KABUT EMAS GUNUNG DEMPO

Amrullah Ibrahim
Chapter #17

Dibalik Tirai Air Terjun Pualam

DI BALIK TIRAI AIR TERJUN PUALAM

Pertautan Jiwa Dua Dimensi dan Peringatan Gerbang Tujuh Purnama. Gua Pualam & Kaldera Rahasia Gunung Dempo, Pagar Alam, Sumatera Selatan

─── ❖🕌❖ ───


Bagian 01: Di Balik Tirai Air Terjun Pualam

Duniamu memang berbeda, Putri. Tapi hatiku tidak pernah merasa sehidup ini di mana pun sebelumnya.

━━━━ 👣 ━━━━

  Gemuruh air terjun di luar gua terdengar bagai simfoni alam yang mengisolasi mereka dari seluruh dunia. Butiran uap air yang halus menciptakan bias pelangi abadi di sekeliling dinding batu pualam, berkilauan memantulkan cahaya pendar fosfor hijau keperakan yang merayap di celah-celah stalaktit purba. Udara di dalam relung itu dingin menusuk tulang, tetapi hawa di antara dua pasang dada yang saling berhadapan justru membara oleh luapan rasa yang tak sanggup lagi dibendung oleh kata-kata manusiawi.

  "Kemuning..." panggil Ghazi lirih, suaranya nyaris tenggelam oleh gelegar deburan air yang jatuh menghantam batu cadas di dasar jurang puluhan depa di bawah mereka.

  Gadis itu berdiri membelakangi tirai air, selendang emasnya basah oleh embun. Lembaran kain sutra gaib itu berkibar pelan seirama tarikan napas angin gunung, memancarkan aroma bunga melati hutan dan getah damar wangi yang khas dari alam kahyangan. Ketika ia berbalik, terlihat sebutir air mata bening mengalir di pipinya yang pualam, menangkap seberkas cahaya pelangi sebelum jatuh membasahi dadanya.

  "Kau harus pulang ke duniamu, Ghazi," suara Kemuning bergetar menahan kepedihan yang teramat sangat. Jemarinya yang ramping meremas tepi selendangnya sendiri, berusaha mencari pegangan di tengah kerapuhan hati. "Di sana ada sahabat-sahabatmu yang menantimu... ada keluargamu yang membasahi sajadah dengan doa-doa kepulanganmu... ada kehidupanmu yang nyata, yang bernapas di bawah naungan surya fana."

  Ghazi melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka. Sepatu gunungnya yang telah robek di bagian sol berdecit di atas lantai batu licin, kontras dengan kaki telanjang Kemuning yang menginjak hamparan lumut beludru seolah tak menyentuh bumi. Dengan tangan yang mantap—telapak kasar seorang pemuda pejalan rimba yang terbiasa mencengkeram tebing cadas—ia menyeka air mata di pipi Kemuning. Kehangatan kulitnya bertubrukan dengan dinginnya hawa gaib sang putri, memantik sengatan magis yang menjalar hingga ke denyut nadi terdalam.

  "Duniamu memang berbeda, Putri. Tapi hatiku tidak pernah merasa sehidup ini di mana pun sebelumnya," ucap Ghazi, tatapannya lekat mengunci manik mata kecokelatan yang menyimpan kedalaman telaga purba. "Aku mencintaimu... bukan karena keajaiban negerimu, bukan karena istana kabut atau bunga-bunga abadi yang tak pernah layu di lembahmu. Aku mencintaimu karena ketulusan jiwa yang kutemukan di balik matamu saat kau menyambut tanganku di bibir jurang maut itu."

  Kemuning terisak pelan. Pertahanan ketegaran yang ia bangun berhari-hari runtuh dalam sekejap mata. Ia menjatuhkan kepalanya di dada Ghazi, membiarkan jaket tebal sang pendaki yang masih menyisakan aroma tanah basah dan asap api unggun merengkuh tubuh rampingnya. Jemari kokoh Ghazi mendekapnya erat, membenamkan dagunya di atas helai rambut hitam kelam sang putri yang tergerai panjang hingga sepinggang. Di balik gemuruh air terjun Dempo yang megah, dua jiwa dari dimensi yang berbeda resmi bertaut menjadi satu, menantang segala jurang ketidakmungkinan yang membentang di antara dua kosmos.

