KABUT EMAS GUNUNG DEMPO

Amrullah Ibrahim
Chapter #3

Kabut Purba, Runtuhnya Cadas

Kabut Purba, Runtuhnya Cadas Kelam

Kabut itu tidak datang merayap; ia menerjang bagai gelombang samudra hitam yang tumpah dari langit kelam... ‘Rapatkan barisan! Jangan ada yang terpisah!’ teriak Ghazi...

─── ❖ 🕌 ❖ ───


## Bagian 01: Terjangan Samudra Hitam

Runtuhnya Sauh Cadas dan Kejatuhan Menuju Jurang Silam. **Lokasi:** Punggungan Cadas Hitam, Ketinggian 3.420 mdpl | **Waktu:** Senja Berkabut, 17:45 WIB

━━━ 👣 ━━━

"Kabut itu tidak datang merayap; ia menerjang bagai gelombang samudra hitam yang tumpah dari langit kelam."

Kabut itu tidak datang merayap; ia menerjang bagai gelombang samudra hitam yang tumpah dari langit kelam.

"Rapatkan barisan! Jangan ada yang terpisah!" teriak Ghazi, suaranya parau menembus lolongan angin yang tiba-tiba berputar dingin membekukan jaket.

Dunia mendadak lenyap ditelan keputihan yang pekat. "Ghazi! Aku tidak bisa melihat jejak sepatu di depanku!" jerit Baiza dari barisan belakang. Suara gadis itu tercekik oleh kepanikan yang beradu dengan deru angin pegunungan yang menggila, mengubah udara tipis beroksigen rendah menjadi belati es yang menusuk paru-paru.

Ghazi memutar tubuhnya, melangkah mundur perlahan dengan tangan terentang untuk menjadi sauh penuntun bagi kawan-kawannya. Namun tanah cadas di bawah kakinya tidak lagi padat. Sebuah rekahan akar purba yang tertutup lumut terbelah dua.

KRAK!

Gravitasi menariknya dengan ganas. Tubuh Ghazi terpelanting ke belakang. "GHAZIII!" Suara jeritan para sahabat terdengar melengking sebelum akhirnya teredam oleh desis angin kencang dan hantaman dedaunan basah yang berputar di sekeliling tubuhnya, sebelum kegelapan merenggut seluruh kesadarannya.

Kejatuhan itu terasa tanpa akhir, seolah bumi membuka kerongkongannya yang purba untuk menelan satu nyawa yang tersesat. Tubuh Ghazi menghantam sulur-sulur raksasa pohon besi yang melintang di dinding jurang; benturan demi benturan itu meredam kecepatan jatuh namun meremukkan bahu kirinya dan merobek tali pengaman ransel pendakiannya. Ranting-ranting berduri mengoyak jaket tebalnya bagai cakar binatang buas, sebelum akhirnya tubuhnya terhempas ke atas gundukan lumut gambut dan tumpukan serpihan batu cadas basah dengan suara dentuman tumpul yang memilukan.

Keheningan yang datang setelahnya begitu mutlak, pekat, dan dingin.

Ghazi terbatuk hebat. Rasa tembaga dan karat menggenang di pangkal lidahnya—darah dari bibirnya yang robek. Ketika kelopak matanya yang berat dipaksa membuka, kegelapan yang menyambutnya bukanlah kegelapan malam yang biasa dikenalnya di lereng gunung. Ini adalah kegelapan sebuah rongga bumi yang terkunci ratusan meter di bawah peradaban manusia. Udara di sekelilingnya berbau belerang basah, tanah humus purba, dan hawa dingin yang menusuk tulang hingga ke sumsum terdalam.

Dengan napas tersengal menahan nyeri tajam di tulang rusuknya, Ghazi meraba dadanya. Tali harnes pendakiannya masih terpasang, tetapi karabiner baja yang biasa menjadi penopang hidupnya telah bengkok tak beraturan. Tali karmantel utama telah putus terpotong tajamnya cadas atas. Tangan kanannya yang gemetar bergerak menyusuri tanah becek di sampingnya, mencari senter kepala yang terlempar. Jemarinya membentur cangkang aluminium yang dingin. Dengan klik lemah yang bergetar, seberkas cahaya putih redup membelah keheningan abadi di dasar jurang.

─── 🧭 🕌 🧭 ───


## Bagian 02: Lembah Cadas Purba dan Suara dari Retakan

Nafas yang Terpatahkan dan Misteri Dinding Basalt Berpendar. **Lokasi:** Dasar Sesar Retakan Silam, Perkiraan Kedalaman 480 meter | **Waktu:** Malam Tanpa Bintang, Waktu Tak Terukur

━━━ 👣 ━━━

Kabut di dasar jurang ini tidak pasif; ia bergerak dalam denyut ritmis yang lambat, seakan bernapas mengikuti detak jantung sang gunung.

