Kabut di Rumah Sutra

Setiyarini
Chapter #13

Isu yang berembus dari ruang rapat

Melihat kondisi ruang rapat yang mendadak lengang karena semua orang terdiam setelah menyaksikan perdebatan antar saudara kandung yang kian buntu, Arifin seketika menopang dagunya. Tatapannya penuh perhitungan, lalu perlahan ia melirik ke arah Sultan. Gerakan kecil itu bukan sekadar refleks, melainkan bagian dari siasat baru yang sudah ia rancang dalam benaknya—siasat efisiensi yang diam-diam ingin ia lancarkan demi memperkuat posisinya.

“A Sultan, kalau boleh saya usul, demi memulihkan kestabilan kas pusat setelah pembelian suku cadang mesin tenun nanti, A, kita harus berani mengambil kebijakan ekstrem,” cetus Arifin, nadanya terdengar dingin dan taktis.

Sultan yang sedang fokus menatap layar laptopnya langsung menoleh, mulai tertarik. “Memang, apa usulmu, Fin?”

“Fasilitas ganda asuransi kesehatan buruh seperti Askes swasta itu sebaiknya kita hapuskan saja A, mulai bulan depan. Toh, dari perusahaan ini masih ada iuran wajib BPJS Kesehatan, kan? Jadi buat apa juga kita boros bayar dua asuransi sekaligus?” jelas Arifin sambil memperhatikan wajah kakak iparnya yang seketika mengerutkan dahi, seolah sedang mencerna usulan itu di pikirannya.

"Emm, bisa juga sih, begitu," sahut Sultan mengangguk-angguk sambil memikirkan usulan adik iparnya.

Arifin terus mengeluarkan buah pemikirannya dan menjejalkannya ke otak kaka iparnya. “A, kalau saya perhatikan, di tempat kita ini banyak juga pegawai yang mendekati usia lima puluh, malah ada beberapa yang usianya di atas lima puluh. Dan sepertinya sudah saatnya juga sih, kalau kita lakukan penyortiran karyawan tetap secara besar-besaran. Kita seleksi ulang dari seratus buruh itu berdasarkan faktor usia dan produktivitas harian mereka di kebun maupun pabrik. Sebenarnya, dengan perginya Rahmadi dari sini, itu ada keuntungan besar bagi keuangan kita. Kita bisa jauh lebih berhemat untuk memotong cost gaji bulanan para buruh yang sudah tidak produktif dan lansia. Rumah Sutra ini kan, enggak butuh orang tua yang pergerakannya lambat.”

Di tengah paparan culas Arifin yang disimak penuh ambisi oleh Sultan dan Aulia, Satria yang fokus mengedit video di kursi paling ujung akhirnya angkat bicara. Berbeda dengan kakak-kakaknya, Satria tidak ikut berteriak, namun sorot matanya sedingin es menatap wajah Arifin.

“Mas Arifin... apa Mas yakin strategi penyortiran buruh lansia itu beneran bisa menekan cost upah pekerja di Rumah Sutra ini?” sela Satria datar, memotong kalimat iparnya dengan telak.

Arifin mengernyitkan dahi. “Ya jelas bisa lah, Sat. Pengeluaran gaji pokok kita otomatis kan akan berkurang.”

Satria tersenyum tipis—sebuah senyuman dingin yang sarat arti. Ia mendongak dan duduk tegap, lalu menatap Arifin dengan sorot mata tajam. “Mas Arifin lupa atau memang tidak tahu regulasi hukum tenaga kerja? Bukankah kalau kita melakukan pengurangan buruh tetap, perusahaan wajib membayar uang pesangon kepada mereka secara tunai yang nilainya dihitung berdasarkan masa kerja?" Satria berhenti sejenak, menarik napas panjang, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih tegas. "Buruh-buruh lansia di kebun hulu itu rata-rata sudah mengabdi di sini di atas dua puluh sampai tiga puluh tahun sejak zaman Ayah merintis."

Satria kembali menatap Arifin, kali ini dengan nada menekan. "Memangnya divisi manajemen kita saat ini sudah menyiapkan dana tunai senilai ratusan juta yang siap dicairkan khusus untuk bayar biaya pesangon para buruh itu? Enggak mungkin, kan, kita memberhentikan mereka begitu saja secara paksa tanpa membayar pesangon sepeser pun?" Satria mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan, suaranya semakin dingin. "Undang-undang ketenagakerjaan bisa menyeret tempat ini ke pengadilan, Mas. Mas Arifin harus pikirkan risiko matang itu sebelum bicara soal efisiensi.”

Pertanyaan telak dari si anak bungsu seketika membungkam mulut Arifin. Sultan dan Aulia langsung terdiam saling lempar pandang dengan wajah yang mendadak kaku karena terbentur tembok hukum pesangon yang tidak mereka kuasai.

Tiba-tiba terdengar suara ketukan pelan di pintu rapat. Tanpa menunggu jawaban, pintu terbuka, dan seorang office girl bernama Tarsih melangkah masuk dengan nampan berisi kopi dan teh panas. Karena posisi duduk Satria berada di ujung meja membelakangi pintu, ia tidak peduli dengan kehadiran Tarsih. Satria tetap melanjutkan kalimatnya dengan sorot mata tajam ke arah Arifin, sementara wajah kakak-kakaknya di depannya menegang.

Gerakan Tarsih saat menyajikan minuman di atas meja terasa lambat, seolah ia sengaja memperlambat langkah untuk bisa menangkap percakapan yang sedang berlangsung—percakapan yang bagai serbuk mesiu siap disulut.

Sultan yang sudah gelisah melihat gerakan itu mendadak membentak dengan nada tinggi, “Tarsih, bisa cepet enggak, sih?!”

Tarsih tersentak, wajahnya pucat. Ia menunduk dalam-dalam sambil berbisik lirih, “Mu...muhun, Pak. Hapunten...”

Dengan tergesa, ia meletakkan dua cangkir lagi berisi teh panas dengan tangan gemetar lalu bergegas keluar, meninggalkan ruangan dengan jantung berdebar. Namun, potongan percakapan yang sempat ia dengar sudah cukup untuk menjadi bahan ingatan yang kelak bisa menyebar ke luar ruangan.

Tak lama kemudian setelah office girl itu keluar dari ruangan, Mega yang sedari tadi menggulir layar tabletnya kembali menanyakan soal anggaran sisa pembangunan aulanya. “Jadi gimana untuk urusan perbaikan fasilitas vila itu, nih? Anggaran sisa aula itu beneran masuk semua ke kas pusat?” tanya Mega dengan nada menggerutu, jemarinya tetap sibuk menggulir layar tabletnya. Ia berkecap lidah, lalu melanjutkan dengan nada lebih tajam, “atau jangan-jangan sisa anggaran itu, ditambah hasil keuntungan penyewaan aulaku, sebagian besar sudah ditarik secara sepihak untuk DP mobil MPV baru warna perak yang silau mentereng di garasi rumah Aa, yang punya Mbak Aulia itu!”

Lihat selengkapnya