Kabut di Rumah Sutra

Setiyarini
Chapter #22

Mendadak makan siang bersama

Hari Selasa pagi, operasi senyap kepulangan itu dimulai. Tanpa memberi tahu Sultan, Mega, maupun Mutiara, Fajar dan Putri bersama Hendi dan Kintan bertolak dari Sengkang menuju Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar. Putri meminta salah satu orang kepercayaannya untuk memesan tiket penerbangan jam sebelas siang waktu setempat menuju Bandung, lalu melanjutkan perjalanan darat selama kurang lebih empat jam jam secara diam-diam menuju kaki Kamojang. Satu-satunya anak yang diberi tahu mengenai rencana rahasia ini hanyalah Satria, si bungsu yang ditugaskan untuk menjaga gerbang inti tetap steril.

Tepat pukul delapan belas lebih dua puluh menit, tak lama setelah azan magrib berkumandang, keheningan halaman rumah induk Rumah Sutra Putri Fajar mendadak pecah. Sebuah mobil MPV premiun berwarna merah marun, mobil premium sewaan dari Bandara Husein Sastranegara Bandung, bergerak perlahan memasuki area pekarangan kompleks inti. Mobil itu melaju tenang, lalu berhenti tepat di depan teras rumah induk.

Pada saat yang bersamaan, Mutiara yang baru saja keluar dari kantor manajemen dan hendak menuju musala untuk menunaikan salat magrib, langkah kakinya seketika terhenti kaku di atas jalan setapak paving block. Sepasang matanya terbelalak menatap pintu geser penumpang mobil yang terbuka itu.

Ia melihat Kintan yang turun lebih dulu, diikuti oleh Hendi yang bergegas menuntun sang perintis turun dari kursi kabin tengah. Kemudian, tubuh renta sang ayah bertumpu kokoh pada tongkat kayu berkepala ukiran ulat sutra miliknya. Detik berikutnya, sosok sang ibu melangkah turun dengan perlahan dengan wajah yang tenang namun memancarkan wibawa yang teramat dingin.

Mutiara berdiri mematung dengan jantung yang berdegup kencang. Kepulangan kedua orang tuanya yang mendadak tanpa memberi kabar lebih dulu itu laksana petir yang menggelegar. Namun, dentumannya bukan karena sebentar lagi mau turun hujan, melainkan sebuah pertanda nyata bahwa rahasia senyap yang terjadi sepanjang akhir pekan yang kacau kemarin telah sampai ke telinga orang tuanya.

Mencoba menguasai gemuruh di dadanya, Mutiara langsung melangkah cepat menghampiri kedua orang tua dan dua asistennya yang baru tiba tersebut.

“Ayah... Bunda... sudah pulang?” tanya Mutiara terbata, suaranya sarat akan keterkejutan yang tak bisa disembunyikan. “Katanya awal pekan depan Bunda dan Ayah baru balik ke sini? Kok, enggak mengabari Mutiara dulu sebelumnya?”

Putri menatap anak gadisnya, lalu meletakkan satu jari telunjuk di depan bibirnya dengan gerakan lembut namun penuh penekanan.

“Ssshhh... Bunda sengaja, Nak,” bisik Putri teramat lirih sembari melirik ke arah koridor kantor manajemen. “Bunda sengaja enggak beri tahu siapa pun agar tidak bikin heboh di sini dengan kepulangan Ayah dan Bunda yang mendadak.”

Mendengar bisikan penuh rahasia dari ibunya, Mutiara melirik sekilas ke arah ayahnya. Sang perintis masih bergeming, menggenggam erat kepala tongkat kayunya dengan tatapan mata yang lurus menatap lobi utama kantor manajemen, seolah siap menuntut pertanggungjawaban atas setiap benang ego yang telah mengusik kedamaian Rumah Sutra selama ditinggalkannya.

Sesaat kemudian, Satria melangkah keluar dari ruang tamu rumah induk. Wajah si bungsu tampak tenang dan mengembuskan napas lega, pertanda bahwa ia telah menjalankan tugasnya dengan baik untuk memastikan area komplek inti steril dari pengawasan kakaknya, Sultan maupun Mega.

Ibu Putri segera memberikan isyarat tangan yang tegas kepada Mutiara dan Satria agar mereka segera merapat masuk ke dalam rumah induk. “Bawa barang-barang ke kamar belakang, Hendi, Kintan. Jangan sampai terdengar suara gaduh di luar,” perintah Putri berbisik teramat lirih.

Ia kembali menatap Mutiara yang masih tampak tegang. “Bunda mau minta sebelumnya, malam ini kalian berdua harus tutup mulut rapat-rapat. Jangan ada satu pun yang memberi tahu kakak-kakakmu kalau Ayah dan Bunda sudah berada di rumah. Biarkan malam ini berlalu seperti biasa.”