Cahaya senter kepala yang kacanya retak menyapu dinding-dinding vertikal di sekeliling Ghazi. Pemandangan yang terbentang di hadapannya merampas sisa napas di rongga dadanya. Ia tidak berada di ceruk biasa; ia terdampar di dasar sebuah ngarai bawah tanah yang membentang raksasa. Pilar-pilar batu basalt hitam menjulang tinggi ke atas bagai taring-taring monster mitologis yang menopang langit-langit runtuh, lenyap ditelan halimun hitam pekat yang berputar perlahan tanpa henti.

Di celah-celah batu cadas, lumut fosforesens berpendar dalam nuansa biru pucat yang dingin dan murung. Cahaya bioluminesensi itu menciptakan bayang-bayang panjang yang bergoyang setiap kali embusan angin bawah tanah menyelinap lewat celah sesar bumi. Dan kabut itu—kabut hitam yang menerjang rombongannya di atas puncak—ternyata berasal dari sini. Kabut itu mengalir keluar dari celah-celah terdalam dasar jurang, bergulung bagai asap pembakaran purba yang tak pernah padam.

"Baiza... Tirta... Kalandra..." bisik Ghazi. Suaranya tenggelam seketika, diserap oleh pori-pori dinding batu basah yang tak memantulkan gema dengan normal.

Ghazi mencoba bangkit berdiri. Rasa sakit yang menyengat meledak dari pergelangan kaki kanannya. Ia terpejam erat, mencengkeram sebongkah batu andesit licin untuk menopang berat badannya. Ia memeriksa pergelangan kakinya; terkilir parah, tetapi untungnya tulangnya tidak patah. Dari ranselnya yang koyak, ia mengeluarkan perban elastis dan membungkus pergelangan kakinya sekencang mungkin untuk menstabilkan sendi yang membengkak.

Ia menatap kompas magnetik di pergelangan tangannya. Jarum penunjuk arah utara berputar liar tanpa arah, bergetar tak menentu sebelum akhirnya berputar searah jarum jam dengan kecepatan gila. Ada anomali magnetik yang masif di sekitar tempat ini—bongkahan bijih besi hitam atau medan energi yang membelokkan hukum alam.

Ghazi menyeret kakinya perlahan menuju aliran air kecil yang gemericik di sisi barat ngarai. Air itu begitu jernih namun sedingin es gletser, mengalir di atas lapisan kerikil hitam legam. Saat ia berlutut untuk membasuh wajahnya dari debu tanah dan noda darah kering, cahaya senternya menyorot sesuatu yang tak lazim di permukaan dinding cadas setinggi dada.

Sebuah pasak besi berkarat tebal tertancap kuat pada celah granit.

Ghazi tertegun. Ia mengusap kerak lumut yang menyelimuti pasak itu. Itu adalah piton panjat tebing model kuno berduri tiga, jenis peralatan yang lazim digunakan para penjelajah pada pertengahan abad ke-20. Di samping pasak tersebut, terpahat guratan angka dan simbol dengan pahatan tangan yang kasar namun tegas: "EKSP. VI - 1948 // JANGAN DIIKUTI".

Jantung Ghazi berdegup kencang. Cerita rakyat yang pernah ia dengar di pos pendakian lereng bawah mendadak terngiang di kepalanya. Enam puluh tahun silam, sebuah tim ekspedisi geologi militer beranggotakan sembilan orang lenyap tanpa bekas di punggungan Cadas Hitam. Tim pencari hanya menemukan tenda mereka yang terkoyak dari dalam, tanpa jenazah, tanpa jejak seretan, seolah bumi telah menelan mereka hidup-hidup.

Sebelum Ghazi sempat mencerna kebenaran di hadapannya, sebuah suara lirih berdesir dari kegelapan lorong batu di depannya.

"Ghazi..."

Suara itu begitu halus, melayang di atas gemerisik air sungai.

"Ghazi... tolong aku... kakiku terjepit..."

Ghazi tersentak. Seluruh bulu kuduknya meremang seketika. Suara itu bukan desau angin. Itu adalah suara Baiza. Nada suaranya, getar kepanikannya, isak tangisnya yang tertahan—semuanya adalah suara Baiza, gadis yang setengah jam lalu berteriak dari barisan belakang sebelum tanah longsor memisahkan mereka.

─── 🧭 🕌 🧭 ───


## Bagian 03: Jejak yang Dingin dan Penampakan Baiza

Meniti Jembatan Akar dan Melawan Sang Penyerupa Kabut. **Lokasi:** Ngarai Sesar Cadas, Jembatan Akar Gantung Kuno | **Waktu:** Malam Larut, Halimun Semakin Pekat|

Lihat selengkapnya