KABUT EMAS GUNUNG DEMPO

Amrullah Ibrahim
Chapter #6

Putri Kemunig Alamiyah

Putri Kemuning Alamiyah : Misteri Telaga Telaga Kahyangan Gunung Dempo

─── ❖ 🕌 ❖ ───


Bagian 01: Dentang Ranting di Batas Kabut

Pertemuan di Riak Telaga yang Menggetarkan Rimba Rahasia

━━━ 👣 ━━━

Kabut tebal laksana tirai beludru putih telah menelan jalur setapak sejak tiga jam silam. Dingin merayap ke sela-sela jaket antiair Ghazi Al-Qhutuz, menembus lapisan pakaian hingga membekukan sendi-sendi jemarinya. Di lereng terjal Gunung Dempo yang kerap dijuluki Hutan Lumut, pepohonan kerdil berbalut lumut jenggot menjuntai serupa janggut pertapa tua. Deru angin lembah lenyap secara ganjil ketika langkah Ghazi terperosok menuruni cekungan batu vulkanik yang tak tercantum pada peta topografi mana pun.

Ia telah berteriak memanggil nama Rian dan Dimas hingga kerongkongannya perih, namun yang membalas hanyalah desau sunyi yang menusuk tulang. Kelelahan hampir merenggut kesadarannya ketika aroma wangi yang janggal tiba-tiba menyergap hidungnya—bukan bau sulfur kawah yang tajam, melainkan wangi semerbak bunga kemuning yang mekar bersama manisnya dupa cendana purba. Ghazi menyibak rerimbunan daun paku resam raksasa, dan di sanalah, di balik dinding tebing berkilau zamrud, sebuah telaga terhampar luas bagai cermin raksasa yang dijatuhkan dari langit kahyangan.

Gadis itu membasuh jemarinya perlahan di riak telaga yang tenang. Gaun tenun sutranya dihiasi sulaman benang emas bermotif pucuk rebung kuno yang berkilau setiap kali terkena pendar air. Setiap riakan air yang tersentuh tangannya melahirkan kilau keemasan lembut, seolah-olah air telaga itu mengandung serbuk bintang yang tidak tunduk pada hukum alam dunia fana.

Ranting kering berderak di bawah sol sepatu Ghazi.

Gadis itu menoleh seketika. Ghazi terpaku di tempatnya berdiri, bahkan lupa bagaimana cara menghembuskan napas. Paras gadis itu adalah perpaduan antara kelembutan embun pagi dan wibawa rembulan purnama. Matanya bening seindah telaga di bawahnya, dinaungi alis hitam pekat yang melengkung sempurna bagai busur panah pusaka. Rambutnya hitam legam tergerai hingga pinggang, dihiasi mahkota kecil dari kelopak kemuning emas yang masih berembun.

"Siapa kau yang berani melangkah ke kawasan rimba rahasia ini?" tanya gadis itu. Suaranya halus, namun membawa resonansi gaib yang menggetarkan dedaunan di sekitar mereka. Udara di sekeliling Ghazi terasa bergetar, seakan setiap helai lumut dan batuan cadas di tepian telaga itu memiliki telinga dan lidah untuk mengadili keberadaannya.

Ghazi meletakkan tangan kanan di dadanya, mencoba menenangkan degup jantung yang berdegup kencang bagai derap kuda. Rasa dingin yang tadi menggigit ujung kakinya mendadak sirna oleh sengatan takjub yang luar biasa. Ia menundukkan pandangannya setengah hasta sebagai tanda takzim. "Nama saya... Ghazi Al-Qhutuz. Saya terpisah dari rombongan teman-teman saya saat mendaki Gunung Dempo... Kabut putih pekat menutup jalur menuju puncak kawah, dan saya terperosok ke celah tebing ini. Maafkan kelancangan hamba, Putri... Boleh saya tahu, siapakah gerangan Anda?"

Gadis itu terdiam sesaat, memindai ketulusan di mata Ghazi. Sorot matanya yang jernih seolah mampu membaca lipatan paling rahasia dalam dada pemuda itu—tiada sebilah belati keserakahan, tiada hasrat merusak, hanyalah jiwa yang letih dan rasa kagum yang murni. Lalu, sebuah senyuman tipis terbit di bibirnya—senyuman yang seketika menghapus rasa dingin, letih, dan ketakutan di dada sang pendaki bagai fajar pertama yang melenyapkan pekatnya malam.

