KABUT EMAS GUNUNG DEMPO

Amrullah Ibrahim
Chapter #29

Rengkuhan di Balik Kabut Dempo

# Rengkuhan di Balik Kabut Dempo

Kisah Cinta Abadi Ghazi & Putri Kemuning Alamiyah Melintasi Batas Fana dan Kayangan. **Latar**: Gunung Dempo (3.173 mdpl), Pagar Alam, Sumatra Selatan.

─── ❖ 🕌 ❖ ───


## Pembukaan: Bisikan di Balik Tirai Daun Teh

*Pagar Alam, Aroma Kayu Manis Hutan, dan Bayangan Raksasa Bermahkota Kabut* (1.520 mdpl - Hamparan Kebun Teh Lereng Dempo)

━━━━ 👣 ━━━━

Kala kabut tebal lembah turun menggulung pucuk-pucuk perdu teh di lereng Besemah, udara selalu berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih berat daripada sekadar embun dingin pegunungan biasa. Ada aroma tanah humus basah bercampur getah kulit kayu manis hutan yang merayap perlahan di sela pori-pori kulit, membawa gaung masa lalu purba yang tak pernah tercatat dalam lembaran peta mana pun. Bagi para ibu pemetik pucuk daun teh di Kampung Empat, kabut itu hanyalah selimut kerja harian yang menyapa buku-buku jemari mereka setiap fajar menyingsing. Namun bagi Ghazi Al-Fatih, kabut pekat itu laksana daun pintu raksasa yang tak henti-hentinya mengetuk dinding kesadarannya yang paling sunyi.

Tiga tahun penuh belakangan ini, setiap kali matanya terpejam dalam tidur lelap di tengah bising deru knalpot kota metropolitan yang menyesakkan dada, Ghazi selalu dibangunkan oleh serangkaian tanda yang sama: desau angin dingin yang menusuk hingga ke tulang rusuk, gemerisik dedaunan cantigi purba, dan aroma wangi kembang cempaka basah yang anehnya tak pernah ia temukan di toko bunga mana pun di dunia fana. Dalam mimpi-mimpi panjangnya, ada sepasang mata bercahaya zamrud bening yang menatapnya penuh kerinduan dari balik tirai emas yang bergetar di tepi kawah berbelerang. Tatapan itu bukan tatapan hantu pengganggu, melainkan panggilan dari suatu jiwa yang seolah telah mengenalnya jauh sebelum raga kasarnya terlahir ke muka bumi.

Maka pada pekan pertama bulan purnama kesepuluh, Ghazi meletakkan semua tumpukan dokumen riset ekologinya, melipat peta topografi Bukit Barisan, dan mengemas ransel ekspedisi seberat dua puluh lima kilogram. Ia menempuh perjalanan darat berliku melintasi punggungan Sumatra bagian selatan. Ketika fajar pertama perlahan menyingkap siluet Gunung Dempo yang gagah menjulang setinggi 3.173 meter di atas permukaan laut, bulu kuduk Ghazi meremang seketika. Sang raksasa bermahkota selendang awan putih itu seakan-akan sedang menundukkan kepala, memandang seorang penziarah kecil yang akhirnya tiba untuk menunaikan janji suci yang belum pernah terucap dalam bahasa lisan manusia.

Di pondok registrasi terakhir di batas aspal Kampung Empat, seorang sesepuh adat Besemah yang berambut perak sempat memandang lekat kalung tali prusik berbandul peluit kompas kuningan yang menggelantung di dada Ghazi. Sang kakek tua terdiam amat lama, mengisap tembakau lintingannya dalam-dalam hingga bara merahnya menyala di keremangan fajar, lalu menepuk pundak Ghazi dengan tatapan yang sarat makna gaib. 'Hutan Dempo ini bukan sekadar tumpukan kayu, lumut, dan batu cadas, anak muda,' bisik sang sesepuh pelan, suaranya parau berpadu dengan gemersik ranting bambu yang diguncang angin lereng. 'Bila kelak di batas pelataran kau mencium wangi bunga cempaka yang tak bertangkai, jangan sekali-kali kau lari ketakutan, dan jangan pula berlaku sombong. Itu pertanda kau sedang melangkah di pekarangan rumah agung mereka yang tak berbayang.'

