Jejak Gaib di Pos Cadas: Sahabat Menemukan Kompas Ghazi
Kisah Pencarian Ghazi di Ketinggian 2.800 MDPL Gunung Dempo
βββ β π β βββ
=== PEMBUKAAN : RATAPAN HALIMUN PELATARAN ===
Lokasi: Pelataran Kawah Gunung Dempo (2.800 MDPL) | Waktu: Hari Ke-4 Pencarian β’ 15:40 WIB
ββββ π£ ββββ
Kabut putih pekat merayap lambat menelan hamparan cadas abu-abu di pelataran puncak Gunung Dempo. Udara dingin membeku pada angka minus dua derajat Celsius, menusuk setiap celah jahitan jaket gore-tex tebal yang dikenakan para pendaki dan relawan. Di ketinggian 2.800 meter di atas permukaan laut itu, tiupan angin gunung berdesau laksana rintihan panjang dari masa purba, menghantam dinding-dinding batu andesit yang membisu kaku.
Empat hari sudah Ghazi lenyap tanpa jejak.
Empat hari yang panjang, menguras air mata, tenaga, dan harapan. Pemuda berusia dua puluh dua tahun itu, yang dikenal periang dan berhati teduh, terpisah dari rombongan saat badai kabut 'halimun buta' mendadak menyergap punggungan Merapi-Dempo pada Selasa sore yang nahas. Rombongannyaβdelapan sahabat karib dari perhimpunan mahasiswa pencinta alamβmenolak untuk turun meski batas aman pencarian mandiri telah terlampaui. Mereka bersumpah tidak akan melangkahkan kaki menuruni kebun teh Pagaralam sebelum menemukan Ghazi, hidup atau mati.
Di bibir pelataran yang berbatu tajam, tenda darurat oranye milik Basarnas dan Pos SAR Pagaralam berdiri tegak di antara hembusan angin kencang berbau belerang samar. Puluhan meter tali karmantel dan webbing merah membentang kusut di atas tanah berbatu kerikil. Jejak-jejak sepatu bot bersol tebal mencetak lumpur beku yang mulai mengeras.
Semua orang tahu, bertahan hidup lebih dari tujuh puluh dua jam di cadas beku puncak Dempo tanpa perlengkapan bivak lengkap mendekati sebuah kemustahilan. Hipotermia, jurang menganga tanpa dasar, serta gas beracun dari kawah aktif adalah malaikat maut yang mengintai tanpa ampun di setiap jengkal kabut. Harapan perlahan meredup seperti arang kayu bakar yang tertimpa gerimis es.
Namun bagi Rafan, Ghaffar, Fadhilul, Rifki, Zahirul, Qoifun, dan Walida, menyerah adalah bentuk pengkhianatan paling hina terhadap janji persaudaraan yang mereka ikrarkan di bawah bendera rimba.
Ketika keheningan yang mencekam kembali mendominasi pelataran, tiba-tiba dari arah rekahan jurang sisi barat dayaβsebuah ceruk maut yang selama ini dihindari para pendakiβsebuah suara membelah deru angin kencang.
βββ π§ π π§ βββ
=== BAGIAN 01 : JERITAN PELUIT DI CERUK 40 METER ===
Lokasi: Ceruk Cadas Patahan Barat Daya (2.760 MDPL) | Waktu: Hari Ke-4 β’ 16:15 WIB
ββββ π£ ββββ
Suara desuit peluit darurat Rafan melengking tiga kali dari dasar ceruk tebing sedalam 40 meter.
Desuit itu melengking tinggi, tajam, dan sarat akan kode bahaya sekaligus histeria yang tak terbendung. Melodi logam peluit Fox 40 itu bergema liar di antara dinding batu basalt yang curam, menembus deru angin pelataran.
"TARIK TALINYA! KAMI MENEMUKAN SESUATU!" teriak Ghaffar dari bawah.
Suara bariton Ghaffar bergetar parau, tenggelam timbul oleh hempasan angin lembah, namun cukup jelas untuk menyengat denyut nadi setiap orang di pelataran atas.
Di atas bibir jurang, Fadhilul, Rifki, dan Zahirul menarik tali webbing dengan sekuat tenaga dibantu personil SAR Pagaralam. Otot-otot lengan mereka menegang kencang, sarung tangan kulit mencengkeram jalinan serat nilon dengan gigih. Komandan regu SAR meneriakkan aba-aba ritmis sementara para personel lain mengamankan sistem katrol penahan beban pada pasak jangkar yang ditanam di rekahan batu cadas.
"Satu... dua... tarik! Tahan beban! Tarik lagi!" seru salah satu personel SAR bertubuh gempal dengan keringat dingin yang mengembun di pelipisnya.
