KABUT EMAS GUNUNG DEMPO

Amrullah Ibrahim
Chapter #25

Mekarnya Cempaka Emas

Mekarnya Cempaka Emas di Kawah Dempo

Pengorbanan, benturan Mustika Hitam Gerhana, dan keabadian cinta di tubir cadas api abadi Besemah.Lokasi:Plataran Kawah Api Dempo

─── ❖ πŸ•Œ ❖ ───


Bagian 01: Badai Belerang dan Murka Terakhir Durgandika

Ketika keputusasaan seorang penguasa ilmu hitam mengguncang puncak langit Besemah

━━━━ πŸ‘£ ━━━━

Angin dingin yang mengoyak puncak Gunung Dempo dini hari itu tidak mampu mendinginkan hawa membara yang menggelegak di bibir kawah. Asap belerang pekat mengepul dari perut bumi setinggi tiga ribu seratus lima puluh sembilan meter di atas permukaan laut, bergulung-gulung membentuk naga asap raksasa yang menyelimuti tebing cadas andesit yang rapuh. Suara gemuruh magma purba terdengar bagaikan dengkur raksasa yang sedang gelisah di dasar kerak bumi Besemah, menanti celah kecil untuk meluapkan amarah api yang tertidur ribuan warsa. Bebatuan obsidian di pinggiran kawah berpendar kemerahan, menyerap hawa panas yang mendidih dari danau toska di bawah sana.

Di atas bibir jurang yang curam dan licin oleh lumut merah kawah, dua bayangan manusia baru saja menyelesaikan pertempuran berdarah yang berlangsung sejak sang rembulan condong ke barat. Ghazi berdiri tegak dengan napas terengah-engah, dada bidangnya yang berbalut rompi kulit rami koyak memperlihatkan garis-garis luka memar kebiruan akibat hantaman tenaga dalam. Keringat bercampur jelaga abu vulkanik meleleh di pelipisnya, mengaburkan pandangannya yang tajam setajam mata elang pegunungan. Pedang pamor perak di genggaman kanannya bergetar lirih, mengeluarkan desing halus yang beradu dengan gemuruh kawah. Ujung pedang itu masih meneteskan darah kehitamanβ€”darah milik Durgandika yang tercemar racun tapak iblis.

Tiga langkah di depan Ghazi, menyandar pada sebongkah batu andesit yang retak-retak terpanggang uap asam, berdirilah Durgandika. Sosok pemuja ilmu tapak hitam itu tampak menyedihkan sekaligus mengerikan. Jubah kelamnya yang dahulu berkibar gagah kini compang-camping menyerupai sayap kelelawar bangkai. Rongga matanya cekung, menyala merah liar laksana bara tempurung kelapa yang ditiup angin lesus. Sepasang tangannya yang berlapis racun katak hitam gemetar hebat; tulang belikat kanannya telah remuk dihantam Jurus Tapak Bayu Penggetar Sukma milik Ghazi. Udara di sekeliling Durgandika berbau busuk, pertanda hawa jahat yang telah membusukkan raganya sendiri dari dalam.

"Kau sudah kalah, Durgandika!" seru Ghazi dengan suara berat yang menggelegar menembus deru angin puncak. "Letakkan sisa mustika itu! Jangan biarkan kutukan Lembah Bayang-Bayang merenggut sisa kemanusiaanmu. Ingatlah sumpah leluhur tanah Besemah! Turunlah bersamaku ke kaki gunung untuk menebus dosa-dosamu di hadapan tetua adat dan rakyat yang telah kau sengsarakan!"

Mendengar seruan itu, Durgandika tidak gentar; sebaliknya, tawa melengking yang sumbang dan sarat keputusasaan pecah dari tenggorokannya yang berlendir darah. Tawa itu menyayat kesunyian malam, membuat burung-burung malam di lereng hutan cemara terbang panik menjauhi bibir puncak. Bau amis tembaga bercampur belerang menguar pekat dari luka-luka di tubuhnya. Ia tahu riwayatnya telah tamat. Jalur darahnya telah putus di tiga titik utama, dan dalam hitungan puluh napas, tenaga dalamnya yang liar akan berbalik menghancurkan jantungnya sendiri tanpa ampun. Baginya, menyerah adalah kehinaan yang seribu kali lebih buruk daripada kehancuran dunia.

"Menyerah? Menghiba ampun pada bocah ingusan sepertimu?!" Durgandika meraung murka, memamerkan deretan giginya yang hitam bernoda getah beracun. Ludah berdarah muncrat dari sela bibirnya yang terkoyak. Matanya melotot liar menatap jurang kawah yang menganga di bawahnya, tempat cairan lahar oranye berpijar meletup-letup bagai kuali neraka tanpa dasar. "Aku telah mengorbankan separuh nyawaku, membantai sanak saudara, dan menjual jiwaku pada iblis lembah untuk menguasai puncak ini! Jika aku tidak bisa memerintah tanah Swarnadwipa dengan mustika ini, maka tiada seorang pun yang berhak menghirup udara di tanah terkutuk ini!"

Durgandika yang terdesak meraung murka membahana: "KALAU BEGITU KITA HANCUR BERSAMA DI KAWAH INI!"

Dengan sisa tenaga hitam yang meledak dari cakra bawahnya, Durgandika mengangkat tangan kirinya yang masih menggenggam serpihan Mustika Hitam Gerhana. Benda bertuah kegelapan itu berkilat-kilat memancarkan aura ungu kelam yang memuakkan, berdenyut seperti jantung hewan buas yang kelaparan. Tanpa ragu secuil pun, Durgandika menukikkan tubuhnya ke bawah dan menancapkan pecahan mustika tajam itu sekuat tenaga ke rekahan tanah cadas yang tepat berada di atas urat magma utama.

