Tirta Swarnadwipa, Kisah di Balik Kabut Gunung Dempo dan Pengorbanan Sang Ketua
Berdasarkan mitologi kawah kembar Gunung Dempo di Pagaralam, Sumatera Selatan. Menelusuri pengorbanan Ghazi yang terlempar ke alam dimensi spiritual Tirta Swarnadwipa demi menyelamatkan kawan-kawannya, dan perjumpaannya dengan Putri Kemuning.
─── ❖ 🕌 ❖ ───
Bagian 01: Amuk Badai di Pelataran Cadas
Rengkuhan Kabut Hitam dan Janji Seorang Ketua
━━━ 👣 ━━━
Hawa dingin menusuk hingga ke sumsum tulang ketika senja mulai tertelan oleh kepekatan kabut di bibir kawah Gunung Dempo. Angin kencang dari arah barat daya meraung bagai kawanan serigala lapar, menerbangkan debu belerang bercampur butir-butir es tipis yang menyayat wajah. Di ketinggian 3.159 meter di atas permukaan laut tanah Pagaralam itu, batu-batu cadas hitam tampak seperti punggung monster purba yang sedang tertidur gelisah.
Ghazi merapatkan tudung jaket gunungnya yang basah oleh embun beku. Napasnya berhembus memutih ke udara. Matanya yang tajam menatap cemas ke arah tiga sahabat yang berjalan tertatih-tatih di belakangnya. Rian, sang navigator yang biasanya ceria, kini membungkuk menahan kram otot kaki kanannya. Maya, mahasiswi biologi yang gigih, memegangi tali pengaman ranselnya dengan tangan menggigil hebat. Sementara Arga, fotografer rombongan, terus mendekap kameranya ke dada sembari menatap dinding jurang yang kian lenyap ditelan halimun pekat yang tidak wajar.
"Ghazi! Kita harus segera mendirikan bivak darurat! Tekanan udara turun drastis dan bau belerang ini semakin pekat membakar tenggorokan!" teriak Rian, suaranya nyaris tenggelam oleh deru angin yang bergulung dari celah kawah.
"Sedikit lagi, Rian! Pelataran cadas di balik punggungan ini memiliki dinding batu penahan angin! Bertahanlah!" sahut Ghazi lantang, berusaha menancapkan keyakinan ke dalam hati rekan-rekannya.
Sebagai ketua ekspedisi penelitian vegetasi endemik Dempo, Ghazi merasa setiap tarikan napas dan langkah kaki ketiga rekannya adalah tanggungan hidupnya. Ia hafal betul aturan tak tertulis para pendaki tua Besemah: 'Jangan pernah menantang kabut Dempo ketika ia berganti warna menjadi ungu kehitaman, sebab itu pertanda pintu antara alam manusia dan bilik leluhur sedang merenggang.'
Namun alam tak lagi memberi mereka waktu berunding. Tanpa peringatan, bumi di bawah kaki mereka bergetar hebat. Gemuruh dari kedalaman kawah melesat ke permukaan seperti ledakan meriam gaib. Kabut hitam yang luar biasa tebal bergulung cepat dari ceruk kawah, bukan sekadar embun melainkan pusaran udara beraroma harum bunga melati purba yang berpadu dengan asap belerang panas.
"Pegang tali pengaman! Jangan ada yang melepaskan karabiner!" jerit Ghazi saat badai menghantam.
Jarak pandang seketika menyusut menjadi nol. Pasak batu tempat tali pengaman utama mereka tertambat tiba-tiba retak akibat guncangan seismik. Dengan suara berderak mengerikan, serpihan batu cadas runtuh ke dasar jurang kawah. Tali utama tersentak. Beban ketiga temannya yang berada di lereng bawah kini sepenuhnya bertumpu pada satu pasak cadangan dan tubuh Ghazi yang berdiri di ujung tebing rapuh.
"Tali kita tak akan kuat menahan empat orang sekaligus!" pekik Maya dari bawah, suaranya tercekat rasa takut.
Ghazi melihat retakan batu di bawah sepatu botnya merambat cepat. Jika ia bertahan di titik itu, seluruh formasi akan terseret jatuh bersama bongkahan tebing ke jurang kawah yang membara uap panas. Ghazi membuat keputusan dalam sepersekian detik. Dengan gerakan cepat dan terlatih, ia mengunci pengaman ketiga temannya pada tonjolan batu andesit padat yang aman di dinding dalam, lalu melepaskan karabiner pengait dirinya sendiri.
"Kalian harus tetap merapat ke dinding cadas! Jangan bergerak sampai badai reda!" Ghazi berteriak sekuat tenaga.
"Ghazi, tidak! Apa yang kau lakukan?!" teriak Arga histeris.
Batu di bawah kaki Ghazi runtuh sepenuhnya. Gravitasi menarik tubuh pemuda itu ke dalam jurang kabut kawah yang berputar bagai pusaran samudra hitam. Teriakan pilu sahabat-sahabatnya perlahan memudar, digantikan oleh kesunyian mendalam yang dingin, hampa, lalu cahaya putih menyilaukan yang menelan kesadarannya tanpa sisa.
