LEMBAH SEROJA LEMBAYUNG
Kisah Putri Kemuning dan Ghazi Di Bawah Langit Senja Kalatara
─── ❖ 🕌 ❖ ───
BAGIAN 01: TIRAI LEMBAYUNG DAN KABUT BELERANG
Ketika Sang Putri Melarikan Diri dari Sangkar Emas
━━━ 👣 ━━━
Matahari sore telah lama tenggelam di balik punggung Pegunungan Menoreh Purba, menyisakan bias langit yang meredup menjadi warna ungu kelam yang ganjil. Di bibir tebing curam bertatahkan batu cadas hitam, angin lembah bertiup membawa aroma yang tak lazim: perpaduan antara wangi lumut basah, sedap malam liar, dan desau uap hangat yang sarat belerang tipis.
Putri Kemuning menyandarkan tubuhnya pada sebongkah batu karang yang dingin. Napasnya terengah-engah, dada bidangnya yang berbalut kebaya sutra kelabu dan kain tenun lurik kencana naik-turun tak beraturan. Ujung kainnya yang dulu dibordir benang emas di bangsal istana kini telah robek di beberapa bagian, tersayat oleh duri perdu rotan selama pelarian tiga hari tiga malam.
Tiga hari yang lalu, ia masih seorang putri yang dipuja di singgasana pualam Kadipaten Wilwatirta. Namun ketika ayahnya, sang Adipati sepuh, dipaksa menandatangani pakta penyerahan kekuasaan kepada Pangeran Agrawira—seorang tiran haus darah dari Wangsa Taring Baja—Kemuning tahu hidupnya telah tamat jika ia pasrah. Agrawira tidak hanya menginginkan dirinya sebagai lambang takhta, melainkan kunci rahasia menuju Puspa Seroja Padmaratna: bunga legendaris yang konon berakar di urat nadi bumi Lembah Kalatara dan berdaya memurnikan segala racun darah kutukan.
Hanya ada satu orang yang berdiri di antara Kemuning dan algojo-algojo berseragam baja hitam malam itu. Ghazi. Pemuda pengembara yang pernah diusir dari resimen ksatria karena menolak mengeksekusi tawanan perang tak berdosa, pemuda yang bersumpah di hadapan pusara mendiang ibunda Kemuning untuk senantiasa menjadi perisai sang putri.
"Kita sudah berada di ambang Lembah Kalatara, Putri," suara Ghazi memecah deru angin senja. Suaranya rendah, serak oleh debu perjalanan, namun selalu menenangkan seperti denting genta tembaga di malam sunyi.
Ghazi berdiri dua langkah di depan Kemuning. Tubuhnya tegap berbalut zirah kulit banteng yang penuh guratan sayatan senjata. Di punggungnya tersandang busur kayu ulin kelabu dan sebilah pedang pendek berhulu tanduk rusa. Sepasang matanya yang tajam bak elang pengintai menyapu kabut tebal yang bergolak di bawah kaki mereka.
Kemuning mendongak, menyeka peluh di pelipisnya dengan punggung tangan yang gemetar. "Apakah lembah ini benar-benar ada, Ghazi? Kitab-kitab babad di perpustakaan istana menyebutnya sebagai lembah arwah, tempat di mana waktu berhenti berdetak dan siapa pun yang masuk takkan pernah kembali menyapa fajar."
"Kitab-kitab itu ditulis oleh para pujangga yang takut akan kebebasan belantara," jawab Ghazi tanpa menoleh, jemarinya memeriksa tali busurnya yang basah oleh embun. "Kakek buyutku pernah memetakan aliran sungai bawah tanah ini. Lembah ini bukan neraka, Putri. Ia adalah suaka bagi mereka yang jiwanya diburu keserakahan manusia. Tapi kita harus turun sebelum kabut beracun malam menutup celah dinding batu."
Dengan cekatan luar biasa, Ghazi mengaitkan simpul tali tambang serat jelatang pada pasak besi yang ia tancapkan di celah cadas. Ia mengulurkan ujungnya kepada Kemuning.
"Tumpukan berat badanmu pada tumit, jangan tatap jurang di bawahmu. Tatap punggungku saja," bisik pemuda itu. Kata-kata itu terdengar sederhana, namun bagi Kemuning yang seumur hidupnya dikelilingi dayang-dayang penjilat dan bangsawan bermuka dua, kalimat singkat Ghazi adalah dinding benteng paling kokoh yang pernah ia ketahui.
Keduanya mulai menuruni dinding tebing setinggi hampir tiga ratus depa. Bebatuan karst yang tajam menggores lutut dan telapak kaki mereka. Namun seiring tubuh mereka merayap turun menembus lapisan awan lembayung, suhu udara yang semula menusuk tulang perlahan-lahan menghangat. Gemuruh air terjun tersembunyi mulai terdengar bersahut-sahutan dengan derik serangga malam yang bernada magis.