Ghazi hanya mengangguk takzim seraya merapatkan resleting jaket windproof-nya. Di dalam rongga dadanya, ada debaran ganjil yang tidak bersumber dari kecemasan ataupun rasa ngeri, melainkan kepasrahan seorang musafir yang merasa bahwa langkah kakinya kali ini tidak sedang pergi mendaki, melainkan sedang melangkah pulang ke pelukan sebuah takdir yang telah digariskan sejak permulaan masa.

Ia melangkahkan kaki melewati plang batas rimba. Di belakangnya, deretan rumah panggung kayu khas Besemah perlahan tenggelam di balik gumpalan uap putih tebal, meninggalkan dunia manusia dengan segala hiruk-pikuknya yang fana.

"Hutan Dempo bukan sekadar tumpukan kayu, lumut, dan batu cadas. Bila di batas pelataran kau mencium wangi bunga yang tak bertangkai, itu pertanda kau melangkah di pekarangan rumah agung mereka yang tak berbayang." — *Tetua Adat Kampung Empat Besemah*

─── 🧭 🕌 🧭 ───


## Bagian 01: Jejak Langkah di Hutan Lumut Abadi

*Pendakian Menembus Lorong Waktu, Dinding Cadas, dan Hening yang Mengikis Batas Fana* (2.480 mdpl - Jalur Pendakian Shelter Dinding Cadas)

━━━━ 👣 ━━━━

Matahari fana mendadak lenyap begitu kedua telapak kaki bot Ghazi menyeberangi parit batas kebun teh. Rimba hujan pegunungan Sumatra menyambutnya dengan kubah dedaunan raksasa yang demikian rapat dan pekat, hingga seberkas cahaya surya pun harus berkelahi keras menembus kelembapan lumut hijau zamrud. Lumut-lumut itu menutupi segala penjuru pandang: membalut batang pohon cantigi purba yang berkeluk meliuk seperti ular naga yang tertidur pulas sejak berabad-abad lalu, menutupi bongkahan batu vulkanik hitam berpori, hingga menebalkan lantai tanah gembur yang membal lembut setiap kali ditekan oleh langkah kakinya.

Keringat dingin membasahi punggung Ghazi di balik tiga lapis pakaian teknikalnya. Ransel ekspedisi yang menekan tulang belikatnya terasa bagaikan sebuah jangkar duniawi yang berat, seolah terus berusaha menariknya kembali ke dataran rendah yang aman. Namun, seiring bertambahnya angka pada altimeter jam tangannya—melewati pos Shelter Satu yang basah kuyup oleh tetesan embun daun pakis gajah, membelah lorong terjal akar belitan di Shelter Dua, hingga mendekati kawasan tebing Dinding Cadas—kebisingan pikiran duniawi perlahan-lahan luntur terkikis hening.

Kicauan riuh burung poksai mantel dan tangisan lutung kelabu di batas perkebunan kini sepenuhnya tergantikan oleh sunyi yang sangat agung. Tidak ada deru kendaraan, tidak ada dengung mesin pabrik, tidak ada suara manusia lain di jalur pendakian hari itu. Yang tersisa hanyalah detak jantung Ghazi sendiri yang berdentam ritmis di dalam dada, desah napasnya yang mengepulkan uap putih hangat ke udara dingin, serta gemeretak ranting mati yang patah terinjak di bawah tumitnya.

Kala matahari senja menumpahkan warna lebam keunguan di ufuk barat yang jauh, Ghazi akhirnya tiba di bawah ceruk Dinding Cadas pada ketinggian 2.480 meter di atas permukaan laut. Di tempat ini, angin jurang berhembus liar tanpa penghalang, mencambuk tebing batu andesit kelabu dan merontokkan butir-butir air es dari sulur lumut janggut purba. Dengan jemari yang mulai kaku digigit hawa dingin yang menusuk tulang, Ghazi mendirikan tenda dome kecil berwarna jingganya di atas teras batu yang terlindung dari serbuan badai. Ia menyalakan kompor gas parafin mini, merebus air jahe merah hangat, lalu membiarkan punggungnya yang letih bersandar pasrah pada dinding batu cadas yang membeku.

