KABUT EMAS GUNUNG DEMPO

Amrullah Ibrahim
Chapter #1

Titik Awal di Kaki Dempo

### Titik Awal di Kaki Dempo: 14 Sahabat & Sang Pemimpin Bujang

Setelah terhempas dari tebing cadas Gunung Dempo akibat badai hitam petaka, Ghazi Al-Qhutuz sang Pemimpin Bujang terbangun di tepi telaga purba yang tersembunyi. Di sana ia bertemu Putri Kemuning Alamiyah, perawan pelindung rimba yang menyingkap benang takdir antara luka di dadanya, nasib tiga belas sahabatnya yang terpencar di lereng gunung, dan rahasia pasak bumi tanah Besemah.

─── ❖ 🕌 ❖ ───


## Bagian 01: Hempasan di Jurang Cadas & Sadar di Tepian Telaga Embun

*Ketika akar purba menolak kematian seorang pengembara*

━━━ 👣 ━━━

"Kabut tebal perlahan memudar, menyisakan gemersik dedaunan purba yang bergesekan ditiup angin sepoi beraroma melati liar..."

Kabut tebal perlahan memudar, menyisakan gemersik dedaunan purba yang bergesekan ditiup angin sepoi beraroma melati liar. Ghazi Al-Qhutuz menarik napas dalam-dalam, merasakan denyut nadinya yang masih berkejaran di balik tulang rusuk bagai derap kuda perang yang belum menemukan padang perhentian. Setiap jengkal tanah di tempat ini seakan berdenyut dengan kehidupan purba yang tak tercatat dalam peta mana pun di bumi manusia. Butir-butir embun sebesar biji jagung bergulir perlahan dari pucuk daun paku sarang burung, jatuh berdentang lembut menimpa permukaan telaga kaca yang bening tak beriak.

Ghazi berusaha menggerakkan jemari kanannya. Rasa nyeri yang tajam menyengat sendi bahunya, menjalari otot belikat hingga ke pangkal leher. Punggungnya yang liat penuh goresan cadas tajam terasa dingin bersentuhan dengan permadani lumut zamrud yang tebalnya mencapai setebal tapak tangan manusia dewasa. Anehnya, dari celah-celah lumut itu merembes cairan bening beraroma getah damar manis yang merayapi luka-luka robek di kulitnya, menyejukkan rasa terbakar dan menghentikan rembesan darah merahnya dengan kecepatan yang tak masuk akal.

Dalam remang fajar yang baru merambati celah kanopi raksasa pohon meranti, beringin purba, dan ara hutan, ia memeriksa senjatanya dengan refleks seorang prajurit bujang terlatih. Bilah Keris Pasemah Tapak Sembilan miliknya masih terselip kokoh di pinggang kain songket merah tua bersulam benang perak, terkunci oleh sabuk kulit rusa jantan yang telah sobek tepinya akibat tergesek karang terjal. Jemarinya meraba hulu keris yang diukir membentuk kepala burung garuda berparuh gading; getaran halus terasa merambat dari logam pamor meteorit itu, seakan sang pusaka leluhur mengenali bahwa tuannya baru saja lolos dari rengkuhan maut yang paling dingin.

Ingatannya bagai kepingan cermin pualam yang pecah berserakan di atas lantai batu cadas. Kilatan petir merah darah membelah pekatnya langit malam di atas gigir Gunung Dempo, disusul deru lahar dingin dan gemuruh batu-batu basalt sebesar lumbung padi yang runtuh dari bibir tebing penantian. Ia masih mendengar dengan jelas jeritan peringatan Fariha saat busur rotan purbanya terlempar ke udara oleh terpaan angin pusaran kawah, lolongan peringatan dari Fadhilul yang berusaha membaca arah mata angin di tengah hujan abu, serta bunyi benturan mahadahsyat perisai tembaga Qoifun saat menahan runtuhan tebing kapur. Mereka berempat belas telah bersumpah sehidup semati di depan Arca Harimau Megalit Pasemah sebelum menapaki lereng terlarang ini. Namun alam Dempo seolah murka, menghempaskan barisan mereka laksana dedaunan kering yang disapu pusaran taufan purbakala.

