Kabut di Rumah Sutra

Setiyarini
Chapter #9

Bangunan baru yang resmi terwujud

Hari-hari berikutnya, halaman barat Rumah Sutra berubah menjadi panggung riuh. Tukang Bas lokal berdatangan dengan peralatan tradisional: palu kayu, gergaji tangan, dan kapak yang berkilat karena sering diasah. Suara ketukan berirama berpadu dengan teriakan koordinasi, menciptakan musik kerja yang khas.

Tiang-tiang merbau besi ditancapkan ke tanah dengan penuh tenaga, sementara panel jati oven disusun rapi di atas fondasi beton. Bau serbuk kayu bercampur dengan aroma tanah basah dari kebun murbei di sebelahnya, membuat udara terasa hangat sekaligus segar.

Rahmadi berdiri di tepi lahan, tongkat kayu kecil di tangannya mengetuk pelan tanah setiap kali ia memberi arahan. “Geser dua jengkal ke kiri, supaya jalur air tidak terganggu,” ujarnya mantap. Tukang-tukang itu patuh, seolah suara Rahmadi adalah kompas yang tak bisa dibantah.

Mega dan Arifin sesekali datang membawa catatan, namun tatapan mereka masih penuh keraguan. Sultan hanya berdiri jauh di belakang, tangan terlipat, wajahnya masam melihat proyek yang berjalan mulus tanpa campur tangannya.

Di sela riuh pekerjaan, anak-anak kecil berlarian di sekitar kebun, tertawa melihat tiang kayu panggung yang semakin tinggi. Putri menatap mereka dengan senyum lembut, membayangkan suatu hari aula itu akan menjadi tempat pesta pernikahan, syukuran, atau sekadar ruang berkumpul keluarga besar.

Malam harinya, ketika tukang sudah pulang, suasana berubah hening. Tiang-tiang kayu yang berdiri tegak tampak seperti siluet hitam di bawah cahaya bulan. Angin malam berhembus membawa suara daun murbei bergesekan, seakan berbisik bahwa Rumah Sutra sedang melangkah ke babak baru.

Proses panjang pembangunan akhirnya selesai setelah tiga bulan penuh riak saling curiga dan intrik menghasut dari sang anak sulung serta menantu yang gagal total dalam usaha mereka menyingkirkan orang kepercayaan sang ayah.

Pembangunan aula itu menelan anggaran sebesar satu miliar tiga ratus delapan puluh juta rupiah dari dana talangan dua pabrik—pabrik tenun sutra di Sengkang dan pabrik penyulingan minyak akar wangi di Pasirwangi. Aula panggung kayu etnik modern khas Bugis berdiri anggun di dekat kompleks vila Rumah Sutra, menghadap siluet biru Gunung Kamojang.

Kabut musim hujan mulai turun menyelimuti atap genting aula yang sudah resmi berdiri, siap menyambut keuntungan baru sekaligus menjadi panggung baru bagi intrik Arifin selanjutnya yang jauh lebih berbahaya.

Berkat revisi anggaran dari Rahmadi, total biaya konstruksi aula berhasil ditekan. Dari anggaran satu setengah miliar rupiah yang berasal dari dua sumber antar-pulau, selain untuk pembangunan fisik, dana juga dialokasikan untuk fasilitas aula: kursi tamu, meja prasmanan, beberapa meja bulat, satu meja besar, perlengkapan sound system, perlengkapan rapat atau seminar berupa layar putih dan proyektor, perlengkapan pelaminan, tenda tamu, serta kain-kain dekorasi.

Sebagian anggaran juga dipergunakan untuk pembangunan toilet khusus di belakang aula, disediakan bagi para tamu acara. Dari total dana keseluruhan, ternyata berhasil dihemat seratus dua puluh juta rupiah, yang aman tersimpan di kas pusat Rumah Sutra sebagai cadangan perusahaan. Sebuah kemenangan telak bagi transparansi finansial Rumah Sutra di bawah pengawasan ketat sang tangan kanan dua pilarnya, sekaligus menjadi tamparan dingin bagi Arifin dan Sultan.

Di hari Minggu pagi yang cerah, halaman aula Rumah Sutra Putri Fajar dipenuhi para tamu undangan yang terdiri dari: keluarga besar dari pihak almarhum ayah maupun almarhumah ibunya Putri, sementara dari pihak Fajar datang saudara ayahnya dari Jakarta serta keponakannya—anak bungsu Mentari yang sedang berkuliah di Bandung. Adik Fajar, Restu bersama istrinya juga hadir, menambah hangat suasana reuni keluarga.

Selain keluarga inti, hadir pula kepala dusun, kepala desa, Pak Camat, beberapa rekanan bisnis Rumah Sutra, para juragan toko bahan bangunan langganan lama, beberapa komunitas yang bergerak pada kegiatan lingkungan, serta warga sekitar termasuk para pekerja maklun Rumah Sutra. Acara semakin meriah dengan doa syukuran yang dipimpin oleh ustadz kondang dari kota Garut, serta empat tarian adat Sunda dan Bugis yang ditampilkan bergantian di panggung kayu etnik.

Kelompok penari adat Bugis semakin membuat bangga keluarga besar karena salah satu anggota penarinya adalah Citra, cucu Fajar dan Putri—anak perempuan kedua Sultan dan Aulia yang berusia tiga belas tahun. Penampilannya luwes, membuat para tamu terharu. Tak lama kemudian, Mutiara juga tampil bersama dua teman perempuan karang taruna-nya dan satu staf perempuan bagian eduwisata dalam grup penari dewasa Sunda, membawakan tari selamat datang khas Sunda dengan anggun.

Setelah tarian persaudaraan selesai, Fajar berdiri perlahan dengan tongkat kayu jati di tangan, wajahnya teduh penuh wibawa. Mega mendampingi di sisi kanan, mengenakan kebaya sutra hijau muda adat Sunda.

Lihat selengkapnya