TIGA UJIAN KEBAJIKAN JIWA
**Gubahan Sastra Fantasi Nusantara**
βββ β π β βββ
### BAGIAN 01: GEMURUH SINGGASANA CENDANA
Murka Sang Penguasa Kawah Dempo & Pembelaan Putri Kemuning. "Jika jiwamu bernoda pamrih, kawah Dempo akan menjadi kubur abadimu!"
βββββ π£ βββββ
Balairung Kraton Swarnadwipa membentang megah dengan pilar-pilar batu giok hijau bertatahkan emas murni. Di atas singgasana akar cendana, bertahta Sri Maharaja Jayawarman Alam. Sorot matanya setajam kilat petir kawah.
"Berani sekali kau, manusia debu, menyentuh putri kesayanganku!" suara Sang Raja menggetarkan seisi balairung, membuat udara bergetar hebat. Dentum gaib suaranya bagaikan batu-batu cadas lereng Dempo yang runtuh diterjang lahar dingin, merambat hingga ke lantai pualam zamrud dan membuat para hulubalang gaib yang bersenjatakan tombak perunggu menunduk takzim dalam ketakutan yang mencekam.
Putri Kemuning langsung bersimpuh di hadapan singgasana ayahnya. Gaun sutra dewangga yang dikenakannya ternoda jelaga kering dan percikan darah kehitaman, namun keanggunannya tak sedikit pun memudar. "Ayahanda Prabu! Dia bukan manusia serakah! Dia mengorbankan tubuhnya menahan racun belati Durgandika demi ananda!" suaranya bergetar menahan tangis yang pecah di pelupuk mata lentiknya. Air mata sang putri menetes ke atas lantai giok, berdesis halus laksana embun pagi yang menyentuh batu hangat.
Di belakang Putri Kemuning, Ghazi merasakan sekujur tubuh fananya menjerit kesakitan. Racun belati Durgandikaβbisa hitam siluman naga kawah yang terkenal tak memiliki penawar di dunia fanaβtelah merayap dari bahu kirinya, melingkar ke urat-urat leher, hingga melukiskan jalinan pembuluh darah hitam keunguan di bawah kulit pelipisnya. Dadanya berdenyut bagai dihujam beribu jarum api. Setiap hembusan napasnya berbau belerang panas yang menyengat.
Namun, Ghazi tidak menunduk ketakutan. Ia melangkah ke samping Kemuning, lalu berlutut dengan satu kaki dengan sikap hormat seorang ksatria. Tatapan matanya lurus menatap sepasang mata sang penguasa alam gaib Swarnadwipa. Tidak ada getar memohon belas kasihan palsu di sana. Yang terpancar hanyalah ketabahan seorang pendaki yang telah menempuh jurang terjal dan badai kabut paling pekat demi sebuah kehormatan.
"Ampunkan kelancangan saya, Paduka Raja. Saya datang bukan untuk mencuri kemuliaan putri Anda. Saya siap menerima hukuman atau ujian apa pun demi membuktikan ketulusan kehormatan saya," ucap Ghazi dengan suara yang dalam meski terengah menahan gejolak bisa yang mendidihkan darahnya.
Keheningan maut seketika menelan seisi balairung kraton. Puluhan hulubalang bertubuh tinggi besar, para menteri bertanduk rusa emas, serta para dayang berwajah pualam menahan napas. Belum pernah dalam kurun waktu lima ratus warsa, seorang anak manusia fana berani menatap langsung biji mata Sri Maharaja Jayawarman Alam tanpa kehilangan akal atau bersujud gemetar hingga mencium debu.
Mahapatih Singa Wikrama, seorang kesatria siluman bertubuh raksasa dengan zirah tembaga hitam berukir harimau Sumatra, melangkah maju setengah depa seraya menghunus sebagian keris lekuk sembilan di pinggangnya. Aura pembunuh berhawa dingin mendadak menyeruak. "Lancang kau, cacing tanah! Di hadapan junjungan kami, kau masih menegakkan dagumu? Biar kutebas lehermu sebelum bisa naga itu mencemari lantai suci kraton ini!"
"Tahan, Singa Wikrama!" titah Sang Maharaja seraya mengangkat tangan kanannya yang dihiasi cincin mustika zamrud berurat api.