Ketika Rafan berhasil memanjat naik ke pelataran dengan sisa-sisa tenaga di kedua lututnya yang lecet berdarah, ia roboh bertumpu pada kedua tangan. Napasnya memburu terengah-engah, uap putih tebal mengepul deras dari mulutnya. Namun pandangan semua orang tidak tertuju pada luka-luka lecet di sikunya, melainkan pada tangan kanannya yang gemetar hebat.
Tangannya menggenggam sesuatu yang terbungkus kantung plastik bening kedap air berikat simpul ganda.
"Kompas kakek Ghazi..." suara Rafan tercekat menahan isak tangis yang akhirnya pecah membasahi pipinya yang legam terbakar angin gunung. "Kompas ini tersangkut di dahan pohon cantigi kerdil di ambang gua sempit... tepat di tubir jurang empat puluh meter..."
Qoifun langsung menyambar kompas itu dengan kedua tangannya yang dingin membiru. Jantungnya berdegup kencang laksana genderang perang.
Benda kuningan itu berkilau bersih tanpa segores pun retak. Logam kuningan antik buatan tangan dengan ukiran sulur aksara Besemah kuno dan angka-angka penunjuk mata angin itu berkilau hangat di bawah temaram kabut senja. Penutup kacanya yang tebal jernih tanpa noda, seolah baru saja diseka oleh jemari yang lembut.
Dan di dalamnya, di antara celah jarum magnetis yang diam tegak, terselip tiga kelopak bunga cempaka kuning yang masih basah oleh butir-butir embun hangat beraroma surgawi.
Aroma itu seketika menyeruak ke udara dingin yang tipis. Itu bukan bau tanah basah atau belerang belerang kawah yang menusuk hidung, melainkan wangi semerbak manis nan agung, perpaduan madu hutan, kuncup bunga mekar, dan kehangatan dupa sutra yang menenangkan jiwa.
"Bagaimana mungkin bunga tropis dataran rendah mekar segar di batu cadas beku 2.800 meter?" gumam komandan regu SAR dengan mata tak percaya. Pria paruh baya yang telah memimpin puluhan operasi SAR di Gunung Dempo itu mengusap matanya berkali-kali. Tangannya yang terbiasa memegang komando gemetar saat menyentuh tepi kantung plastik itu. Kelopak cempaka kuning (*Michelia champaca*) hanya tumbuh subur di pekarangan lembah bersuhu hangat antara dua ratus hingga tujuh ratus meter di bawah sana, bukan di cadas es beku yang bahkan rumput pun enggan bertunas.
Walida melangkah maju, menyentuh kelopak bunga itu dengan jemarinya yang bergetar. Setitik air mata bening bergulir di pipinya, memantulkan sinar kuning keemasan dari kelopak pusaka tersebut. Hawa hangat yang ganjil menjalari ujung jemarinya, mengusir rasa beku yang telah mencengkeram tubuhnya sejak pagi.
"Ini pertanda dari mereka yang menjaga Ghazi," bisik Walida, suaranya tenang namun mengandung wibawa yang menggetarkan dada rekan-rekannya. "Dia sedang melangkah di jalan yang agung. Teruslah berdoa, kawan-kawan. Ghazi masih hidup!"
βββ π§ π π§ βββ
=== BAGIAN 02 : PUSAKA KAKEK DAN WARISAN SUMPAH BESEMAH ===
Lokasi: Posko Darurat Pelataran Dempo (2.800 MDPL) | Waktu: Hari Ke-4 β’ 17:30 WIB
ββββ π£ ββββ
Malam merayap turun dengan cepat di atap Sumatera Selatan. Langit yang kelabu pekat berubah menjadi kubah hitam bertabur jelaga halimun. Di dalam tenda komando berukuran empat kali enam meter, lampu badai berbahan bakar parafin menyala remang, memancarkan lingkaran cahaya kuning kemerahan yang bergoyang tertiup angin yang menyelinap dari kisi ventilasi.
Di atas meja lipat alumunium, kompas kuningan itu diletakkan di atas sehelai kain putih bersih. Tiga kelopak cempaka kuning itu tetap segar, kelopaknya merekah tebal dan berkilau, memancarkan butir embun yang tak kunjung menguap kendati suhu di dalam tenda mendekati satu derajat Celsius.
Fadhilul mengamati permukaan kompas itu dengan saksama. "Aku tahu persis benda ini," katanya dengan nada penuh takzim. "Kakek Ghazi, Ki Raden Demang Sastranegara, adalah tetua adat Lembah Pasemah yang dihormati di tujuh penjuru dusun. Sewaktu kami berkumpul di rumah panggung kayu jati milik keluarganya sebelum memulai pendakian akhir pekan lalu, Ki Demang menyerahkan kompas ini langsung ke tangan Ghazi."