Ketekunan Andi Fajar Putrajaya dalam meneliti tanaman pakan ulat sutra di bawah naungan bendera Fakultas Pertanian, rupanya menjadi jembatan takdir yang tidak pernah ia duga sebelumnya. Selama menuntut ilmu di Institut Pertanian Bogor—yang kala itu baru berkembang dengan lima fakultas awal sejak berdirinya—Fajar dan Putri Maharani akhirnya dipertemukan secara tidak sengaja di laboratorium alam kampus.
Putri adalah gadis Sunda asli yang memiliki garis keturunan Parahyangan yang teramat kuat dan berwibawa. Melalui rahim sang ibu yang merupakan mojang asli Garut dan darah sang ayah yang mengalir deras dari tanah Tasikmalaya, Putri tumbuh menjadi sosok mahasiswi yang tidak hanya cerdas, melainkan mewarisi ketajaman naluri agribisnis dari kedua keluarga besarnya.
Di kampus, Putri mengambil jurusan Proteksi Tanaman pada Fakultas Pertanian, sebuah disiplin ilmu yang kala itu sedang ia gunakan untuk memfokuskan risetnya pada perlindungan tanaman murbei dari serangan hama dan penyakit tumbuhan.
Dari dua jurusan berbeda yang bernaung di bawah fakultas yang sama itulah, visi mereka perlahan-lahan bertaut menjadi satu. Di suatu sore yang hangat, Putri yang sedang meneliti varietas murbei dan cara melindunginya dari hama dan penyakit, sementara Fajar sibuk mencari varietas daun murbei terbaik untuk pakan ulat sutra. Di antara barisan tanaman uji laboratorium itu, tanpa disadari benang-benang riset yang terpintal dengan perlahan mulai menenun ikatan asmara di antara mereka.
Jalinan kasih yang kuat itu kian hari kian menggebu, menyatukan dua kepala yang sama-sama memiliki impian besar untuk membangun sebuah dinasti sandang yang mandiri di masa depan.
Dalam masa-masa indah merajut kasih tersebut, Fajar dan Putri kerap menghabiskan waktu luang di perpustakaan maupun di selasar kampus untuk saling bertukar cerita tentang latar belakang kampung halaman masing-masing. Fajar selalu dibuat terpesona setiap kali Putri mengisahkan kemegahan wibawa keluarga intinya di Garut, dan Putri pun sangat mengagumi sosok pemuda seperti Fajar yang sudah mengenal kerja keras sejak duduk di bangku sekolah dasar untuk membantu usaha keluarganya.
Jika menengok silsilah keluarga besar Putri dari garis keturunan kedua orang tuanya, kekuatan jaringan bisnis keluarga besarnya begitu menggurita. Pihak keluarga dari sang ayah merupakan keluarga Sunda asli Tasikmalaya yang menetap turun-temurun di Kampung Karanganyar, Desa Cipondok.
Di dalam peta pertekstilan tradisional Jawa Barat kala itu, keluarga besar ayahnya di Tasikmalaya melegenda sebagai juragan tenun sutra alam yang sangat terpandang dan disegani sejak masa kolonial Belanda. Keluarga besar ayah Putri yang berjumlah delapan bersaudara menguasai ratusan alat tenun dan menjadi salah satu keluarga pengepul kain sutra dengan kualitas terbaik di wilayah Priangan Timur tersebut. Selain itu, keluarga besar ayah Putri di Tasik juga terkenal sebagai juragan empang ikan mas dan gurame di kampungnya, apalagi kondisi geografis Tasikmalaya yang banyak sawah berair sangat mendukung untuk budidaya ikan dengan sistem empang.
Sementara itu, di Garut, ayah Putri yang akrab disapa oleh warga lokal dengan panggilan "Abah Lesmana", bukan sekadar seorang petani biasa, melainkan seorang juragan bisnis akar wangi yang sangat disegani di Desa Padawaas, Kecamatan Pasirwangi. Pria paruh baya itu menguasai hamparan ladang tanaman akar wangi (Chrysopogon zizanioides) seluas dua hektar yang tumbuh subur dan mengepulkan aroma magis di lereng berkabut kaki Gunung Papandayan.
Tidak hanya menguasai sektor hulu pertanian, ayah Putri juga memiliki pabrik penyulingan minyak akar wangi (vetiver oil) yang hasilnya berkualitas ekspor, bahkan menjadi urat nadi ekonomi di wilayah tersebut.
Untuk menjaga profesionalitas dan keamanan rahasia penyulingan minyak yang bernilai tinggi, ayah Putri mempercayakan seluruh pos pengawasan kepada lingkaran keluarga dekatnya sendiri. Paman Putri dari pihak keluarga sang ibu, ditunjuk ayahnya secara resmi untuk menduduki posisi sebagai pengawas utama pabrik penyulingan minyak akar wangi tersebut.
Kekayaan agraris keluarga Putri semakin kokoh berkat kepemilikan sebidang lahan terpisah seluas satu hektar di kawasan yang sama. Sosok sang ibu, Teti Mahadewi—seorang wanita pergerakan yang aktif di desanya—mendapat kepercayaan masyarakat untuk mengemban amanah sebagai ketua kelompok wanita tani. Di bawah kepemimpinannya, para wanita tani digerakkan untuk mengelola lahan tersebut dengan memanen dan mengolah pucuk daun murbei muda menjadi teh herbal premium, dibimbing langsung oleh seorang pakar herbal keturunan Tionghoa-Surabaya yang menetap di Kota Garut.
Di sela-sela barisan murbei tersebut, mereka menanam sayuran secara tumpang sari—kubis, wortel, dan cabai—sehingga lahan tidak hanya menghasilkan daun murbei untuk pakan ulat sutra, yang secara berkala disuplai kepada para pembudidaya di empat desa wilayah Kecamatan Pasirwangi, tetapi juga memberikan tambahan pangan dan pendapatan harian. Praktik ini menjadikan lahan terasa hidup, hijau, dan penuh manfaat.
Struktur kekerabatan yang solid itu membuat posisi keluarga inti Putri dipandang sebagai trah borjuis lokal yang terpandang, terhormat, dan memiliki pengaruh sosial yang kuat di mata masyarakat. Namun, status terpandang itu pula yang kelak menjadi dinding penghalang bagi Fajar.
Karena hubungan keluarga besar Putri di Garut terjalin begitu dekat dengan keluarga Kepala Desa setempat—yang menguasai puluhan hektar sawah produktif di wilayah Pasirwangi—muncullah sebuah rencana perjodohan politik tingkat tinggi. Rencana itu dirancang secara sepihak di balik pintu rumah panggung, sebagai manuver licik sang Kepala Desa yang berniat menjodohkan putra mahkotanya yang arogan, demi mengincar sekaligus menguasai seluruh warisan lahan akar wangi milik orang tua Putri.
Di sisi lain, kedekatan Putri dengan Fajar yang kian intens di bangku kuliah, akhirnya memantik keberanian pemuda asal tanah Bugis itu untuk melangkah lebih jauh menghadapi barisan barikade yang mulai merintangi hubungan mereka. Saat liburan semester pertengahan tahun 1979 tiba, Fajar memutuskan menemani Putri pulang ke Garut.
Di hadapan orang tua dan paman Putri, Fajar menyampaikan alibi intelektualnya yang telah ia rancang dengan sangat matang, yaitu ingin mempelajari bisnis sekaligus manajemen rantai produksi pengolahan daun murbei menjadi teh herbal yang dikelola kelompok tani ibunya.