dalam, mengangguk pelan sembari menyeka sudut matanya yang basah, mencoba menegakkan kembali punggungnya demi menjadi tiang penguat bagi ibu dan saudara-saudaranya yang sedang hancur lebur.

Lihat selengkapnya