Kabut di Rumah Sutra

Setiyarini
Chapter #28

Doa dan cinta di ujung harapan

Hari Minggu pagi membawa riak energi yang berbeda di gedung Rumah Sakit Umum Daerah Garut. Koridor panjang di depan ruang perawatan intensif jantung (ICCU) yang biasanya sunyi dan dingin, hari itu mendadak menghangat. Bak sebuah kejutan yang membahagiakan di tengah badai, satu per satu rombongan keluarga besar dari luar kecamatan, luar kota, hingga dari seberang pulau berdatangan, berkumpul demi memberikan dukungan moral bagi kesembuhan Andi Fajar Putrajaya.

Ruang tunggu yang terbatas itu perlahan dipenuhi oleh kepungan kerabat. Hadir sang paman, Restu—adik kandung Fajar—yang datang langsung dari Sengkang bersama istri dan anak bungsunya. Tampak pula keponakan Fajar yang sedang menempuh kuliah di Bandung, anak kandung dari Mentari, adik kandung Fajar yang paling kecil. Dari keluarga besar Putri Maharani, paman Putra Mahardika hadir lengkap bersama anak-anak dan istrinya. Tak ketinggalan, Rahmadi yang sekarang menetap di Ciomas, Bogor pun kini berdiri siaga bersama keluarga kecilnya, berbaur di antara beberapa kolega bisnis tekstil, perajin tenun senior, dan beberapa buruh harian Rumah Sutra yang rela datang jauh-jauh dari kaki Kamojang.

Di dekat pintu kaca ICCU, Putri duduk dikelilingi oleh anak-anaknya: Mutiara, Satria, dan Sultan yang datang membawa kedua anaknya, Candra dan Citra. Hendi dan Kintan berdiri siaga di sudut dinding, menjaga pasokan air minum dan draf rekam medis. Riuh rendah suara obrolan santai mulai membelah ketegangan. Para kerabat saling bersalaman, menanyakan kabar dan kesibukan masing-masing, melepas rindu karena mereka sudah sangat jarang bertatap muka sejak pertemuan terakhir pada acara peresmian Aula Mega beberapa bulan yang lalu.

Melihat besarnya jumlah keluarga yang berkumpul, paman Putra Mahardika dan Rahmadi berinisiatif mengambil langkah taktis. Mereka mendatangi pihak manajemen rumah sakit serta pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) RSUD Garut. Mereka meminta izin khusus agar diperbolehkan menggelar acara doa bersama pasca-salat zuhur berjamaah.

Begitu kumandang azan zuhur selesai dan salat berjamaah ditunaikan, ruang utama masjid rumah sakit penuh sesak. Pihak keluarga Fajar dengan sangat terbuka memperkenankan para pengunjung lainnya di masjid, perawat yang sedang rehat, hingga keluarga dari pasien lain untuk ikut bergabung di dalam barisan saf.

Acara dibuka dengan khidmat. Selain imam masjid yang melantunkan ayat-ayat suci, Paman Restu selaku perwakilan langsung dari pihak keluarga besar Fajar, yang datang jauh-jauh dari Sengkang maju ke depan mimbar. Ia memberikan untaian kata-kata penguat yang teramat teduh bagi para jemaah, sebelum akhirnya memimpin draf doa keselamatan untuk sang kakak yang masih terbaring koma. Suara rapalan doa dan amin yang menggema panjang di dalam ruang masjid terasa begitu puitis dan syahdu, mengetuk pintu langit demi sebuah keajaiban.

Di saat yang bersamaan, di bawah keteduhan kaki Gunung Kamojang, musala besar kompleks inti Rumah Sutra juga menggelar ritual yang sama. Seluruh staf, perajin tenun, pemintal, dan buruh kebun yang tidak bisa ke kota berkumpul, menggelar doa bersama demi kesembuhan pimpinan tertinggi Rumah Sutra. Melalui getaran doa dari dua tempat berbeda itu, mereka berharap ada keajaiban yang mampu menstabilkan detak jantung sang perintis.

Usai acara doa bersama di masjid RSUD selesai, Paman Restu dan Rahmadi berjalan beriringan kembali menuju koridor rumah sakit. Kedua pria sepuh itu saling melempar senyum tipis, lalu mulai bercerita mengenai draf bunga tidur yang anehnya serupa.

“Semalam, saya itu memimpikan Kak Fajar, Di,” ujar Restu, suaranya parau bernada puitis. “Dia datang mengenakan pakaian Bugis serba putih, tersenyum lebar sambil menepuk-nepuk pelan pundak saya. Dia tidak bilanga apa-apa, sih, hanya tersenyum melihat saya yang sedang sibuk di pabrik.”

Rahmadi tercengang menyimak cerita sang penerus dari seberang pulau itu, namun sedetik kemudian dia terkekeh kecil, matanya berbinar haru. “Muhun, Kang Restu. Saya juga mengalami hal yang sama, sudah dua kali saya memimpikan Kang Fajar. Di dalam mimpi yang pertama saat malam Jumat yang lalu, Kang Fajar dan Ibu Putri malah main jalan-jalan ke Ciomas untuk memesan sepatu kulit yang berpadu kain sutra bermotif Balo Lobang. Katanya... sepatu eksklusif itu mau dijadikan sebagai suvenir sakral untuk pernikahan Neng Mutiara nanti. Lalu, kalau dalam mimpi saya yang semalam, Kang Fajar mengajak saya meninjau perkebunan murbei yang luas menghijau."

Di hadapannya, Restu yang menyimak cerita mantan sang abdi setia Rumah Sutra itu mengangguk-angguk pelan, seolah ia paham maksud dari mimpi Rahmadi tersebut. Kedua orang tua itu saling tersentuh, tertawa kecil mengenang bagaimana batin Fajar tetap terikat kuat pada urusan hulu-hilir sutra bahkan di dalam masa kritisnya.

Di sela-sela keramaian pertemuan yang tak direncanakan itu, Rahmadi melangkah pelan mendekati Mutiara yang sedang berdiri menyendiri sambil menggulir-gulir layar ponselnya di dekat jendela koridor. Di samping Rahmadi, berdiri seorang pemuda berpostur tinggi, berambut cepak dengan draf pakaian kasual yang rapi.

“Neng Muti... hapunten,” sapa Rahmadi hangat.

"Eh, Mang..." Sahut Mutiara dengan senyum ramah dan sorot mata berbinar.

“Sedang apa, Neng? Kok malah mojok sendirian di sini? Mamang sama Ayub, ganggu tidak, nih?" sapa Rahmadi dengan suara khasnya yang lembut dan santun.

"Oh, enggak dong, Mang. Barusan Mutiara habis mengontrol kandang ulat lewat CCTV yang dipasang Satria." Sahut Mutiara dengan wajah semringah meski sembab habis menangisi sang ayah tak bisa disembunyikan.

Lihat selengkapnya