KABUT EMAS GUNUNG DEMPO

Amrullah Ibrahim
Chapter #21

Mengguncang Tirai Dimensi

Di Dunia Nyata: Doa Sahabat yang Mengguncang Tirai Dimensi

"Sementara Ghazi bersiap menempuh ujian ketiga, di dunia nyata ketiga belas sahabat berhasil mencapai bibir kawah Gunung Dempo bersama personil SAR. Di bawah langit malam yang pekat bertabur bintang, mereka melingkar saling berpegangan tangan erat—tujuh pasang kekasih dan sahabat sejati. Zahirul melantunkan doa yang begitu menggetarkan sukma, memohon keselamatan sang ketua rombongan. Energi ketulusan dan cinta persahabatan mereka di dunia nyata memicu resonansi spiritual luar biasa yang menembus tirai gaib Dempo, memancarkan gelombang cahaya emas di langit Tirta Swarnadwipa tepat di saat Ghazi membutuhkan kekuatan tambahan."

─── ❖ 🕌 ❖ ───


PEMBUKAAN : MISTERI DI BALIK KABUT KAWAH PURBA

Runtuhnya Cadas dan Hilangnya Sang Penjuru Rimba. Lokasi: Kawah Merapi Dempo, Pagaralam (3.100 mdpl) | Waktu: Tiga hari sebelum malam keajaiban

━━━━━ 👣 ━━━━━

"Di puncak-puncak tertinggi Andalas, ada batas tipis antara angin dingin yang mengelus pipi dan pintu gaib masa lalu yang tak pernah benar-benar tertutup."

Angin kencang bertiup liar dari arah jurang timur, menghempaskan bau belerang pekat langsung ke wajah tiga belas pendaki yang tengah berjuang menembus jalur cadas Gunung Dempo. Jam di pergelangan tangan baru menunjukkan pukul tiga sore, tetapi langit di atas Pagaralam telah berubah sewarna jelaga pekat. Kabut buta—fenomena paling ditakuti oleh para penjelajah tanah Besemah—turun laksana tirai raksasa yang menelan seluruh pandangan hanya dalam hitungan detik.

"Rapatkan barisan! Jangan ada yang terpisah barang satu depa pun!" teriak Zahirul Ikhsan dari barisan depan. Suaranya yang serak parau harus beradu dengan deru angin lembah Lematang yang menderu layaknya raungan harimau rimba.

Zahirul adalah ketua rombongan, seorang pemuda berwajah teduh dengan pengalaman puluhan kali menaklukkan belantara Sumatera, dari rimba Kerinci hingga terjalnya tebing Leuser. Namun, sore itu di tebing curam menuju bibir Kawah Dempo, naluri petualangnya membisikkan keganjilan yang tak lazim. Bebatuan andesit yang mereka pijak terasa bergetar halus, bukan sekadar getaran seismik vulkanik biasa, melainkan denyut berirama yang seolah berasal dari jantung sebuah peradaban terkubur.

Di barisan paling belakang, bertindak sebagai penyapu jejak alias sweeper, berdiri Ghazi Al-Qhutuz. Pemuda berperawakan liat dan atletis itu mengenakan jaket gunung merah marun yang kotor bersimbah lumpur jalur cadas. Di pinggang kirinya terselip belati pusaka berhulu kayu kemuning, warisan dari kakek buyutnya yang pernah menjadi pendekar penjaga hulu Musi. Ghazi melangkah dengan cermat, memastikan setiap rekannya tetap berada dalam jangkauan pandang.

"Fariha, Baiza, pelan-pelan di pijakan sebelah kanan! Ada lumut licin bercampur es tipis!" teriak Ghazi mengingatkan dua orang rekan wanitanya yang berjalan dalam kawalan pasangan masing-masing.

Namun, tepat ketika mereka hampir mencapai batas Pelataran Kawah, tanah cadas di bawah kaki Ghazi mendadak merekah. Bukan sekadar runtuhan longsor lereng vulkanik, melainkan terbukanya sebuah celah vertikal yang memancarkan kilatan pendar keunguan ganjil. Di dinding batu yang merekah itu, terpahat jajaran aksara Ka-Ga-Nga kuno—Surat Ulu warisan peradaban purba Sumatera—yang mendadak berpijar bagaikan bara api menyala.

