GERBANG KEABADIAN KAWAH DEMPO
“Cinta kita tidak berakar pada raga fana, Ghazi. Ia telah terpatri di inti kawah Dempo ini. Selama puncak ini masih berdiri, jiwaku adalah milikmu.” Lokasi: Bibir Kawah Merapi-Dempo, Pagaralam, Sumatera Selatan (3.173 mdpl)
─── ❖ 🕌 ❖ ───
BAGIAN 01: PUALAM API DAN DESAU KEABADIAN
Pusaran Gerbang Keemasan di Bibir Kawah 3.173 mdpl
━━━━ 👣 ━━━━
Gerbang cahaya keemasan itu mulai berputar mengecil di hadapan mereka, mengeluarkan desau halus pertanda dimensi akan segera terkunci rapat. Pusaran itu memuntahkan partikel-partikel gemerlap laksana debu intan yang berpendar di tengah kelamnya malam puncak Gunung Dempo. Di ketinggian tiga ribu seratus tujuh puluh tiga meter di atas permukaan laut, angin kutub kawah menderu liar, menyapu dinding-dinding batu andesit yang legam dan tajam. Namun, anehnya, di radius beberapa depa di sekeliling portal agung itu, hawa dingin yang menusuk tulang mendadak luluh, tergantikan oleh kehangatan mistik yang beraroma dupa cendana berpadu uap belerang murni.
Kawah Dempo bergolak pelan jauh di bawah jurang curam di samping kiri mereka. Permukaan air telaganya yang berwarna hijau toska menyala dalam temaram, memantulkan pijar keemasan dari rekahan dimensi gaib yang kian merapat setiap detiknya. Setiap denyut pusaran itu menimbulkan getaran halus di bawah telapak sepatu bot gunung Ghazi, merambat naik melalui sendi-sendi kakinya, seolah bumi sedang menghitung mundur detik-detik perpisahan yang tak terelakkan.
Dari balik tirai cahaya yang bergelombang laksana tabir sutra kencana, siluet tinggi agung berdiri tak bergeming. Mahkota berukir sulur teratai purba berkilau di kepalanya, memancarkan wibawa keprajuritan masa silam yang sanggup meruntuhkan nyali siapa pun yang memandangnya. Dialah Sang Penguasa Penjaga Gunung, sosok yang selama berabad-abad hanya menjadi mitos bisik-bisik di kalangan para tetua juru kunci Dusun Curup Tenang.
"Waktumu telah tiba, Ghazi," sabda Raja Jayawarman dari balik tirai cahaya. Suara itu tidak sekadar menggetarkan udara tipis di bibir kawah, melainkan bergema langsung di dinding rongga dada pemuda itu, dalam, berwibawa, dan sarat dengan hukum alam yang mutlak. "Pilihlah: melangkah bersamaku ke keabadian, atau kembali ke debu fana bumimu."
Kata 'keabadian' terucap dengan nada yang begitu memikat sekaligus mengerikan. Di balik pintu gerbang itu terbentang swargaloka yang tak mengenal renta, tak mengenal penyakit, kepedihan, maupun duka air mata. Sebuah alam kadipaten abadi di mana waktu berhenti berdetak, tempat di mana ia bisa terus bersama sang putri untuk selama-lamanya. Namun, kata 'debu fana' menusuk nurani Ghazi dengan tajam, mengingatkannya pada tanah liat basah di halaman rumah panggung ibunya, pada bau kopi sangrai yang mengepul setiap pagi, dan pada jerit peluit kawan-kawannya di lereng jurang.
"Gerbang cahaya keemasan itu mulai berputar mengecil di hadapan mereka, mengeluarkan desau halus pertanda dimensi akan segera terkunci rapat."
─── 🧭 🕌 🧭 ───
BAGIAN 02: SENTUHAN TERAKHIR DAN WANGI BUNGA KEMUNING
Air Mata di Kerah Jaket Oranye Sang Pendaki
━━━━ 👣 ━━━━
Ghazi menatap Kemuning dengan tatapan yang dipenuhi perih yang teramat dalam. Dadanya serasa dihantam palu godam cadas belerang. Napasnya tersengal-sengal di tengah tipisnya oksigen pegunungan, tetapi rasa sesak yang meremukkan dadanya malam itu sama sekali bukan karena kelelahan raga. "Kemuning... aku tak sanggup kehilanganmu lagi..."
Dua kata terakhir itu bergetar hebat. Ingatan akan pertemuan pertama mereka di hutan lumut yang angker, saat kabut putih pekat menelan jalur pendakian dan hampir merenggut nyawanya ke dalam jurang cadas mati, melintas laksana kilat. Kala itu, tangan halus beraroma kembang kantil itulah yang menarik kerah ranselnya dari maut. Dan selama tujuh hari yang terasa bagai mimpi di antara celah waktu, gadis dari alam tak kasatmata itu telah merawat lukanya, mengajarinya membaca bahasa angin lereng, dan merajut benang-benang cinta yang paling tulus yang pernah dirasakan seorang manusia.
