Selama hari-hari kritis Fajar Putrajaya menjalani perawatan intensif di ruang ICCU Rumah Sakit Umum Daerah Garut, atmosfer di kaki Gunung Kamojang tidak lagi sama. Kabut yang turun setiap sore kini terasa lebih pekat, seolah membawa aroma kemuraman yang merayap masuk ke setiap celah dinding kayu Rumah Sutra.
Di sela-sela deru mesin pemintalan yang melambat, bisik-bisik kasak-kusuk di antara para perajin dan buruh harian berembus kencang bagai angin malam. Gosip mengenai kebangkrutan internal menyebar dari mulut ke mulut. Para pekerja berbisik dengan penuh keprihatinan bahwa Sultan dan Mega terpaksa melepas dan menjual aset-aset berharga pribadi mereka demi menambal lubang kas operasional pusat yang kering. Kebanggaan sebagai anak perintis seketika luntur di mata para bawahan.
Prahara domestik pertama langsung menghantam kompleks selatan, beberapa hari setelah Fajar dilarikan ke rumah sakit. Setelah pertengkaran hebat yang membakar harga diri di dalam rumah panggung modern Sultan-Aulia, Aulia Permatasari benar-benar nekat membuktikan ancamannya. Menolak mentah-mentah untuk mengikhlaskan tiga atau dua tas branded kesayangannya yang memiliki harga fantastis, untuk dijual demi menebus dosa finansial, Aulia mengemas seluruh barang mewahnya ke dalam sebuah koper besar.
Sebelum melangkah keluar dari kamar, dengan tangan yang gemetar menahan amarah, ia mengirimkan pesan singkat melalui WhatsApp kepada sopir pribadinya, Asep. Ia memerintahkan Asep untuk segera datang menjemput ke rumah malam-malam untuk mengantarkan ke rumah saudara terdekatnya di kawasan Garut Kota.
Lima belas menit kemudian, Asep tiba di pekarangan rumah Sultan. Setelah memarkirkan sepeda motornya di halaman, ia bergegas melangkah masuk ke dalam rumah untuk meminta izin mengambil kunci mobil keluarga. Namun, baru saja kaki Asep menginjak ambang pintu ruang tamu, sosok Sultan sudah berdiri menghadangnya dengan tatapan mata yang teramat dingin.
“Ada apa kamu ke sini malam-malam, Sep? Ada perlu sama saya atau istri saya?” sapa Sultan datar, suaranya bariton menuntut penjelasan.
Asep tertegun, wajahnya tampak serba salah. “Hapunten, Pak. Nyonya baru saja WhatsApp saya, katanya minta diantar ke kota malam ini. Nah, saya ke sini disuruh ambil mobil untuk mengantarkan beliau. Saya juga sebenarnya bingung sih, Pak, soalnya baru kali ini ada perintah yang paling mendadak.” jelas Asep dengan logat Sunda-nya yang kental.
Sultan mendengus kencang, matanya menyipit ketat. “Kamu ke sini disuruh ambil mobil, lalu kamu bawa untuk antar Aulia? Enggak usah! Mendingan kamu pulang sekarang, Sep. Kalau dia mau pergi, ya biar saja dia pergi sendiri, enggak perlu diantar juga pakai fasilitas yang ada di tempat ini!”
“Kamu tega ya, Mas!” Tiba-tiba, suara melengking Aulia memotong dari arah belakang. Wanita itu muncul dari koridor kamar sembari menarik koper besarnya. Wajah polesan makeup-nya tampak berantakan oleh air matanya. “Setelah kamu tega menalak aku, sekarang fasilitas mobil itu mau kamu tarik juga dari aku?! Mobil itu kan atas namaku, Mas!”
Sultan berbalik cepat, menatap istrinya dengan pandangan yang teramat muak. “Ya, memang benar mobil itu didaftarkan atas nama kamu, Aulia Permatasari! Tapi bukan berarti mobil itu milikmu! Memangnya selama ini kamu yang membayar uang muka dan cicilan bulanannya?! Kamu bisa apa, hah?! Kamu itu bisanya hanya menghabiskan uangku demi membiayai gaya hidup mewahmu! Dan ingat ya, kamu sendiri yang menantang dan memintaku untuk menalakmu! Sekarang juga, kalau kamu mau pergi, ya pergi saja sana! Enggak usah bawa-bawa ikut serta fasilitas yang ada di sini!"
Menyaksikan pemandangan keributan hebat yang memecah malam di antara suami-istri tersebut, jantung Asep berdegup kencang. Ia terkejut setengah mati dan tidak mengira bahwa kompleks selatan sedang dilanda badai separah ini. Tanpa membuang waktu karena tidak ingin ikut campur lebih dalam, Asep yang masih berdiri di ambang pintu langsung membalikkan badannya. Dengan langkah terburu-buru, ia segera menuju parkiran, mengambil sepeda motornya, lalu menuntun kendaraannya sejenak dengan cepat keluar melewati pagar. Barulah, setelah berada di jalan luar, ia menyalakan mesin motornya dan berkendara pergi meninggalkan tempat itu.
Sementara itu, di dalam rumah, Sultan membalikkan badan tanpa memedulikan istrinya lagi. Ia melangkah lebar meninggalkan ruang tamu, masuk ke dalam kamar tidur dan membanting pintu kayu hingga memicu dentum keras.
Tinggallah Aulia sendirian di tengah kesunyian ruang tamu. Sembari menangis sesenggukan menahan malu dan amarah yang kian mendidih, ia merenggut pegangan koper besarnya. Dengan entakan kaki yang kasar, ia menarik koper itu keluar dari teras rumah. Aulia berjalan kaki menembus pekatnya kegelapan malam, menyusuri jalan aspal perkebunan yang sepi menuju pintu gerbang dua atau pintu selatan—akses keluar terdekat dari kediamannya.
Roda kopernya berderit keras di atas aspal, berpadu dengan riuh derik tonggeret dari balik pohon-pohon murbei hulu yang seolah ikut mengiringi langkah kakinya meninggalkan seluruh kemewahan Rumah Sutra Putri Fajar.
Seolah belum cukup dihantam krisis keluarga, alam pun mulai ikut memusuhi Rumah Sutra. Suatu pagi yang dingin, Mutiara sudah bersiap dengan sebuah tas jinjing besar di tangannya. Hari itu, ia berniat berangkat menuju Garut Kota untuk mengantarkan makanan hangat dan beberapa helai pakaian ganti untuk sang ibu. Putri yang setia menunggui Fajar di rumah sakit memang bersikeras menolak pulang ke kaki Kamojang karena jaraknya terlampau jauh dari RSUD. Demi menghemat tenaga di tengah krisis medis suaminya, sang ibu akhirnya memutuskan untuk tinggal sementara waktu di rumah kosong milik adik kandungnya—Putra Mahardika—yang kebetulan terletak di area perkotaan dan tidak sedang ditinggali.
Namun, baru saja Mutiara melangkah keluar melintasi teras rumah induk, langkah kakinya mendadak terhenti kaku. Matanya terbelalak menatap pemandangan hamparan kebun murbei di sektor timur yang terlihat jelas dari halaman kompleks inti. Di sela-sela kabut tipis yang belum memudar, ia melihat sejumlah pekerja kebun berkumpul ramai, mengerumuni salah satu petak tanaman dengan gestur tubuh yang cemas.
Merasakan ada gelagat yang tidak beres, Mutiara bergegas setengah berlari menghampiri kerumunan tersebut. “Ada apa ini, Pak? Kenapa semuanya berkumpul di sini?” tanya Mutiara cemas.