Batu Pengikat Dempo
Ujian Tertinggi di Altar Pusaka Kawah Merapi. Latar: Puncak Gunung Dempo (3.159 Mdpl), Pagaralam, Sumatera Selatan
βββ β π β βββ
Bagian 01: Gemuruh di Bibir Neraka Belerang
Ketika Puncak Dempo Menagih Janji Darah
ββββ π£ ββββ
Kabut belerang keperakan berputar liar laksana kawanan naga putih yang terusik dari tidurnya. Pada ketinggian 3.159 meter di atas permukaan laut, angin puncak Gunung Dempo tidak lagi sekadar mendesau dingin; ia melolong parau, menghantam tebing-tebing andesit purba dan melemparkan kerikil tajam ke pelataran Altar Pusaka. Di bawah sana, di dalam perut kawah kaldera raksasa yang menganga lebar, danau toska yang biasanya tenang telah berubah rupa menjadi bejana magma mendidih. Urat-urat merah membara menyala dari dasar kawah, berdenyut seirama detak jantung raksasa bumi yang sedang murka. Tanah berguncang dalam getaran berfrekuensi rendah yang konstanβsebuah tanda bahwa segel purba penahan lahar telah retak seribu.
"Inilah pilihan terakhirmu, Ghazi!"
Suara Sri Maharaja Jayawarman bergema laksana guntur yang dibelah di langit Altar Pusaka. Gaung titah itu tidak merambat melalui udara semata, melainkan menggetarkan rongga dada setiap makhluk hidup yang berpijak di lingkar puncak. Sang Maharaja berdiri tegak di atas singgasana batu pualam hitam yang menyatu dengan tebing cadas. Jubah kebesarannya berwarna merah kesumba bersulam benang kencana bermotif harimau Besemah berkibar diterpa badai eterik. Mahkota emas berbentuk kepala harimau meraung di keningnya memancarkan aura keemasan yang menindih gravitasi sekitar. Sepasang manik matanya kuning menyala tanpa pupil, menatap lurus ke arah pemuda berjaket gunung merah lusuh yang berdiri sendirian di hadapannya.
"Pilihlah salah satu pintu gerbang itu! Pulanglah dengan melupakan putriku, atau tinggallah di sini dan biarkan kawah memusnahkan rombonganmu!" titah sang raja sekali lagi, kali ini diiringi kibasan tangan kanannya yang membelah selubung halimun.
Dua pilar cahaya mistis seketika melesat dari celah-celah batu altar, menjulang tinggi menembus langit malam yang pekat tanpa bintang. Di sebelah barat, terkuak Pintu Gerbang Kelupaanβsebuah lengkungan cahaya kelabu keperakan yang di dalamnya memperlihatkan jalur setapak perkebunan teh Gunung Dempo di Kampung Empat, diterangi lampu-lampu kota Pagaralam yang berkelap-kelip damai di kejauhan kaki gunung. Udara sejuk dan aroma pucuk daun teh fana menyeruak dari sana, menawarkan keselamatan mutlak, kepulangan, dan kenormalan hidup manusia biasa. Namun, di bibir gerbang itu mengalir kabut halus Tirta Pawitra, air magis yang akan menyapu bersih seluruh ingatan siapa pun yang melangkah melaluinya: ingatan tentang cinta, tentang perjumpaan mistis di rimba lumut, dan tentang sosok dewi yang telah menyalakan kembali api di dadanya.
Di sebelah timur, membentang Pintu Gerbang Keabadian Sunyi. Gerbang itu memancarkan kilau emas kencana yang benderang, menampakkan megahnya paviliun kraton kahyangan gaib Besemah yang berpagar pepohonan cendana mekar. Di sana, waktu terhenti. Tidak ada penuaan, tidak ada kelelahan fisik, dan tidak ada ajal. Di ambang gerbang itu, Ghazi dijanjikan tahta pendamping putri keraton gaib, hidup abadi sebagai pangeran alam bunian. Namun, harga yang tertulis di pusaran energinya teramat keji: gerbang itu mensyaratkan kawah Dempo melepaskan dahaganya, menumpahkan lahar belerang pijar ke lereng selatan untuk menelan habis sisa manusia yang tertinggal.
Di sudut pelataran altar yang curam, terkurung dalam kubah pelindung tanah liat gaib yang kian menipis diterpa uap belerang, tiga sosok terbaring lemah. Bayu, sahabat karib Ghazi sejak masa mahasiswa pencinta alam di kampus Palembang, terkapar dengan pelipis yang terus mengucurkan darah segar akibat runtuhan tebing tadi sore. Di sampingnya, Ratih mendekap tas ransel carrier yang robek sambil menangis tanpa suara, bibirnya membiru dihantam hipotermia ekstrem dan teror metafisika yang melampaui nalar manusia modern. Sementara Pak Usman, juru kunci tua bertubuh kurus dari Dusun Jarai yang memandu ekspedisi mereka, duduk bersila dalam pasrah, tasbih kayu gaharu di jemarinya bergetar hebat saat ia merapalkan doa-doa tolak bala yang terasa lumat ditelan gemuruh kawah.
Putri Kemuning menutup mulutnya menahan tangis pedih di sudut altar. Bahunya yang terbalut kain songket Palembang antik tenunan emas bergetar hebat. Kalung mustika teratai kawah di lehernya memancarkan denyut cahaya ungu redup, meredup bersamaan dengan keputusasaan yang meremas ulu hatinya. Air mata bening mengalir membasahi pipinya yang sehalus pualam, jatuh menetes ke batu altar dan seketika menguap menjadi wangi melati yang getir. Sebagai putri darah murni trah harimau penjaga buana, ia tahu betul hukum leluhurnya: titah Maharaja Jayawarman tidak pernah ditarik kembali. Pilihan itu terlampau kejam bagi seorang manusia fana, sebuah jebakan takdir yang dirancang untuk mengoyak sanubari siapa pun yang berani lancang menyentuh batas dua alam.
