Kabut di Rumah Sutra

Setiyarini
Chapter #17

Siasat rayap dalam jebakan jitu

Hari Kamis pagi membawa atmosfer yang sibuk di lantai dua kantor manajemen Rumah Sutra Putri Fajar. Di dalam ruangan kantor manajemen yang berudara sejuk khas pegunungan itu, beberapa staf administrasi, keuangan, akunting, marketing, hingga manajemen tenaga kerja tampak fokus di depan layar komputer masing-masing.

Pintu lobi kaca bergeser terbuka menampilkan Mega yang melangkah masuk dengan langkah yang sedikit ragu. Di dalam dekapan tangannya, sebuah map jepit plastik berwarna biru tersimpan sangat rapat.

Mega menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan debar jantungnya yang memburu sejak melangkah dari sektor selatan. Ia mengingat kembali setiap bisikan menenangkan dari suaminya pada waktu lima hari yang lalu telah mengucapkan janji manis mengenai program bayi tabung In Vitro Fertilization (IVF) yang menjadi pertaruhan hidupnya. Mega tahu betul, jika ia menyodorkan proposal tersebut langsung ke kakak sulungnya yang kaku itu, sudah pasti tidak akan memberi izin dan akan menginterogasinya habis-habisan karena arus kas pabrik sedang ketat. Maka, ia memanfaatkan celah birokrasi di lantai dua kantor manajemen ini.

Semenjak rapat besar keluarga waktu itu yang membahas pembagian divisi di Rumah Sutra, manajemen keuangan kas pusat memang sengaja diserahkan kepada beberapa karyawan senior, bukan kepada anak-anak Fajar dan Putri. Langkah ini diambil atas keputusan mutlak pasangan perintis itu, agar anak-anak maupun menantu mereka tidak saling berebut untuk menguasai pemasukan Rumah Sutra. Fajar ingin menjaga netralitas, sekaligus mencegah agar anak-anaknya tidak bermain asal comot kas perusahaan seenaknya saja seolah-olah menguras uang warung kelontong.

Dulu, sewaktu Rahmadi masih bergabung mengawal Rumah Sutra, seluruh lalu lintas sistem keuangan dikontrol dengan sangat ketat di bawah pengawasannya, lalu bermuara langsung pada laporan akhir di meja Fajar dan Putri. Namun, semenjak Rahmadi pergi meninggalkan kaki Gunung Kamojang beberapa bulan lalu, benteng pertahanan kas pusat itu mulai goyah.

Kepala bagian keuangan terdahulu, Pak Dedi, mendadak memilih mengundurkan diri dengan alasan telah mendapatkan pekerjaan baru yang lebih menjanjikan di Bandung. Padahal, usut punya usut, Pak Dedi merasa teramat lelah dan stres karena arus keluar-masuk kas yang ia kelola selalu diintervensi dan diganggu oleh anak-anak sang perintis, terutama oleh ego Sultan dan Mega yang sering menuntut keuntungan sepihak.

Lalu, untuk mengisi kekosongan krusial tersebut, Fajar dan Putri akhirnya menunjuk resmi Santi sebagai Kepala Bagian Keuangan kas pusat yang baru. Santi bukanlah orang asing bagi keluarga Fajar-Putri, ia adalah kerabat jauh dari keluarga besar Putri yang sudah mengabdi selama enam tahun sebagai staf keuangan di sana, setelah sebelumnya sempat kesulitan mencari lapangan pekerjaan di kota besar.

Kini selama menduduki jabatan puncak tersebut, Santi justru mulai mengalami nasib yang sama seperti yang dialami Pak Dedi. Kas pusat Rumah Sutra terus-menerus diganggu oleh tangan-tangan tak terlihat oleh anak-anak pemilik perusahaan, yang memanfaatkan kebaikan orang tua mereka yang terlalu menaruh kepercayaan buta kepada darah daging mereka sendiri.

Setelah merasa yakin dengan strateginya kali ini yang diusulkan oleh Arifin, suaminya, Mega baru bisa melangkah mantap menghampiri meja kerja Santi.

