KIDUNG PALUNG GAHARU: KISAH GHAZI & PUTRI KEMUNING
─── ❖ 🕌 ❖ ───
PEMBUKAAN : GUMPALAN KABUT DI CELAH TEBING CADAS
Runtuhnya Kedaton dan Pelarian di Ketinggian Gunung Dempo
━━━━ 👣 ━━━━
Langit malam di atas lereng Gunung Dempo, Selaksa Kabut tampak seperti bentangan kain beledu hitam yang dicabik-cabik oleh kilat kering tanpa guruh. Angin dingin bertiup liar dari jurang-jurang cadas yang menganga di bawah kaki, membawa aroma lumut basah, belerang tua, dan bau hangus dari arah lembah selatan—tempat di mana menara-menara Kerajaan Indragiri sedang dijilat api penaklukan.
Tiga hari yang lalu, kedaton megah itu masih bergema oleh alunan gending keemasan dan wangi dupa cendana. Namun, dalam satu malam jahanam yang pekat, kesetiaan terbeli oleh emas berkarat. Panglima Baruna melancarkan makar dengan memimpin Pasukan Serigala Besi. Ayahanda Baginda gugur di tangga singgasana bersimbah darah, dan para selir menjerit ketika gerbang istana diterobos oleh tombak-tombak dingin pemberontak. Hanya ada satu yang diinginkan oleh Baruna selain takhta mahkota: Putri Kemuning. Ia ingin memperistri sang putri pewaris tunggal demi mengesahkan darah haramnya di atas tahta leluhur.
Namun Kemuning menolak menjadi boneka tirani. Dengan bantuan Ghazi—seorang pemuda pendaki gunung yang kebetulan berada di kedaton untuk menyerahkan rempah obat langka titipan almarhum ayahnya—sang putri dilarikan menembus lorong rahasia saluran air purba yang membelah dinding benteng.
Ghazi bukanlah prajurit berbaju zirah, bukan pula ksatria yang terbiasa bersolek dengan kata-kata manis di hadapan para bangsawan. Kulitnya liat terpanggang matahari pegunungan, otot lengannya kokoh terbentuk dari bertahun-tahun merayap di tebing-tebing curam, dan matanya setajam elang rimba yang mampu mencium arah angin serta jejak ranting patah. Bagi istana, Ghazi hanyalah anak jelata dari desa kaki bukit. Namun di malam maut itu, dialah satu-satunya benteng bernyawa yang berdiri tegak di antara Putri Kemuning dan taring-taring serigala Baruna.
Pelarian itu bukanlah perjalanan yang ramah. Berhari-hari mereka mendaki jalan setapak tak kasat mata, melompati jurang berkedalaman ratusan depa, menyusup di bawah terpaan hujan jarum es yang menusuk kulit hingga membeku. Kemuning yang terbiasa beralas permadani lembut Persia kini harus menyeret kakinya yang melepuh di atas bebatuan tajam. Telapak kakinya berdarah, gaun suteranya koyak terparut duri rotan, tetapi tatapannya tak pernah surut. Dalam diri putri muda itu mengalir kebanggaan singa yang tak sudi diinjak pembangkang.
Petaka memuncak tepat saat senja baru saja tenggelam di celah jurang. Di sebuah punggungan sempit yang diapit tebing tegak lurus, desing panah beracun mendadak membelah pekatnya halimun. Pasukan Serigala Besi berhasil melacak jejak mereka dengan bantuan anjing pemburu buas.
"Putri, merunduk!" teriak Ghazi.
Sebuah anak panah berhulu besi hitam meluncur lurus mengarah ke dada Kemuning yang terpaku kaget. Tanpa sempat berpikir sedetik pun, Ghazi melemparkan seluruh tubuhnya ke depan, menubruk sang putri ke balik celah batu karang. Bunyi berderak yang mengerikan terdengar ketika ujung besi berkarat menancap telak menembus pangkal lengan kiri Ghazi hingga ke tulang.
Mata panah itu tidak sekadar merobek daging; mata panah itu telah direndam dalam Racun Jelaga Kalajengking Hitam—kutukan paling mematikan dari rawa kematian yang mampu membekukan darah manusia hanya dalam hitungan setengah putaran jam pasir.
