KABUT EMAS GUNUNG DEMPO

Amrullah Ibrahim
Chapter #14

Swarnadwipa: Langit Dua Dimensi

# Swarnadwipa: Langit Dua Dimensi

Kisah Epik Ghazi & Putri Kemuning

─── ❖ 🕌 ❖ ───


## Bab 1: Robekan di Celah Kabut Purba

Ketika Peta Kehilangan Arah dan Jurang Menuntut Nyawa. Swarnadwipa: Langit Dua Dimensi

━━━━ 👣 ━━━━

Bagi Ghazi Al-Fatih, garis kontur pada peta topografi adalah satu-satunya bahasa yang tak pernah berbohong. Sepanjang lima tahun bergelut sebagai surveyor geologi di pedalaman Nusantara, ia telah menapaki punggung-punggung gunung paling terjal di bumi Sumatera, menundukkan belantara basah dengan kompas prisma dan GPS genggam. Namun petang itu, di lereng barat lembah purba yang tak pernah tercatat dalam arsip mana pun, kompas magnetik di tangannya berputar liar layaknya jarum jam yang kehilangan akal sehat.

Kabut yang merayap turun dari tebing bukan kabut uap air biasa. Warnanya keperakan dengan sulur-sulur tipis berpendar keemasan, menebarkan wangi ganjil serupa campuran getah damar purba dan wangi bunga cempaka yang dibakar api dingin. Ghazi telah berusaha membalikkan badan, berniat kembali ke perkemahan dasar sebelum kegelapan menelan lintasan. Namun, bumi di bawah sepatu gunungnya mendadak bergetar halus tanpa suara.

Sebuah retakan ruang—seolah kanvas udara diiris sembilu tajam—menganga di antara dua pohon beringin raksasa. Angin hisap bertekanan luar biasa menyedot ransel kanvasnya. Ghazi menjerit, jemarinya mencengkeram akar gantung sekuat tenaga, tetapi cabang lapuk itu patah dengan derak memilukan. Detik berikutnya, gravitasi dunia fana runtuh. Tubuhnya melayang jatuh menembus lapisan kabut berpendar, melintasi pusaran spektrum warna yang menyengat saraf penglihatannya.

Ketika Ghazi akhirnya menghantam tanah, itu bukan tanah bumi yang ia kenal. Punggungnya mendarat di atas singkapan batu pualam yang dilapisi lumut bercahaya zamrud. Belum sempat paru-parunya meraup oksigen penuh, desisan tajam memecah kesunyian. Dari kegelapan celah batu cadas, melompat seekor binatang buas tak berwujud wajar: serigala setinggi bahu manusia dengan bulu hitam kelam yang mengepulkan asap kelabu, bermata merah saga dan bertaring tajam layaknya belati kaca.

Naluri bertahan hidup membuat Ghazi berguling menyamping saat cakar maut itu menyambar. Kuku runcing binatang itu merobek lengan jaket gunungnya, mengoyak daging hingga darah segar membasahi bebatuan. Rasa perih yang membakar menjalar seketika—cakar itu mengandung racun dingin yang membekukan aliran darah. Ghazi terdorong mundur ke tepi jurang singkapan bayang, kakinya limbung di bibir tebing curam tanpa dasar.

Binatang buas itu melangkah mendekat, menggeram puas mencium bau darah manusia fana. Ghazi menggenggam pisau lipat lapangannya dengan tangan kiri yang gemetar, tahu bahwa senjata kecil itu tak ubahnya tusuk gigi di hadapan monster dimensi gaib. Di saat napasnya tercekat dan kepasrahan mulai merayap, denting merdu laksana petikan harpa perak bergema dari balik pepohonan.

"Mundur, makhluk bayang! Kau melanggar batas tanah terlarang Wangsa Candramawa!"

Suara itu lembut, namun getarannya memuat otoritas magis yang membuat udara berdesir. Dari balik rimbun semak berpendar, melesat sesosok siluet ramping berbalut kain sutra hijau zamrud. Sebuah belati berhulu emas memancarkan gelombang cahaya putih menyilaukan, menghantam tepat di depan cakar sang serigala bayang. Raungan kesakitan melengking saat kabut asap hitam terbakar oleh pendar suci belati tersebut, memaksa binatang neraka itu melompat mundur dan lenyap ke dalam bayang jurang cadas.

Pandangan Ghazi mulai mengabur. Racun dingin di lengannya telah menjalar ke pangkal leher, membuat setiap detak jantungnya terasa lambat dan berat. Di sisa kesadarannya yang kian menipis, ia melihat seraut wajah mendekat. Wajah seorang gadis dengan sepasang mata jelita yang memancarkan kecemasan murni, dikelilingi harum melati gaib yang menenangkan rasa sakitnya.

"Bertahanlah, wahai anak manusia... racun ini belum sampai ke hulunya," bisik suara itu di telinganya sebelum kegelapan pekat menyergap kesadaran Ghazi sepenuhnya.

