KABUT EMAS GUNUNG DEMPO

Amrullah Ibrahim
Chapter #4

Pintu Gaib Gunung Dempo

Pintu Gaib Gunung Dempo

Sebuah Kisah Fantasi Mistis Berakar Kearifan Budaya Besemah. Lokasi: Gunung Dempo (3.159 mdpl), Pagaralam, Sumatera Selatan

─── ❖ 🕌 ❖ ───


## Bagian 01: Riak di Alam Zamrud

Ketika Patah Tulang Berubah Menjadi Hamparan Beledu Emas. **Lokasi:** Gerbang Dimensi Perbatasan Cadas Dempo

━━━ 👣 ━━━

Jarum kuningan tak lagi mencari kutub utara; ia berputar menuruti degup jantung bumi yang tak pernah menua.

Kesadaran kembali bagai riak air yang perlahan tenang. Ghazi menarik napas terengah-engah, bersiap merasakan sakitnya tulang patah atau memar robek di sekujur badan. Namun yang menyentuh pipinya bukanlah tanah cadas runcing, melainkan hamparan lumut beledu berwarna zamrud yang memancarkan pendar keemasan.

Ia bangkit terduduk. Matanya membelalak tak percaya.

Di sekelilingnya, pohon-pohon purba berdiameter lima rangkulan manusia berdiri kokoh menjulang menembus kabut bercahaya. Daun-daunnya berkilau laksana kepingan tembaga halus tertimpa mentari senja yang tak pernah tenggelam. Udara di tempat ini hangat, membersihkan paru-parunya dengan aroma madu hutan dan wangi cempaka yang sedari tadi ia endus di jalur cadas.

"Fadhilul?! Qoifun?! Ghaffar?!" teriak Ghazi.

Suaranya hanya memantul pelan di antara pilar-pilar batang pohon emas. Jarum kompas kuningan warisan kakeknya berputar tanpa henti, kehilangan poros bumi. Ghazi menyadari satu hal yang mengguncang akal sehatnya: ia telah melintasi gerbang gaib Gunung Dempo.

Memori terakhirnya adalah jeritan angin berkecapatan lebih dari delapan puluh kilometer per jam di gigir cadas ketinggian tiga ribu meter. Hujan es telah menghantam tebing tanpa ampun, membutakan penglihatan mereka. Ghaffar, yang berjalan di pucuk rombongan mengikat tali kernmantle ke pasak pengaman, mendadak tergelincir saat sebongkah batu andesit purba ambrol dihajar petir. Fadhilul dan Qoifun yang berada di tengah terlempar ke jurang kabut, dan Ghazi—yang berusaha menahan beban ketiganya dengan memasak tumit ke ceruk tanah—merasakan simpul pengamannya terputus bagai seutas benang lapuk.

Secara hukum gravitasi dan fisika lereng vulkanik, tubuhnya seharusnya telah hancur berkeping-keping di dasar kawah mati, atau setidaknya tersangkut mati di cabang-cabang cantigi yang beku menusuk. Namun kini, tidak ada rasa perih. Tidak ada tulang paha yang mencuat keluar. Bahkan jaket tahan air gore-tex miliknya yang sebelumnya terkoyak batu cadas kini tampak utuh, diselimuti butiran serbuk berkilau seperti serbuk sari bunga angsana.

Ghazi meraba dadanya. Kompas bundar kuningan buatan tangan kakeknya—seorang tetua adat Besemah dari Kampung Empat—tergantung di lehernya. Pada lempengan tembaga di bawah kaca cembung kompas itu, terukir rajah aksara Ka-Ga-Nga yang diwariskan turun-temurun. Jarumnya tidak lagi menunjuk ke utara magnetik bumi. Jarum itu berputar lambat, bergetar searah dengan denyut nadi di pergelangan tangannya, seolah-olah seluruh bentang alam di sekelilingnya adalah sebuah organisme hidup berukuran raksasa.

"Ini bukan lembah kematian," bisik Ghazi pada kesunyian yang megah. Suaranya bergetar antara takjub dan ngeri. "Ini tanah yang selalu diceritakan Wak Syarif... Jagat Kahyangan Puyang Dempo."

Angin sepoi berdesir, meniup serbuk-serbuk emas dari dedaunan tembaga. Dari kejauhan, di balik kelambu kabut yang berpendar jingga lembut, terdengar bunyi derak dahan patah. Suara itu bukan langkah kaki hewan melata, melainkan gesekan sol sepatu vibram gunung yang amat dikenalnya.

---

## Catatan Khasanah Bagian 01:

- **Cadas Dempo**: Jalur berbatu curam menjelang puncak Gunung Dempo (3.159 mdpl), terkenal dengan hempasan angin kencang dan cuaca ekstrem.

- **Aksara Ka-Ga-Nga**: Sistem aksara purba Surat Ulu yang berkembang di dataran tinggi Sumatera Selatan dan Bengkulu.

- **Jagat Besemah**: Ranah kultural dan kosmologis masyarakat Besemah di sekitar lembah dan lereng Gunung Dempo.

─── 🧭 🕌 🧭 ───


## Bagian 02: Selendang Kabut dan Tiga Ceceran Jejak

Menelusuri Barang Bawaan yang Tercecer di Antara Dimensi. **Lokasi:** Lorong Pohon Besi & Aliran Lumut Hijau

━━━ 👣 ━━━

Di rimba tak berwaktu, jejak kaki manusia dan jejak kuku harimau hanya terpisah oleh ketulusan niat.