"Aku Putri..." suaranya mengalun bagai bisikan angin sore di sela rumpun bambu gading. "Nama lengkapku Putri Kemuning Alamiyah. Penjaga batas cermin air Gunung Dempo, tempat rahasia yang hanya mengizinkan kaki manusia melangkah masuk apabila rimba ini sendiri yang membukakan jalannya bagimu."

─── 🧭 🕌 🧭 ───


Bagian 02: Secangkir Embun dan Rahasia Lembah Kahyangan

Petuah di Balik Anjungan Kayu Cendana dan Mata Air Keabadian

━━━ 👣 ━━━

Putri Kemuning bangkit berdiri dengan keanggunan yang tiada tara. Gaun sutranya melambai tanpa tersentuh lumpur sedikit pun, seolah kakinya mengambang setipis helai rambut di atas permukaan kerikil basah telaga. Ia mengisyaratkan jemarinya yang lentik, mengajak Ghazi melangkah menuju sebuah anjungan kayu cendana yang dinaungi jalinan akar pohon purba di sisi timur telaga. Wangi bunga kemuning di tempat itu semakin pekat, menguapkan segala rasa letih di otot-otot kaki Ghazi yang telah mendaki sejak dini hari.

"Duduklah, Ghazi Al-Qhutuz," ujar sang Putri lembut seraya menuangkan air jernih dari sebuah kendi tembikar berukir naga emas ke dalam cangkir tempurung kelapa gading. "Raga fana kaummu mudah rapuh oleh dinginnya kabut malam Dempo. Minumlah air embun telaga ini. Ia bukan air biasa yang mengalir ke sungai-sungai bawah lembah Pagaralam. Ini adalah tetesan berkah yang disaring oleh akar-akar pohon beringin langit sejak ribuan purnama silam."

Ghazi menerima cangkir itu dengan kedua tangannya yang gemetar. Begitu bibirnya menyentuh cairan dingin itu, rasa manis yang lembut dan kehangatan yang menjalar aneh seketika memenuhi rongga dadanya. Sendi-sendi tangannya yang kaku mendadak pulih, rasa haus yang mencekik tenggorokannya hilang tanpa bekas, bahkan luka goresan ranting berduri di pipinya mengering dalam sekejap mata. Ghazi menatap sang Putri dengan takjub yang tiada habisnya.

"Bagaimana mungkin ada tempat seindah ini di puncak gunung yang gersang dan berbau belerang?" gumam Ghazi, nyaris seperti berbicara kepada dirinya sendiri. "Kami para pendaki hanya mengenal jalur Pelataran, Kawah Merapi Dempo, dan lereng terjal menuju puncak utama. Namun tempat ini... rasanya seperti berada di dimensi lain yang tak tersentuh waktu."

Putri Kemuning tersenyum anggun, memandangi pantulan mega-mega putih di atas permukaan air. "Gunung Dempo tidak hanya memiliki tubuh kasar berupa batuan cadas dan belerang menyengat. Sejak zaman Puyang Atung Bungsu dan para tetua Besemah menancapkan sumpah kesetiaan menjaga hutan, gunung ini memiliki selubung batin—lembah rahasia yang kami sebut Ranau Alamiyah. Tempat ini tersembunyi di balik lipatan kabut cermin, hanya tampak oleh mereka yang matanya tidak dibutakan oleh kesombongan."

Sang Putri menatap mata Ghazi lekat-lekat, tatapan yang membuat darah pemuda itu berdesir hangat. "Banyak manusia mendaki puncak ini hanya demi menaklukkan ketinggian, menancapkan kain berlogo, lalu meninggalkan sampah dan keangkuhan di tanah keramat ini. Mereka tidak akan pernah melihat telaga ini walau melangkah tepat di tepian tebingnya. Tetapi kau... kau membawa sesuatu yang berbeda di balik kantong ranselmu, Ghazi. Ada kesedihan yang berat dan sebuah janji masa lalu yang belum tunai."

Ghazi terperanjat. Kata-kata sang Putri menembus langsung ke relung jiwanya yang paling sunyi. Tanpa sadar, tangannya meraba kantong dada jaketnya, tempat tersimpannya sebuah kalung perak berliontin batu giok hijau tua peninggalan almarhum kakeknya—seorang rimbawan tua yang semasa hidupnya selalu menatap ke arah Gunung Dempo dengan tatapan rindu yang penuh misteri.

─── 🧭 🕌 🧭 ───


Bagian 03: Pusaka Songket Pucuk Rebung

Filosofi Bambu Muda dan Retakan Gelap di Kawah Purba

━━━ 👣 ━━━

Lihat selengkapnya