─── 🧭 🕌 🧭 ───
Bagian 02: Telaga Renjana dan Pertemuan Takdir
Di Balik Tirai Kawah Tirta Swarnadwipa
━━━ 👣 ━━━
Sensasi pertama yang menyapa kesadaran Ghazi bukanlah rasa remuk redam akibat jatuh dari ketinggian ribuan kaki, melainkan belaian sejuk yang lembut dan aroma harum yang menenangkan jiwa. Bau belerang menyengat yang sempat mencekik paru-parunya lenyap, berganti dengan wangi bunga kemuning dan pandan wangi hutan yang segar.
Perlahan, Ghazi membuka kelopak matanya yang terasa berat. Langit di atasnya bukan kubah malam yang berbintang, melainkan kanopi bebatuan kristal raksasa yang membiaskan cahaya keemasan lembut, seakan-akan matahari terbenam abadi telah dibekukan di dalam perut bumi. Di bawah punggungnya, bukan hamparan kerikil cadas yang tajam, melainkan lantai pualam putih berkilau yang dialiri oleh lapisan tipis air sebening kaca.
Ghazi bangkit dengan tergesa-gesa, memeriksa tubuhnya. Ajaib, tidak ada satu pun tulang yang patah. Luka gores di lengannya bahkan telah memudar menjadi garis merah tipis. Di depannya terbentang sebuah danau bawah tanah yang teramat luas—airnya berkilauan seperti emas cair yang tenang, dinaungi pohon-pohon rindang berdaun keperakan yang belum pernah ia lihat dalam buku botani mana pun.
Di tepi danau itu, seorang wanita berdiri anggun di atas teratai pualam. Kulitnya sehalus pualam gading, mengenakan kemben berhias benang emas songket kuno bermotif pucuk rebung, dengan rambut terurai panjang berhiaskan mahkota kuncup bunga melati dan cempaka. Kehadirannya memancarkan wibawa yang begitu tenteram namun tak terjangkau.
"Kau berada di Tirta Swarnadwipa, tanah di balik napas kawah Gunung Dempo yang dijaga oleh kabut leluhur," Putri Kemuning berujar sambil mengeringkan jemarinya pada kain selendang sutra berwarna hijau zamrud.
Ghazi menatap sekeliling dengan mata membesar. Kejadian jatuhnya ia dari bibir kawah kembali berkelebat laksana petir di benaknya. Tanpa memedulikan kemegahan tempat itu atau sosok rupawan di hadapannya, ia melangkah maju dengan napas tersengal.
"Bagaimana dengan teman-teman saya di atas sana? Apakah mereka selamat dari badai kabut itu?" tanyanya dengan suara serak namun penuh ketegasan.
Putri Kemuning menatap Ghazi lekat-lekat. Ada binar keterkejutan bercampur kehangatan di matanya yang bening bagai telaga embun. Selama berabad-abad menjaga gerbang Tirta Swarnadwipa, ia telah menyaksikan banyak jiwa yang tersesat atau terlempar oleh amukan kawah purba.
"Kebanyakan manusia yang jatuh ke sini akan menangisi nyawa mereka sendiri atau meminta harta permata rimba emas. Namun pertanyaan pertamamu justru tentang kawan-kawanmu."
Ghazi menegakkan punggungnya, matanya menatap lurus ke dalam manik mata sang putri tanpa gentar. "Saya ketua rombongan mereka, Putri. Keselamatan mereka adalah amanah kehormatan saya. Lebih baik raga saya hancur di dasar jurang daripada mendengar kabar bahwa mereka celaka karena kelalaian kepemimpinan saya."
Kemuning tersenyum anggun, melangkah mendekat hingga aroma wangi bunga di rambutnya tercium nyata oleh Ghazi. Suara langkah kakinya di atas permukaan air terdengar bagai denting genta perak nan merdu.
"Kawan-kawanmu selamat di pelataran cadas. Pasak yang kau pasang menahan mereka dengan kokoh, dan kabut pelindung telah mengalihkan hembusan racun kawah menjauhi perkemahan darurat mereka. Namun kau... kau berada di sebuah persimpangan takdir yang tak mudah untuk kembali."
"Mengapa? Jika mereka selamat, izinkan saya naik kembali ke puncak. Mereka pasti mengira saya telah mati, dan tim pencari akan mempertaruhkan nyawa mencari jasad saya di jurang kawah!" pinta Ghazi.
Putri Kemuning menggeleng pelan. "Gerbang Tirta Swarnadwipa tidak terbuka oleh hukum gravitasi atau kecelakaan fana semata, Ghazi. Tanah ini menyerapmu karena ketulusan pengorbananmu telah memicu resonansi Mustika Tirta Kawah. Dan kini, takdir dua dunia sedang berguncang di telapak tanganmu."
─── 🧭 🕌 🧭 ───