Wilujeng enjing, Santi,” sapa Mega, dengan gayanya yang seolah-olah dialah pimpinan tertinggi di Rumah Sutra itu. Ia berusaha menyunggingkan senyum senatural mungkin demi menutupi kegelisahannya di depan kepala bagian keuangan yang masih ada hubungan saudara itu.

“Eh, wilujeng enjing, Teh Mega. Kumaha kabarna, Teh? Sae, nya?" Sahut Santi dengan sorot mata berbinar dan senyuman ramah, meski di dalam batinnya menaruh rasa curiga pada anak kedua pemilik Rumah Sutra.

"Alhamdulillah, sae, San," sahut Mega singkat yang sengaja tak mau berlama-lama berbasa-basi dengan kepala keuangan itu.

"Oh iya, Teh Mega, ada yang bisa Santi bantu?” Sahut Santi sambil tersenyum ramah.

Tanpa berlama-lama, Mega langsung menyodorkan map biru berisi tiga lembar proposal pengajuan anggaran renovasi vila ke atas meja Santi. “Ini, San... ada berkas pengajuan anggaran darurat untuk renovasi total fasilitas dua unit vila di sektor barat. Mohon segera dicairkan hari ini juga, ya. Soalnya beberapa vendor bahan bangunan dan perabot, untuk menggantikan perabot di vila yang lama rusak sejak beberapa bulan lalu sebenarnya sudah sering menanyakan.”

Kemudian, Santi meraih map tersebut, membuka jepitannya, dan seketika dahinya berkerut dalam melihat nominal angka Rp 250.000.000,- tertera di sana.

“Dua ratus lima puluh juta, Teh?” Santi menatap Mega dengan gurat wajah serba salah. “Aduh, punten, Teh Mega... tapi bulan ini arus kas operasional pusat sedang diprioritaskan untuk divisi produksi tekstil, karena ada pesanan benang tambahan dari luar. Apa anggaran renovasi sebesar ini sudah dikonfirmasi sebelumnya ke Aa Sultan, Abah atau Bunda, Teh?”

Seketika dada Mega berdesir panik setelah ditanya dengan pertanyaan menohok tersebut. Namun ia buru-buru mengeluarkan argumen darurat yang sudah dirancang suaminya.

“Ini mendesak, San! Akhir pekan kemarin kita dapat komplain keras dari tamu asing asal Jerman yang dua malam menginap, karena sistem pemanas sentral macet total akibat pipa karat dan bocor. Air sanitasi tersumbat, instalasi kabel listrik di dalam dinding kayu juga sudah menua dan rawan korsleting. Apalagi hal yang paling bikin aku risau, tamu itu mengancam akan menulis ulasan buruk di situs pariwisata internasional jika kita enggak segera meningkatkan kelas pelayanan dengan menggunakan sprei sutra jacquard eksklusif. Itulah sebabnya, aku butuh dananya cair siang ini juga untuk membayar vendor di Bandung.”

Santi menghela napas berat, merasa terjepit di bawah tekanan besar. Ia tahu posisinya berbahaya. Namun, sebelum akhirnya menyetujui pengajuan anggaran sebesar itu, Santi mencoba menawarkan alternatif lain yang jauh lebih bijak. Ia berniat menyodorkan beberapa nama vendor renovasi yang sudah bertahun-tahun menjalin kerja sama resmi dengan Rumah Sutra, dengan harapan nominal angka dua ratus lima puluh juta rupiah tersebut dapat ditekan sedalam mungkin.

Berbekal argumen penghematan yang rasional, Santi berusaha meyakinkan sepupu jauhnya itu. “Emm... Teh Mega, Santi ada usul. Untuk renovasi total dua unit vila itu, apa enggak sebaiknya Teteh pakai vendor rekanan lama kita saja? Selain harganya jauh lebih miring, karena kita selalu dapat potongan harga khusus, urusan pengadaan material dan tenaga kerja perbaikannya pun sudah satu paket dari mereka. Jadi divisi Teteh enggak perlu repot-repot cari tukang reparasi mandiri dari luar lagi, Teh. Anggarannya pun pasti bisa kita pangkas hampir setengahnya.”

Lihat selengkapnya