Kabut di Rumah Sutra

Setiyarini
Chapter #6

Rahasia senyap antar pulau

Waktu beranjak ke pukul setengah sepuluh malam, menyisakan ruang tengah yang kini senyap tanpa suara. Di lantai atas, Mutiara dan Satria telah mengunci diri di kamar masing-masing. Sementara itu, Sultan dan Mega sudah pulang ke kediaman mereka yang berjarak tiga ratus meter di sisi selatan rumah induk.

Di sana, rumah kakak-beradik itu berdiri di atas dataran yang agak tinggi, dikelilingi hamparan taman bunga mini yang asri. Posisinya sengaja dibangun saling berseberangan namun tetap berhadapan, seolah mencerminkan hubungan keduanya yang kini mulai berjarak oleh ambisi yang berbeda.

Malam itu, di bawah pendar lampu yang temaram, Fajar duduk diam di dalam ruang kerja pribadinya. Matanya menatap teduh ke arah sang istri yang duduk di kursi sofa tunggal di sudut ruangan.

Memecah keheningan di antara mereka, dengan suara berat, Fajar berkata, “Untuk pembangunan aula Mega, aku berniat meminta pencairan dana dari sisa jatah warisanku di Sengkang. Jauh sebelumnya aku sudah dua kali mencairkan sebagian hak itu, hasilnya diputar kembali di pabrik sutra di sana. Masih ada lima puluh persen dari keseluruhan hak warisanku yang tersimpan di sana. Kali ini aku ingin tarik sebesar satu setengah miliar.”

Putri menghela napas panjang, lalu menarik kursi plastik dari kolong meja dan duduk di sebelah suaminya. Sambil menatap suaminya ia berkata dengan lembut namun tegas.

“Jangan terlalu banyak, Yah. Jangan sampai menipiskan simpanan kita di Sengkang. Lebih baik setengah dari kebutuhan dana untuk pembangunan aula itu ditutup dari jatah warisanku di pabrik penyulingan akar wangi ayah. Aku kan baru sekali menariknya dulu, waktu kita membeli lahan ini, sebelum Mutiara lahir. Sekarang saja usia Mutiara sudah tiga puluh tahun. Alhamdulillah, masih ada simpananku yang sudah lama belum tersentuh lagi."

Fajar terdiam sejenak, mengerutkan dahinya. "Tapi, maksudku, jatah Bunda yang ada di pabrik penyulingan itu biarkan saja tersimpan di sana, sebagai dana cadangan jika sewaktu-waktu kita terdesak membutuhkannya."

"Kita kan enggak menarik seluruhnya, Yah, hanya sebagian saja. Emm... begini saja. Ayah bilang tadi untuk pembangunan aula itu kita membutuhkan dana sekitar satu setengah miliar, kan? Kalau begitu, setengah-setengah saja, Yah. Kita tarik tujuh ratus lima puluh juta dari simpanan Ayah di Sengkang dan setengahnya lagi kita tarik dari jatahku di pabrik penyulingan," sahut Putri yakin, ia memberikan solusi jalan tengah kepada suaminya.

Fajar menatap wajah istrinya sejenak, lalu mengangguk setuju. “Ya, sudah. Baiklah kalau begitu. Aku ikuti jalan tengahmu, Bun.”

Setelah Putri memberi solusi jalan tengah, Fajar kembali terdiam sejenak. Jemarinya mengetuk pelan meja kayu, seolah menimbang sesuatu yang sudah lama ia simpan.

“Bun,” ucap Fajar lirih, “sebenarnya jatah bagi hasil dari pabrik sutra di Sengkang itu kan selalu cair tiap empat bulan sekali. Sudah lima tahun aku sengaja tidak meminta pencairan, karena waktu itu aku sudah dua kali menarik sebagian hakku. Aku ingin anak-anak belajar bahwa usaha ini tidak bisa seenaknya diambil tanpa perhitungan. Tapi sekarang, untuk pembangunan aula Mega, aku rasa waktunya tepat untuk menarik kembali hak yang selama ini kutahan.”

Putri menatap suaminya dengan penuh pengertian. “Ayah benar. Lima tahun itu bukan waktu yang sebentar. Kalau memang hak Ayah masih utuh di sana, enggak ada salahnya ditarik sekarang. Apalagi ini untuk kepentingan keluarga dan masa depan Rumah Sutra. Jangan sampai anak-anak mengira uang itu turun begitu saja tanpa kerja keras. Kita tetap harus menjaga wibawa aturan usaha.”

Fajar mengangguk, wajahnya sedikit lebih tenang. “Ya, Bun. Jadi bukan hanya simpanan pokok, tapi juga jatah bagi hasil lima tahun terakhir yang belum pernah aku cairkan. Itu jumlahnya cukup besar, dan bisa menopang pembangunan aula tanpa mengganggu kas utama.”

“Yah, aku jadi ingat, waktu itu Ayah pernah bilang ke Bunda. Kalau demi keluarga dan kebahagiaan anak-anak, jangan pernah ditahan-tahan. Sebagai orang tua, tugas kita adalah ikhlas dan mendukung keinginan anak-anak selama hal itu positif. Sekarang Bunda cuma mau menjalankan apa yang Ayah katakan dulu. Siapa tahu ini jalan dari Allah untuk memajukan Rumah Sutra kita,” ucap Putri dengan bijak dan lembut.

Fajar hanya tersenyum dingin pada istrinya. Dengan jemari yang gemetar, ia mengambil ponselnya, lalu menekan nomor Restu, adiknya di Sengkang. Panggilan antar-pulau itu pun tersambung setelah nada sambung yang ketiga.

Lihat selengkapnya