KABUT EMAS GUNUNG DEMPO

Amrullah Ibrahim
Chapter #26

Prahara dan Penjaga Puncak Dempo

# Prahara dan Penjaga Puncak Dempo

Satu Lingkaran Tak Terputus di Bawah Langit Merah Saga. Lokasi: Puncak Tertinggi Gunung Dempo (3.159 mdpl), Pagar Alam, Sumatera Selatan. Waktu: Subuh Buta menjelang Fajar, Pukul 04.45 – 05.50 WIB

─── ❖ 🕌 ❖ ───


## Bagian 01: Lolongan Belerang dan Koyaknya Tirai Gaib

*Puncak Api 3.159 MDPL di Bawah Cengkeraman Badai Astral*

━━━━ 👣 ━━━━

Di puncak tertinggi Gunung Dempo, pada ketinggian 3.159 meter di atas permukaan laut, dingin bukan lagi sekadar penurunan skala termal udara tropika. Dingin di sini adalah bilah belati tak kasatmata yang diasah oleh angin kutub selatan—menusuk tembus melalui lapisan jaket parasut tebal, mengoyak serat wol termal, lalu meraba dan mengunci sumsum tulang belakang hingga membeku kaku. Angin kawah melolong liar tanpa jeda, bagai lengkingan ribuan serigala purba yang terkunci di dalam dasar jurang kepundan. Bau belerang yang begitu pekat dan menyengat berputar-putar di udara tipis, menyumbat tenggorokan dan memaksa siapa pun yang bernapas untuk menelan rasa pedih abu vulkanik yang melayang-layang.

Di bawah langit subuh yang perlahan mulai memerah saga—merah pekat yang mengerikan, bercampur guratan ungu lebam dan jelaga hitam—empat belas manusia dan satu putri kahyangan bersatu dalam satu lingkaran tak terputus.

Bumi di bawah telapak kaki mereka tidak sedang berdiam diri. Pelataran puncak cadas itu bergetar dalam ritme yang ganjil dan mengerikan. Sejak dentang tengah malam, ketika jarum kompas berputar liar tanpa arah kutub, dinding kawah Merapi Dempo telah merekah selebar dua depa. Dari rekahan yang menganga hitam itu, bukan sekadar uap air panas yang membubung, melainkan desisan hawa astral pekat yang memancarkan aura kegelapan purba. Retakan itu merayap bagai lidah api hitam, membelah bebatuan andesit yang telah berusia jutaan tahun, mengancam akan meruntuhkan seluruh bibir kaldera ke dalam lahar mendidih.

Pintu gerbang antara alam fana dataran tinggi Besemah dan Kahyangan Tujuh Lapis telah koyak akibat benturan kekuatan siluman jurang lahar. Selama tiga jam yang terasa bagai tiga milenium siksaan tanpa akhir, sukma Ghazi—ketua regu ekspedisi mereka, pemuda berwajah teduh yang selama ini menjadi kompas moral kelompok—terlempar ke palung kehampaan astral. Raga wadagnya tergeletak dingin kaku seperti mayat di atas pasir cadas, nyaris tanpa denyut nadi, sementara jiwanya bertarung mempertahankan Mustika Inti Dempo dari cengkeraman kegelapan.

Dan sukma itu hanya bisa ditarik kembali ke dunia fana karena satu alasan yang tak masuk akal bagi nalar manusia: pengorbanan seorang putri kahyangan.

Kini, tubuh sang putri—Putri Kemuning—terhuyung lunglai di atas hamparan pasir vulkanik. Gaun sutra kahyangannya yang ditenun dari serat cahaya rembulan dan embun pagi telah robek compang-camping di bagian pundak kanan. Darah yang mengalir dari lukanya bukanlah darah merah anyir seperti darah anak Adam, melainkan cairan keemasan bercampur pendar perak yang berpendar redup di tengah kegelapan subuh. Luka itu menghitam di tepiannya, terbakar oleh bisa siluman lahar hitam yang sempat mencakar pundaknya tatkala ia menarik sukma Ghazi menembus pusaran dimensi.

Napas Putri Kemuning tersengal, putus-putus dan teramat rapuh. Mahkota bunga melati kahyangan yang melingkar di kepalanya telah layu berguguran, tersapu angin cadas yang kejam. Selendang emasnya—pusaka pelindung semesta yang legendaris—terkulai kusam di atas debu belerang, kehilangan gemerlap cahayanya seiring memudarnya tenaga batin sang putri.

