Kabut di Rumah Sutra

Setiyarini
Chapter #15

Para menantu yang ngelunjak

Di sebuah sudut kafe mewah di kawasan Cipanas yang sejuk, Aulia tertawa renyah di antara denting sendok perak dan cangkir porselen. Di depan teman-teman arisannya yang mengenakan pakaian serba glamor, ego Aulia membubung tinggi. Demi memamerkan statusnya sebagai “istri pemilik tunggal” rumah usaha sutra, ia menopang dagu sambil tersenyum lebar.

“Bebeb-bebeb terhormat yang hadir di sini, pokoknya untuk weekend ini kalian enggak usah bingung-bingung mau ngisi akhir pekan ke mana. Kalian semua saya undang deh, ke Rumah Sutra saya di weekend ini, gimana? berkenan enggak?” ujar Aulia setengah berbisik namun penuh penekanan. “Nanti kalian tinggal datang saja, enggak usah bayar pemandu. Semuanya free!

“Wah! Berarti ada dong, nih, produk kain sutra yang free juga buat kita-kita? Iya enggak sih, teman-teman?” celetuk salah satu peserta arisan bernama Olin. Wanita yang berprofesi sebagai dokter spesialis kulit sekaligus pemilik klinik kecantikan ternama di Kota Garut itu mengedip-ngedipkan mata ke arah rekan-rekannya, memberi kode agar semua orang mendukung seruannya.

Sebelumnya, suasana di meja bundar kafe mewah itu bukan hanya riuh oleh denting cangkir porselen, melainkan juga penuh dengan ajang pamer tas bermerek, pakaian glamor, dan perhiasan berkilau. Setelah sesi pamer usai, obrolan pun bergeser ke kasak-kusuk gosip yang lebih tajam, dan mulai menguliti urusan dapur Rumah Sutra. Rasa penasaran teman-teman Aulia pun memuncak, ingin tahu bagaimana gurita bisnis keluarga suaminya sebenarnya dikelola.

“Beb Lia... kalau bagian produksi sutra dipegang sama suami kamu, si Sultan, terus urusan vila dan aula yang di sebelah barat dipegang adik iparmu, Mega, lalu divisi pelayanan kunjungan dan kegiatan ekowisata-eduwisata yang lagi ramai itu siapa yang pegang?” tanya Siska tiba-tiba menyela pertanyaan Olin sembari memotong cheesecake di piring kecilnya.

Aulia mengibaskan rambutnya yang ikal dan hitam legam sebahu, wajahnya mendadak masygul. “Ah, itu sih dipegang sama Mutiara, adiknya suamiku. Anak nomor tiga. Aku males punya urusan sama dia, orangnya kaku. Maklum deh, mungkin karena belum nikah, ya? Jadi, kaku deh bergaulnya.”

Mendengar itu, salah satu anggota geng bernama Novi yang merupakan istri dari seorang juragan domba Garut langsung menimpali dengan bersemangat. “Oh, belum merid? Ya sudah, jodohkan saja kalau begitu adik iparnya Jeng Lia sama Ki Raka! Itu lho, juragan domba tajir yang sawahnya juga di mana-mana. Sudah berapa usianya memang sekarang, Jeng?”

“Emm, berapa, ya? Kalau enggak salah sih, tiga puluh, deh,” sahut Aulia acuh tak acuh.

“Wah, itu sih bukan cucok lagi! Keburu mendekati tiga puluh lima nanti, malah makin susah,” cibir Novi disambut tawa kecil anggota geng lainnya. “Saran saya, cepat-cepat saja dikenalkan, Jeng.”

“Iya, nanti deh, Beb. Saya coba obrolin dulu sama anaknya. Soalnya, selain anaknya kaku, dia itu sibuk banget bantuin mengurus bisnis keluarga, jadinya kurang gaul, deh. Dan... belum nikah-nikah sampai sekarang,” cibir Aulia, sengaja mengumbar privasi adik iparnya demi mencairkan suasana meja arisan.

Gelak tawa pun kembali pecah, hingga salah satu dari mereka menyenggol lengan Siska yang sedang menyuap potongan cheesecake ke mulut, untuk mengingatkan perihal undangan berkunjung ke Rumah Sutra pada hari Sabtu sekaligus menagih buah tangan khas dari sana. Siska pun langsung mengedipkan matanya sebagai tanda sepakat.

“Oh, iya, waktu kita arisan di tempatnya Beb Olin dua bulan lalu, kita semua kan dapat suvenir produk paket skincare dari kliniknya, ya. Kalau gitu, nanti saat kita berkunjung ke Rumah Sutra Jeng Lia, kita bakal dapat juga dong, produk kain sutra premium dari sana?” timpal Marsha, yang membuat peserta arisan lainnya ikut menuntut.

Seketika, dada Aulia berdesir panik. ‘Waduh! Mampus, nih! belum apa-apa mereka udah nagih suvenir, aja. Mana minta yang premium, lagi. Tapi... masa undangan lewat ucapanku tadi aku tarik lagi, sih? Ah, enggak, gengsi dong kalau aku tarik undanganku tadi. Hmm… gampang, deh. Urusan suvenir nanti bisa lah diatur. Tinggal ambil syal sutra premiun di gudang belakang. Kalau cuma lima belas lembar mah, nilainya juga enggak mahal-mahal banget,’ gumam Aulia dalam hatinya yang mendadak galau.

Tidak terpikir olehnya kalau undangan lisan itu akan menjadi beban baru akibat teman-temannya menagih produk kain sutra premiun. Namun demi menjaga gengsi di depan publik, Aulia kembali menyunggingkan senyum lebarnya.

"Jeng Lia, kenapa tiba-tiba melamun? Lagi gak banyak pikiran, kan, Jeng?" celetuk Siska yang duduk persis di sebelahnya dengan nada penasaran.

Lihat selengkapnya