GURUH CAHAYA DI PALUNG BELERANG
“Bukan ketajaman baja yang meredam amarah kawah, melainkan kejernihan hati seorang hamba yang rela hancur demi menjaga jiwa para saudaranya.” — Catatan Rahasia Penjaga Puncak Dempo
─── ❖ 🕌 ❖ ───
=== BAGIAN 01: GEMURUH PELATARAN CADAS & BADAI BELERANG ===
Ledakan Cahaya Emas di Tubir Kawah 3.159 MDPL. Kilatan cahaya keemasan meledak di tengah pusaran badai kawah Dempo.
━━━━ 👣 ━━━━
Dentuman itu bukan sekadar guruh petir vulkanik biasa yang kerap membakar malam di atap tertinggi Sumatera Selatan. Itu adalah benturan energi purba yang merobek pekatnya kabut sulfur setinggi tiga ribu seratus lima puluh sembilan meter di atas permukaan laut. Udara di bibir kaldera bergetar hebat; miliaran butir pasir andesit terpental seperti peluru tajam ke segala penjuru, menghantam tebing-tebing batu hitam yang telah membisu selama ribuan tahun.
Danau kawah yang terhampar ratusan meter di dasar jurang—hamparan cairan hijau toska yang pekat, mendidih, dan sarat dengan gelembung racun belerang cair—bergolak ganas laksana minyak mendidih dalam kuali raksasa sang pencipta. Bau asam sulfat yang menusuk rongga dada dan mengikis kerongkongan sempat lenyap sesaat, tergantikan oleh semerbak harum mistis yang ganjil: wangi kuncup cempaka hutan yang mekar sempurna di tengah hembusan maut.
Di ketinggian ekstrem ini, dinginnya angin kutub pegunungan beradu sengit dengan hawa panas yang memancar dari perut magma bumi. Suhu udara anjlok hingga mendekati titik beku, membekukan uap air di bulu mata para pendaki menjadi kristal es halus, sementara tanah cadas tempat mereka berpijak terasa membakar sol sepatu getah karet mereka. Batuan obsidian runcing mencuat dari dinding kaldera laksana taring-taring naga raksasa yang lapar.
Ketika debu cadas mereda perlahan ditiup badai elevasi tinggi, ketiga belas sahabat terpaku dengan mata membelalak lebar. Bibir mereka membiru karena dinginnya udara subuh pegunungan bercampur teror yang baru saja meremukkan akal sehat. Mereka terdampar di punggungan sempit berbatu tajam, tubuh terbungkus mantel basah dan sarung tangan gunung yang sobek tergores cadas.
Di depan mereka, berdiri tegak sesosok pemuda yang amat mereka kenal: Ghazi Al-Qhutuz. Jaket gunung anti-angin berwarna merah gelap yang dipakainya sejak dari basecamp Kampung Empat masih melekat di tubuhnya, kini koyak di bagian pundak dan berlumuran jelaga hitam pekat. Namun, pemuda yang dulu kerap menyeduh kopi bersama mereka di depan tenda dome itu kini memancarkan wibawa yang membuat lutut siapa pun bergetar.
Di tangan kanannya tergenggam sebilah pedang pusaka yang mustahil: bilahnya ditempa dari lelehan emas purba berukir sulur-sulur tanaman meliuk hidup, menyala berkilauan membelah pekatnya malam kaldera. Cahaya emas itu tidak membutakan, melainkan berdenyut seirama detak jantung bumi, menepis embun beku yang menempel di ujung-ujung rambutnya. Setiap lekuk ukiran sulur pada bilah pedang itu memancarkan partikel cahaya keemasan yang berputar laksana kunang-kunang di malam gulita.
Dan tepat di sisi kiri Ghazi, berdiri seorang wanita yang seolah melangkah keluar dari relief prasasti kahyangan: Putri Kemuning Alamiyah. Gaun sutra hijaunya melambai tenang menantang angin badai kawah yang berkecepatan puluhan knot. Selendang keemasan beraroma cempaka yang tersemat di pundak sang putri melayang anggun di udara, membentuk kubah cahaya setengah lingkaran yang memayungi ketiga belas pendaki dari hujan abu pijar dan lontaran batu kerikil vulkanik.
