Bayang-Bayang Sahabat : Pencarian Putus Asa di Lereng Nyata
Panggilan Rimba & Pintu Rahasia Dimensi. Lokasi: Tenda Darurat Pelataran Cadas Gunung Dempo (3.159 mdpl)
---
Di dunia nyata, malam turun dengan badai angin dingin yang menusuk tulang di lereng Gunung Dempo. Ketiga belas sahabat mendirikan dua tenda darurat di pelataran cadas sembari menangis dan berdoa. Qoifun yang biasanya jenaka kini terduduk lemas meremas peluit Ghazi yang tertinggal di semak tebing. Zahirul dan Walida memimpin salat hajat dan doa bersama di tengah gemeretak angin tenda. Fadhilul dan Rafan menyalakan suar sinyal darurat meminta bantuan pos pemantau Pagaralam. Walida tiba-tiba tersentak dari wiridnya, mengatakan bahwa ia merasakan detak jantung Ghazi masih berdenyut kuat di tempat yang sangat hangat dan bermandikan wangi bunga.
─── ❖ 🕌 ❖ ───
Bagian 01: AMUKAN ANGIN CADAS DAN TENDA YANG MENGGELETAR
-- Ketika Puncak Dempo Menghujamkan Dingin Menusuk Sumsum -- Bibir Pelataran Cadas Gunung Dempo, Ketinggian 3.080 mdpl. Fokus Karakter: Fadhilul, Rafan, Ilham, Thoriq
━━━ 👣 ━━━
Di dunia fana, angin Dempo menderu tanpa ampun, menghempaskan dinding kain tenda dome hingga meliuk nyaris roboh ke atas hamparan batuan andesit yang hitam dan runcing. Suara deru badai itu bukan sekadar tiupan hawa dingin biasa, melainkan lengkingan auman raksasa purba yang bangkit dari kawah belerang, merobek malam dengan pusaran angin berkekuatan menembus empat puluh knot. Tiang-tiang duralumin berderak meliuk seperti susunan tulang rusuk yang hendak retak di bawah tekanan badai orografis yang datang menyergap tanpa peringatan. Butiran kabut yang membeku menjadi jarum-jarum es mini menghantam kain flysheet ripstop tanpa jeda, menciptakan irama gemeretak yang memekakkan telinga laksana ribuan butir kerikil yang dicurahkan dari langit hitam.
Di luar pelataran cadas yang gersang dan sunyi itu, kegelapan pekat menelan segala penjuru mata memandang. Jurang di sisi selatan pelataran menganga lebar laksana mulut jurang purbakala yang tak berdasar, menelan kabut tebal berwarna kelabu keperakan yang terus berputar-putar dalam turbulensi ganas. Hanya beberapa depa dari tubir tebing maut itu, dua tenda ekspedisi bercorak oranye menyala tampak terombang-ambing bagai perahu cadik di tengah gelombang samudra amukan taufan. Tiap embusan angin kencang membuat lantai terpal tenda terangkat beberapa jengkal dari permukaan cadas, memicu getaran ngeri di sekujur tulang rusuk mereka yang meringkuk di dalamnya.
Fadhilul merapatkan resleting jaket windproof-nya hingga menutupi separuh wajah, sebelum melompat keluar ke dalam pelukan badai bersama Rafan dan Thoriq. Hawa dingin mendekati titik beku seketika membakar cuping hidung dan membekukan uap napas mereka menjadi kerak putih di bulu mata. Di bawah sorotan headlamp yang sinarnya terpecah berkeping-keping oleh kabut pekat, mereka berdua merangkak di atas lutut yang beralaskan pelindung busa. Batuan cadas yang licin berbau belerang menyengat, sisa dari letupan gas solfatara kawah yang terbawa arus konveksi lembah Pasemah.
"Rafan! Ambil sebongkah batu andesit yang lebih padat di dekat tunggul cantigi itu! Ikat pasak badai di sudut barat laut! Jangan sampai kain flysheet luar terangkat angin!" teriak Fadhilul sekuat tenaga, namun suaranya yang parau nyaris ditelan bulat-bulat oleh dengung badai yang menggelegar laksana deru mesin turbin jet di landasan pacu.
