Konspirasi Panglima Durgandika: Pecahnya Tirai Gerbang Dempo
Saat Ghazi dinyatakan lulus, kedamaian dirusak oleh kabar buruk. Panglima Durgandika memanfaatkan momen pembukaan altar untuk mencuri serpihan
βββ β π β βββ
Bagian 01: Robekan Tirai Dua Alam
Runtuhnya Kesunyian Istana Pualam
ββββ π ββββ
BUMMM!
Dentuman dahsyat mengguncang perut Gunung Dempo hingga ke dasar fondasi Tirta Swarnadwipa. Pilar-pilar pualam kraton retak seketika, melepaskan debu giok putih yang berhamburan bagai salju tajam di udara bawah tanah yang semula tenang. Permukaan kolam teratai suci bergolak liar; air keemasan yang biasanya memancarkan keteduhan kini beriak ganas menghempas bebatuan andesit berukir aksara Ulu kuno. Lonceng-lonceng perunggu di menara penjuru berdentang sendiri tanpa penabuh, melolongkan nada sumbang yang menandakan bahaya purba telah terbangun dari tidur ribuan warsa.
Dari arah lembah kawah bawah, kabut hitam pekat membubung tinggi dengan kecepatan mengerikan. Asap itu tidak bergerak seperti jelaga biasa; ia menggeliat, berpusar bagai belasan naga legam yang kelaparan, mendesis membakar batuan belerang, dan melesat menembus kubah langit dimensi. Tirai batas metafisika yang selama berabad-abad memisahkan jagat fana manusia dengan alam Swarnadwipa seketika terkoyak, bersuara bagai kain sutra raksasa yang dicabik paksa oleh cakar tak kasat mata.
"Durgandika telah memecah segel kawah belerang!" teriak panglima pengawal kraton, Daniswara, dengan suara tercekat kepanikan yang jarang sekali terdengar dari bibir seorang ksatria gaib. Zirah tembaga berukir garuda yang dikenakannya bergetar hebat saat ia menghunus pedang lengkung perak, bersiap menghadapi gelombang kejut yang merayap cepat dari celah jurang kawah.
Lantai pualam tempat Ghazi berpijak berguncang keras, nyaris membuatnya terpelanting ke tepi balairung. Ghazi mencengkeram erat pinggiran pagar pembatas berhias ukiran sulur emas. Matanya nanar menatap ke atas. Di langit dimensi yang kini menganga lebar, tampak robekan pusaran ungu kelam bercampur lidah api jingga. Melalui celah retakan dimensi yang menganga di langit itu, Ghazi dapat melihat pemandangan mengerikan di alam fana: tenda-tenda kubah sahabatnya di bibir kawah Gunung Dempo pada ketinggian 3.159 meter di atas permukaan laut sedang dihempas angin badai raksasa.
Sosok-sosok siluman kabut hitam bertanduk duri mulai merayap keluar dari retakan batuan belerang, merayap mengepung kawan-kawannya yang sama sekali tidak menyadari hakikat bencana mistis yang sedang mengancam nyawa mereka.
"Kawan-kawanku di atas sana dalam bahaya!" seru Ghazi panik. Suaranya bergetar menahan ketakutan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Bayangan wajah Bayu, Tari, Rian, dan Argaβsahabat-sahabat pecinta alam yang bersamanya mendaki jalur Kampung Empat sejak dua hari laluβberkelebat cepat di pelupuk matanya. Mereka mendirikan kemah di pelataran kawah dengan tawa ceria, sama sekali tak menduga bahwa hilangnya Ghazi kemarin petang bukanlah karena terpeleset ke jurang biasa, melainkan tersedot ke dalam gerbang kerajaan gaib Tirta Swarnadwipa.
Putri Kemuning melangkah maju menembus guncangan gempa. Sentuhan tangannya yang lembut namun berdaya magis kuat mendarat mantap di bahu Ghazi. Kehangatan telapak tangannya bagai air sejuk yang membasuh kecemasan yang membakar dada pemuda itu. Selendang emas sang putri, kain pusaka Mayang Kencana, berkibar menyala oleh energi murni yang berpendar keperakan di tengah pekatnya hawa jelaga. Rambut panjang sang putri terurai liar ditiup angin pusaran dimensi, namun parasnya tetap memancarkan keagungan seorang pewaris darah para raja penakluk kabut.
"Kita akan hadapi dia bersama, Ghazi," ucap Putri Kemuning dengan nada tenang berwibawa, menatap langsung ke dalam manik mata Ghazi. "Cintamu yang tulus tanpa pamrih telah membangkitkan kekuatan sejati Mustika Swarna. Selama ini mustika itu membatu karena menolak jiwa-jiwa serakah, namun kemurnian jiwamu telah menyalakan urat cahayanya. Mari kita selamatkan dua dunia kita!"