“GHAZIII!” teriak Qoifun memecah desis angin belerang, suaranya parau bergetar nyaris tak percaya dengan apa yang ia saksikan. Qoifun mencengkeram tali ransel carrier-nya dengan buku-buku jemari yang memutih kaku. Matanya menatap punggung kawannya itu dengan campuran kelegaan luar biasa dan ketakutan magis yang mencekik kerongkongan. Ia telah mengira Ghazi tewas ketika tergelincir ke dalam jurang kawah beberapa jam lalu.
“Kawan-kawan, tetap di belakang lingkaran selendang Kemuning!” seru Ghazi mengomando dengan wibawa penuh. Suaranya bergema menembus raungan badai kaldera, tegas tanpa keraguan sedikit pun. “Jangan melangkah keluar satu jengkal pun! Pasang pasak penahan, rapatkan barisan kalian!”
Belum sempat Qoifun, Fikri, Ilham, maupun sahabat lainnya mencerna perintah itu, dasar jurang kawah bergetar hebat. Retakan-retakan tanah andesit mengeluarkan semburan uap merah membara. Dari balik tirai asap belerang yang berputar seperti gasing neraka, melesat bayangan raksasa berhawa dingin mematikan.
Durgandika menerjang keluar dari kegelapan palung kawah dengan lolongan yang menggetarkan tulang-tulang rusuk. Tubuh siluman itu legam bersisik abu batu, dengan sepasang mata merah menyala serupa bara arang yang tertiup angin kencang. Di tangan kanannya yang berkuku hitam runcing, tergenggam sebilah pedang hitam berkarat—sebuah bilah terkutuk yang ditempa dari endapan racun belerang dan kebencian masa lalu.
“Manusia lancang!” guntur raungan Durgandika memantul di dinding kaldera, merontokkan bebatuan cadas ke dalam danau toska. “Kau kira sebilah pusaka tua dan perempuan kahyangan itu mampu menahan amarahku? Kau tak akan pernah bisa merebut takhta kawah ini dariku! Tempat ini adalah kuburan bagi seluruh keturunan Besemah!”
TRANGGG!
Dentang baja dan emas membahana begitu dahsyat hingga memekakkan telinga. Percikan api membubung tinggi ke angkasa saat bilah pedang hitam berkarat Durgandika menghantam keras bilah sulur emas Ghazi.
Tekanan angin dari benturan itu menghantam tebing di sekeliling mereka. Kaki Ghazi terdorong mundur setengah tapak, menggerus kerikil cadas yang langsung runtuh meluncur ke jurang sedalam ratusan meter di belakangnya. Namun tatapan mata Ghazi tidak goyah sedikit pun. Pemuda itu mengunci pandangannya ke dalam manik mata merah siluman tersebut, membaca setiap getaran otot dan aliran tenaga lawannya.
─── 🧭 🕌 🧭 ───
=== BAGIAN 02: BENTURAN BILAH KARAT & TARIAN SELENDANG CEMPAKA ===
Manuver Akrobatik di Atas Bibir Kaldera Terjal.
━━━━ 👣 ━━━━
Suhu di sekitar titik benturan meningkat drastis hingga udara tampak bergelombang akibat fatamorgana panas. Bilah pedang berkarat milik Durgandika mendesis mengeluarkan cairan lendir hitam pekat yang menetes ke atas batuan andesit, seketika membakar batu keras itu menjadi jelaga rapuh yang berlubang dan mengeluarkan asap berbisa.
Racun asam konsentrasi tinggi itu mampu melarutkan logam apa pun dalam hitungan detik, namun ketika tetesan busuk itu menyentuh bilah sulur emas Ghazi, cairan keji itu mendidih dan lenyap menguap menjadi percikan partikel cahaya suci yang bergemerlapan.
“Kekuatanmu hanya berasal dari kepalsuan racun bangkai, Durgandika!” desis Ghazi dingin, urat-urat di leher dan lengannya menegang menahan dorongan bobot raksasa sang siluman kawah. Udara dingin pegunungan menusuk paru-parunya setiap kali ia menarik napas melalui sela gigi.
Durgandika menyeringai bengis, memperlihatkan deretan gigi runcing berwarna kuning kecokelatan berlumur lendir belerang. “Bangkai atau racun, semuanya akan menjadi tanah pembungkus jasadmu, anak muda! Kawah Dempo ini tidak membutuhkan penjaga yang lemah hati!”