Kemuning melangkah mendekat. Langkah kakinya seringan kapas yang terapung di atas permukaan cadas terjal. Selendang songket tenun emas yang melingkari tubuhnya berkibar lambat, menari bersama hembusan kabut yang keperakan. Jemari lentiknya yang dingin membelai kedua pipi Ghazi dengan kelembutan yang tak terlukiskan kata-kata. Kulit pipi Ghazi yang kasar dan tergores ranting semak cantigi terasa hangat di bawah sentuhan dingin surgawi sang putri. Air matanya menetes jatuh di kerah jaket oranye Ghazi—jaket penyelamat bertuliskan SAR Gabungan yang telah kusam dan bernoda tanah lumpur.
Tetesan air mata itu terasa membakar di balik kain tebal berbulu angsa. Tetesan air mata dari makhluk keabadian untuk seorang pemuda fana.
"Duniaku ada di balik tirai kabut ini, Ghazi..." suara Kemuning terdengar lirih, namun merdu bagai alunan seruling bambu perindu di heningnya malam Pagaralam. "Tapi duniamu ada di bawah sana. Ada ibumu yang menunggumu pulang, ada kawan-kawan setiamu yang membutuhkan bimbinganmu. Jangan korbankan baktimu pada mereka demi diriku."
"Tapi bagaimana dengan kita, Putri? Bagaimana dengan cinta yang baru saja kita temukan?" suara Ghazi tercekat oleh tangis yang tak tertahan. Tangannya yang mengenakan sarung tangan gunung bertali karabiner berusaha menggenggam jemari dingin itu, takut bila ia melepaskannya sedikit saja, sosok di hadapannya akan terurai menjadi kabut embun fajar.
Kemuning tersenyum tipis—senyuman yang mengiris kalbu siapa pun yang melihatnya, sarat kepasrahan agung seorang putri ningrat yang memahami titah semesta. "Cinta kita tidak berakar pada raga fana, Ghazi. Ia telah terpatri di inti kawah Dempo ini. Selama puncak ini masih berdiri, jiwaku adalah milikmu."
"Cinta kita tidak berakar pada raga fana, Ghazi. Ia telah terpatri di inti kawah Dempo ini. Selama puncak ini masih berdiri, jiwaku adalah milikmu."
─── 🧭 🕌 🧭 ───
BAGIAN 03: CERMIN MEMORI DI DINDING KABUT
Jejak Tujuh Hari di Antara Dua Dimensi Waktu
━━━━ 👣 ━━━━
Kabut tebal yang berputar perlahan di bibir kawah seolah menjelma menjadi cermin raksasa masa lalu. Di dinding-dinding uap putih itu, bayangan kenangan mereka berkelebat satu demi satu. Ghazi teringat malam ketika badai menerjang Pos Empat. Ketika itu, tim SAR yang dipimpinnya terpecah dalam misi mencari seorang pendaki pemula yang hilang. Di tengah hujan badai dan suhu minus dua derajat, Ghazi tergelincir menuruni tebing curam menuju kawah mati.
Di sanalah keajaiban itu bermula. Di titik nadir ketika hipotermia mulai membekukan darahnya dan detak jantungnya melemah, ia tidak mati kedinginan. Ia terbangun di sebuah balairung batu pualam yang megah, dinaungi rimbun pohon-pohon beringin berdaun perak yang tak pernah ada dalam peta topografi mana pun di dunia. Putri Kemuning duduk di samping pembaringannya, membasuh keningnya dengan air dari Mata Air Tujuh Belanga yang suci.
Tujuh hari di dimensi istana kabut itu terasa bagai sejuta tahun keindahan. Bersama Kemuning, Ghazi belajar bahwa Gunung Dempo bukan sekadar gundukan tanah vulkanik yang menjulang tinggi, melainkan sebuah prasasti hidup yang bernapas. Hutan lumutnya adalah urat nadi kesadaran purba, dan kawahnya adalah tungku api yang menjaga kehangatan pulau Andalas dari bencana zaman purba.
Kemuning telah memperlihatkan kepadanya bagaimana bunga edelweiss mekar bukan untuk dipetik manusia, melainkan sebagai tanda kepatuhan bumi pada langit. Mereka telah berjalan beriringan di tepi padang ilalang emas yang tak berujung, berbicara tentang bintang-bintang, tentang kesunyian jiwa, dan tentang kerinduan seorang putri yang terkurung dalam waktu tak bertepi terhadap denyut kehidupan dunia nyata yang penuh tawa dan tangis.
"Di alamku, Ghazi, tidak ada air mata, tetapi juga tidak ada debar jantung yang menghidupkan harapan," bisik Kemuning saat itu. "Segalanya abadi, namun keabadian tanpa perubahan adalah sepi yang teramat sunyi. Dan kau... kau membawa percik kehidupan manusia yang fana itu ke dalam hatiku."
Kini, kenangan-kenangan itu berdesak-desakan menuntut tempat di kepala Ghazi. Apakah ia sanggup meninggalkan semua memori suci itu untuk kembali ke rutinitas dunia fana yang bising, melelahkan, dan penuh kepalsuan? Namun Kemuning menatapnya dengan kejernihan nurani yang tanpa noda: cinta sejati bukanlah tentang membelenggu jiwa dalam sangkar keabadian, melainkan mengizinkannya menjadi pelita bagi mereka yang masih meraba dalam gelap.
"Cinta sejati bukanlah tentang membelenggu jiwa dalam sangkar keabadian, melainkan mengizinkannya menjadi pelita bagi mereka yang masih meraba dalam gelap."