Tepat pada tengah malam, ketika jarum kompas kuningan yang tergantung di dadanya mendadak berputar lambat dalam gerakan melingkar tanpa arah utara magnetik yang stabil, keajaiban pertama Gunung Dempo menampakkan wujudnya. Di luar dinding tenda, lolongan angin badai yang sedari sore mengamuk mendadak reda tanpa menyisakan desau sedikit pun. Suasana menjadi hening mutlak, laksana ruang semadi di perut bumi. Dan di tengah keheningan yang tak wajar itu, alunan dengung halus serupa petikan dawai kecapi bambu purba terdengar mengalun dari celah rekahan jurang yang menganga di samping tempat berkemahnya.

Ghazi menyibak ritsleting tendanya dengan napas tertahan dan tangan gemetar. Di bawah bentangan kubah langit malam yang bersih tanpa sebutir awan pun, hamparan belantara hutan lumut di sekelilingnya berpendar lembut oleh jutaan spora fungi bercahaya hijau toska keperakan. Kilauan spora itu melayang-layang di udara laksana kunang-kunang kayangan yang menari di antara sulur-sulur pohon cantigi. Dan tepat saat itu pula, aroma wangi bunga cempaka basah yang manis menyengat lembut hidungnya—aroma yang sama persis dengan yang hadir dalam mimpi-mimpinya selama tiga tahun terakhir. Ghazi menatap ke arah punggungan puncak yang menjulang gelap di atasnya, menyadari bahwa perjalanan ini tak lagi sekadar pendakian raga fana, melainkan sebuah ziarah penyerahan jiwa.

"Ada hening yang bukan sekadar ketiadaan suara manusia, melainkan kehadiran suatu kesadaran agung yang menatapmu dengan seribu mata tak kasatmata di balik keremangan rimba." — *Catatan Jurnal Ghazi di Dinding Cadas*

─── 🧭 🕌 🧭 ───


## Bagian 02: Tirai Kabut dan Danau Kawah Tujuh Warna

*Membelah Pelataran Edelweiss Menuju Retakan Gaib di Tepi Kawah Belerang* (3.050 mdpl - Kawah Merapi & Danau Kawah Dempo)

━━━━ 👣 ━━━━

Sebelum kokok ayam jantan pertama di desa-desa lembah sempat memecah keheningan fajar, Ghazi telah meninggalkan tendanya di Dinding Cadas. Ia mendaki lereng bebatuan lepas yang licin oleh tetesan embun beku, menggunakan kedua tangan dan kakinya untuk memanjat dinding cadas terjal yang menghadang di batas vegetasi. Napasnya memburu, paru-parunya bekerja keras menyedot oksigen yang kian tipis di ketinggian hampir tiga ribu meter. Namun tekad di dalam batinnya membara lebih panas daripada rasa lelah yang menggerogoti persendiannya.

Begitu tubuhnya berhasil merangkak naik melewati bibir punggungan terakhir, matanya disambut oleh hamparan Pelataran Dempo yang legendaris. Di pelataran luas ini, ribuan rumpun bunga anaphalis javanica—edelweiss abadi yang putih keperakan—tumbuh tegak berserakan di atas pasir vulkanik kelabu. Bunga-bunga abadi itu berselimut bulu halus penahan beku, bergoyang perlahan disapu angin pagi yang membawa hawa dingin dari Samudra Hindia. Di ujung pelataran, menjulang bibir kaldera raksasa tempat danau kawah purba bernaung di bawah kepulan asap belerang.

Ghazi melangkah perlahan menuju bibir tebing kawah utama. Ketika ia melongokkan pandangannya ke dasar kawah, hatinya berdegup kencang bagai dipukul palu godam. Danau Kawah Dempo yang terbentang di bawahnya bukanlah kubangan belerang kelabu yang mati. Di bawah terpaan sinar matahari pagi yang baru saja menyembul di batas timur, permukaan air danau purba itu berputar dalam tarian gradasi warna yang menakjubkan nalar: hijau toska zamrud di tepian tebingnya, biru nila pekat di palung terdalamnya, dan selaput keemasan berkilauan di bagian tengah yang bergolak tanpa riak kasar.

Lihat selengkapnya