Melihat pemandangan yang mengancam keselamatan budidayanya tersebut, Mutiara tidak tinggal diam. Ia melangkah cepat menghampiri kedua siswa itu dengan tatapan mata yang berkilat tegas, namun suaranya tetap terjaga rendah agar tidak menambah kebisingan di dalam ruangan.
“Adik-adik... tolong perhatiannya sebentar. Kalian bisa memahami papan peraturan besar yang tertempel di dinding pintu masuk tadi, kan?” tegur Mutiara, nadanya menuntut kepatuhan yang mutlak. “Ulat sutra ini adalah makhluk hidup yang sangat sensitif. Suara bising dan gerakan mengejutkan dari kalian bisa membuat mereka stres, akhirnya mereka berhenti makan, bahkan bisa menyebabkan gagal berkepompong hingga mati. Tempat ini adalah laboratorium alam, bukan arena bermain.”
Kedua anak yang tadinya bercanda itu langsung menciut, wajah mereka memerah menahan malu di depan teman-teman sekelompoknya.
“Bagi kelompok yang sudah menyelesaikan waktu observasinya, silakan keluar dengan tenang agar bisa bergantian dengan kelompok berikutnya,” lanjut Mutiara, menyapu pandangan ke seluruh ruangan. “Mohon maaf yang sebesar-besarnya, ya, jika kalian tidak bisa menjaga ketenangan di dalam kandang ini, saya terpaksa memerintahkan tim pemandu untuk melewati sesi observasi di kandang ulat ini, karena kami harus mengutamakan keselamatan produksi Rumah Sutra. Terima kasih atas pengertiannya.”
Mendengar ketegasan dari mulut anak gadis perintis tersebut, seluruh murid di dalam kelompok itu langsung terdiam takzim. Mereka segera merapikan buku catatan masing-masing dan melangkah keluar menuju ruang penyortiran dan perebusan kokon dengan sangat tertib.
Baru saja Mutiara bisa mengembuskan napas lega dan hendak memeriksa kembali kondisi kelembapan rak bambu yang sempat terguncang, seorang staf eduwisata datang dengan tergesa. Mengingat jarak dari gudang stok barang jadi ke gedung pemeliharaan ulat membentang sejauh dua ratus meter, staf tersebut sengaja memacu motor listrik perusahaan, lalu turun dan berlari kencang memasuki gedung pemeliharaan. Napasnya terengah-engah dengan wajah panik yang tak bisa disembunyikan.
“Teh Mutiara... Teh! Gawat, Teh!” lapor staf itu setengah berbisik namun penuh kepanikan. “Itu... Bu Lia marah-marah di gudang stok barang. Beliau memaksa Rafi dan Ahmad untuk mengeluarkan lima belas lembar syal sutra murni premium untuk teman-teman arisannya yang sedang menanti di resto!”
Mendengar laporan itu, dada Mutiara seketika bergemuruh hebat. Darahnya mendidih, merebus amarahnya yang siap menyembur kuat. Di saat ia sedang memeras keringat mempertahankan keselamatan hulu dari bisingnya anak sekolah, kakak iparnya justru datang melangkahi birokrasi dan merampok stok pesanan butik besar di luar kota demi pamer gengsi pribadi.
Tanpa membuang waktu, Mutiara menyerahkan papan klipnya kepada petugas kandang, lalu melangkah lebar meninggalkan gedung pemeliharaan ulat, dan membonceng motor listrik yang dikemudikan staf-nya menuju gudang stok barang jadi.
Tak lama kemudian, tibalah Mutiara di gudang barang jadi. Dengan suara lantang ia menegur kakak iparnya. “Mbak Aulia! Maksudnya apa ini?! Kenapa Mbak selalu saja bikin kacau di setiap momen?” labrak Mutiara, napasnya memburu.
Aulia menurunkan kacamata hitamnya sedikit, menatap Mutiara dengan pandangan meremehkan. “Aduh, Mut... kamu kenapa, sih?! Sejak rapat waktu itu bawaannya sama aku jadi sensi terus. Aku ke sini cuma mau minta lima belas syal sutra premium. Itu saja, kok. Untuk teman-temanku di bawah. Mereka itu orang-orang terpandang! Aku sudah bilang ke Aa kamu juga kok, kalau semuanya gratis sebagai bentuk promosi. Jadi, enggak salah, kan?!”
“Mbak, dengar ya! Rumah Sutra ini punya aturan ketat yang harus dipatuhi oleh siapa pun, termasuk aku sendiri. Aku saja yang mau mendatangkan kunjungan, sibuk mempersiapkan segala sesuatunya dari jauh-jauh hari, supaya semua yang diperlukan untuk kegiatan kunjungan, termasuk suvenir, bisa dipersiapkan lebih awal, lebih matang. Jadi enggak asal main comot stok barang yang siap untuk dikirim ke pemesan, kecuali dari butiknya sendiri melakukan pembatalan sebagian pesanannya." jelas Mutiara panjang lebar menahan kesal pada sang kakak ipar.