KABUT EMAS GUNUNG DEMPO

Amrullah Ibrahim
Chapter #12

Serangan Bayang-Bayang Kabut

Serangan Bayang-Bayang Kabut Lembayung Gelap

─── ❖ 🕌 ❖ ───


BAGIAN I: Hening Beracun di Ngarai Cadas Bisu

━━━ 👣 ━━━

Malam di Ngarai Cadas Bisu tidak pernah mengenal belas kasihan. Di celah dinding andesit hitam yang menjulang runcing bagai deretan taring raksasa purba, angin gunung menderu dengan desah parau yang menyerupai rintihan jiwa-jiwa terlupakan. Udara di bibir jurang perbatasan kawah bawah Gunung Dempo itu mengikis kehangatan hingga ke sumsum tulang, menyisakan kepulan uap putih tipis setiap kali napas terhela. Namun bukan hanya rasa dingin menusuk yang membuat bulu kuduk Ghazi meremang; melainkan aroma belerang pekat yang mendadak berubah masam dan busuk, menggeser wangi lumut basah yang sejak senja tadi menemani langkah mereka.

Ghazi menghentikan langkahnya di atas tonjolan batu pualam kelabu yang berlumut tipis. Tangan kanannya mencengkeram erat tongkat trekking berbahan duralumin dengan ujung karbida yang mulai tergores batu cadas. Ransel gunung berkapasitas enam puluh liter di punggungnya terasa berat menekan bahu, tetapi Ghazi tak sedikit pun mengeluh. Di sampingnya, Putri Kemuning berdiri begitu hening. Gaun sutra kuning gading sang putri beriak lembut tertiup angin kawah, anehnya sama sekali tak ternoda oleh debu vulkanik yang beterbangan. Di lehernya yang jenjang, Selendang Cempaka Kuning memancarkan pendar keemasan hangat—seberkas cahaya magis yang sejak beberapa jam lalu menjadi lentera penunjuk jalan sekaligus penghalau kabut beracun kawah.

“Ada yang tidak beres, Putri,” bisik Ghazi, suaranya ditahan serendah mungkin agar tidak membentur dinding tebing yang mampu menggandakan gema. Pemuda itu menggeser posisi berdirinya setengah langkah ke depan, menempatkan tubuhnya di sudut yang secara naluriah menutup celah jurang di sebelah kiri Kemuning. Sorot lampu kepala (headlamp) miliknya menembus kabut, menampakkan partikel debu vulkanik yang melayang janggal—bukan jatuh ditarik gravitasi bumi, melainkan berputar membentuk pusaran-pusaran kecil yang melawan arah angin.

Kemuning menoleh perlahan. Sepasang matanya yang jernih laksana telaga pegunungan memantulkan cahaya lampu senter Ghazi tanpa silau. Bibirnya yang ranum pucat terkatup rapat sesaat sebelum berbisik lirih, sarat kecemasan yang belum pernah ia perlihatkan sepanjang perjalanan mereka melintasi rimba lebat Dempo. “Kabut ini... bukan kabut biasa, Ghazi. Hawa dingin ini tidak bersumber dari embun lereng, melainkan dari kedalaman jurang keputusasaan. Segel dasar kawah bawah sedang bergetar. Dia telah mencium jejak Selendang Cempaka.”

“Dia?” Ghazi mengerutkan kening. Naluri pendaki gunungnya yang terbiasa membaca tanda-tanda bahaya badai dan longsoran kini bertabrakan dengan kenyataan gaib yang melampaui segala lembar panduan survival yang pernah ia pelajari di perhimpunan pendaki kampus. Telapak tangannya meraba kantong samping ransel, memastikan obor resin damar hutan—yang sebelumnya telah ia racik dari getah pinus dan kayu meranti kering—berada dalam jangkauan cepat.

“Panglima Durgandika,” tutur Kemuning dengan nada yang bergetar tertahan. Tangannya yang ramping bergerak menyentuh lipatan selendangnya, seolah hendak menyembunyikan pusaka leluhur itu dari tatapan tak kasat mata yang mulai mengintai dari bayang-bayang jurang. “Ribuan purnama silam, ayahanda menitahkan pembuangannya ke kerak lava terdingin di bawah dasar Dempo karena kedurhakaannya hendak membakar lembah Swarnadwipa dengan api magma hitam. Jika ia mampu melepaskan sebagian wujudnya ke Ngarai Cadas Bisu ini, itu berarti segel penahan kawah telah mengalami keretakan parah.”