Bagaimana mungkin aku masih bernapas? batin Ghazi dengan kerongkongan yang terasa kering bagai padang gersang disengat kemarau. Jurang Pematang Cadas Berapi yang menelannya beberapa jam lalu memiliki kedalaman tak kurang dari tiga ratus depa—dinding tebing kapur tegak lurus dengan batu-batu tajam laksana mata tombak berkarat yang lazimnya meremukkan tulang belulang dan mencabik daging siapa pun yang berani tergelincir ke dalamnya. Namun di sini, di ceruk lembah rahasia yang tak tersentuh sengatan terik matahari khatulistiwa, ia justru terbaring di atas hamparan lumut zamrud yang begitu empuk dan sejuk laksana peraduan sutra para maharaja Sriwijaya masa keemasan.

Di atas kepalanya, jalinan akar gantung pohon beringin purba berpilin rapat membentuk kanopi kubah raksasa bertingkat-tingkat. Sulur-sulur raksasa itu berayun lembut bagai jaring penahan yang sengaja dirajut oleh tangan-tangan gaib tak kasat mata demi memperlambat kejatuhan tubuhnya, menyerap benturan maut, lalu meletakkannya perlahan di atas tepian telaga ini. Aroma melati hutan yang manis berpadu dengan semerbak bunga cempaka kuning yang layu terapung di tepian air tenang. Udara yang ia hirup sama sekali tidak tercemar belerang busuk kawah, melainkan hawa murni pegunungan yang begitu dingin dan menenangkan jiwa, membasuh rasa sesak di dadanya hingga ke dasar palung batin.

Ghazi menopang tubuhnya dengan siku kiri, mengertakkan gigi menahan sisa-sisa perih di tulang rusuknya. Matanya yang tajam bagai elang pemburu pegunungan menyapu sekeliling bentang alam. Telaga itu berdiameter kira-kira seratus tombak, dikelilingi dinding tebing padas hitam yang basah berair terjun halus bagai selendang sutra perak yang dibentangkan bidadari kahyangan. Di dasar air yang tembus pandang, pasir kuarsa berkilauan memantulkan cahaya fajar, diapit oleh rumpun teratai seroja berdaun ungu keemasan. Di kejauhan, kabut putih keperakan masih mengapung setinggi dada manusia, menari perlahan mengikuti irama hembusan angin rimba. Dan tepat di seberang ceruk batu tempatnya terbaring, sebuah bayangan anggun berdiri tegak tanpa suara, memandang lurus ke arahnya dengan tatapan yang menghunjam sanubari.

─── 🧭 🕌 🧭 ───


## Bagian 02: Sang Gadis Bertudung Selendang Emas — Putri Kemuning Alamiyah

*Pertemuan takdir di balik tirai telaga seroja keramat*

━━━ 👣 ━━━

"Mengapa kau terus menatapku dengan tatapan seolah aku hanyalah bayangan dari mimpi burukmu?" Suara Putri Kemuning Alamiyah mengalun tenang..."

"Mengapa kau terus menatapku dengan tatapan seolah aku hanyalah bayangan dari mimpi burukmu?" Suara Putri Kemuning Alamiyah mengalun tenang, sehalus air terjun embun yang jatuh menimpa kelopak seroja di pagi hari. Gadis itu berdiri anggun di atas bongkahan batu pualam hitam yang menyembul dari air, sulaman benang emas murni di selendangnya memantulkan pendar jingga keemasan yang menari di permukaan telaga, menciptakan lingkaran-lingkaran riak cahaya magis yang membiaskan warna zamrud air purba.

Ghazi menegakkan punggungnya yang pegal, tak mampu melepaskan pandangannya dari sosok di hadapannya. Rambut hitam pekat gadis itu terurai panjang melewati pinggang rampingnya, disisipi mahkota sederhana dari jalinan tangkai melati liar dan sekuntum cempaka kuning yang mekar sempurna. Gaun sutra kelam berpadu dengan kain tapis bermotif pucuk rebung keemasan membalut tubuhnya dengan kesopanan ningrat yang anggun. Kulitnya kuning langsat khas perawan Swarnadwipa keturunan darah biru pedalaman, bersih bercahaya bagai bulan purnama di malam ke empat belas. Namun yang paling memesona sekaligus menggentarkan adalah kedua matanya—sepasang telaga cokelat madu yang memancarkan kearifan purba, seolah telah menyaksikan pergantian seribu musim kemarau dan penghujan di lereng Gunung Dempo tanpa pernah tergerus oleh kefanaan usia.

