KABUT EMAS GUNUNG DEMPO

Amrullah Ibrahim
Chapter #9

Renjana Rimba Swarna

# Mahligai Daun Emas: Renjana Rimba Swarna

─── ❖ πŸ•Œ ❖ ───


## Pembukaan: Retakan di Balik Halimun

Ketika Kompas Tua Menolak Arah Selatan

━━━━ πŸ‘£ ━━━━

Kabut di lereng punggung bukit itu tidak turun perlahan layaknya embun pagi biasa. Ia menyergap secara tiba-tiba, menggulung dari celah jurang purba bagaikan tirai sutra putih tebal yang memutus pandangan hanya dalam rentang tiga tarikan napas.

Ghazi menghentikan langkahnya. Sepatu bot gunungnya yang berlumur lumpur merah mencengkeram erat sebongkah batu andesit berlumut. Hujan lebat baru saja reda satu jam yang lalu, menyisakan hawa dingin menusuk tulang dan aroma humus basah yang pekat. Sebagai seorang surveyor topografi dan fotografer ekspedisi alam liar, Ghazi terbiasa menghadapi jalur rimba Sumatera yang terpencil. Namun sore itu, ada sesuatu yang ganjil di udara.

Udara tidak lagi berbau belerang atau getah damar biasa. Samar-samar, tercium wangi bunga cempaka liar dan semerbak cendana yang hangatβ€”aroma yang mustahil merebak begitu kuat di ketinggian dua ribu meter di atas permukaan laut.

Ia meraba saku jaket tebalnya dan mengeluarkan sebuah kompas kuno berbingkai kuningan berukir aksara Kawi halus, peninggalan kakek buyutnya yang konon pernah menjelajahi belantara pedalaman pada awal abad kedua puluh. Jarum magnetis kompas itu berputar liar. Bukan hanya bergetar tak tentu arah, tetapi berputar kencang berlawanan dengan jarum jam seolah-olah kutub utara bumi telah lenyap digantikan oleh sumber gravitasi baru tepat di bawah kakinya.

"Aneh sekali... medan magnetik macam apa ini?" gumam Ghazi seorang diri.

Saat ia melangkah maju setengah meter untuk memeriksa tebing di depan, tanah gembur yang dipenuhi sulur pakis mendadak runtuh. Suara retakan batu terdengar menggelegar di bawah kakinya. Ghazi kehilangan tumpuan. Dunianya jungkir balik.

Ia meluncur deras ke dalam jurang halimun putih yang tampak tak berdasar. Cabang-cabang pohon liar mencakar punggung dan bahunya, merobek ransel cordura tebal yang ia sandang. Ghazi bersiap membentur dasar jurang berbatu yang dingin, memejamkan mata menanti ajal.

Namun benturan keras itu tidak pernah datang.

Alih-alih mendarat di tanah bebatuan tajam, tubuhnya terperangkap oleh jejaring dahan lentur yang berayun lembut bagai tempat tidur gantung raksasa. Angin hangat membelai wajahnya yang berpeluh dingin. Ketika ia membuka mata dengan napas terengah-engah dan punggung yang berdenyut ngilu akibat hantaman dahan, pemandangan di hadapannya meruntuhkan seluruh logika ilmu pengetahuan modern yang selama ini ia anut.

─── 🧭 πŸ•Œ 🧭 ───


ο»Ώ## Bagian 01: Mahligai Berdaun Emas

Cawan Cendana dan Sentuhan yang Menembus Kalbu

━━━━ πŸ‘£ ━━━━

Mahligai itu berdiri bukan dari batu pahatan manusia, melainkan jalinan dahan pohon purba yang tumbuh membentuk pilar-pilar pelindung berkubah daun emas. Lentera-lentera berupa kristal embun yang memancarkan pendar kuning lembut tergantung di setiap sudut beranda.

Di atas lantai dahan kayu ulin raksasa yang licin mengilat seperti marmer yang diasah alami, Ghazi duduk bersandar pada pangkal akar yang menjulang. Di hadapannya terbentang luas pemandangan lembah tanpa batas. Awan-awan perak berarak di bawah kakinya, disinari cahaya senja yang memadukan ungu anggur dan emas tembaga. Tidak ada jalan raya, tidak ada menara pemancar sinyal, tidak ada suara dengung knalpot kota yang selama ini memenuhi kepalanya. Yang ada hanyalah dengungan lembut angin lembah dan desir ratusan ribu daun emas yang bergesekan bagai dawai harpa raksasa.

