Kabut di Rumah Sutra

Setiyarini
Chapter #19

Akhir pekan yang kacau (Bagian 2)

Melihat tim TV Jakarta bergerak, dua jurnalis portal media online dari Bandung dan Garut pun tidak mau kehilangan momen. Mereka segera menyusul, menyodorkan alat perekam ponsel untuk ikut mewawancarai sisa anggota geng lainnya yang mulai mengumbar cerita mentereng mengenai kedatangan mereka.

Di tengah proses wawancara yang bising oleh gelak tawa manja itu, seorang staf bagian eduwisata perempuan dengan seragam Rumah Sutra yang rapi melangkah menghampiri mereka. “Maaf Ibu, ini rombongan teman-temannya Bu Aulia, ya?” tanya sang pemandu dengan sopan, mencoba memastikan daftar manifes tamu hari itu.

Nini Karmila, salah satu anggota geng yang mengenakan kacamata hitam besar, mendongak angkuh. “Iya, Teh. Saya Nini Karmila, dan ini teman-teman saya, kelompok arisannya Bu Aulia. Kami tamu VIP di sini.”

Tepat saat staf eduwisata itu hendak menjelaskan prosedur kunjungan, terdengar deru halus motor listrik dari arah jalan aspal yang membelah kebun murbei paling depan. Jalan itu terhubung langsung dengan kompleks rumah Sultan dan Mega di sektor selatan. Aulia tampak duduk di boncengan, diantar oleh salah seorang asisten rumah tangga laki-lakinya.

Begitu turun dari motor listrik, Aulia langsung mengembangkan kedua tangannya, berjalan terburu-buru menghampiri gazebo dengan gaya penuh pesona. “Hai... Bebeb-bebeb cantik! Ya ampun... aku sudah cemas banget, kirain kalian enggak jadi datang!” seru Aulia dengan nada manja berbalut canda. “Soalnya aku tanya lagi ke Beb Siska dan Beb Marsha buat konfirmasi, eh, pada lama banget balas pesannya!”

“Aduh, Jeng Lia! Maaf, ya. Kami tadi lama karena saling main tunggu-menunggu, belum lagi terjebak macet di jalur bawah. Tapi begitu sampai, langsung disambut sama tim TV dari Jakarta ini. Kita habis diwawancara, lho!” sahut Siska bangga, menunjuk ke arah kru kamera yang mulai menurunkan peralatan mereka.

Wajah Aulia seketika berbinar bangga. Kehadiran media nasional di halaman Rumah Sutra seolah menaikkan harga dirinya berkali-kali lipat di hadapan teman-teman kotanya. Mengambil momentum sebagai "nyonya rumah" yang berkuasa, Aulia langsung mengibaskan tangannya, mengomandoi geng tersebut dengan nada angkuh.

“Nah, mumpung kalian sudah sampai, ayo kita ke Rumah Sutra Kafe dan Resto di samping kantor manajemen dulu! Udara di sini mulai panas,” ajak Aulia sembari melirik staf eduwisata yang sejak tadi terabaikan. “Di sana kalian bebas memesan makanan dan minuman apa saja sepuasnya. Semuanya free, tinggal catat atas nama saya!”

Setelah memastikan teman-temannya duduk nyaman di area sofa VIP resto, senyum ramah di wajah Aulia seketika lenyap. Sebelum melangkah pergi untuk mengurus suvenir, ia memutuskan untuk masuk ke area dapur resto terlebih dahulu.

Ia menghampiri pelayan resto yang sedang bersiap di balik konter. “Mbak, tolong antarkan daftar menu ke teman-teman saya yang sudah duduk di sofa VIP depan sekarang, ya,” perintah Aulia ketus. Ia menjeda kalimatnya sejenak, menatap deretan rak dapur yang tampak lengang. “Oh, iya. Pilihan menunya hari ini lengkap, kan?”

Pelayan resto itu menunduk canggung dengan gurat wajah serba salah dan berbicara dengan suara terbata. “Punten, Bu Lia. Un... untuk menunya hari ini justru banyak yang habis. Soalnya kami belum belanja lagi untuk stok bahan mentahnya, Bu.”

Aulia terbelalak, wajahnya seketika panik bercampur geram. “Apa?! Banyak yang kosong?! Bagaimana, sih, kok bisa banyak yang habis? Memangnya bos kamu enggak nyuruh kamu belanja bahan mentah? Hari ini kan weekend, kunjungan sedang ramai-ramainya!” cecar Aulia kasar.

Mendapat semprotan mendadak, pelayan itu ketakutan, suaranya bergetar halus. “Aduh, punten sekali, Bu... saya kemarin sudah coba mengingatkan Bu Mega. Tapi beliau bilang, katanya demi efisiensi bahan mentah resto, jadi belanja bahan mentah besar-besaran cukup dilakukan sebulan sekali saja. Beliau menegaskan yang diperbanyak stoknya hanya jus murbei segar, teh, kopi, bolu Koja panggang, bebek dan ayam goreng kremes, nasi liwet, tempe-tahu, serta kentang dan nasi goreng. Paling hanya itu, Bu. Kalau menu daging-dagingan yang lain... kosong.”

Aulia berkacak pinggang, wajahnya kian bersungut-sungut. “Terus, bos kamu itu pulang jam berapa katanya dari acara undangan di Ciamis?” tanya Aulia lagi dengan nada menyelidik.

“Wah, punten, Bu. Kalau soal itu saya kurang tahu pasti, jam berapanya Bu Mega akan kembali ke sini,” sahut pelayan itu jujur sembari menundukkan kepala.

Aulia berdecak lidah, langsung menggerutu kesal dengan suara lantang. “Haduh! Benar-benar, deh, bos kamu itu! Mau pergi ke undangan tapi restonya enggak diurus dulu. Minimal bahan mentahnya dilengkapi dulu, kek! Payah... payah... Bagaimana, sih, cara kerjanya?! Mengurus resto saja enggak becus! Ya sudah, kamu tandai saja menu mana saja yang kosong pakai spidol, biar teman-teman saya memesan menu yang tersedia saja!”

“Baik, Bu Lia,” sahut pelayan resto itu dengan suara gemetar. Dengan tangan sedikit gemetaran, ia segera menyodorkan beberapa buku daftar menu kepada tamu-tamu VIP Aulia di depan.

Sesuai dugaan, kekacauan batin Aulia langsung menular ke meja depan. Lima di antara anggota geng sosialitanya langsung menggerutu kesal begitu melihat lembar daftar menu dipenuhi coretan spidol merah tebal yang menandakan hidangan tersebut tidak tersedia.

“Ya... kok banyak yang dicoret merah begini, sih? Padahal aku lagi pengin banget makan sate domba khas Garut-nya Rumah Sutra, lho,” keluh Novi kecewa dengan wajah manyun, melempar buku menu ke meja.

Lihat selengkapnya