βββ π§ π π§ βββ
Bagian 02: Muslihat Dua Gerbang Keabadian
Dilema Antara Nafsu Hidup dan Racun Kelupaan
ββββ π£ ββββ
Ghazi berdiri membeku. Angin kawah mengibarkan ujung jaket tahan badainya yang telah dipenuhi jelaga hitam dan noda lumpur tanah gambut. Sepatu gunungnya yang compang-camping menjejak kuat pada permukaan batuan andesit yang terasa panas menyengat melalui sol karet tebal. Di dalam kepalanya, suara-suara beradu laksana puluhan pedang berbenturan.
Pintu barat memanggilnya dengan bujukan naluriah paling dasar dari setiap hewan dan manusia: bertahan hiduplah. Pulanglah ke rumah keluargamu. Di sana, di sebuah rumah kayu sederhana di tepian Sungai Musi, ibunya menanti dengan jendela terbuka setiap senja. Di sana ada skripsi yang belum selesai, ada aroma kopi robusta hangat buatan adik perempuannya, ada dunia biasa di mana matahari terbit dari timur tanpa perlu tumbal darah, dan malam tiba tanpa perlu menatap siluman harimau bermata belerang. Namun, harga yang diminta gerbang itu adalah jiwanya sendiriβkehilangan seluruh ingatan tentang Kemuning.
Bagaimana mungkin ia bisa hidup sebagai manusia utuh jika separuh jiwanya dicungkil paksa? Tiga hari yang lalu, ketika badai kabut buta menyapu jalur pendakian antara shelter dua dan cadas, Ghazi tergelincir ke bibir jurang Cadas Berdarah. Tubuhnya meluncur deras menuju ketiadaan berkedalaman tiga ratus meter. Dalam detik-detik saat maut telah meraba tengkuknya, sebuah tangan selembut sutra menyambar pergelangan tangannya. Putri Kemuning telah melanggar larangan keratonnya, menembus kabut dimensi untuk menariknya kembali ke alam kehidupan. Gadis itu bahkan mengorbankan separuh kemurnian mustika sukmanya agar Ghazi tidak membeku oleh hawa dingin Dempo yang menembus tulang sumsum.
"Jika kau memilih gerbang barat, Ghazi," suara bisikan batin Kemuning terngiang di benak pemuda itu, tersendat oleh isak yang tertahan, "kau akan selamat. Kau akan melupakan namaku, melupakan wajahku, dan melupakan altar berdarah ini. Kau akan kembali ke duniamu sebagai pemuda biasa yang hanya menganggap pendakian ini sekadar mimpi buruk yang samar. Lakukanlah, Ghazi... demi keselamatan hidupmu. Jangan pedulikan aku."
Ghazi melirik ke arah gerbang timur. Kilau emasnya begitu menyilaukan mata, menawarkan keabadian yang diidamkan para raja zaman kuno. Jika ia melangkah ke sana, ia akan mendekap Kemuning selamanya. Mereka akan bertahta di istana rimba yang abadi, bebas dari cengkeraman waktu, sakit penyakit, dan kematian fana. Namun, harga gerbang itu menuntut darah para sahabatnya. Ghazi harus berpaling saat kubah pelindung di sudut altar hancur, melihat Bayu dan Ratih hangus tersapu gelombang lahar, dan membiarkan jeritan Pak Usman bergema di udara malam sebelum lumat menjadi debu.
"Memilih kebahagiaan di atas bangkai orang-orang yang mempercayaimu bukanlah cinta," bisik nurani Ghazi dengan ketukan palu yang tak terbantahkan. "Itu hanyalah nafsu binatang buas yang dibungkus selimut kencana."
Sebagai ketua ekspedisi Perhimpunan Mahasiswa Pencinta Alam Arcapada, sumpah yang ia ucapkan di sekretariat sebelum berangkat masih terpatri kokoh di bilik jantungnya. Di hadapan orang tua Bayu dan Ratih di terminal bus Pagaralam, Ghazi telah menjabat tangan mereka erat-erat. 'Saya yang membawa mereka naik ke puncak Dempo, Bapak, Ibu. Saya pula yang berjanji akan memulangkan mereka utuh ke pangkuan kalian, meski saya harus memikul ransel mereka satu per satu.' Janji seorang petualang sejati bukanlah tinta murah di atas kertas basah; ia adalah harga diri yang dipatri dengan darah dan kehormatan.
Gemuruh kawah kian meninggi. Permukaan danau toska di bawah sana merekah, memuntahkan lidah-lidah api belerang biru yang membakar udara malam hingga berbau menyengat menusuk hidung. Retakan di lantai Altar Pusaka kian melebar, merambat cepat mendekati kubah pelindung tempat kawan-kawannya terbaring. Suara retakan batu terdengar berderak tajam seperti cambuk malaikat maut.
"Waktumu telah habis, anak manusia!" seru Maharaja Jayawarman. Tongkat pusaka berkepala harimau emas di tangan sang raja dihentakkan ke lantai altar. Dentumannya memicu gelombang kejut gaib yang membuat kabut di sekeliling puncak tersibak lebar. "Pilihlah salah satu gerbang, atau bumi Dempo sendiri yang akan menelan kalian semua tanpa sisa!"
βββ π§ π π§ βββ
Bagian 03: Pasak Kompas dan Pusaran Segel Kawah