Suara Sang Prabu membuat sang mahapatih seketika mematung dan kembali menyarungkan bilah pusakanya. Maharaja Jayawarman menatap Ghazi lama. Tatapannya menembus ke dasar sanubari sang pendaki, menguliti lapis demi lapis ingatan, luka, dan niat yang terpatri di bilik jantung pemuda fana itu. Sang Raja melihat jejak kabut Gunung Dempo, tapak kaki yang berdarah di bebatuan cadas jalur Rimau, serta saat-saat di mana Ghazi tanpa ragu melemparkan badannya menjadi perisai hidup tatkala belati Durgandika meluncur ke arah Kemuning di hutan lumut purba.
"Bagus. Kau memiliki nyali seorang pemimpin. Kau tidak merengek seperti pengecut yang takut mati," ujar Sang Prabu perlahan, namun getaran kekuatannya membuat lilin-lilin damar wangi di sekeliling balairung bergoyang liar. "Namun keberanian manusia fana kerap kali hanyalah topeng dari kebodohan dan nafsu birahi yang membutakan mata. Kau mengira telah menjadi pahlawan karena menangkis sebilah belati? Racun naga hitam Durgandika bukan racun biasa. Ia memakan rasa takutmu, menyuburkan keserakahanmu, dan dalam tiga tombak matahari lagi, ia akan mengubah jantungmu menjadi arang."
Sang Raja bangkit dari singgasana akar cendana. Jubah keemasannya menyapu lantai seperti aliran cahaya fajar di atas hamparan kabut. Tongkat naga emas bermahkota batu rubi kawah diketukkannya satu kali ke lantai giok.
DUUUNG!
Gema ketukan itu bergulir ke seluruh penjuru istana gaib, menggetarkan dinding-dinding batu dan menembus hingga ke ceruk kawah purba di puncak gunung. "Maka hadapilah Tiga Ujian Kebajikan Jiwa! Tri Pariksha Atmika! Jika jiwamu bernoda pamrih, kawah Dempo akan menjadi kubur abadimu! Namun jika jiwamu sebening embun puncak merapi, kau bukan hanya akan membersihkan racun laknat itu, melainkan membuktikan apakah manusia sepertimu layak menginjakkan kaki di tanah suci para leluhur Swarnadwipa!"
βββ π§ π π§ βββ
### BAGIAN 02: MENUJU KAWAH HYANG DEMPO & SELENDANG MAYANG SEMBAWA
Langkah-Langkah di Tangga Tujuh Undakan & Bisikan Kasih dalam Kabut. "Bila nafasku harus padam di puncak ini, ketahuilah bahwa aku tak pernah menyesali selangkah pun jalan yang membawaku padamu."
βββββ π£ βββββ
Diiringi tiupan terompet kerang purba dan tabuhan genderang dari kulit banteng gaib, rombongan pengadilan kraton bergerak meninggalkan kemegahan balairung giok. Mereka menapaki Tangga Tujuh Undakan Gaibβjalur setapak dari batu andesit purba yang melayang di atas lautan kabut abadi Gunung Dempo. Di bawah mereka, jurang tanpa dasar menganga laksana mulut naga raksasa yang tertidur.
Angin dingin pegunungan menderu kencang, membawa aroma belerang tajam yang bercampur dengan semerbak bunga melati hutan dan dupa dupa pemujaan. Setiap undakan batu diukir dengan aksara Ulu dan ornamen sulur kuno yang berpendar keperakan setiap kali telapak kaki telanjang Ghazi menyentuhnya. Namun setiap hentakan langkah Ghazi adalah perjuangan batin yang luar biasa.
Racun Durgandika telah menjalar ke separuh rusuk kirinya. Rasa beku yang menusuk tulang bergantian dengan panas yang mendidihkan darah. Keringat dingin mengalir membasahi pelipis dan keningnya. Pandangannya sesekali kabur berbayang merah jambu dan kelabu, namun Ghazi tetap mengunci giginya rapat-rapat. Tak ada satu keluhan pun keluar dari bibirnya yang mulai membiru kehitaman.
