JANTUNG GUNUNG DEMPO DAN IKRAR DUA JIWA DI PUCUK POHON HAYAT
Puncak Dimensi Gaib Gunung Dempo, Pagaralam & Lahat, Sumatera Selatan
─── ❖ 🕌 ❖ ───
Bagian 01 - Tangga Menuju Langit Keemasan
━━━━ 👣 ━━━━
Di hadapan mereka, Pohon Hayat membumbung megah menembus awan-awan keemasan. Akarnya yang berkelindan membentuk tangga-tangga alami menuju kubah mahkota pohon yang berkilau laksana permata mentari.
"Itulah Mustika Cempaka Swarna," bisik Putri Kemuning, menunjuk sebongkah kristal kuning bercahaya yang berdenyut lembut di pusat dahan tertinggi. "Ia adalah jantung penenang Gunung Dempo. Bila mustika itu redup, kawah api di dunia fana akan meledak, menenggelamkan lereng Pagaralam hingga Lahat dalam lautan abu dan lahar."
Ghazi menatap mustika itu dengan rasa takjub yang menggetarkan bulu kuduknya. "Dan apa hubunganku dengan pusaka sebesar ini, Putri?"
Kemuning menoleh, menatap Ghazi dengan mata berkaca-kaca penuh haru. "Prasasti leluhur mengatakan, segel mustika ini harus diperbarui setiap seribu tahun sekali oleh dua jiwa: Putri Penjaga Air dan seorang Pengembara Berjiwa Suci dari dunia nyata yang datang membawa cinta tanpa syarat."
"Dua jiwa..." gumam Ghazi, merasakan degup jantung Kemuning seakan berdetak di dalam dadanya sendiri.
Lelaki pengembara itu menarik napas panjang. Udara di pelataran pohon raksasa itu dipenuhi wewangian mistis yang memabukkan—perpaduan antara aroma bunga cempaka hutan yang mekar basah, damar pinus purba, dan sengatan tipis belerang hangat dari perut bumi yang merayap di sela dedaunan zamrud. Angin gunung berhembus kencang namun lembut, menerbangkan ujung selendang sutra Putri Kemuning yang bersulam benang emas berpendar laksana kunang-kunang swarga.
Ghazi memandang kedua belah telapak tangannya. Telapak tangannya kasar, kapalan, penuh bekas luka goresan bebatuan cadas saat ia mendaki punggung Dempo melalui jalur sunyi Kampung Empat. Ia teringat bagaimana kabut tebal meredam kompas dan gawainya di perbatasan hutan lumut, hingga langkah kakinya terseret ke celah ngarai tersembunyi di mana air terjun Ayek Lematang bermuara pada gerbang gaib berukir aksara Kaganga kuno.
Di perkampungan kaki bukit tempo hari, para tetua pemetik teh telah berbisik lirih perihal tanda-tanda zaman: lolongan rusa kumbang yang tak kunjung henti, air sumur yang mendadak menghangat, dan mimpi buruk tentang naga api yang merayap dari perut kawah. Ghazi mendaki bukan demi ketenaran penakluk puncak tertinggi, bukan pula demi memburu batu mustika yang kerap didongengkan para pemburu pusaka. Ia terdorong oleh getaran batin yang tak mampu diterangkan nalar—sebuah panggilan sunyi yang menuntunnya menyelamatkan seorang gadis yang ia lihat terperangkap di bibir jurang saat kawah bergolak hebat.
"Aku hanyalah manusia biasa, Kemuning," ucap Ghazi lirih, suaranya sarat kerendahan hati. "Tak ada kesaktian mantra di lidahku, tak ada darah bangsawan dewata di nadiku. Bagaimana mungkin seorang musafir fana sepertiku memiliki jiwa yang kau sebut suci?"
Putri Kemuning tersenyum samar, senyuman yang menyembunyikan getar kesedihan mendalam sekaligus kehangatan tak terhingga. Ia melangkah setapak mendekati Ghazi. Jemarinya yang ramping dan sehalus kelopak bunga menyentuh lembut pergelangan tangan sang pemuda, tepat di tempat denyut nadinya berdetak kencang.
"Kesucian yang dicari Pohon Hayat bukanlah kesaktian yang mampu membelah samudra atau meruntuhkan tebing cadas, Ghazi," tutur Kemuning, suaranya mengalun bagai gemericik air terjun di celah bebatuan lembah yang damai. "Kesucian itu adalah keheningan batin yang tak ternodai oleh ketamakan duniawi. Ketika kau melihatku terkepung kobaran lahar di tubir kawah kemarin, kau tak bertanya apakah aku ini siluman penunggu atau manusia biasa. Kau melompat ke lidah api semata-mata agar sebuah nyawa tak binasa, menepiskan keselamatan ragamu sendiri. Itulah cinta tanpa pamrih. Itulah api kasih yang sanggup meredam amarah Kawah Dempo."