Dengan sisa tenaga yang luar biasa dan dorongan tekad baja yang tak masuk akal, Ghazi mematahkan tangkai anak panah dengan tangan kanannya, mencabut parang berkarat di pinggangnya, lalu menyabet seutas sulur raksasa yang menahan longsoran batu di atas tebing. Batu-batu cadas runtuh bergemuruh, menutup rapat celah jalan setapak dan mengubur para pemburu di balik dinding batu pekat. Kemudian, dengan tubuh yang mulai limbung dan kesadaran yang terombang-ambing di bibir maut, Ghazi menuntun Kemuning masuk ke sebuah ceruk tersembunyi: Gua Akar Gaharu.
─── 🧭 🕌 🧭 ───
BAGIAN 01: RACUN JELAGA DI PALUNG GAHARU
Ketika Darah, Pengorbanan, dan Keberanian Meleburkan Kasta
━━━━ 👣 ━━━━
Di dalam keheningan gua akar gaharu, napas Ghazi tersengal pendek-pendek. Bibirnya membiru, dan urat-urat hitam menjalar di lehernya menantang sisa daya hidupnya.
Gua itu pengap, namun dipenuhi keharuman mistis dari tetesan getah damar pohon gaharu raksasa yang akarnya menjuntai dari langit-langit batu seperti jeruji kurungan purba. Di luar, desau angin lembah melolong panjang bagai ratapan jiwa-jiwa yang tersesat, sementara di dalam, hanya ada bunyi detak jantung yang berkejaran dengan deru napas sekarat.
"Bertahanlah, Ghazi... kumohon bertahanlah," bisik Putri Kemuning. Suaranya tercekat di kerongkongan, serak oleh debu dan kesedihan yang tak tertahankan. Tetes air mata sang putri jatuh tepat di kelopak mata Ghazi yang terpejam rapat, membasahi bulu matanya yang dipenuhi abu batu.
Tubuh pemuda itu kejang sejenak. Racun jelaga bekerja dengan kecepatan yang mengerikan; racun itu merayap di bawah kulit seperti ribuan semut api yang mendidihkan darah, mengubah warna daging di sekitar luka menjadi ungu kehitaman yang membusuk secara gaib. Ghazi menggertakkan giginya begitu keras hingga darah segar merembes dari sudut bibirnya yang pecah-pecah.
Tanpa memikirkan status kerajaannya, tanpa mempedulikan tabu adat istana yang mengharamkan seorang putri bangsawan menyentuh tubuh laki-laki jelata yang bukan muhrimnya, Kemuning merobek tepi kain selendang sutranya. Suara derit kain sutra emas pusaka itu terdengar nyaring di dalam gua, merobek pula sisa-sisa keangkuhan gelar kebangsawanan yang selama ini melingkupinya. Dengan gerakan cepat dan cekatan, ia membebat pangkal lengan Ghazi sekuat tenaga untuk menghambat aliran darah berbisa agar tidak menyentuh bilik jantung.
Jemari lentiknya yang gemetar meraba saku kecil di balik korsetnya. Ia mengeluarkan sekuntum kelopak cempaka putih yang tadi sempat ia petik di tepi tebing lembah. Dengan batu kali yang pipih, Kemuning menumbuk kelopak itu, menorehkan getah kelopak cempaka putih ke luka menganga itu. Bau harum yang getir bercampur dengan bau anyir darah yang menggelora.
Namun getah itu hanya mampu menahan permukaan; racun pekat telah bersarang jauh di dalam liang otot. Jika dibiarkan semenit saja lagi, racun itu akan menghentikan degup jantung sang penjejak selamanya.
Lalu, dengan keberanian cinta yang meluap—sebuah perasaan yang tak pernah ia duga bisa tumbuh di tengah desing anak panah dan ancaman maut—Kemuning menundukkan kepalanya. Ia mendekatkan bibirnya yang merah merekah langsung ke bibir luka yang menganga, menempelkannya erat-erat pada daging yang telah menghitam itu.
Ia mulai menghisap keluar racun jelaga hitam dari darah Ghazi.
Rasa terbakar menusuk lidahnya seketika. Rasanya seperti menenggak lelehan timah mendidih bercampur abu bangkai dan empedu ular kobra. Saraf-saraf di rongga mulut Kemuning berdenyut ngilu tak terkira, kepalanya pening luar biasa seolah-olah langit-langit gua berputar runtuh menimpanya. Rasa mual yang dahsyat melonjak ke dadanya, namun Kemuning tak peduli. Ia meludahkannya ke lantai tanah—segumpal darah kental sehitam ter batu bara mendesis saat menyentuh debu gua.