Di sisinya, Putri Kemuning berjalan dengan langkah tertahan oleh kekhawatiran yang mendalam. Para dayang dan pengawal istana menjaga jarak dua tombak di belakang mereka atas titah diam-diam sang raja. Kemuning menoleh ke arah Ghazi, menatap luka di bahu sang pemuda yang ditutup sobekan kain kemeja gunungnya yang compang-camping.
"Ghazi..." bisik Kemuning lirih, suaranya teredam deru angin kawah. Matanya menatap wajah Ghazi yang pucat pasi namun menyiratkan ketabahan gunung karang. "Tiga Ujian Jiwa bukanlah pengadilan biasa. Ayahanda tidak sekadar menguji raga, melainkan menguliti nurani terdalammu. Tak ada manusia fana yang pernah selamat dari pelataran kawah itu. Mengapa kau tidak melarikan diri saat aku memintamu di lereng hutan lumut tadi? Mengapa kau membiarkan dirimu terikat takdir yang bukan milik bangsamu?"
Ghazi menghentikan langkahnya sejenak di pelataran undakan keempat. Angin dingin meniup rambutnya yang berantakan. Ia menoleh ke arah putri bermahkotakan melati emas itu, tersenyum samar di tengah rasa sakit yang meremas jantungnya.
"Kemuning," jawab Ghazi pelan namun tegas. "Di dunia fana tempatku berasal, manusia sering menghitung untung dan rugi sebelum menolong sesama. Mereka menjual janji demi kehormatan semu. Ketika aku mendaki Gunung Dempo ini, aku hanya seorang pengembara yang mencari kedamaian dari riuh rendah kepalsuan kota. Namun saat melihatmu terpojok oleh belati beracun Durgandika, hatiku tak bertanya apakah kau manusia atau putri kahyangan. Yang kuketahui hanyalah: sebuah kejahatan tak boleh dibiarkan memangsa ketulusan."
Ghazi menghela napas berat, menahan batuk darah yang hampir mendesak ke kerongkongannya. "Bila nafasku harus padam di puncak ini, ketahuilah bahwa aku tak pernah menyesali selangkah pun jalan yang membawaku padamu. Aku berdiri di sini bukan untuk menuntut balas budi atau menjadi menantu seorang maharaja. Aku hanya ingin menyelesaikan apa yang telah kumulai dengan dada tegak."
Mendengar kata-kata itu, air mata Kemuning kembali menggenang. Jantung sang putri berdegup kencang oleh gelombang keharuan yang belum pernah ia rasakan sepanjang ratusan tahun hidup dalam kemurnian kraton gaib. Dengan tangan bergetar, Kemuning melepaskan selendang Mayang Sembawa dari pundaknyaβsehelai selendang sutra berwarna kuning gading bercorak benang emas yang ditenun oleh para bidadari telaga Dempo.
Kemuning melilitkan selendang wangi itu ke dada dan bahu Ghazi yang terluka. Seketika, rasa sejuk bagai tetesan air embun pegunungan meresap ke dalam pori-pori Ghazi, meredam denyutan panas racun Durgandika untuk sementara waktu.
"Selendang ini menyimpan berkah doa para leluhur telaga," bisik Kemuning seraya menatap lekat kedua bola mata Ghazi. "Ia tak bisa memusnahkan racun naga itu, tetapi ia akan menemani jiwamu agar tidak tersesat dalam dinginnya kabut kawah. Berjanjilah padaku, Ghazi... kau harus kembali hidup-hidup. Bila kau gugur di kawah itu, jiwaku pun tak akan pernah lagi menemukan kedamaian di atas tanah Swarnadwipa ini."
Sebelum Ghazi sempat menjawab, suara lantang Resi Danurdara, penasihat spiritual kraton yang berjalan di muka barisan, membelah kabut. "Kita telah tiba di pelataran Kawah Hyang Dempo! Gerbang pemurnian telah terbuka! Wahai manusia fana, bersiaplah menyerahkan jiwamu kepada timbangan kebenaran semesta!"
βββ π§ π π§ βββ
### BAGIAN III: UJIAN PERTAMA - CERMIN TIRTA SUNYA & LEMBAH MAYA
Ujian Keheningan Jiwa & Pelepasan Belenggu Waham Duniawi. "Manusia sejati bukanlah yang tak memiliki luka, melainkan yang tidak membiarkan lukanya melahirkan angkara murka."