Rafan mengangguk mantap dengan mata yang menyipit menahan serbuan butir embun es yang beterbangan liar. Dengan sarung tangan polar yang mulai basah kuyup, ia menyeret sebongkah batu hitam seberat tiga puluh kilogram, menumpuknya di atas pasak pasak baja yang tertancap miring di celah retakan cadas. Tangannya bergetar hebat, bukan semata karena dingin yang merambat menembus serat kain isolator, melainkan oleh amarah dan kengerian yang berbaur di dalam rongga dadanya. Beberapa jam lalu, di tebing yang tak jauh dari tempat mereka kini mematok tenda, ketua perjalanan mereka—sosok yang menjadi tumpuan harapan dan ruh seluruh regu—lenyap ditelan kabut tebal setelah pijakan cadasnya runtuh ke dalam jurang misterius.
"Batu induk sudah menahan webbing utama, Fadhilul!" lapor Rafan sembari terengah-engah, dadanya naik turun mengisap udara tipis beroksigen rendah di ketinggian tiga ribu meter. "Tapi angin ini makin liar! Altimeter Ilham menunjukkan penurunan tekanan udara drastis. Badai ini badai orografis puncak, dan kita berada persis di jalur lintasan koridor angin lembah!"
Thoriq yang berjaga dengan tali carmentel terikat di pinggangnya memeriksa patok ketiga. Lampu kepalanya menyapu jurang yang berada persis sepuluh meter di belakang punggung mereka. Tidak ada apa-apa di sana selain dinding halimun pekat yang berdesir gaib laksana desau sutra raksasa. Jurang itu seolah menyimpan rahasia kelam, sunyi dari suara jeritan minta tolong, namun sarat dengan getaran ganjil yang membuat bulu kuduk mereka meremang di balik lapisan jaket tebal.
─── 🧭 🕌 🧭 ───
Bagian 02: SERPIHAN PELUIT, LOGAM DINGIN, DAN HANCURNYA GELAK TAWA
-- Ratapan Qoifun di Sudut Tenda Dome yang Terguncang -- Di Dalam Tenda Dome Utama (Regu Pria). Fokus Karakter: Qoifun, Fikri, Zahirul
━━━ 👣 ━━━
Di dalam tenda pertama, suasana begitu murung dan mencekam. Cahaya redup dari lentera gantung bertenaga baterai yang tergantung di puncak kubah tenda mengayun liar mengikuti guncangan kain terpal. Di sudut tenda yang paling sempit, Qoifun duduk membungkuk dengan kedua lutut ditarik rapat ke dadanya. Pemuda yang biasanya paling riuh, sosok jenaka yang celotehnya tak pernah gagal memancing tawa di kala letih melanda jalur pendakian terjal, kini tak ubahnya seonggok patung pualam yang layu dan kehilangan seluruh daya hidupnya.
Kedua tangan Qoifun yang pucat dan gemetar meremas kuat sebuah benda kecil yang tergantung pada seutas tali kur merah kusam: peluit badai darurat berbahan plastik oranye milik Ghazi. Peluit itu ditemukan tersangkut di dahan cantigi kerdil di tubir tebing beberapa saat setelah Ghazi terperosok. Di samping peluit itu, sebuah kompas bidik berbahan kuningan—kompas cadangan yang selalu disimpan Ghazi di saku dada rompinya—tergeletak di atas matras aluminium foil, jarum magnetnya berputar-putar liar tak tentu arah seakan kehilangan daya orientasi bumi fana.
Air mata Qoifun menetes lambat, membasahi kain pelapis celana lapangan gore-tex miliknya. Dadanya sesak dihimpit rasa bersalah yang tak tertahankan. Ingatannya berputar kembali ke beberapa jam sebelum petaka itu terjadi, saat matahari baru saja condong ke barat dan kabut mulai merayapi lereng cadas dengan kecepatan mengerikan.
"Biasanya dia yang memarahiku..." bisik Qoifun dengan suara serak yang tercekat di kerongkongan. Suaranya bergetar begitu lirih di antara derak kain tenda. "Biasanya dia yang berteriak di belakangku, 'Qoifun, perlambat langkahmu! Jangan sok pahlawan melompati cadas basah!' Dia yang selalu memeriksa simpul pengamanku... Dia yang memastikan tiap pasak tendaku tertanam kokoh... Lalu kenapa? Kenapa justru orang sehati-hati Ghazi yang tergelincir di tempat terkutuk itu?"