─── 🧭 🕌 🧭 ───


Bagian 02: Resonansi Suara Sahabat dan Panggilan Dunia Fana

Setiap hembusan napas yang kau hirup di sini meminjam energi keabadian, Ghazi. Namun tubuh fanamu tetaplah milik tanah tempat kau dilahirkan.

━━━━ 👣 ━━━━

  Pelukan itu hening berbalut debaran yang selaras, seolah detak jantung fana Ghazi dan denyut sukma abadi Kemuning saling mengisi rongga kehampaan alam semesta. Namun, ketenangan itu seketika terkoyak ketika lolongan angin lembah membawa serpihan suara yang ganjil melintasi tirai air terjun. Suara yang begitu akrab, begitu memilukan, menusuk langsung ke telinga Ghazi.

  Priiit! Priiit! Priiit!

  Tiga tiupan peluit tanda darurat rimba menggema di kejauhan, memantul di dinding ngarai berbatu sebelum lenyap ditelan kabut tebal lereng timur.

  "Ghaziii...! Ghazi Al-Fatih! Bertahanlah, kawan! Kami masih mencari!"

  Suara parau Reno terdengar bergetar menembus deru halimun. Disusul teriakan Dian yang serak kehabisan tenaga, menyerukan namanya berulang-ulang tanpa kenal lelah. Sudah tiga pekan berlalu sejak hari nahas itu—hari ketika badai angin kencang bercampur kabut tebal menyapu jalur Kawah Merapi Dempo, membutakan mata rombongan pendakian mereka, dan membuat kaki Ghazi kehilangan pijakan di bibir jurang cadas yang curam.

  Bagi dunia manusia, tiga pekan adalah batas keputusasaan. Tim SAR dan para relawan tentu telah mengarungi jalur terjal Kampung Empat hingga Shelter Tiga dengan tubuh basah kuyup oleh hujan pegunungan yang membeku. Orang tua Ghazi di Palembang pasti sedang menatap pintu rumah dengan mata sembap, menanti kabar yang tak kunjung pasti antara kepulangan jasad atau keajaiban hidup.

  Ghazi terkesiap, tubuhnya menegang dalam dekapan Kemuning. Tangannya yang melingkari punggung sang putri bergetar pelan.

  Kemuning mendongak perlahan, matanya yang basah menatap sorot kerinduan yang berkilat di balik kening Ghazi. Ia tahu persis beban batin yang sedang membelah jiwa pemuda itu. Sebagai putri penjaga gerbang dimensi gaib Gunung Dempo, Kemuning mampu melihat untaian benang takdir yang masih berpijar kuat mengikat raga Ghazi ke dunia nyata.

  "Kau mendengarnya, bukan?" bisik Kemuning perih, jemarinya menyentuh dada kiri Ghazi tepat di atas kantong jaket tempat kompas perak tua tersimpan. "Mereka belum menyerah padamu, Ghazi. Sahabat-sahabatmu merelakan tapak kaki mereka berdarah di cadas tajam demi menemukan jejakmu. Ibumu melarung doa di setiap sepertiga malam agar kau pulang dalam keadaan bernapas."

  "Tapi jika aku melangkah keluar dari gua ini, Kemuning..." potong Ghazi dengan suara tercekat, kerongkongannya terasa tercekat pasir panas. "Apakah aku masih bisa melihat wajahmu lagi? Apakah semua ini hanya akan menjadi mimpi buruk yang lenyap begitu mataku terbuka di ranjang rumah sakit? Aku tidak sanggup melupakanmu. Aku tidak sanggup bangun di sebuah dunia di mana kau hanya dianggap sebagai mitos atau igauan orang hilang!"

  Kemuning tersenyum getir, senyuman yang menyembunyikan sayatan belati di palung jiwanya. "Setiap hembusan napas yang kau hirup di sini meminjam energi keabadian, Ghazi. Namun tubuh fanamu tetaplah milik tanah tempat kau dilahirkan. Jika kau memaksakan diri tinggal di dimensi sunyi ini, sukma kasarmu perlahan akan luruh. Dalam tujuh purnama, kau tidak akan lagi menjadi manusia, tetapi juga bukan bangsa bunian. Kau hanya akan menjadi kabut dingin tanpa ingatan, mengembara selamanya di antara bebatuan kawah tanpa tahu siapa dirimu... dan tanpa mengingat siapa aku."

─── 🧭 🕌 🧭 ───


Bagian 03: Rahasia Selendang Emas dan Hukum Batas Kahyangan

Lihat selengkapnya