Kabut di Rumah Sutra

Setiyarini
Chapter #29

Benang kusut yang terurai

Malam kian larut menelan kawasan Rumah Sakit Umum Daerah Garut, membawa keheningan yang teramat sunyi di sepanjang koridor ruang tunggu ICCU. Jam dinding digital di atas selasar telah melewati angka tengah malam. Satu per satu kerabat, kolega bisnis, dan perajin senior yang sejak siang meramaikan lorong rumah sakit telah pamit pulang menuju kediaman masing-masing.

Kini, ruangan dingin itu hanya menyisakan barisan keluarga inti Fajar. Di sudut saf depan Masjid RSUD, keluarga Paman Restu dari Sengkang masih bertahan dalam khusyuk, melantunkan ayat-ayat suci yang tak putus-putus demi keselamatan sang kakak. Di ruang tunggu utama, Paman Putra Mahardika bersama istri dan anak-anaknya juga tetap setia berjaga, enggan beranjak demi mengawal kakak perempuannya melewati malam yang panjang.

Putri Maharani duduk dengan kelopak mata yang kian memberat. Fisik dan batinnya yang terkuras habis sejak hari Rabu malam lalu membuat tubuh rentanya limbung. Ia akhirnya menyandarkan kepalanya yang berselimut kerudung ke atas bahu Mutiara yang duduk di sebelahnya. Mutiara merangkul lengan ibunya dengan lembut, sementara Satria duduk di sisi lain sembari menggenggam erat jemari sang ibu yang terasa dingin.

Di sisi lain, Sultan dan Aulia duduk berdekatan di barisan kursi besi paling belakang, menjaga Candra dan Citra yang telah tertidur pulas dalam posisi saling menyandar. Keheningan malam itu terasa begitu menghimpit, diiringi desau angin malam kota Garut yang merembes masuk melalui celah ventilasi kaca.

Tepat pukul dua dini hari, keheningan yang mencekat itu mendadak pecah. Pintu kaca tebal ruang ICCU bergeser terbuka. Seorang petugas perawat dengan pakaian seragam hijau medis melangkah keluar dengan tergesa-gesa. Langkah kakinya yang memecah sunyi koridor seketika membuat Ibu Putri tersentak bangun dari tidurnya. Mutiara, Satria, dan Sultan serentak menegakkan punggung dengan jantung yang berdegup kencang. Mereka telah bersiap menghadapi kemungkinan terburuk dari mulut tim dokter.

“Keluarga Bapak Andi Fajar Putrajaya?” panggil perawat tersebut, matanya menyapu barisan kursi tunggu.

Sultan sebagai anak sulung yang duduk di kursi paling bekakang langsung berdiri, begitu juga dengan sang ibu yang duduk di kursi besi barisan depan langsung bangkit, meskipun kakinya masih terasa gemetar hebat. “Iya, Sus... saya istrinya. Bagaimana kondisi suami saya?”

Sebuah senyuman tulus mendadak terbit di wajah sang perawat, meluluhkan seluruh ketegangan yang membeku sejak sore. “Alhamdulillah, Ibu... Baru saja Bapak Fajar telah sadar dari komanya. Beliau sudah berhasil melewati masa kritisnya dengan sangat baik. Detak jantung dan tekanan darahnya berangsur-angsur stabil, dan refleks motoriknya sudah kembali memberikan respons positif.”

Seketika itu juga, kabar tersebut laksana hembusan angin surga yang meruntuhkan seluruh dinding kecemasan mereka. Mukjizat yang dikirimkan Tuhan di sepertiga malam itu benar-benar nyata. Air mata yang meleleh di pipi Ibu Putri kali ini bukan lagi air mata kesedihan, melainkan bulir-bulir kebahagiaan dan rasa syukur yang teramat buncah.

Putri Maharani langsung merapatkan kedua tangannya di depan dada, bersujud syukur di atas lantai koridor sebelum akhirnya dipeluk erat oleh Mutiara dan Satria, serta Sultan yang ikut menangis bahagia. Sementara itu kerabat keluarga yang masih ikut menunggu, saling bertukar pandang dengan mata yang berkaca-kaca. Aulia dan anak-anaknya saling merangkul erat dan menangis haru yang pecah di koridor.

“Suster... apa saya sudah diperbolehkan masuk untuk melihat suami saya?” tanya Ibu Putri dengan suara yang bergetar penuh pengharapan.

“Boleh, Ibu. Tapi mohon maaf, untuk saat ini hanya Ibu dan satu orang lagi untuk mendampingi, yang terlebih dahulu diperkenankan masuk menemani Bapak. Dan selanjutnya secara bertahap, ya,” sahut perawat itu dengan ramah.

Putri ditemani Satria melangkah masuk menembus pintu kaca dengan draf langkah yang mantap. Begitu kakinya tiba di samping ranjang pasien, dadanya berdesir hebat. Di bawah temaram lampu ruang ICCU, sepasang mata sang ayah yang sayu perlahan terbuka, menatap lurus ke arah sang istri. Selang ventilator otomatis yang mengunci mulutnya kini telah dilepas, digantikan oleh masker oksigen standar.

Tanpa membuang waktu, Putri langsung menghambur maju, memeluk erat tubuh suaminya dengan penuh kasih sayang dan air mata kebahagiaan yang mengalir deras. Fajar menggerakkan jemarinya yang masih kaku, membalas remasan tangan istrinya dengan sentuhan yang teramat lemah namun sarat akan kehangatan seorang perintis.

Gema mukjizat kepulihan Abah Fajar dari masa komanya berjalan melesat menembus jarak, tersiar hingga ke kaki Gunung Kamojang pada subuh harinya. Melalui sambungan telepon dari Hendi, kabar bahagia itu mendarat di pos satpam satu dan menyebar cepat ke seluruh penjuru Rumah Sutra.

Seketika, rasa lega luar biasa menyelimuti batin para pekerja. Usai kumandang azan subuh berkumandang dan ibadah shalat subuh ditunaikan secara berjamaah di musala besar kompleks inti Rumah Sutra, seluruh perajin tenun, pemintal, buruh kebun, hingga staf kantor manajemen yang tinggal di mes tidak langsung membubarkan diri. Mereka kembali menggelar ritual doa bersama di bawah bimbingan sesepuh dusun. Kali ini, rapalan doa mereka dipenuhi oleh untaian kalimat hamdalah dan rasa syukur yang mendalam karena tiang penyangga utama Rumah Sutra telah diselamatkan dari ambang kematian.

Lihat selengkapnya