Kata-kata itu meresap ke dalam sanubari Ghazi, menyalakan lentera keberanian yang selama ini terlelap dalam dadanya. Di bawah tatapan teduh sang putri, keraguan yang sempat membayangi benaknya perlahan menguap bersama kabut pagi. Ia mengangguk pelan, menggenggam jemari Kemuning dengan kehangatan yang mantap. Bersama-sama, mereka melangkahkan kaki ke undakan pertama akar Pohon Hayat, memulai pendakian menuju puncak takdir yang mempertaruhkan keselamatan jutaan nyawa di tanah kelahiran mereka.
─── 🧭 🕌 🧭 ───
Bagian 02 - Gemuruh Kawah Purba dan Firasat Sang Pendekar Api
━━━━ 👣 ━━━━
Setiap undakan akar yang mereka pijak memancarkan denyut kehangatan magis. Kulit batang Pohon Hayat itu tidak kasar seperti pohon rimba pada umumnya, melainkan berurat keemasan dengan getah getar bening yang bercahaya keperakan laksana air raksa purba. Namun, semakin tinggi mereka memanjat menembus kanopi, getaran dari kedalaman tanah kian terasa mengerikan dan mengancam.
DUMMM...!
Dentuman berat mengguncang rongga dada mereka. Dari celah-celah sulur dahan yang merentang luas di bawah telapak kaki mereka, tirai kabut tersingkap sesaat oleh hembusan angin kawah. Di bawah sana, terhampar pemandangan kawah raksasa Gunung Dempo yang mendidih buas tanpa ampun. Danau kawah yang pada masa tenangnya berwarna hijau toska menawan kini telah berubah menjadi kubangan lumpur belerang merah membara. Gelembung-gelembung gas vulkanik sebesar rumah panggung meletup-letup ke udara, melontarkan serpihan batu pijar andesit yang mendesis menghanguskan udara dingin pegunungan.
Jauh di cakrawala fana di balik dinding kabut dimensi, tampak samar hamparan perkebunan teh Pagaralam yang berundak-undak hijau permai, lembah Sungai Lematang yang mengular tenang, dan gugusan atap rumah penduduk Lahat yang berderet damai dinaungi bayangan Bukit Serelo. Mereka yang berada di bawah sana tengah menyeduh kopi pagi dan mengantar anak-anak ke surau, sama sekali tidak menyadari bahwa di atas kepala mereka, di puncak dimensi gaib yang tak kasat mata, sebuah malapetaka kataklismik sedang mengintai di ujung tanduk.
"Segel seribu tahun lalu dipancangkan oleh Puyang Atung Bungsu bersama para leluhur wangsa penjaga air," kata Kemuning seraya menahan tubuhnya pada lingkar dahan yang berguncang hebat. Napasnya mulai memburu, butir-butir keringat dingin membasahi pelipisnya yang sewarna pualam. "Dahulu kala, amukan kawah ini dikenal sebagai Agni Kalasura—naga api purba yang menuntut abu dan kehancuran jagat. Leluhur kami menenangkannya dengan menanam bibit Pohon Hayat ini tepat di atas celah magma terdalam, dan memahkotainya dengan Mustika Cempaka Swarna yang disucikan dengan sumpah darah keabadian."
"Dan sekarang mustika itu kehilangan kekuatannya karena waktunya telah genap?" tanya Ghazi cemas, memandang ke arah kubah dahan tertinggi. Cahaya kuning yang memancar dari mustika di pucuk pohon kini mulai berkedip tak beraturan laksana pelita tertiup badai. Garis-garis hitam legam menyerupai retakan laba-laba mulai merayapi permukaan kristal yang berkilau itu, meneteskan jelaga hitam ke pucuk-pucuk daun emas.
"Setiap seribu tahun, poros peredaran bintang di langit selatan berganti kedudukan. Elemen air yang menopang mustika ini mengering tergerus gelombang panas bumi. Mustika itu membutuhkan pengisian ulang dari dua kutub kehidupan yang seimbang: Tirta Keabadian yang mengalir dalam darah murni penjaga air, dan Napas Ketulusan dari manusia fana yang bersedia menyerahkan segalanya demi kehidupan sesamanya tanpa pamrih," jelas Kemuning. Suaranya bergetar ketika ia menambahkan, "Bila kita terlambat walau sekejap saja sebelum fajar menyentuh puncak bukit, kristal itu akan pecah berkeping-keping. Dan letusan yang terjadi akan menenggelamkan lereng Pagaralam hingga Lahat dalam lautan abu dan batu pijar, mengulang musnahnya peradaban purba masa silam."
Tiba-tiba, lolongan parau yang menggetarkan sukma bergema dari arah kepundan kawah di bawah jurang. Awan kelabu pekat mendadak berputar membentuk pusaran tornado raksasa di sekeliling Pohon Hayat. Dari dalam pusaran itu, percikan bunga api melesat ke atas, menjelma menjadi lidah-lidah asap hitam yang mendidih dan berbau hangus. Sang Hyang Api telah mencium niat mereka; kekuatan liar kawah tak ingin kembali dirantai dalam keheningan seribu tahun yang sepi.