Mutiara dan Satria kompak mengangguk patuh, mengunci rahasia senyap itu rapat-rapat di bawah kegelapan malam Kamojang. Di kursi rotan ruang tengah, Fajar duduk bersandar dalam diam, jemarinya perlahan mengelap kepala tongkat kayu berkepala ulat sutra miliknya dengan selembar kain. Sepasang matanya yang sarat wibawa menatap lurus ke depan, memandangi foto keluarga kecilnya bersama istri, anak-anak, para menantu, dan cucu-cucunya dengan ukuran besar yang terpajang di dinding ruang tengah. Dari sorot matanya tampak menyimpan badai kecewa yang sedang ia tahan.

Keesokan harinya, hari Rabu tepat pukul enam pagi, operasi terapi kejut yang sesungguhnya dimulai.

Cahaya matahari subuh baru saja menyembul di balik kabut Gunung Kamojang ketika sang nyonya besar yang sesungguhnya memanggil Kintan, sang asisten ke dapur rumah induk. “Kintan, sekarang juga kamu temui Kepala Dapur Resto. Sampaikan pesan rahasia dari Bunda agar mereka menyiapkan menu makan siang dalam jumlah besar. Hidangannya harus sudah siap tersaji di atas meja pendopo bawah Aula Panggung sebelum jam dua belas siang.”

Putri menarik napas dalam-dalam, pandangannya berkilat taktis. “Setelah itu, Bunda minta kamu sebarkan undangan resmi di grup internal karyawan. Tulis kalimatnya begini, Kepada seluruh perwakilan divisi—mulai dari bagian dapur resto, marketing, gudang, keuangan, audit internal, hingga perajin tenun, pemintalan, dan kebun—diwajibkan hadir tanpa terkecuali untuk mengikuti agenda makan siang bersama di Aula Panggung sektor barat pukul dua belas tepat. Sifatnya mutlak wajib.

Agenda makan siang bersama tersebut merupakan siasat yang dirancang oleh Putri sebagai jebakan psikologis. Ia sengaja memilih Aula Panggung untuk lokasi pertemuan itu agar suasananya lebih santai dan bersahaja. Dengan mengemas agenda pengadilan keluarga Rumah Sutra berkedok "makan siang santai bersama", para pekerja dan anak-anaknya tidak akan merasa terintimidasi sejak awal, sehingga mempermudah Fajar untuk mengorek kejujuran dari mulut mereka secara telak.

Seketika, notifikasi undangan di grup gawai itu memicu kehebohan masal di seluruh penjuru kawasan Rumah Sutra Putri Fajar. Para buruh dan staf kantor manajemen membaca pesan tersebut dengan dahi berkerut bingung.

Di kediaman Sultan, anak sulung sang kepala produksi tekstil yang sedang menyeruput kopi susu di teras rumahnya dan baru mau berangkat ke gedung tenun, menatap layar ponselnya dengan rahang mengeras. "Siapa sih, yang buat undangan makan siang wajib ini? Apa jangan-jangan ini kerjaan Mutiara yang sengaja mau memamerkan divisi eduwisatanya setelah diliput stasiun TV dari Jakarta kemarin? Mau ngapain sih itu anak?" batin Sultan dongkol.

Sementara di rumahnya, Mega yang baru saja turun dari rumah panggungnya langsung didera kebingungan. "Kenapa mendadak ada undangan agenda makan siang bareng, ya? Ada yang ulang tahun? Tapi, siapa?" gumam Mega bertanya-tanya penasaran di dalam hatinya. Namun, karena sifatnya wajib, suka atau tidak suka, Mega dan Sultan terpaksa melangkah menuju sektor barat mendekati pukul dua belas siang.

Mendekati pukul dua belas siang, suasana di pendopo bawah Aula Panggung yang berlantai batuan alam pipih itu sudah tampak sangat rapi. Aroma harum dari bebek dan ayan goreng kremes, nasi liwet hangat, sambal goreng bawang, bolu Koja panggang, dan teh murbei aroma melati buatan dapur Resto Rumah Sutra menyengat hidung, tertata mewah di atas meja prasmanan panjang.

Sejumlah staf kantor Rumah Sutra termasuk Sari dan Astri, dua staf gudang Rafi dan Ahmad, Kepala Keuangan Santi, serta Kepala tim audit internal Wahyu, melangkah masuk dengan ragu. Sultan, Aulia, dan Mega tiba hampir bersamaan dari jalur yang berbeda, melirik tajam ke arah Mutiara dan Satria yang berdiri tenang di sudut tiang merbau.

Lihat selengkapnya