Dan ketika kaki mereka akhirnya menyentuh hamparan tanah gambut di dasar ngarai, tirai kabut pekat itu tersibak perlahan, seolah menyambut kepulangan sang putri ke dunia yang belum pernah terjamah noda peradaban.
─── 🧭 🕌 🧭 ───
BAGIAN 02: REKAHAN DURI DAN SENTUHAN PERTAMA
Pendaratan Jiwa di Atas Dada Sang Penjaga
━━━ 👣 ━━━
Lembah di hadapan mereka bermandikan cahaya ungu lembayung yang memesona. Bunga-bunga seroja berukuran sebesar perisai mengapung di atas air rawa yang jernih, memancarkan wewangian menenangkan.
Pemandangan itu begitu agung hingga Kemuning tercekat di tempatnya berdiri. Air rawa itu tidak keruh ataupun berlumpur hitam sebagaimana rawa-rawa di dataran rendah pesisir; airnya bening laksana cermin kaca yang dicelupkan ke dalam mangkuk intan, memantulkan gradasi langit ungu muda, nila, dan magenta yang berpendar lembut dari lapisan lumut bioluminesen di dinding-dinding ngarai. Daun-daun seroja yang membentang lebarnya mencapai tiga hasta manusia, bertepi melengkung ke atas laksana wadah persembahan para dewa.
Di tengah kelopak-kelopak yang membuka anggun, sari bunga seroja memancarkan pendar keemasan lembut, menebarkan wewangian perpaduan madu hutan, pandan wangi, dan kayu cendana basah yang seketika menghapus rasa letih di persendian Kemuning.
"Hati-hati, Putri. Batuan di tepi seroja ini berlumut licin," Ghazi melangkah mendahului, menguji kestabilan batu pijakan dengan sol sepatunya.
Pemuda itu melangkah dengan sangat teliti. Sepatu kulit lars berlaraskan besi yang ia kenakan menapak mantap pada bongkahan batu basal kelabu yang setengah terendam air rawa. Di setiap langkahnya, Ghazi memastikan batu yang ia pijak tidak bergoyang atau dilapisi lumut lendir yang berkhianat. Tangannya yang memegang tongkat pemandu kayu ulin menancap ke dasar air untuk mengukur kedalaman lumpur.
Kemuning mengikuti di belakangnya dengan langkah yang dipenuhi kehati-hatian. Namun kelelahan fisik setelah menuruni tebing curam mulai menuntut tebusan. Betisnya gemetar, dan pandangannya sesaat kabur oleh uap air hangat yang membubung dari celah-celah bebatuan.
Saat Kemuning hendak melangkah melewati rekahan ceruk air yang mengepulkan uap belerang tipis, kain gaunnya tersangkut pada semak berduri.
Duri-duri itu adalah duri sulur akar keladi racun—tajam, melengkung laksana kuku macan, dan mencengkeram erat lipatan kain sutra kelabu yang melingkari pergelangan kakinya. Tarikan mendadak itu menghilangkan keseimbangan Kemuning. Tubuhnya limbung ke depan, persis mengarah ke celah rekahan batu yang dialiri uap belerang membara.
Jeritan kecil tertahan di tenggorokan sang putri.
Namun sebelum tanah lumpur sempat merenggutnya, Ghazi telah berputar dengan kecepatan kilat yang lahir dari latihan militer bertahun-tahun. Ghazi dengan sigap menahan tubuh Kemuning dengan tangan kirinya, sementara jemari kanannya melepaskan duri-duri itu dengan sangat hati-hati.
Lengan kiri pemuda itu melingkari pinggang Kemuning dengan kepastian yang kokoh, menahan seluruh bobot tubuh sang putri tanpa ragu sedikit pun. Sementara itu, jemari kanannya yang tebal dan cekatan mencungkil sulur-sulur berduri dari serat kain sutra satu demi satu. Setiap gerakannya begitu terukur, memastikan ujung duri yang beracun tidak sampai menggores kulit pualam Kemuning, meski ujung duri itu sendiri menggores kulit tangannya hingga menitikkan darah merah segar.
"Jangan bergerak dulu, Tuan Putri... nafas perlahan," bisik Ghazi, sangat dekat hingga hembusan nafas hangatnya menyapu pelipis Kemuning.
Jantung Kemuning bertalu laksana genderang perang. Di hadapan mereka, ceruk rekahan batu itu lebarnya sekitar lima jengkal, dengan dasar berbatu yang mengalirkan air belerang mendidih yang mengepulkan asap keputihan. Tidak ada cara lain untuk melintas selain melompat ke tepian batu datar di seberangnya.