Ghazi menyusuri gundukan lumut zamrud yang elastis bagai kasur sutra. Setiap langkahnya tidak menimbulkan suara gemerisik, melainkan letupan-letupan halus partikel cahaya yang berhamburan seperti kunang-kunang di malam gulita. Ia menyiagakan sebilah pisau rimba berbilah baja tempa di pinggangnya, kendati ada firasat batin yang membisikkan bahwa senjata tajam tidak memiliki kuasa apa pun di tanah sakral ini.

Dua puluh langkah dari tempatnya terbangun, Ghazi menemukan petunjuk pertama: sebuah kantong botani kanvas berwarna zaitun yang tersangkut di akar gantung pohon besi. Itu milik Fadhilul.

Dengan tangan gemetar, Ghazi memungut kantong tersebut. Di dalamnya masih tersimpan buku catatan lapangan bergaris dan tabung kaca berisi sampel lumut cadas yang sempat dikumpulkan sang sahabat sebelum badai datang. Yang ganjil, setangkai bunga edelweiss kering yang tadinya cokelat kusam di saku luar kantong itu kini bermekaran segar kembali, kelopaknya memancarkan aroma rempah manis dan embun segar seakan baru dipetik dari surga pucuk gunung.

"Fadhilul masih hidup," desah Ghazi penuh harap. "Dia pasti melintasi jalur ini belum lama berselang."

Maju beberapa meter ke arah tenggara, tempat pendar kabut menipis memperlihatkan celah jurang berkilau kuarsa, Ghazi mendapati benda kedua: filter lensa polaroid dan tutup lensa kamera analog milik Qoifun. Benda itu tergeletak di atas batu pipih yang terukir alami mirip relief manusia purba megalitik. Di permukaan kaca filter yang bundar itu, tampak pantulan bayangan yang ganjil: bukan bayangan ranting atau wajah Ghazi, melainkan serpihan gerak bayang-bayang tiga sosok yang sedang melangkah cepat menyusuri sungai emas.

"Qoifun tidak kehilangan matanya," gumam Ghazi teringat sifat sahabatnya yang selalu merekam setiap jengkal misteri alam. "Bahkan di dunia antah-berantah ini, dia masih membidik rahasia kabut."

Namun ceceran jejak ketiga membuat bulu kuduk Ghazi meremang tegak. Di sebuah batang pohon raksasa yang kulitnya berwarna tembaga kehitaman, terpasang sebuah karabiner baja hitam milik Ghaffar. Karabiner itu terkunci rapat pada sebuah takik kayu yang sangat rapi—bukan dipahat dengan pisau, melainkan dengan goresan empat cakar besar berukuran selebar telapak tangan orang dewasa.

Di bawah pohon tersebut, jejak sol sepatu gunung Ghaffar yang kasar berbaur bersisian dengan tapak kaki hewan karnivora raksasa. Tapak kaki berukuran dua puluh sentimeter, bulat, tanpa bekas kuku yang keluar—karakteristik jejak tapak harimau Sumatra, namun dengan kedalaman tekanan yang menandakan bobot makhluk itu jauh melampaui satwa rimba biasa.

Di tanah Besemah, cerita tentang 'Puyang Belang' atau manusia harimau bukanlah dongeng pengantar tidur belaka. Masyarakat adat meyakini bahwa leluhur pertama yang membuka lembah Pasemah menjaga rimba Dempo dalam wujud harimau kencana. Mereka adalah para penjaga gerbang dimensi, yang hanya menampakkan diri tatkala keseimbangan alam terusik atau ketika ada pengelana asing yang kehilangan arah hidup.

"Ghaffar tidak dimangsa," simpul Ghazi, mencoba mengusir rasa panik yang merayap di dadanya. "Dia sedang dituntun... atau mungkin diuji."

Tiba-tiba, suara derak ranting kembali terdengar, kali ini lebih dekat. Aroma cempaka yang tadinya lembut berubah pekat, bercampur dengan uap kesturi hangat yang mendesir di balik tirai daun emas.

---

## Catatan Khasanah Bagian 02:

- **Puyang Belang**: Sebutan sakral bagi entitas leluhur berwujud harimau kencana yang menjaga moralitas dan keutuhan rimba Besemah.

- **Tradisi Megalit Pasemah**: Peninggalan zaman batu besar berupa patung batu berkarakter dinamis penunggang kerbau dan harimau di dataran tinggi Lahat-Pagaralam.

─── 🧭 🕌 🧭 ───


## Bagian 03: Lembah Megalit Aksara Kaganga

Dialog Sunyi dengan Sang Panglima Belang Kencana. **Lokasi:** Amfiteater Batu Purba & Altar Rencong

━━━ 👣 ━━━

Bukan kekuatan otot yang meloloskan manusia dari Dempo, melainkan kemurnian sumpah menjaga tanah tumpah darah.

Kabut tembaga mendadak berpusar kencang, membuka tirai pandangan menuju sebuah cekungan amfiteater alami yang dikelilingi belasan menhir batu tegak. Tinggi batu-batu itu mencapai tujuh meter, permukaannya berlumut hijau keemasan dengan ukiran-ukiran relief manusia berwajah tegas yang mengenakan penutup kepala khas pendekar pedalaman.

Di tengah-tengah amfiteater itu, sebuah dolmen meja batu berukuran raksasa memancarkan dengungan rendah berfrekuensi dalam, mirip getaran genta kuil kuno yang dipukul di kedalaman gua. Di permukaan meja batu tersebut, guratan-guratan Aksara Ka-Ga-Nga menyala dengan cairan fosfor jingga keemasan.

Jantung Ghazi berdegup kencang. Ia mengenali aksara itu. Semasa kecil, kakeknya sering menggambar lambang-lambang tersebut di atas daun lontar kering di beranda rumah panggung kayu mereka di Dusun Pelang Kenidai.

Lihat selengkapnya