─── 🧭 πŸ‘£ 🧭 ───


Bagian 02: Pelindung Selendang Emas dan Dentuman Neraka

Satu detik penentu takdir ketika kasih melesat menembus pecahan batu pijar

━━━━ πŸ•Œ ━━━━

Begitu ujung runcing mustika hitam itu menghunjam retakan cadas, waktu seakan melambat bagi setiap makhluk yang bernapas di atas puncak Dempo. Suara desis tajam menyengat udara seperti ribuan ular berbisa mendesis serempak di dasar liang bumi. Warna tanah andesit yang semula abu-abu kehitaman seketika memerah jambu, sebelum kemudian urat-urat bumi itu membara merah menyala. Udara mendadak menjadi begitu kering hingga bulu mata terasa hangus, dan rekahan purba itu merekah lebar bagai rahang raksasa yang terbuka memangsa mangsanya.

Tanah cadas meletus seketika! Ledakan itu menyemburkan serpihan batu pijar sebesar kepalan tangan, debu belerang membara, dan semburan lava cair langsung membubung tinggi puluhan depa ke udara pekat, lalu menghujam deras lurus ke arah Ghazi. Pada saat yang bersamaan, getaran gempa vulkanik lokal membuat pijakan kaki Ghazi patah terbelah dua. Tubuh pendekar muda itu terhuyung kehilangan keseimbangan, kakinya tergelincir di tubir jurang yang rapuh, sementara ratusan proyektil batu bara panas melesat kencang laksana hujan panah api menuju wajah dan dadanya yang tanpa pelindung perisai.

Kematian terasa begitu dekat, hanya sejengkal dari pelupuk mata Ghazi. Pedang pamor perak di tangannya terlepas, berdenting membentur batu karang terjal dan meluncur jatuh ke dalam kawah yang mendidih. Ghazi hanya sempat menarik napas dalam, memejamkan mata dalam kepasrahan seorang ksatria yang telah berjuang hingga batas terakhirnya, bersiap menyongsong takdir raganya lumat menjadi abu di puncak gunung keramat ini.

"GHAZI, TIDAK!"

Sebuah jeritan melengking tinggi, bening dan sarat kepedihan yang teramat mendalam, merobek hiruk-pikuk dentuman kawah. Suara itu bukan sekadar jeritan ketakutan, melainkan jeritan cinta yang mengabaikan keselamatan diri sendiri. Dari balik gundukan batu kapur di tepi pelataran yang berjarak belasan tombak, sosok anggun berbusana kain tenun songket keemasan melompat menerobos kabut beracun. Putri Kemuning melesat secepat embusan angin puyuh. Ilmu meringankan tubuh warisan keraton leluhurnyaβ€”Gerak Awan Menyusur Embunβ€”dikerahkan melampaui batas kemampuan raga seorang dara bangsawan yang biasanya hanya mengenal kelembutan bilik peraduan istana.

Hanya dalam sepersekian kedipan mata, sebelum bongkahan batu pijar terbesar menghancurkan tengkorak dan meremukkan dada Ghazi, Putri Kemuning telah tiba di hadapannya. Rambut hitam sang putri yang panjang terurai berkibar liar diterpa gelombang hawa panas. Matanya yang jernih laksana telaga pegunungan hanya terpaku pada sepasang manik mata Ghazi. Tiada sebersit pun keraguan, tiada secuil pun ketakutan pada wajah jelitanya yang berselimut tekad baja.

Tubuhnya mendekap erat dada Ghazi, membalikkan badannya dengan putaran anggun namun bertenaga luar biasa, sehingga punggungnya yang terlindung selendang emas menahan hantaman pecahan batu kawah yang membara. Selendang sutra kuning bersepuh rajutan benang tembaga dan mantra tolak bala warisan permaisuri keraton mengembang laksana perisai bunga cempaka raksasa di udara malam.

DUAARRR!

Benturan dahsyat tak terelakkan terjadi. Pecahan batu magma yang membara menabrak punggung sang putri dengan tenaga ribuan kati. Suara selendang emas meredam hantaman itu terdengar seperti kain pusaka yang ditarik hingga nyaris koyak berkeping-keping, mengeluarkan cahaya kemilau keemasan yang berpendar benderang menerangi gulita kawah. Namun tenaga benturan yang dahsyat itu tetap menghantam daging dan tulang halus sang putri. Suara retakan pelan terdengar bersama erangan tertahan dari bibir Kemuning.

Gelombang kejut yang mahadahsyat menghempaskan mereka berdua sejauh dua tombak melintasi udara panas, terlempar keras ke pelataran lumut cadas yang agak jauh dari bibir semburan api. Sementara itu, di tubir jurang tempat mustika ditancapkan, tanah cadas tempat Durgandika berdiri ambruk sepenuhnya ke dasar magma yang mendidih.

Durgandika yang telah kehilangan seluruh daya tahan tubuhnya menjerit parau ketika bongkahan batu tempatnya berpijar runtuh tanpa ampun. Tangannya menggapai-gapai udara hampa yang dipenuhi asap hitam tebal. Matanya yang merah menatap kengerian kawah yang kini menyambut tubuhnya bagai mulut neraka. Gelombang lahar panas membubung tinggi, menelan tubuh bayang-bayangnya selamanya ke dalam perut kawah Dempo tanpa meninggalkan jejak secuil pun. Musuh besar tanah Besemah telah musnah, binasa oleh kesombongan dan angkara murkanya sendiri.

─── 🧭 πŸ•Œ 🧭 ───

Lihat selengkapnya