Sekali lagi Kemuning menempelkan bibirnya. Menghisap lebih dalam, menuntut sisa-sisa kegelapan itu agar keluar dari urat darah Ghazi dan berpindah ke dalam dirinya jika memang surga menuntut tebusan nyawa. Air matanya terus mengalir deras membasahi dada bidang Ghazi yang naik turun tak beraturan.
Pada hisapan keempat, darah yang keluar mulai berubah warna menjadi merah tua yang hangat. Urat-urat hitam yang tadi merambat garang di leher Ghazi tampak memudar, mundur perlahan bagai bayang-bayang malam yang terusir oleh seberkas fajar.
Kemuning menyeka sudut bibirnya yang bengkak dan kebas dengan ujung lengannya. Napasnya sendiri tersengal payah, tubuhnya limbung diterpa kelelahan lahir dan batin.
Saat racun terakhir terbuang, ia mendekap kepala Ghazi ke pangkuannya, menyelimuti tubuh pendaki yang menggigil kedinginan itu dengan selendang emasnya yang hangat. Kain sutra tenunan permaisuri itu kini ternoda darah dan jelaga, namun Kemuning tak merasa jijik sedikit pun. Baginya, noda darah itu adalah lambang kesucian yang melampaui segala perhiasan zamrud di mahkota para raja.
Gua kembali sunyi, hanya diselingi tetesan air mineral dari ujung stalaktit akar gaharu yang berdentang pelan di ceruk batu seperti genta doa pengantar tidur.
"Kemuning..." bisik Ghazi dalam igauannya yang tipis. Kelopak matanya bergetar berat, belum sanggup terbuka sempurna. Tangannya yang kasar, kapalan karena tali rami dan cadas tajam, bergerak lemah meraba udara dingin hingga menyentuh ujung jemari sang putri.
Sentuhan itu begitu ringkih, namun memancarkan kehangatan hidup yang membuat dada Kemuning bergetar hebat.
"Kau... selamat..." lirih pemuda itu sekali lagi, dengan bibir yang masih gemetar menahan dinginnya demam racun. Bahkan di ambang pintu kematiannya, pikiran pertamanya bukanlah rasa sakit yang meremukkan tubuhnya sendiri, melainkan keselamatan gadis yang ia lindungi.
Kemuning mendekapkan tangan Ghazi ke pipinya yang basah oleh air mata, membiarkan kulit kasar itu merasakan hangatnya air mata dan ketulusan detak nadinya.
"Aku selamat karena kau, Ghazi..." suara Kemuning bergetar sarat rindu dan keharuan yang melimpah. "Tidurlah dalam dekapanku. Di sini aman... aku yang akan menjagamu sepanjang malam ini."
─── 🧭 🕌 🧭 ───
BAGIAN 02: MENITI BENANG MASA LALU
Dua Jiwa dari Seberang Cakrawala yang Dipertemukan oleh Takdir
━━━━ 👣 ━━━━
Di bawah naungan akar-akar gaharu yang meneteskan keharuman pedih, waktu seolah berhenti berputar. Kemuning menatap lekat-lekat wajah pemuda yang kini terlelap dalam tidurnya yang gelisah. Rambut Ghazi yang hitam bergelombang berantakan, menutupi keningnya yang penuh guratan lelah. Hidungnya tegas, dan garis rahangnya menyimpan ketabahan laki-laki yang sejak kecil tak pernah dimanjakan oleh kemudahan hidup.
Bagaimana mungkin seorang putri mahkota yang dipersiapkan untuk memimpin imperium Indragiri bisa berlabuh di sebuah liang batu terpencil, memangku seorang anak pemanjat tebing? Pikiran Kemuning melayang kembali ke masa-masa tenang sebelum badai makar memporak-porandakan segalanya.
Dua purnama silam, Ghazi dipanggil ke balairung istana bukan untuk dianugerahi gelar kehormatan, melainkan sebagai penunjuk jalan. Ayahanda Baginda Raja mengidap penyakit batuk darah kering yang hanya bisa disembuhkan oleh Bunga Embun Cempaka—tanaman gaib yang hanya tumbuh di puncak Gunung Gaharu di atas jurang setinggi seribu depa. Tak ada prajurit istana, tak ada punggawa berpedang yang berani menaiki tebing mematikan itu. Hanya Ghazi, pemuda desa yang hidup dari mencari damar dan akar obat, yang bersedia mempertaruhkan nyawa demi secuil upah untuk mengobati warga desanya yang dilanda kelaparan.