Bebatuan terlempar ke udara. Suara dentuman tumpul menggetarkan dada mereka. Baiza sempat tergelincir, menjerit panik saat ranselnya tertarik ke arah bibir retakan. Tanpa ragu sedetik pun, Ghazi melompat menerjang maju, mencengkeram tali ransel Baiza dengan satu tangan dan melemparnya ke arah daratan yang aman di pelukan suaminya.

Akan tetapi, momentum penyelamatan itu menuntut bayaran teramat mahal. Pijakan Ghazi amblas seketika. Pusaran kabut keunguan berbau wangi dupa dan belerang menyedot tubuh pemuda itu ke dalam rongga kegelapan yang tak terduga dalamnya.

"Ghaziii!" pekik Zahirul dan rekan-rekan lainnya serempak. Mereka menerjang ke tepi tebing, mencoba meraih tangan Ghazi, namun yang tersisa di sana hanyalah hampa udara dingin menusuk tulang dan celah batu yang kembali menutup rapat secara ajaib, seolah bumi Dempo baru saja menelan seorang putra terbaiknya ke dalam rahim dimensi yang terkunci.

─── 🧭 🕌 🧭 ───


BAGIAN 01: SUJUD DI PUNCAK TIGA RIBU METER

Doa Air Mata Tiga Belas Pasang Telapak Tangan. Lokasi: Bibir Kawah Dempo (3.159 mdpl) | Waktu: Malam ketiga pencarian tanpa henti

"Tiga belas pasang telapak tangan saling bertaut erat di tepian bibir kawah Gunung Dempo yang mengepulkan asap belerang putih."

━━━━━ 👣 ━━━━━

Tiga belas pasang telapak tangan saling bertaut erat di tepian bibir kawah Gunung Dempo yang mengepulkan asap belerang putih.

Malam ketiga telah tiba. Tim penyelamat gabungan dan regu pencari jejak masyarakat adat Besemah telah menyatakan bahwa operasi pencarian di jurang kawah aktif tidak lagi memungkinkan karena risiko gas beracun hidrokarbon dan lereng andesit yang amat labil. Logika manusia mengatakan bahwa seorang pemuda yang terperosok ke dalam kawah aktif bersuhu ratusan derajat mustahil selamat lebih dari satu malam. Namun, bagi ketiga belas sahabat yang telah mengarungi ribuan kilometer rimba belantara bersama-sama—menyeberangi rawa Leuser, menembus lebatnya Bukit Barisan, hingga menatap matahari terbit di atap Kerinci—kepulangan tanpa Ghazi adalah luka yang takkan pernah bisa mereka maafkan seumur hidup.


Malam itu, suhu di puncak Gunung Dempo anjlok hingga minus lima derajat Celcius. Kristal-kristal es tipis membeku di permukaan kantung tidur, tepian ritsleting jaket gunung, dan juntaian rambut mereka yang kaku diterpa embun upas. Angin kutub pegunungan menghantam tanpa ampun dari arah lembah Lematang, menusuk hingga ke sumsum persendian tulang. Namun, tak seorang pun dari mereka yang bergeming meninggalkan bibir kawah yang menguarkan asap belerang putih bergulung-gulung ke angkasa malam bertabur bintang.

Di tengah lingkaran, Zahirul Ikhsan berlutut di atas hamparan pasir vulkanik tajam. Kepalanya menunduk begitu dalam hingga dahinya menyentuh tanah dingin berbau belerang. Bahunya berguncang hebat oleh gelombang duka dan tanggung jawab moral yang tak lagi sanggup ia pikul seorang diri. Selaku pemimpin ekspedisi, setiap jengkal keselamatan saudaranya tertulis di pundaknya.

"Ya Rabb..." suara Zahirul Ikhsan bergetar menahan tangis, menggemakan doa di kesunyian puncak malam. "Engkau yang menguasai puncak-puncak gunung dan lembah-lembah terdalam. Lindungilah sahabat kami, Ghazi Al-Qhutuz. Bila ia berada di alam yang tak terjangkau mata kami, sampaikanlah bahwa kami menunggunya pulang!"

