Hembusan angin sore di teras rumah induk terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Di atas meja kayu jati ruang tengah, tumpukan berkas hard copy dan dua buah laptop terbuka telah menanti. Fajar duduk dengan punggung tegak, didampingi Putri yang menatap tajam ke arah layar monitor. Santi dan Pak Wahyu duduk satu meja dengan mereka dan gurat wajah mereka sulit dibaca.
Tanpa banyak mukadimah, Wahyu dengan Jemari yang stabil menyodorkan sebuah map jepit plastik berwarna biru yang tampak masih baru—berkas yang minggu lalu melintasi meja Santi.
“Hapunten, Abah Fajar, Bunda Putri... sesuai mandat audit siang tadi, ini adalah dokumen pertama yang harus kami laporkan,” ujar Wahyu, suaranya datar namun berwibawa. “Ini draf proposal pengajuan dana renovasi fasilitas dua unit vila sektor barat senilai dua ratus lima puluh juta rupiah. Dana ini diajukan pada minggu lalu tepatnya pada hari Kamis siang, atas permintaan mendesak dari Teh Mega dan ada tanda tangan pemohon, Mas Arifin.”
Fajar meraih map itu, membacanya baris demi baris. Matanya menyipit saat melihat rincian kerusakan atap berlumut, pipa berkarat, dan pengadaan sprei jacquard fiktif. Sebagai orang yang membangun vila itu dengan tangannya sendiri, Fajar tahu persis bahwa angka-angka di lembar proposal itu adalah hasil rekayasa yang sangat kasar.
“Dua ratus lima puluh juta untuk renovasi pelengkap yang sebenarnya tidak mendesak?” desis Fajar, suaranya bergetar menahan amarah yang mulai merayap ke dada.
“Bukan hanya itu, Abah,” sela Pak Wahyu sembari membuka folder digital di laptop. “Kami menemukan benang kusut juga yang lebih panjang di divisi produksi. Beberapa bulan lalu, Mas Sultan mengajukan draf anggaran tiga ratus juta rupiah untuk pembelian mesin tenun otomatis impor. Namun, data arus kas menunjukkan ada dua kali penarikan dana di luar jadwal resmi dalam nominal lima puluh hingga delapan puluh juta rupiah. Banyak pula penarikan-penarikan kecil lainnya yang tidak memiliki laporan pertanggungjawaban maupun bukti kuitansi yang sah.”
Putri yang sejak tadi diam, seketika bangkit dari duduknya. Wajahnya yang tenang kini memucat pasi melihat grafik defisit yang terpampang di layar laptop. “Jadi... karena ada tumpukan pengeluaran liar dan pencairan anggaran untuk renovasi vila yang mengada-ada, arus kas operasional kita saat ini benar-benar di titik nadir?”
Santi mengangguk lemah, kepalanya tertunduk dalam. “Betul, Bunda. Kondisinya sangat kritis. Akibatnya, anggaran asuransi kesehatan karyawan terpaksa kami kunci. Bahkan saat ini kita sudah menunggak pembayaran iuran BPJS Ketenagakerjaan selama dua bulan, karena selama dua bulan ini, saldo di kas kita sama sekali tidak cukup untuk melunasinya. Dan... karena kami mengutamakan dari sebagian saldo yang ada untuk membayar gaji karyawan terlebih dahulu, Bunda.
Suasana semakin mencekam seiring tumpukan berkas audit yang mulai membedah lubang-lubang di kas pusat. Putri yang biasanya lembut, kini berdiri dengan rahang yang mengeras. Ia tidak bisa lagi menoleransi kabut kebohongan yang menyelimuti Rumah Sutra.
“Kintan!” panggil Putri dengan suara tajam. “Tolong kamu panggil Sultan, Aulia, dan Mega sekarang juga. Suruh mereka ke sini! Katakan pada mereka, ini bukan undangan makan siang lagi, tapi perintah yang tidak bisa ditunda sedetik pun!”
Hanya butuh waktu beberapa menit bagi Kintan untuk menjemput ketiganya. Sultan dan Aulia masuk dengan langkah kaku, diikuti Mega yang wajahnya sudah sepucat kertas. Mereka berdiri berjejer di depan meja jati, menatap tumpukan berkas laporan keuangan dan map biru yang kini sudah berada di bawah telapak tangan Putri.
“Duduk!” perintah sang ibu pendek.
Begitu mereka duduk, Putri langsung melemparkan map biru berisi proposal renovasi fiktif itu ke tengah meja. Plak! Suara hantaman map itu bergema di ruang tengah yang sunyi.
“Bunda mau tanya langsung pada kalian bertiga. Jelaskan pada Bunda, untuk apa uang dua ratus lima puluh juta ini keluar dari kas pusat Kamis minggu lalu?!” cecar Putri, matanya menghujam lurus ke arah Mega. “Santi bilang, kalau kamu mendesak dan memaksa agar dana ini cair tanpa prosedur audit yang benar. Renovasi fasilitas apa yang kamu maksud, Mega?! Bukannya tiga bulan lalu vila itu baru direnovasi? Andaikan kamu benar membeli perabot baru untuk perlengkapan vila itu, tidak mungkin anggarannya sebesar ini juga, kan?!”
Mega tersentak, lidahnya kelu. Ia melirik Sultan untuk meminta pembelaan, namun sang kakak sulung justru sedang menunduk dalam, menyadari bahwa draf pengajuannya sendiri tentang mesin tenun juga sedang berada dalam bidikan audit.
Putri beralih menatap Sultan dan Aulia. “Dan kamu, Sultan... pengajuan anggaran untuk pembelian dua unit alat tenun otomatis senilai tiga ratus juta itu, kamu beli bekas?! Yakin masih berfungsi dengan maksimal?! Kang Wahyu juga menemukan banyak penarikan liar yang kamu lakukan dan tidak ada laporan pertanggungjawabannya. Ke mana perginya uang-uang kecil itu, Sultan?! Apa untuk membiayai gaya hidup permaisurimu ini, yang hampir merusak kontrak Butik Tribuana di Semarang dan Surabaya?!”
“Tapi, Bunda... itu enggak seperti yang Bunda pikirkan,” Aulia mencoba membuka mulut dengan suara gemetar.
“Diam, Aulia! Bunda belum selesai bicara!” potong Putri telak, membuat Aulia seketika menciut. Putri kembali menatap Mega dengan tatapan yang lebih menuntut. “Dan kamu, Mega. Kamu pergunakan untuk apa uang dua ratus lima puluh juta yang sudah cair ke rekeningmu itu? Di mana suamimu sekarang? Kenapa dia tidak kelihatan batang hidungnya sejak tadi?!”
Mendengar pertanyaan tentang keberadaan Arifin, pertahanan Mega runtuh. “Mas Arifin... ke Jakarta, Bun. Di mau memulai urusan proyeknya...” suara Mega mencicit, hampir tak terdengar.
“Proyek apa?! Proyek mengakali uang perusahaan?! Setelah uang di tangan, lalu dia pergi?!” tanya Putri dingin. "Ayah dan Bunda kecewa pada kalian! Ternyata kalian tidak bisa dipercaya untuk mengelola dan mengembangkan usaha ini! Sekarang, Bunda tidak mau tahu, entah dengan cara apa kalian menemukan solusinya untuk menyelesaikan masalah keuangan dan operasional yang sering tersendat."