Belum sempat Ghazi menanggapi penuturan tersebut, embusan angin mendadak berhenti total secara tidak wajar. Suara gemerisik kerikil yang biasanya jatuh bergulir dari tebing mendadak senyap. Kesenyapan mutlak menyergap ngarai, seolah seluruh alam semesta menahan napas dalam ketakutan yang mencekam. Bahkan degup jantung Ghazi sendiri terdengar begitu memekakkan telinga di rongga dadanya.

─── 🧭 🕌 🧭 ───


BAGIAN II: Menggeliatnya Bayang-Bayang Lembayung Gelap

━━━ 👣 ━━━

Udara mendadak menjadi dingin membekukan, jauh lebih dingin dari badai di puncak Dempo. Rasa dingin itu bukan sekadar penurunan temperatur termal, melainkan gigitan kepedihan metafisik yang merambatkan rasa hampa menusuk persendian. Dari celah-celah batu cadas, kabut hitam menggeliat membentuk sosok tinggi bermata bara merah. Kabut tebal itu berwarna hitam keunguan—lembayung gelap yang pekat laksana jelaga dupa terkutuk. Kabut itu tidak menyebar rata, melainkan bergulung-gulung membentuk tentakel bayang-bayang yang merayap di atas tanah berbatu.

Di depan mereka, tepat di titik tersempit ngarai yang menutup satu-satunya jalur pelarian ke dataran tinggi, gumpalan kabut lembayung itu memadat dan meninggi hingga hampir mencapai tiga depa. Udara mendesis kasar bagai semburan uap pipa ketel yang pecah. Dari pusaran kabut kelam tersebut, muncullah sesosok bayang-bayang raksasa berzirah hitam legam yang tampak meleleh dan bertaut kembali secara terus-menerus. Di kepalanya yang bertanduk cadas, menyala sepasang mata bara merah menyala laksana bara tempurung kelapa yang ditiup amarah purba.

Di belakang sosok tinggi besar itu, puluhan siluman kabut berwujud prajurit tanpa wajah merayap keluar dari rekahan dinding tebing. Mereka membawa tombak-tombak panjang dari kristal belerang hitam yang mengeluarkan asap beracun berbau bangkai dan tembaga busuk.

“Kemuning...” suara Durgandika menggelegar bagai gesekan logam berkarat, mengguncang bebatuan tebing hingga meluruhkan butiran kerikil ke dasar jurang. “Beribu musim aku membusuk di dasar kerak beku kawah, menanti aroma darah sucimu melintas di batas cadas ini. Serahkan selendang kramatmu dan biarkan kawah Dempo memuntahkan amarahnya! Atau kuremukkan manusia fana yang kau bawa ini!”

Putri Kemuning melangkah maju setengah tapak, kedua tangannya merentangkan selendang emas yang memancarkan tameng cahaya. Pendar keemasan dari Selendang Cempaka Kuning memancar lebih terang, membentuk kubah pendar tipis yang membentengi dirinya dan Ghazi dari hawa beracun yang dimuntahkan sang panglima.

“Mundur, Durgandika! Kau telah diasingkan oleh titah Raja ke dasar kerak bumi!” balas Kemuning, suaranya merdu namun memiliki ketegasan agung darah bangsawan Swarnadwipa. “Dosamu yang hendak menenggelamkan ribuan nyawa ke lautan lahar telah mengunci hakmu atas tanah ini! Jangan sekali-kali kau berani menodai kesucian tanah Dempo dengan kebangkitanmu yang laknat!”

Durgandika tertawa terbahak-bahak. Gelak tawanya bergaung mengerikan, menciptakan gelombang kejut gaib yang membuat dada Ghazi berdesir ngilu. “Titah rajamu hanyalah debu di hadapan dendam ribuan tahunku! Serahkan Selendang Cempaka Kuning itu, Kemuning! Hanya serat emas pusaka ibundamu yang mampu memecah segel inti kawah dan membebaskan armada apiku! Serahkan dengan sukarela, atau kuremukkan manusia fana hina di sampingmu itu hingga tak bersisa sebutir tulang pun untuk dikuburkan!”

Sorot mata bara merah Durgandika beralih tajam ke arah Ghazi. Tatapan penuh kehinaan itu menelanjangi jaket gunung berpelindung angin milik Ghazi seolah kain sintetis modern itu tak lebih berharga dari daun kering yang siap dilahap api.

─── 🧭 🕌 🧭 ───


BAGIAN III: Palagan Cadas — Tongkat Karbida & Obor Damar Hutan

━━━ 👣 ━━━

Lihat selengkapnya