Sebuah langkah kaki yang nyaris tanpa suara memecah lamunannya. Dari balik tirai dedaunan yang tergantung rimbun, melangkah seorang gadis jelita berbusana kain sutra keemasan berpadu kebaya hijau zamrud bermotif sulur daun kemuning. Rambutnya yang legam panjang terurai hingga ke pinggang, disemat sekuntum bunga cempaka putih yang masih berteteskan embun. Sepasang matanya bening bagai telaga purba di puncak gunung, memancarkan kearifan yang melampaui usia fana.

Putri Kemuning menyodorkan sebuah cawan kayu cendana berukir bunga cempaka. "Minumlah. Ini air perasan buah embun Swarna. Ia akan memulihkan tenaga dan menyejukkan luka memar di punggungmu."

Ghazi menerimanya dengan takzim. Jari-jari mereka bersentuhan sesaat. Sentuhan itu mengirimkan sengatan hangat yang menjalar cepat ke dada Ghazi, membuatnya terpaku.

Ada desakan energi misterius dalam sentuhan ituβ€”bukan rasa sakit akibat listrik statis, melainkan kehangatan yang mengalir lembut ke setiap urat nadi, seketika meredakan kepanikan yang mencengkeram jantungnya.

"Terima kasih, Putri. Di tempat saya, kami hanya punya air mineral kemasan dan sereal bar dingin di dalam ransel," canda Ghazi perlahan untuk mencairkan suasana.

Putri Kemuning tertawa kecilβ€”sebuah tawa yang terdengar bagai gemerincing lonceng perak ditiup angin senja. "Manusia fana sungguh unik. Kau membawa bekal dalam kantung buatan tanganmu, sementara rimba ini menyediakan segalanya bagi jiwa yang tahu cara bersyukur."

Ghazi menunduk menatap cawan di kedua tangannya. Di dalam cawan cendana itu, cairan keemasan bening tampak berpendar lembut, berputar perlahan tanpa diaduk. Ketika ia mendekatkannya ke hidung, aroma harum buah matang yang manis dan kesegaran embun pagi menyeruak ke rongga pernapasannya.

Tanpa ragu lagi, Ghazi meneguk cairan itu perlahan.

Rasa pertama yang menyentuh lidahnya adalah dingin yang luar biasa murni, disusul rasa manis alami yang lembut seperti madu lebah hutan yang larut dalam air mata air pegunungan. Sensasi dingin itu meluncur menuruni tenggorokannya, lalu seketika berubah menjadi kehangatan yang merata ke seluruh tubuh. Rasa ngilu di pundaknya, robekan luka gores di lengan kanan, dan memar parah di tulang belakangnya akibat benturan dahan saat terperosok tadi mendadak lenyap. Otot-ototnya yang tegang mengendur, dan rasa lelah berhari-hari menjelajah hutan seketika sirna.

Ghazi menarik napas panjang. Paru-parunya terasa lapang, seolah ia baru pertama kali menghirup udara murni sejak dilahirkan ke dunia. Ia mengusap punggungnya yang kini tak lagi nyeri sama sekali, menatap cawan kosong di tangannya dengan takjub bercampur tak percaya.

"Ini... ini mustahil secara biologis," bisik Ghazi terpana.

Putri Kemuning tersenyum ramah, menyandarkan kedua tangannya yang lentik pada susuran dahan beranda. "Di alam manusia, kalian mengukur segala sesuatu dengan angka, timbangan, dan rumus yang kaku. Tetapi di Pohon Hayat Kalinggaswana ini, kehidupan mengalir mengikuti ketulusan napas sang pencipta."

─── 🧭 πŸ•Œ 🧭 ───


## Bagian 02: Pusaka Swarnadwipa dan Poros Kosmik

Pohon Hayat yang Bernapas dan Rahasia Kompas Tua

━━━━ πŸ‘£ ━━━━

Angin senja kembali berhembus, menerbangkan beberapa helai daun emas kecil yang melayang perlahan sebelum hinggap di atas bahu Ghazi. Ia mengambil salah satu daun itu. Teksturnya bukan seperti logam keras yang dingin, melainkan lembut seperti kelopak bunga beludru dengan urat-urat daun yang berpendar keemasan di bawah permukaan kulitnya.