"Bukan mimpi buruk, Putri... Melainkan sebuah keajaiban yang terlampau agung untuk diyakini oleh seorang pengembara yang baru saja terhempas dari bibir jurang maut," sahut Ghazi dengan suara serak yang berat, berusaha menata debar jantungnya. Senyuman tipis terbit di bibir sang ketua rombongan, walau bayang-bayang ketiga belas sahabatnya—Fadhilul, Fariha, Qoifun, hingga Zahirul—tetap membayang di benaknya bagai bara api yang tak kunjung padam di dalam dada.

"Di balik kabut Dempo ini, tak ada satu pun peristiwa yang terjadi secara kebetulan belaka," Putri Kemuning melangkah mendekat. Langkah kakinya begitu ringan dan melayang, hingga rerumputan jarum serta kelopak bunga liar yang dipijaknya bahkan tidak bergetar apalagi patah tangkainya. Jemarinya yang lentik menyentuh sekuntum bunga cempaka kuning yang mengapung di tepian air, mengangkatnya perlahan sebelum membiarkan tetes air telaga meluncur kembali ke lubuk yang tenang. "Kau dibawa oleh akar purba bukan untuk binasa, Ghazi. Ada benang takdir yang terajut erat antara degup jantungmu dan denyut tanah leluhur ini."

Ghazi tertegun, pupil matanya melebar. "Kau... dari mana kau mengetahui namaku? Apakah kita pernah bersua di pasar adat Pagaralam, atau di balairung sesepuh Lembah Ayek Lematang?"

Putri Kemuning tersenyum samar, senyuman yang menyiratkan kedalaman misteri yang tak mampu dijangkau oleh nalar manusia biasa. "Tanah Besemah mengenal darah dan napas anak-anaknya yang berbakti. Angin lembah telah mengabarkan keberangkatan empat belas pendekar pilihan dari hulu Musi sejak purnama pertama menampakkan sabitnya di ufuk timur. Para burung layang-layang gua telah berkicau tentang seorang Bujang Pemimpin yang membawa Keris Tapak Sembilan peninggalan Puyang Awak Seribu. Kami tahu kau memimpin ketiga belas saudaramu bukan demi memburu harta karun emas permata peninggalan saudagar kuno, melainkan demi menepati sumpah suci yang pernah dipahatkan seribu tahun silam pada batu megalit tanah Andalas."

Ghazi menundukkan kepalanya sejenak, meresapi setiap getaran kata sang putri yang merasuk hingga ke tulang sungsumnya. "Jika engkau mengetahui segala perihal kami, Putri Kemuning... katakan padaku dengan jujur: apakah ketiga belas saudaraku masih bernapas di bumi ini? Apakah badai hitam semalam telah menelan mereka ke dalam perut kawah belerang, sementara aku terdampar sendirian di sini laksana pengecut yang dibiarkan hidup?"

"Seorang pengecut tidak akan melompat ke arah bongkahan batu runtuh demi mendorong dua sahabatnya ke ceruk perlindungan, Ghazi," Putri Kemuning menatapnya lekat dengan tatapan teduh yang memadamkan api kecemasan di hati sang pemuda. "Batu cadas Dempo mencatat setiap niat suci yang terbit di lubuk jiwa manusia. Ketahuilah, darah pengorbananmu semalam adalah kunci yang membuka pintu tersembunyi lembah telaga ini."

Saat mata mereka kembali beradu, dinginnya masa lalu dan ketakutan akan jurang cadas mendadak larut tanpa bekas. Angin sepoi bertiup perlahan dari arah air terjun, mengangkat ujung selendang emas sang putri hingga melayang lembut menyapu lengan baju Ghazi. Di tengah rimba Swarnadwipa yang tersembunyi dari peradaban fana, sebuah getaran asing bertunas di sanubari Ghazi Al-Qhutuz—bukan sekadar rasa kagum seorang musafir terhadap dewi pelindung rimba, melainkan seutas tali asmara purba yang seakan telah menunggu ribuan warsa untuk dipertemukan kembali di titik awal ini.

─── 🧭 🕌 🧭 ───


## Bagian 03: Memori Sang Pemimpin Bujang & Sumpah 14 Sahabat di Tanah Pasemah

*Empat belas jiwa terpilih di hadapan Arca Harimau Megalit*

Lihat selengkapnya