KABUT EMAS GUNUNG DEMPO

Amrullah Ibrahim
Chapter #5

Kidung Telaga Nilakandi

## Kidung Telaga Nilakandi

Kisah Ghazi Menembus Rimba Vaelora Menuju Sang Penjaga Tirta

─── ❖ πŸ•Œ ❖ ───


## Bagian 01: Nyanyian Daun Perak

Langkah Awal Menuju Jantung Vaelora. Bukan siulan burung, bukan pula dengung angin rimba. Itu adalah suara nyanyian seorang wanita yang menenangkan alam semesta yang lelah.

━━━━ πŸ‘£ ━━━━

Gemericik air menuntun langkah Ghazi menembus rerimbunan semak belukar berdaun perak. Di setiap langkahnya, rerumputan di bawah sepatunya mengeluarkan kilau serbuk keemasan yang melayang di udara, berpendar lembut seperti kembang api mungil yang memudar dalam keheningan senja abadi.

Lalu, terdengarlah alunan itu.

Bukan siulan burung, bukan pula dengung angin rimba. Itu adalah suara nyanyian seorang wanita. Nada-nadanya mengalun rendah, merdu, dan teramat lembut, seolah dinyanyikan oleh seseorang yang sedang menenangkan alam semesta yang lelah. Mendengar senandung itu, debar panik di jantung Ghazi mereda seketika. Seluruh otot pundaknya yang tegang mengendur, dan rasa ngilu akibat luka lebam di rusuk kirinya seolah terhanyut oleh hembusan angin sejuk yang beraroma lumut basah dan kembang cendana.

Ghazi menyibakkan dahan pohon gaharu berdaun emas dengan hati-hati. Di hadapannya, terbentang sebuah telaga bundar yang airnya begitu jernih hingga batu-batu kristal di dasarnya memancarkan cahaya biru kehijauan. Dan di tepian telaga itu, duduk sosok yang membuat napas Ghazi tercekat.

Sosok itu mengenakan jubah sutra kelabu pucat yang tampak ditenun dari kabut fajar dan helai air terjun. Rambutnya putih keperakan, terurai panjang hingga menyentuh lumut zamrud di tebing batu, dikepang sebagian dengan selingan ranting melati liar yang tak pernah layu. Kulitnya sepucat cangkang kerang mutiara, namun memancarkan kehangatan batin yang ganjil. Kakinya yang telanjang tergantung santai di atas permukaan telaga, ganjilnya jemari kakinya menyentuh air tanpa menimbulkan satu pun riak gelombang, seakan-akan air dan dirinya adalah satu zat yang tak terpisahkan.

Ghazi menahan napasnya di balik tudung kepalanya yang compang-camping. Selama tujuh hari tujuh malam ia mendaki punggung tebing Cadas Hitam, merayapi jurang tanpa tali pengaman, dan menelan serpihan kulit kayu pahit sekadar untuk menipu lambungnya yang menjerit kelaparan. Di negerinya, Alentara, para tetua menasihatinya bahwa Rimba Vaelora hanyalah dongeng pengantar tidur bagi mereka yang putus asa mencari keajaiban. "Tak ada telaga penyembuh," kata mereka dengan bibir pasi yang sudah mulai retak menjadi abu. "Yang ada di balik kabut utara hanyalah kematian dan ilusi para dedemit rimba."

Namun di sinilah Ghazi berdiri sekarang. Di depan telaga bundar sempurna, tempat di mana gemericik air dan alunan kidung berpadu menyusun harmoni yang sanggup meredam segala ketakutan manusia fana. Sang wanita belum menoleh, namun kidungnya perlahan melambat, melandai ke nada penutup yang menyisakan keheningan magis di antara dedaunan emas.

─── 🧭 πŸ•Œ 🧭 ───


## Bagian 02: Sang Penenun Tirta

Pertemuan di Tepian Telaga Nilakandi. Mata air ini tidak pernah menolak pengembara yang haus, namun ia menolak mereka yang membawa dusta dalam sarung pedangnya.

━━━━ πŸ‘£ ━━━━

"Kau melangkah terlalu jauh dari tanah kelahiranmu, Pengelana Alentara," suara wanita itu bergema pelan. Bukan terdengar dari udara terbuka, melainkan berdengung langsung di dalam benak Ghazi, jernih laksana denting mangkuk perak yang diketuk sendok gading.

Wanita itu menoleh perlahan. Wajahnya terbingkai keindahan yang tak terikat usia fana. Matanya bukan cokelat ataupun hitam, melainkan sepasang safir nilakandi yang berpijar cair, menyimpan kedalaman palung samudra purba. Di keningnya, ada tanda pusaran air keemasan yang berdenyut tipis seirama degup jantung bumi.

Ghazi secara naluriah menarik sarung pedang di pinggangnya ke belakang punggung, bukan untuk menyerang, melainkan sebagai isyarat kerendahan hati seorang ksatria yang datang tanpa niat bermusuhan. Ia berlutut dengan satu kaki di atas hamparan lumut lembap, menundukkan kepalanya.

"Nama saya Ghazi," suaranya parau, tergerus oleh debu perjalanan dan dahaga yang membakar kerongkongannya. "Hamba lancang melanggar batas hutan larangan. Namun hamba bersumpah demi sisa napas hamba, hamba tidak datang membawa tombak penakluk atau cangkul penjarah. Hamba datang mencari setetes penawar."

Wanita itu tersenyum tipisβ€”senyuman yang membawa aroma rintik hujan pertama setelah kemarau panjang seratus tahun. Ia bangkit berdiri. Jubah airnya jatuh menjuntai anggun menutupi pergelangan kakinya. Ketika ia melangkah di atas permukaan telaga menuju tepian tempat Ghazi berlutut, air di bawah tapak kakinya mengeras sejenak menyerupai kaca bundar bercahaya.

"Aku tahu siapa namamu sebelum kakimu menginjak dahan perak pertama di lembah bawah," ujarnya lembut. "Aku adalah Nayyara, penjaga Telaga Nilakandi, telaga yang dipelihara sejak langit masih berteman karib dengan puncak-puncak pepohonan. Rerumputan emas telah menceritakan degup jantungmu yang putus asa, dan angin rimba membawa bau keputusasaan dari lembahmu."

Nayyara berhenti persis tiga jengkal di hadapan Ghazi. Telapak tangannya yang halus terulur ke arah wajah Ghazi. Tanpa menyentuh kulitnya secara langsung, embusan udara sejuk melingkupi pelipis sang pengelana, menyeka keringat dingin dan menyembuhkan goresan duri beracun yang bersarang di pipinya.

"Berdirilah, Ghazi dari Alentara," kata Nayyara. "Mata air ini tidak pernah menolak pengembara yang haus, namun ia menolak mereka yang membawa dusta dalam sarung pedangnya. Katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi pada negerimu hingga kau rela mempertaruhkan nyawamu menembus labirin Vaelora?"

─── 🧭 πŸ•Œ 🧭 ───


Lihat selengkapnya