Fikri yang duduk di sebelahnya sembari memeriksa sisa tali webbing hanya bisa menundukkan kepala dalam-dalam. Ia meletakkan tangannya di pundak Qoifun yang berguncang oleh isak tangis tertahan. "Bukan salahmu, Qoi. Bukan salah siapa-siapa di antara kita. Cadas di tebing itu bukan runtuh karena kelalaian atau beban langkah manusia biasa. Aku memeriksa patahan batu itu saat kita melempar tali pertama. Permukaannya licin, rata, dan rapi laksana dipotong oleh mata pisau raksasa yang tak kasat mata. Ada yang aneh dengan titik runtuh itu, seakan-akan tebing itu sengaja membuka mulutnya."
"Tapi aku yang berjalan tepat di belakangnya!" ratap Qoifun, tangisnya kini pecah menjadi desah keputusasaan yang meremukkan hati siapa pun yang mendengarnya. "Aku melihat tangannya terulur ke udara kabut itu! Aku sempat melihat ujung jarinya menyentuh jaketku! Kalau saja tanganku lebih cepat sedetik... kalau saja aku tidak ragu mencengkeram ranselnya... Ghazi pasti sekarang ada di sini bersama kita, menyeduh kopi pahit kesukaannya dan mengomeli lelucon bodohku! Kenapa tanganku ini lambat sekali?!"
Zahirul yang duduk tenang di sisi matras perlahan bergeser mendekat. Ia mengulurkan tangannya yang hangat, merangkul punggung Qoifun dengan kelembutan seorang saudara tua yang penuh welas asih. "Qoifun, saudaraku. Jangan biarkan setan menaburkan racun penyesalan di saat jiwamu sedang rapuh. Ghazi tidak jatuh karena kelalaianmu. Alam ini, detik ini, dan lereng Dempo ini sedang berada dalam genggaman rahasia Ilahi yang jauh melampaui perhitungan akal kita. Tarik napasmu dalam-dalam. Jangan habiskan tenagamu untuk meratapi hal yang sudah berlalu, karena besok pagi kita butuh segenap otot, darah, dan suaramu untuk menariknya naik kembali ke pelataran ini."
─── 🧭 🕌 🧭 ───
Bagian 03: CANGKIR SENG, REBUSAN JAHE BAIZA, DAN RANGKULAN DI UJUNG JURANG
-- Duka Mendalam Para Pendaki Perempuan dan Kehangatan Cinta Sahabat -- Di Dalam Tenda Dome Kedua (Tenda Logistik & Medis). Fokus Karakter: Fariha Nashiha, Fadhilul, Baiza, Nashirah, Salma
━━━ 👣 ━━━
Di tenda sebelah yang difungsikan sebagai pos komando logistik dan perawatan medis, desis nyala api biru kompor parafin kecil memberikan sedikit ilusi kehangatan di tengah hawa beku yang mencengkeram. Aroma tajam jahe merah geprek, paduan batang serai yang dimemarkan, cengkih, kapulaga hutan, dan gula aren merebak pekat di udara tenda yang sempit, bertarung sengit melawan bau uap belerang yang menyelinap lewat pori-pori ventilasi jaring.
Baiza dengan telaten menuangkan cairan cokelat keemasan yang mengepul itu ke dalam cangkir-cangkir seng enamel lurik hijau. Jemarinya yang dibalut plester medis tampak cekatan, meski getaran halus pada pergelangan tangannya tak dapat menyembunyikan rasa cemas yang sama besarnya. "Minumlah selagi panas, Fariha. Habiskan sampai tetes terakhir. Kita tidak boleh membiarkan suhu inti tubuh kita jatuh ke ambang hipotermia. Kalau kita tumbang malam ini, siapa yang akan menyambut Ghazi saat fajar menyingsing di bibir cadas?"
Fariha Nashiha menerima cangkir seng itu dengan kedua telapak tangannya yang gemetar hebat. Dinginnya cangkir logam itu seketika sirna digantikan sengatan panas jahe yang meresap ke kulit, namun kehangatan itu seakan tak sanggup menembus dingin yang membekukan rongga dadanya. Air mata Fariha menetes bening, jatuh tepat ke dalam cairan jahe yang mengepul, membiaskan cahaya lentera menjadi lingkaran-lingkaran kecil yang bergetar di permukaan air.