Siluman itu menekan pedangnya lebih keras, menyalurkan gelombang energi kegelapan yang membuat batu tempat pijakan kaki Ghazi mulai retak merekah. Alih-alih bertahan dalam adu tenaga statis yang jelas merugikan fisiknya yang hanya seorang manusia fana, Ghazi memanfaatkan keunggulan terbesarnya: kelincahan seorang pendaki gunung yang terbiasa melahap jalur terjal cadas Dempo sejak bertahun-tahun silam.
Otot kakinya yang terlatih menaklukkan ribuan tanjakan berbatu terpegas seketika. Dengan putaran tumit yang presisi di atas batu pijakan yang hanya selebar telapak tangan, Ghazi memiringkan bilah emasnya sebesar empat puluh lima derajat.
Pedang hitam berkarat Durgandika tergelincir miring menabrak dinding tebing cadas di samping kirinya, membelah tonjolan andesit keras menjadi serpihan debu halus yang berhamburan. Kehilangan tumpuan tenaganya secara mendadak membuat tubuh raksasa Durgandika terhuyung ke depan.
Memanfaatkan momentum sepersekian detik itu, Ghazi melompat ke atas batu tumpuan yang lebih tinggi di sebelah kanan. Gerakannya seringan kijang lereng Dempo yang melompati semak belukar pegunungan. Dari ketinggian tumpuan cadas itu, ia memanfaatkan gaya gravitasi dan menghantamkan sikunya yang diperkuat aliran tenaga kanuragan keemasan tepat ke ulu dada Durgandika.
BUGGG!
Suara benturan tumpul itu terdengar mengerikan, disusul erangan geram dari kerongkongan Durgandika. Siluman purba itu terhuyung dua langkah ke belakang, dadanya yang berlapis sisik abu retak mengeluarkan asap kelabu pekat yang berbau menyengat.
Namun Durgandika belum tumbang. Ekor kabut hitam yang melingkupi pinggangnya menyabet ke arah kaki Ghazi dengan kecepatan kilat, berniat menyeret sang pemuda jatuh ke dalam kawah toska yang mendidih.
Di saat yang bersamaan, Putri Kemuning Alamiyah melangkah maju tanpa suara. Gerakannya seringan kabut fajar yang membelai pucuk daun teh di lereng Pagaralam. Selendang sutra cempaka yang melilit lengannya memanjang secara gaib, meluncur laksana naga cahaya yang membelah kegelapan malam kaldera.
SWASSHHH!
Ujung selendang bercahaya itu menyapu rendah di atas permukaan tanah berbatu, menyambar pergelangan kaki dan sabetan kabut Durgandika dengan kelembutan yang mematican. Begitu kain sutra itu menyentuh kulit bersisik siluman kawah, cahaya keemasan merekah membakar lapisan kabut kegelapan yang selama ini menjadi tameng gaib sang penguasa kawah.
“ARGGGHHH! Sialan kau, perempuan kahyangan!” raung Durgandika seraya melompat mundur dengan gerakan kalap, menepuk kakinya yang hangus terkena sentuhan suci selendang Kemuning. Bau daging siluman terbakar bercampur asam sulfat menyengat udara sekitar.
“Kemuning! Amankan jalur punggungan timur!” seru Ghazi seraya mendarat mantap di atas tonjolan cadas dengan kuda-kuda kokoh. Pedang sulur emasnya berputar di udara, menciptakan lingkaran aura pelindung yang berdesing tajam.
Putri Kemuning menoleh anggun, sorot matanya yang bening memancarkan ketenangan samudra di tengah amuk badai. “Lingkaran pelindung para sahabatmu terjaga, Kakanda Ghazi. Namun kawah ini... Durgandika telah menanamkan akar kutukannya hingga ke jantung magma Dempo. Jika kau tidak memutus urat nadinya dengan pedang itu, seluruh puncak ini akan ditenggelamkan ke dalam danau toska!”
Kata-kata sang putri bukan sekadar gertakan kosong. Di bawah kaki mereka, tanah vulkanik bergetar semakin liar. Retakan-retakan baru merekah selebar jengkal tangan manusia, mengeluarkan pijaran lahar dingin yang mendidih. Kawah Dempo yang selama ini menjadi saksi ribuan pendaki menikmati indahnya matahari terbit, kini berubah menjadi arena pertarungan antara keabadian cahaya dan jurang kehancuran.
─── 🧭 🕌 🧭 ───
=== BAGIAN 03: BEBAN BERAT WARISAN SANG PUYANG (DIALOG INTERNAL GHAZI) ===