Beberapa hari berikutnya, langit di atas kaki Gunung Kamojang perlahan mulai mengikis kabut pekatnya, berganti dengan semburat cahaya matahari pagi yang hangat. Suasana penuh kelegaan menyelimuti seluruh ekosistem empat hektar seiring dengan kepulangan Abah Fajar ke rumah induk. Meski tubuh rentanya kini harus bergantung pada kursi roda, binar kecerdasan dan wibawa di sepasang matanya telah kembali sepenuhnya.
Di ruang tengah yang teduh, sebuah kabar baik yang teramat dinantikan akhirnya datang dari mulut Pak Wahyu. Selaku Kepala Audit Internal Rumah Sutra. Pria paruh baya itu melangkah masuk membawa sebuah beberapa berkas resmi dengan senyum tipis yang sarat akan keberhasilan.
“Alhamdulillah, Abah, Bunda... seluruh proses administrasi di lembaga perbankan pusat sudah rampung tanpa kendala,” lapor Pak Wahyu dengan nada suara rendah penuh takzim. “Sesuai dengan otoritas rahasia yang Bunda berikan waktu itu, dan kita berhasil menjaminkan sertifikat tanah sektor utara seluas satu hektar kepada bank. Suntikan dana makro yang cair sudah masuk penuh ke dalam kas pusat sebagai dana cadangan operasional.”
Ibu Putri mengangguk takzim, lalu melirik ke arah Fajar yang menggenggam jemarinya. Namun, sebelum Pak Wahyu kembali ke kantor manajemen, Putri memberikan pesan terakhir yang teramat tegas.
“Saya minta tolong untuk amankan dokumen pencairan ini, Kang Wahyu,” bisik Ibu Putri, sorot matanya berkilat penuh pengajaran. “Jangan sampai anak-anak saya tahu kalau operasional Rumah Sutra diselamatkan oleh dana talangan dari tanah satu hektar di sektor utara yang dibuat jaminan pada bank. Biarkan mereka mengira bahwa Rumah Sutra bertahan murni karena uang hasil penjualan aset pribadi mereka. Biarkan ini menjadi ujian yang membuat mereka agar benar-benar kapok dan menyadari batasan integritas.”
Pak Wahyu mengangguk paham. Beberapa aset pribadi milik Sultan dan Mega yang berhasil dilego—mulai dari sertifikat rumah mewahnya di kawasan elit di Bandung, mobil MPV baru, motor sport dan trail-nya, hingga tumpukan perhiasan dan tas branded milik Aulia—kini uangnya dikumpulkan dan dikunci rapat di dalam sebuah rekening penampungan khusus. Keberadaan dan jumlah total nominalnya tidak diketahui oleh satu pun dari anak-anak Fajar-Putri demi keamanan, kelancaran administrasi, serta bagian dari terapi kejut untuk mereka.
Sejak dana dari jaminan tanah sektor utara itu cair, nadi operasional Rumah Sutra Putri Fajar kembali bisa bernapas lega. Semua kas perusahaan yang tadinya bolong akibat siasat rayap generasi kedua berhasil ditutup total tanpa sisa. Dan yang paling melegakan, seluruh tunggakan asuransi kesehatan serta iuran BPJS Ketenagakerjaan para buruh dan staf langsung dilunasi oleh Rumah Sutra. Rasa cemas para buruh akhirnya menguap, berganti dengan semangat baru yang kembali meramaikan ekosistem lahan empat hektar di kaki Gunung Kamojang.
Mendengar laporan bahwa hak-hak pekerja kecilnya telah terpenuhi dan seluruh operasional terkendali dengan aman, Fajar yang duduk di kursi roda mengembuskan napas panjang penuh keikhlasan. Dada kirinya kini tidak lagi terasa sesak. Senyum teduh terukir di wajah putihnya, bersanding dengan batin sang istri yang akhirnya bisa kembali merasakan kedamaian di rumah induk setelah didera badai krisis medis yang menguras air matanya.
Hingga suatu sore, ketika riuh derik tonggeret dari balik pohon murbei mulai bersahutan menyambut senja, pintu ruang tengah diketuk perlahan. Mega melangkah masuk. Langkah kakinya teramat pelan dengan bahu yang merosot layu. Wajahnya tampak begitu polos, kehilangan seluruh sisa keangkuhannya. Matanya sembap, menyiratkan luka batin yang teramat dalam setelah penangkapan Arifin di Jakarta dan pengakuan Indah tempo hari.
Melihat kedua orang tuanya sedang duduk berdampingan di serambi belakang yang menghadap ke kebun murbei dan sayur, pertahanan Mega runtuh seketika. Air matanya mengalir deras tanpa bisa dibendung lagi.
Mega melangkah terburu-buru, lalu langsung menjatuhkan tubuhnya, bersimpuh di lantai kayu rumah induk. Dengan kedua tangan yang gemetar hebat, ia memeluk erat lutut rentan sang ayah dan mendekap pinggang ibunya secara bersamaan. Isak tangis histerisnya pecah membelah kesunyian sore itu, sebuah tangisan penyesalan yang lahir dari kehancuran sebuah ego yang fana.
“Ayah... Bunda... maafkan Mega... Mega minta maaf,” ratap Mega terengah-engah di sela tangisnya yang tersedu-sedu. “Mega mengaku salah, Bun... Mega sangat menyesal atas segala kebodohan dan keserakahan Mega selama ini. Mega sudah mengkhianati kepercayaan Ayah dan Bunda hanya demi membela orang yang salah... Mega benar-benar minta maaf, Yah...”
Fajar menatap kepala anak perempuannya yang tertunduk bersimpuh di atas lututnya. Perlahan, tangan tua sang perintis yang masih sedikit kaku bergerak turun, mengusap lembut rambut Mega dengan kasih sayang seorang ayah yang tak pernah berkurang oleh kesalahan darah dagingnya. Di sebelahnya, Ibu Putri ikut merengkuh bahu Mega, membiarkan anak keduanya menumpahkan seluruh sisa racun manipulasi Arifin di dalam pelukan hangat mereka.
Sore itu, di tengah keheningan rumah induk, benang-benang asa yang sempat putus dan koyak oleh badai pekat keserakahan kini resmi ditenun kembali. Rumah Sutra tidak hanya berhasil menyelamatkan urat nadi bisnis tekstilnya dari ambang kebangkrutan, melainkan telah berhasil memulihkan kembali jiwa-jiwa anak manusianya untuk kembali bersujud di atas tanah kejujuran dan rasa saling menghargai.
Satu bulan berlalu. Malam di kaki Gunung Kamojang terasa teramat senyap dan damai. Riuh derik tonggeret dari balik pohon murbei hulu bersahutan dengan desau angin yang sejuk. Di tengah ketenangan itu, sebuah notifikasi memecah sunyi; pesan singkat dari Mutiara mendarat di grup WhatsApp keluarga besar Rumah Sutra.
Mutiara: ‘Assalamualaikum, semuanya. Malam ini Mutiara mengundang Ayah, Bunda, Aa Sultan, Teh Mega, dan Satria untuk makan malam bersama di ruang tengah rumah induk, ya. Ada hal penting yang ingin Mutiara sampaikan secara langsung. Ditunggu kedatangannya, hatur nuhun.’
Undangan makan malam yang mendadak namun hangat itu tak pelak memicu rasa penasaran di dada kakak-kakaknya. Namun, berbeda dengan hari-hari lalu yang sarat akan ketegangan, malam ini Sultan dan Mega melangkah menuju rumah induk dengan hati yang jauh lebih tenang dan ikhlas.