Setiap patah kata yang meluncur dari bibir Zahirul diiringi tetesan air mata yang langsung membeku di permukaan batu cadas. Getaran doa itu merambat melalui tautan tiga belas pasang telapak tangan yang saling menggenggam kencang, menyalurkan kehangatan jiwa di tengah kebekuan alam yang kejam. Tak ada jemari yang mengendur; mereka saling mengunci buku-buku jari, mengalirkan denyut nadi persaudaraan yang menolak untuk berputus asa dari rahmat Sang Pencipta.

Fariha, Baiza, dan Walida menangis tersedu dalam dekapan pasangan masing-masing. Baiza masih terbayang tatapan mata Ghazi di detik-detik sebelum tubuh pemuda itu tertelan rekahan batu purba—tatapan yang tidak mengandung secuil pun rasa takut, melainkan tekad suci untuk menyelamatkan nyawa saudarinya. Kala itu, Ghazi bisa saja memilih melompat ke sisi aman, namun ia memilih menyambar ransel Baiza dan melemparnya menjauh dari tepi jurang.

Rayhan mendekap Fariha yang tubuhnya menggigil terguncang hebat, berbisik menenangkan seraya menatap langit malam dengan mata berkaca-kaca. Azka menatap kawah berasap dengan rahang mengeras menahan sesak di dada, sementara tangannya menggenggam jemari Baiza yang dingin membeku.

Walida terisak di pelukan Farhan, meremas jemari suaminya hingga memutih. "Ghazi tidak boleh mati... dia sudah berjanji akan mengantarkan kita ke Danau Ranau setelah pendakian ini... dia berjanji akan memasak gulai tempoyak kesukaannya di kemah kami... Ya Allah, dengarkanlah kami... pulangkanlah Ghazi kepada kami..." bisik Walida dalam ratapan lirih yang tenggelam di antara desau angin jurang.

Keheningan mencekam merayap di atas kawah Dempo. Danau kawah yang biasanya berwarna toska pekat di dasar jurang tampak bergolak ganjil, memancarkan gelombang riak melingkar seakan merespons getaran doa yang dihimpun dari ketulusan tiga belas pasang telapak tangan anak manusia. Alam purba di perut gunung berapi tertua di Sumatera Selatan itu seolah tengah menyimak jeritan jiwa yang menuntut sebuah keajaiban.

─── 🧭 🕌 🧭 ───


BAGIAN 02: JERITAN DI DIMENSI TIRTA SWARNADWIPA

Rimba Purba dan Pertarungan Terakhir Sang Kesatria. Lokasi: Reruntuhan Megalitik Tirta Swarnadwipa | Waktu: Dimensi waktu paralel di perut bumi Sumatera

"Bila tubuh ini harus hancur di tanah asing, biarlah rohku kembali ke pelukan doa para saudaraku di puncak Dempo."

━━━━━ 👣 ━━━━━

Di dimensi yang terasing dari rotasi dunia manusia, rasa sakit luar biasa menyentak kesadaran Ghazi Al-Qhutuz. Pemuda itu tersedak, memuntahkan cairan berbau logam dari tenggorokannya, lalu perlahan membuka kelopak matanya yang terasa seberat timah panas.

Ia tidak mendapati dirinya terbaring di danau magma atau jurang batu cadas Dempo. Tempat ia terdampar adalah hamparan rimba purba yang luar biasa ganjil dan megah. Pepohonan raksasa menjulang ratusan meter dengan batang sewarna pualam putih dan dedaunan yang memancarkan pendar perak keperakan. Di hadapannya, membentang sebuah samudra dan danau air tawar tanpa tepi yang berkilau laksana zamrud cair: inilah Tirta Swarnadwipa, dimensi sakral tempat energi murni pulau emas Andalas bersemayam sebelum peradaban modern menyentuhnya.

Namun, keindahan magis itu kini tercabik oleh aura kelam yang mematikan. Langit di atas dimensi ini tidak berhiaskan matahari maupun bulan, melainkan kubah ungu kelam yang seakan tengah sekarat, tercekik oleh kabut hitam beracun. Dari balik reruntuhan candi megalitik batu berundak—mirip arca-arca purba Pasemah yang terkubur ribuan tahun—terdengar geraman rendah yang membuat bulu kuduk berdiri.

"Grrrr... hrrrkkk!"

Lihat selengkapnya