─── 🧭 🕌 🧭 ───


## Bab 2: Balutan Sutra dan Aroma Nilam Gaib

Sentuhan Sang Putri di Antara Hidup dan Mati

━━━━ 👣 ━━━━

Ketika kesadaran Ghazi kembali merangkak naik, hal pertama yang ia rasakan bukanlah lantai rumah sakit atau tenda kemahnya yang berbau terpal lembap. Tubuhnya terbaring di atas hamparan selimut dari serat daun pendar yang hangat dan empuk. Udara yang mengalir ke lubang hidungnya luar biasa murni, sejuk tanpa menusuk tulang, dipenuhi aroma wangi nilam, rempah manis, dan getah pohon damar purba yang menenangkan jiwa.

Ia mencoba menggerakkan tangan kanannya. Lengan yang tadinya terkoyak cakar monster kini terbebat rapi oleh sehelai kain sutra berwarna kuning kenanga yang memancarkan pendar keemasan hangat. Setiap kali denyut nadi berdegup, hawa dingin yang sebelumnya membekukan sarafnya perlahan menguap, berganti sensasi geli lembut saat jaringan ototnya merajut diri kembali.

"Jangan dipaksa bergerak terlampau cepat. Sutra kuning ini telah dibasahi sari getah cempaka seribu tahun, tapi daging fanamu tetap butuh waktu untuk menyatu."

Ghazi tersentak pelan, menoleh ke arah sumber suara. Duduk beberapa langkah di hadapannya di atas dipan batu bertatah ukiran teratai, seorang wanita muda tengah menumbuk dedaunan hijau terang di dalam mangkuk batu giok. Wanita itu mengenakan kemben songket sutra hijau zamrud dengan selendang berbenang emas yang menjuntai anggun di pundaknya. Rambut hitam pekatnya disanggul longgar, dihiasi untaian kuncup melati kecil yang anehnya memancarkan cahaya putih lembut laksana kunang-kunang yang tertidur.

"Si... siapa Anda? Dan di mana ini?" tanya Ghazi dengan suara serak, kerongkongannya terasa kering bagai padang pasir. Pikirannya yang terbiasa dengan logika geologi dan koordinat satelit kini berantakan di hadapan pemandangan yang melampaui segala hukum fisika modern.

Gadis itu meletakkan alu penumbuknya, lalu bangkit berdiri dengan langkah seringan embun yang menetes di pucuk daun. Ia membawa sebuah cawan tembikar berisi cairan bening keperakan dan mengulurkannya kepada Ghazi. "Minumlah dulu. Ini embun fajar dari puncak Pohon Hayat. Ia akan mengusir sisa racun siluman yang mengeruhkan darahmu."

Ragu sejenak, Ghazi menatap cawan itu, lalu menatap sepasang mata gadis di hadapannya. Manik mata itu bening kecokelatan dengan lingkaran iris luar yang berkilau keemasan tipis—mata yang memancarkan ketulusan purba tanpa secuil pun niat culas. Ghazi menerima cawan tersebut. Saat cairan sejuk itu membasahi lidahnya, rasa manis segar yang belum pernah ia cicipi di bumi seketika meredakan dahaga dan menjernihkan kepalanya.

"Aku Kemuning," ujar sang putri seraya duduk bersimpuh dengan keanggunan seorang ningrat yang mendarah daging. "Putri bungsu dari Keraton Candramawa. Dan tempat di mana engkau terbaring saat ini adalah Swarnadwipa—negeri tanah emas yang tersembunyi di balik lipatan tirai tujuh lapis langit gaib. Adapun engkau... adalah manusia bumi pertama yang menjejakkan kaki di perbatasan ini setelah tiga ratus purnama tertutup rapat."

Ghazi tertegun menatap tangannya yang dibalut sutra kuning, lalu menatap jaket gunungnya yang telah dibersihkan dari lumpur dan diletakkan rapi di samping dipan. "Nama saya Ghazi. Ghazi Al-Fatih. Saya... saya hanya seorang surveyor peta. Terjebak badai di lereng gunung... dan tiba-tiba terhisap lubang kabut itu."

Kemuning tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyiratkan kepedihan tersembunyi. "Retakan dimensi itu bukan kebetulan, Ghazi. Keseimbangan Swarnadwipa sedang terguncang. Segel batas alam melemah, membiarkan makhluk kegelapan berkeliaran dan celah antara bumimu dan duniaku meregang terbuka. Bila aku terlambat sedetik saja di jurang tadi, sukmamu pasti telah diseret ke lembah kelam."

Ghazi menarik napas panjang, menatap sang putri dengan rasa takzim yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Pemuda yang terbiasa bersandar pada angka, data satelit, dan batuan beku itu kini menyadari bahwa hidupnya baru saja diselamatkan oleh seorang dewi berdarah bangsawan mistik yang bahkan tak mengenalnya sama sekali.

─── 🧭 🕌 🧭 ───


## Bab 3: Langit Dua Warna dan Bekal dari Saku Jaket

Lihat selengkapnya