Keesokan paginya setelah subuh, Sultan, Mega, dan Mutiara kembali ke kaki Kamojang menaiki mobil keluarga yang dikemudikan oleh Hendi, sang asisten serba bisa kepercayaan orang tua mereka. Sepanjang perjalanan membelah kabut pagi, kabin mobil diselimuti keheningan yang mencekam. Tiga saudara itu harus segera kembali ke Rumah Sutra karena harus menghadiri rapat internal darurat perusahaan, yang napas operasionalnya kini sedang kembang-kempis.
Sementara itu, di rumah sakit, Ibu Putri masih belum beranjak dari kursi tunggu di depan ruang ICCU. Di bawah temaram lampu selasar, ia tidak sendirian, ditemani Satria, si bungsu, yang selalu meremas-remas jemari sang ibu untuk menenangkannya. Hadir pula Putra Mahardika—adik kandung Putri—bersama istrinya, serta keponakan Putri yang merupakan anak bungsu dari Putra, dan juga Kintan, sang asisten pribadi yang selalu siaga mengawal sang nyonya besar hampir dalam semua urusannya.
Rapat internal Rumah Sutra akhirnya dimulai tepat setelah jam makan siang di ruang rapat kantor manajemen. Kepala Audit Internal, Pak Wahyu, rupanya telah meminta izin resmi kepada Bunda Putri semalam untuk menggelar pertemuan wajib ini demi keberlanjutan operasional perusahaan yang sedang berada di titik nadir. Berdasarkan mandat mutlak tersebut, Pak Wahyu duduk di ujung meja sebagai pemimpin jalannya rapat.
Suasana ruangan langsung terasa panas begitu Pak Wahyu membuka map besar yang berisi sejumlah berkas laporan keuangan: pemasukan dan pengeluaran update. “Terima kasih sudah hadir tepat waktu,” buka Pak Wahyu, suaranya terdengar dingin tanpa basa-basi. “Langsung saja kita masuk ke pembahasan inti, ya. Yang mau saya sampaikan, arus kas kita untuk saat ini bisa dibilang mati suri, meskipun artinya bukan mati secara total. Ini akibat adanya sejumlah pengajuan dana yang tidak diketahui bermuaranya di mana. Yang saya khawatirkan untuk saat ini dan ke depannya, jika masalah keuangan yang acak-acakan begini dibiarkan berlarut tanpa adanya penanganan secepatnya, operasional kita, bakal stop. Produksi kita akan lumpuh. Pahit-pahitnya, karyawan bisa pada demo menuntut hak mereka yang ditahan secara mutlak!”
Sultan, Aulia, dan Mega bungkam dengan wajah memerah padam. Pak Wahyu menatap mereka bergantian dengan pandangan menuntut solusi dari ana-anak dan menantu majikannya tersebut, sementara Mutiara melirik ke wajah kakak-kakaknya satu per satu dengan dada yang bergemuruh.
Tepat pada momen genting itulah, Aulia tiba-tiba menyela dengan nada suara yang enteng tanpa beban. “Memang, solusinya tidak bisa dengan cara melakukan efisiensi saja? Jadi kita fokuskan saja ke produksinya.” Tanya Aulia polos.
Pertanyaan aneh dan tidak beradab itu seketika mengundang seluruh sorot mata peserta rapat di dalam ruangan yang langsung menghujamnya dengan tajam. Pak Wahyu, Santi, Emi, kepala bagian perekrutan SDM dan juga jajaran kepala staf yang lain seketika tersentak kaku menahan malu. Mereka saling melirik dan merasa bingung. Sementara, Mega dan Sultan menatapnya dengan pandangan tak percaya. Di sudut meja, Mutiara mengeratkan cengkeramannya pada buku catatan Rahmadi, menatap kakak iparnya itu dengan sorot mata penuh kebencian yang mendalam.
Wajah tua Pak Wahyu mendadak berubah teramat dingin. “Oh, maksudnya pengurangan SDM, Teh Lia?” sahut Pak Wahyu, suaranya bergaung datar namun sarat akan sindiran telak. “Ya, bisa-bisa saja sebenarnya Rumah Sutra ini melakukan langkah ekstrem itu. Tapi... apakah kalian sebagai pelaku usaha, sekaligus sebagai para generasi penerus Rumah Sutra Putri Fajar sampai hati melakukan hal itu kepada orang-orang kecil? Sedangkan orang tua kalian di kalangan pebisnis sangat dikenal sebagai sosok pengusaha sukses yang memiliki sifat teguh, tegas, dan bijaksana, baik di mata karyawannya, di mata kolega, maupun di mata masyarakat."
Pak Wahyu kemudian mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap Aulia lekat-lekat. “Dan apakah kondisi finansial kita sudah benar-benar kepepet, sampai harus mengambil langkah mengerikan itu? Itu adalah opsi terakhir, Teh. Kan tadi saya bilang perusahaan ini hanya sedang 'mati suri'. itu artinya belum mati, masih bisa dihidupkan kembali dengan solusi cepat!”
Sultan langsung memotong dengan pertanyaan penasaran ketika Pak Wahyu menyebutkan kalimat 'solusi cepat'. "Maksudnya?"
“Mohon maaf ya, saya sela sebentar. Izinkan saya untuk ikut menjelaskan, A Sultan, Teh Lia, dan yang lain,” sapa Kepala Bagian Perekrutan bernama Emi yang duduk bersebelahan dengan Pak Wahyu. Wanita paruh baya itu langsung mengambil alih atensi, menatap tajam ke arah anak dan menantu sang perintis tersebut.
“Kebijakan pengurangan karyawan atau PHK baru bisa kita lakukan jika perusahaan berada dalam kondisi eksternal yang benar-benar prihatin. Misalnya, para mitra bisnis Rumah Sutra kehabisan modal untuk melakukan orderan tetap, atau harga bahan baku hulu melonjak naik hingga tidak lagi terbeli oleh kas operasional. Kondisi makro seperti itulah yang bisa membuat usaha gulung tikar, sehingga pilihan terakhirnya adalah perampingan karyawan.”
Ibu Emi menjeda kalimatnya sejenak, melirik tumpukan berkas audit di depan meja sebelum melempar senyum dingin yang menusuk. “Namun, mohon maaf sebelumnya, kasus kita saat ini berbeda. Kas keuangan kas pusat menyusut drastis bukan karena badai pasar, melainkan karena kebocoran besar yang bersumber dari dalam lingkungan kita sendiri. Jadi, untuk solusinya, saya sangat menyarankan agar diselesaikan dari dalam juga, melalui tanggung jawab personal. Jangan sampai perkara internal ini berembus keluar dari pagar Rumah Sutra, agar citra baik perusahaan yang sudah Abah Fajar dan Bunda Putri bangun selama puluhan tahun tetap terjaga utuh di mata publik.”
Ibu Emi kembali melanjutkan kalimatnya dengan penekanan yang kian berat. “Amit-amit, Teh, kalau kita sampai melakukan pengurangan SDM saat ini. Selain kas pusat harus menyiapkan dana yang teramat besar untuk membayar uang pesangon mereka secara mutlak, otomatis nama baik Rumah Sutra Putri Fajar pasti akan langsung buruk di mata masyarakat karena dicap bangkrut. Apa Teh Aulia mau nama baik keluarga besar ini hancur di luar sana?!”