
Sumpah di Gua Pualam
"Kaidah kami di gunung: jangan mengambil apa pun selain foto, jangan meninggalkan apa pun selain jejak, dan jangan membunuh apa pun selain waktu."
βββ β π β βββ
BAGIAN I: AKSARA EMAS DI DINDING PUALAM
Rongga Purba Perut Dempo & Tiga Pantangan Abadi
ββββ π£ ββββ
Dinding gua batu pualam itu dipenuhi guratan aksara Kaganga emas yang berdenyut seirama detak jantung. Setiap lekuk garisnya tidak dipahat oleh sekadar tatah besi pandai manusia fana, melainkan terpatri laksana lelehan urat tembaga pijar yang dialiri napas purba perut bumi. Udara di dalam rongga raksasa itu sejuk menusuk sumsum tulang, namun di saat yang sama memancarkan kehangatan ganjil yang menguar dari gugusan kristal kuarsa di langit-langit kubah batu. Dari stalaktit putih susu yang menggantung laksana taring naga tidur, tetesan air mineral purba berdentang konstan, menimpa permukaan telaga bawah tanah yang begitu bening hingga hamparan batu akik aneka rupa di dasarnya tampak bagai taburan bintang malam yang terperangkap dalam kaca cair.
"Bacalah pantangan ini, Ghazi," Putri Kemuning menunjuk pada prasasti pualam. Suaranya bergema lembut di antara pilar-pilar batu alam, menggetarkan riak air yang tenang di telaga kecil itu. Selendang sutra hijau zamrud bermotif pucuk rebung keemasan yang tersampir anggun di bahunya bergoyang pelan, kendati tak ada angin kencang berembus di ceruk kedap tersebut. "Bumi Tirta Swarnadwipa memiliki hukum mutlak. Jika kau melanggarnya, kau akan tertidur selamanya sebagai arwah penjaga kabut."
Ghazi melangkah maju setapak demi setapak. Sepatu gunungnya yang bersol vibram tebal dan telah koyak oleh tajamnya bebatuan cadas puncak Dempo berderit pelan di atas hamparan pualam licin. Punggungnya masih memikul ransel carrier enam puluh liter yang lembap oleh lumut basah dan sisa kristal es dari jurang kaldera tempat ia tergelincir tiga malam lalu. Di hadapan dinding marmer setinggi tiga depa itu, matanya menyusuri deretan aksara paku berkelok khas dataran tinggi Besemah purbaβaksara yang pernah ia pelajari serpihannya dari naskah kulit kayu gelumpai di museum daerah, namun tak pernah ia sangka akan bernyawa di depannya.
Ghazi membaca dengan seksama arti kata yang dialihkan oleh suara Kemuning:
Pertama, tanganmu tak boleh merenggut kekayaan rimba ini demi keserakahan dunia fana.
Kedua, lidahmu tak boleh mendustai cinta yang kau tatap di telaga batin.
Ketiga, ragamu harus bersedia menjadi tameng bagi kesucian Mustika Dempo saat mara bahaya tiba.
Setiap baris larangan itu menyala kian benderang tatkala bibir tipis Kemuning melafalkannya ke dalam bahasa tutur manusia. Cahaya kuning kunyit yang memancar dari aksara Kaganga tampak menjalar seperti sulur-sulur tumbuhan merambat di sepanjang alur batu marmer, meluncur di atas lantai pualam, lalu membiaskan kilau keemasan di permukaan air telaga di dekat telapak kaki mereka. Gelombang keheningan yang agung merayap di rongga gua, seolah-olah seluruh batu, air, dan lumut purba di perut Gunung Dempo sedang menahan napas menanti tanggapan pemuda fana tersebut.
Ghazi menelan saliva yang terasa tercekat di kerongkongan. Hawa dingin dari air telaga berhembus menyentuh kulit pipinya yang bergores ranting kering. Di kedalaman hatinya, ia menyadari bahwa ini bukan lagi perjalanan mendaki gunung biasa untuk mengisi akhir pekan atau memburu foto matahari terbit di atas lautan awan. Di balik selubung kabut tebal kaldera Dempo berketinggian 3.173 meter di atas permukaan laut, ia telah melangkah melintasi batas dua alam yang tak terbayangkan oleh akal sains kotanya.
βββ π§ π π§ βββ
BAGIAN II: SUMPAH SANG PENDAKI DAN RESONANSI DUA DUNIA
Kaidah Konservasi Modern Menjawab Hukum Kuno Swarnadwipa
ββββ π£ ββββ
"Aku seorang pendaki, Putri," Ghazi menyentuh dada kirinya dengan tegas. Di balik jaket tahan angin berlumur tanah merah dan logo perkumpulan pencinta alam kampusnya, degup jantungnya berdentang mantap, berirama serasi dengan getaran emas di dinding pualam. "Kaidah kami di gunung adalah: jangan mengambil apa pun selain foto, jangan meninggalkan apa pun selain jejak, dan jangan membunuh apa pun selain waktu. Sumpah ini sudah tertanam di jiwaku jauh sebelum aku jatuh ke negerimu."
Kemuning tertegun menatap ketegasan di wajah Ghazi. Sepasang mata jernihnya yang bening laksana embun daun teratai berkilau haru. Selama ratusan purnama berputar mengitari puncak kembar Gunung Dempo, tak terhitung berapa banyak manusia fana yang pernah terlempar menembus tirai kabut dimensi Tirta Swarnadwipa dengan bara nafsu membara di ubun-ubun kepala mereka. Para penambang emas liar bertampar beliung, pemburu batu mustika bermata jalang, petualang serakah yang memimpikan timbunan harta karun Sriwijaya kuno, hingga saudagar tamak lintas abad. Hampir semuanya binasa terjerembap pada pantangan pertama yang keramat.
Tangan orang-orang tamak itu selalu gatal untuk memetik kuntum anggrek emas yang mekar abadi, mencungkil urat giok di dinding gua, atau mematahkan ranting Kayu Panjang Umur yang bertuah pelindung. Dan sebagai ganjarannya, bumi pualam menuntut bayaran seketika: raga mereka kaku membeku menjadi fosil batu kapur, sementara sukma mereka tertidur selamanya sebagai arwah pengembara kabut yang melolong pilu tanpa arah di lembah jurang Selangit.
Namun di depan mata sang putri kini berdiri seorang pemuda berpenampilan asingβmengenakan tali karmantel yang melilit di sabuk, karabiner baja yang berdencing pelan, kompas bidik berbahan kuningan tua, serta senter kepala dengan kaca yang telah retak halusβyang justru memandang kemegahan alam Swarnadwipa bukan sebagai jarahan untuk memuaskan ego manusia, melainkan sebagai tempat suci yang pantang dinodai oleh keangkuhan dan keserakahan.
"Kaidah duniamu... begitu serupa dengan petuah para tetua agung Besemah mula-mula," bisik Kemuning. Langkah kakinya yang anggun mendekat tanpa menimbulkan suara sedikit pun, hingga semerbak wangi bunga melati hutan dan aroma dedaunan kemuning segar memenuhi indra penciuman Ghazi. Jemari lentik sang putri terulur pelan, menyentuh lembut pergelangan tangan Ghazi yang lecet terkoyak duri rotan saat keduanya meloloskan diri dari serbuan kawanan serigala kabut semalam.