βββ π§ π π§ βββ
Bagian 02: Badai di Bibir Kawah Dempo
Kepanikan Para Pendaki di Alam Nyata
ββββ π ββββ
Di alam manusia, di bibir kawah aktif Gunung Dempo yang berselimutkan kabut dingin Pagar Alam, jarum jam baru menunjukkan pukul dua dini hari. Hawa beku lima derajat Celsius yang biasanya sunyi dan hanya diselingi desau angin di antara rumpun perdu cantigi mendadak berubah menjadi neraka badai yang menderu tanpa ampun.
"Pegang tali tenda! Rian, bantu pasak sebelah kiri!" teriak Bayu sekuat tenaga. Suara pemuda bertubuh tegap itu nyaris tenggelam oleh deru angin yang meraung bagai lolongan kawanan serigala lapar. Jaket gore-tex tebal yang dikenakannya berkibar keras, menampar-nampar tubuhnya saat ia berlutut di atas tanah bebatuan kersik yang bergetar tanpa henti.
Tenda doom warna oranye terang milik tim mereka meliuk-liuk hampir rata dengan tanah. Tali-tali penahan meregang hingga batas maksimal. Di dalam tenda lain yang lebih kecil, Tari menjerit histeris ketika hembusan angin kencang bercampur bau belerang yang sangat pekat menerobos masuk melalui celah resleting yang koyak. Pasak besi panjang yang tertancap di tanah berbatu tiba-tiba terpelanting seolah dicungkil oleh kekuatan raksasa.
"Bayu! Ghazi belum ketemu dan sekarang kawahnya meledak! Kita harus turun sekarang juga!" tangis Tari pecah seraya mendekap tas carrier miliknya ke dada. Gadis berkerudung itu gemetar hebat, bukan hanya karena terpaan hawa dingin yang menusuk tulang, melainkan karena pemandangan ganjil yang ia saksikan di luar jendela mika tenda.
Kabut di atas danau kawah Dempo tidak lagi berwarna putih kelabu seperti lazimnya uap belerang. Kabut itu bergolak menjadi hitam pekat, berminyak, dan memancarkan kilatan-kilatan cahaya ungu yang tidak menghasilkan suara guntur biasa, melainkan dengungan berfrekuensi rendah yang membuat gendang telinga berdenging sakit.
Arga, yang sedari tadi mencoba menyalakan senter kepala dengan tangan gemetar, berteriak ngeri sambil menunjuk ke arah tebing kawah curam. "Lihat itu! Demi Tuhan, apa itu yang merayap di atas tebing?!"
Cahaya senter Arga yang berpendar redup menyapu bebatuan cadas. Dari balik kepulan uap belerang yang mendidih, bayangan-bayangan hitam setinggi dua meter bergerak merayap dengan gerakan patah-patah yang ganjil. Sosok-sosok itu tidak memiliki wajah manusiawi; mata mereka hanyalah dua lubang membara berwarna merah tembaga, dengan cakar-cakar panjang beruap asam pekat yang meninggalkan jejak hangus pada lumut kerak di dinding batu.
"Itu bukan binatang buas... itu bukan manusia!" bisik Rian tercekat, mematung dengan pisau komando terhunus di tangan kanannya. Udara di sekeliling mereka mendadak membeku, lalu berbau bangkai bercampur amonia belerang yang menyengat paru-paru. Tenda utama mereka tiba-tiba terangkat oleh pusaran angin ganjil, terhempas ke udara dan robek berkeping-keping di atas jurang kawah.
Empat sekawan itu kini terjebak di tanah terbuka, tanpa perlindungan, di tepi kawah jurang berkedalaman ratusan meter, sementara lingkaran bayangan kabut hitam siluman kian menyempit mengepung mereka selangkah demi selangkah.
βββ π§ π π§ βββ
Bagian 03: Amuk Purba Sang Durgandika
Raksasa Belerang Berbaju Kerak Lava
ββββ π ββββ
Kembali di batas pertemuan dua dimensi, retakan ruang angkasa kian melebar hingga membentuk jurang kosmik yang menganga selebar lapangan sepak bola. Di tengah jurang tersebut, danau magma belerang mendidih meletupkan gelembung-gelembung gas pijar setinggi pohon kelapa. Dari pusat letupan itu, sebuah sosok raksasa menjulang naik ke angkasa dimensi dengan diiringi tawa menggelegar yang meremukkan batu karang.
"Hahahahaha! Seribu tahun kau kurung aku di bawah kerak dingin Tirta Swarnadwipa, wahai keturunan raja-raja sombong! Hari ini, darah manusia dan darah penghuni kayangan akan tumpah bersamaan menjadi tumbal kebangkitanku!"