Namun di sekelilingnya, keempat belas anak muda itu tidak beranjak sejengkal pun. Tidak ada satu pun yang melirik ke arah jalur evakuasi menuju Shelter Dua atau Pintu Rimba. Di atas ketinggian tiga ribu meter ini, di ambang kiamat kecil yang siap menelan Pagar Alam, mereka berdiri membentuk perisai daging dan darah di sekeliling dua sosok yang sedang meregang nyawa.

─── 🧭 🕌 🧭 ───


## Bagian 02: Sentuhan Kasa Steril dan Linangan Air Mata

*Ketika Kehangatan Fana Membalut Luka Entitas Langit*

━━━━ 👣 ━━━━

Fariha Nashiha berlutut di tanah cadas yang kasar, sama sekali mengabaikan kerikil tajam vulkanik yang mengoyak lutut celana lapangan dan menancap di kulitnya. Bagi Fariha, rasa sakit di kakinya tidak ada artinya dibanding pemandangan menyayat hati di hadapannya. Kotak P3K berwarna merah terang dengan lambang palang putih—kotak yang telah ia bawa mendaki melintasi jalur akar terjal dan lumpur pekat sejak dari Kampung Empat—kini terbuka lebar di samping tumpukan batu andesit.

Tangannya yang terbungkus sarung tangan lateks medis gemetar hebat. Bukan karena kepanikan, melainkan karena getaran batin yang meluap tak tertahankan. Sebagai paramedis tim ekspedisi, ia terbiasa menangani lecet pendakian, hipotermia, terkilir, atau sengatan lebah hutan. Namun malam ini, pasien yang terbaring di depannya adalah sesosok putri dari alam kayangan yang tubuhnya memancarkan pendar wangi cempaka di tengah sengatan belerang yang menusuk.

Dengan kelembutan yang luar biasa—seolah-olah sedang menyentuh sayap kupu-kupu kaca yang retak dan nyaris hancur berkeping-keping—Fariha menuangkan cairan antiseptik steril ke atas selembar kapas. Desisan halus terdengar ketika cairan kimiawi fana itu menyentuh luka bakar astral di pundak Kemuning. Asap ungu tipis berbau tembaga menguap ke udara dingin.

Sang putri merintih tertahan, kelopak matanya terpejam rapat, dan bibirnya yang pucat pasi membiru menahan rasa perih yang menjalar hingga ke inti sukma. Fariha Nashiha dengan air mata berlinang membalut pundak Kemuning dengan perban steril dari kotak P3K-nya. Air mata gadis berkerudung itu tumpah, menetes hangat dari dagunya dan jatuh tepat di atas perban putih yang sedang ia ikatkan dengan simpul yang rapi dan mantap.

"Bertahanlah, Putri..." bisik Fariha, suaranya bergetar menahan tangis yang pecah di kerongkongan. "Terima kasih telah menjaga ketua kami di alammu. Terima kasih telah merebut sukma Ghazi dari kegelapan dan membawanya pulang kepada kami. Sekarang izinkan kami menjagamu di puncak ini... Kami memang hanya manusia fana yang lemah, tapi kami tidak akan membiarkanmu menanggung kepedihan ini sendirian!"

Putri Kemuning membuka kelopak matanya yang lentik dengan sangat perlahan. Di balik bulu matanya yang basah oleh peluh dingin, ia menatap paras Fariha. Ia melihat tetesan air mata manusia yang mengalir lurus dari lubuk hati yang paling bening. Di istana kahyangan Besemah yang serba gemerlap dari batu kumala dan intan, para bidadari dan resi agung hidup dalam tatanan tapa brata yang dingin dan tanpa cela. Tidak pernah sekalipun dalam ribuan tahun usianya, Kemuning melihat air mata yang ditumpahkan bukan untuk meminta mukjizat dewa, melainkan semata-mata karena kecintaan dan rasa terima kasih yang tak bersyarat.

Perban steril itu hanya terbuat dari serat katun biasa produksi pabrik manusia, cairan antiseptik itu hanyalah senyawa kimia bumi. Namun yang menyusup ke dalam luka sang putri bukanlah kapas atau alkohol, melainkan gelombang ketulusan murni yang menyertai setiap lilitan perban Fariha. Rasa terbakar pada lukanya perlahan mereda, digantikan oleh kehangatan manusiawi yang belum pernah ia kecap seumur hidupnya.

"Anak manusia yang mulia..." bisik Kemuning teramat lirih, suaranya seperti desau angin senja di pucuk pohon pinus. "Jagalah lingkaran ini... Jangan biarkan pasak bumi terlepas..."

─── 🧭 🕌 🧭 ───


## Bagian 03: Gema 'Bismillah' dan Rantai Empat Belas Sukma

*Ketika Ukhuwah Melebihi Kedahsyatan Mantra Para Dewa*

Lihat selengkapnya