Sadar bahwa pilar-pilar SDM divisinya kini runtuh berhamburan dan atmosfer Sukajadi sedang tidak kondusif, Mutiara segera mengambil langkah darurat untuk menyelamatkan operasional luar. Biasanya, setiap akhir pekan tiba, kawasan Rumah Sutra selalu diramaikan oleh hiruk-pikuk program wisata edukasi maupun kunjungan besar dari berbagai instansi dan sekolah. Namun, untuk akhir pekan ini, Mutiara terpaksa memutus mata rantai pariwisata tersebut.
Kebijakan pahit itu sebenarnya sudah Mutiara eksekusi sejak hari Kamis pagi—tepat satu hari setelah sang ayah dilarikan secara darurat ke rumah sakit. Melalui sebuah pengumuman resmi yang ia unggah lewat fitur status WhatsApp dan seluruh akun media sosial 'Rumah Sutra Putri Fajar', Mutiara memberitahukan kepada publik bahwa seluruh program eduwisata untuk akhir pekan kali ini ditiadakan sementara waktu.
Mutiara sengaja bergerak cepat sejak hari Kamis agar proses pembatalan ini tidak terkesan mendadak bagi rombongan sekolah atau instansi yang sudah telanjur melakukan pendaftaran dan pemesanan tempat (booking). Dengan dibantu sisa stafnya, ia langsung mengurus proses pengembalian dana harian secara penuh (refund full) kepada para klien tanpa potongan sepeser pun.
Di dalam narasi digital tersebut, Mutiara memilih diksi yang teramat hati-hati. Ia sama sekali tidak menjelaskan atau menyinggung sedikit pun perihal kondisi sang pimpinan tertinggi yang saat ini sedang berjuang melewati masa kritis di ruang ICCU. Langkah senyap ini ia ambil demi menjaga ketenangan internal, serta memastikan agar dunia di luar sana tidak heboh oleh kasak-kusuk spekulasi yang bisa memperburuk citra bisnis keluarga. Bagi publik, Rumah Sutra hanya sedang mengambil jeda pemeliharaan teknis rutin, tanpa pernah menyadari bahwa di balik layar gawai tersebut, jantung dari ekosistem empat hektar itu sedang berada di ambang batas nyawa yang teramat kritis.
Di sisi lain, badai pekat kembali menyerang kaki Kamojang pada Sabtu sore. di tengah pekatnya kabut yang mulai turun lebih awal, sebuah taksi lokal berhenti di depan gerbang utama Rumah Sutra. Sesuai dengan SOP keamanan ketat yang dituntut Fajar, setiap tamu diwajibkan melapor di pos satu.
Didit, sang petugas keamanan, mendongak dari balik jendela pos. Sepasang matanya tertegun menatap sosok wanita muda berparas cantik, yang turun dari kabin taksi sembari menggendong seorang anak balita laki-laki berusia dua tahun lebih.
Wanita itu melangkah mendekat dengan wajah lelah yang menyimpan kecemasan mendalam. “Assalamualaikum, Kang Didit... masih ingat saya?” sapa wanita itu lirih.
Didit terbelalak, membetulkan letak topi petnya. “Masya Allah... Neng Indah? Staf akunting yang dulu di sini, kan?"
“Muhun, Kang. Alhamdulillah Kang Didit masih inget sama saya." Sahut Indah dengan senyuman ramah.
"Bagaimana kabarnya, Neng? Ini anaknya sudah besar saja," ucap petugas keamanan itu balik bertanya dengan ramah.
"Alhamdulillah, sae, Kang." Sahut Indah dengan suara pelan dan logat Sundanya yang halus.
"Oh, iya, ngomong-ngomong, ada perlu sama siapa Neng, di sini? Kalau ada perlu sama saya, kan, enggak mungkin." Tanya Didit berseloroh yang doyan bercanda.
Seketika Indah tertawa mendengar celetukan candaan petugas keamanan bertubuh gempal itu. "Bisa saja, Kang Didit. Kang saya ke sini mau mencari Kang Arifin, suaminya Teh Mega. Beliau ada di rumah atau di kantor, ya?” tanya Indah, suaranya bergetar halus menahan beban.
Didit menggaruk kepalanya, raut wajahnya berubah serba salah. “Waduh, Neng Indah... Mas Arifin sudah seminggu lebih ke Jakarta. Di rumah selatan hanya ada Teh Mega sendirian, paling berdua sama ART di rumahnya."
Indah terdiam sejenak, menatap anak balita di pelukannya sebelum menarik napas panjang. “Kalau begitu, Akang bisa tolong antar saya ke sana? Ada hal penting yang mau saya sampaikan ke Teh Mega.”
“Boleh saja, Neng,” ujar Didit sembari membetulkan letak kerah seragamnya. “Tapi sebentar, ya? Saya harus telepon Teh Mega-nya dulu. Soalnya sudah menjadi SOP ketat di sini, kalau ada tamu yang mencari keluarga Abah, harus konfirmasi dulu lewat saya atau Ical selaku keamanan pos depan. Dan... takutnya Teh Mega sedang istirahat, soalnya baru sekitar dua jam yang lalu pulang dari rumah sakit. Neng Indah sendiri sudah tahu kalau Abah Fajar sedang sakit dan dirawat di RSUD?”
Wajah Indah seketika berubah cemas. “Astagfirullah... Abah sakit, Kang?”
“Iya, Neng. Masuk ruang ICCU sejak hari Rabu yang lalu,” jawab Didit pelan dengan nada sedih.
Indah mengelus punggung anak balitanya yang mulai gelisah. “Oh... kalau begitu, mangga, Kang, silakan ditelepon dulu Teh Mega-nya.”
Didit segera merogoh ponsel dari saku celananya. Ia melakukan panggilan pertama ke nomor pribadi Mega, namun nada sambung berdering panjang hingga terputus sepihak. Tak menyerah, Didit menekan tombol panggil untuk kedua kalinya, tetapi hasilnya tetap sama, tidak ada jawaban.
"Wah, sepertinya Teh Mega pulas sekali tidurnya karena kelelahan menjaga Abah,’ batin Didit menduga.
Mengingat Indah membawa anak balita di tengah kabut sore yang mulai turun dingin, Didit akhirnya memutuskan untuk menghubungi nomor telepon kabel rumah panggung Mega. Beruntung, pada dering ketiga, gagang telepon di seberang sana diangkat oleh Dwi, asisten rumah tangga perempuan yang bekerja di kediaman Mega.
“Halo, assalamualaikum. Pos satpam satu di sini, Wi,” buka Didit langsung pada intinya.