"Tempat apa ini sebenarnya, Putri? Dan bagaimana mungkin dahan sebesar bukit ini bisa membentuk istana yang begitu sempurna tanpa sepotong kayu pun dipotong atau dipaku?" tanya Ghazi penuh kekaguman.

Putri Kemuning melangkah perlahan ke tepi beranda, menatap hamparan kanopi hutan yang membentang luas hingga ke kaki cakrawala yang berkabut lembayung.

"Tempat ini bernama Mahligai Swarna, pelindung jantung Rimba Raya Kalingga. Pohon purba ini bukan tanaman biasa yang tumbuh dari tanah semata. Ia adalah Pohon Hayat, poros penyeimbang antara alam fana tempat kaummu beranak-pinak dan alam keabadian tempat para ruh leluhur beristirahat. Dahan-dahan ini tidak pernah ditebas. Mereka melengkung, merajut diri, dan saling menopang karena mereka mendengarkan kidung yang kami senandungkan sejak permulaan zaman."

Putri Kemuning kemudian membalikkan badannya. Tatapannya tertuju lurus pada leher Ghazi, tepat di mana kompas kuno berbingkai kuningan tergantung pada seutas tali kulit sapi tua.

"Namun yang lebih mengherankan bagiku, Pengembara Fana, adalah mengapa kau bisa menembus Tirai Halimun Delapan Penjuru? Selama tiga ratus siklus matahari berputar, tidak ada seorang pun manusia berkulit debu yang mampu melangkahkan kaki ke mahligai ini tanpa terperangkap dalam lingkar ilusi rimba luar."

Ghazi tersentak. Tangannya refleks menyentuh kompas yang masih terasa hangat di dadanya. "Mungkin karena benda ini... kompas ini warisan kakek buyut saya, Puyang Gemeling Shakti. Berdasarkan catatan harian keluarga yang tersimpan di lemari tua kami di Jakarta, kakek buyut saya pernah memimpin ekspedisi pemetaan hutan pedalaman pada tahun 1920-an. Beliau sempat hilang selama empat puluh hari sebelum ditemukan penduduk desa di tepi sungai dalam keadaan selamat, memegang kompas ini dan selalu mengigau tentang 'kubah daun emas di atas awan'."

Mata Putri Kemuning melebar sesaat. Rona terkejut berkelebat di wajahnya yang teduh.

" Gemeling Shakti...?" bisik sang Putri lirih. Jemarinya yang halus perlahan menyentuh bingkai kuningan kompas itu. Begitu ujung kuku indahnya bersentuhan dengan aksara Kawi di pinggiran kompas, seketika aksara-aksara kuno itu memancarkan cahaya hijau zamrud yang terang.

Lentera kristal embun di langit-langit beranda bergetar halus menyambut pendaran cahaya tersebut.

"Pantas saja," desah Putri Kemuning pelan dengan senyum yang sarat kenangan masa lalu. "Ternyata kau adalah darah keturunan pengembara muda yang terluka parah di hulu sungai seabad yang lalu. Kakek buyutmu dulu diselamatkan oleh ibundaku, Gusti Ratu Swarnadewi. Sebagai tanda bahwa hutang nyawa telah dibayar dengan sumpah menjaga rimba, ibundaku menyematkan serpihan Batu Surya Swarna ke dalam poros jarum kompas ini. Benda itulah yang menuntunmu melintasi retakan halimun sore tadi."

Ghazi terdiam kaku. Bulu kuduknya meremang. Dongeng keluarga yang selama ini dianggap ayahnya sebagai bualan kakek tua yang linglung karena demam malaria, ternyata adalah kebenaran sejarah yang hidup di depan matanya.

"Tetapi kedatanganmu bukan semata kebetulan pengulangan waktu," lanjut Putri Kemuning, nada bicaranya berubah menjadi berat dan berselimut keprihatinan. Sang Putri mengarahkan telunjuknya ke arah barat laut, menembus batas kanopi daun emas.

Lihat selengkapnya