Garis Takdir di Puncak Dempo
Kembali ke Pelukan 13 Sahabat di Bibir Kawah Dempo. "Di batas antara tanah cadas dan hamparan langit belerang, tiada ikatan yang lebih kokoh daripada mereka yang menolak saling melepaskan di dalam pekatnya kabut."
─── ❖ 🕌 ❖ ───
Bagian 01: Badai di Bibir Cadas dan Tubrukan Rasa Syukur
Ketika keputusasaan selama tiga puluh enam jam meledak menjadi jerit tangis di pelataran puncak.
━━━━ 👣 ━━━━
Kabut putih yang menggantung tebal di atas dinding cadas Gunung Dempo mendadak terbelah oleh embusan angin dingin berkecepatan tinggi. Tiupan angin kawah berdesir bagai lolongan serigala purba yang mengitari kaldera setinggi 3.173 meter di atas permukaan laut. Bau belerang yang menyengat hidung bercampur dengan kelembapan purba dari arah jurang kawah mati. Tiga puluh enam jam sebelumnya, tempat ini tak ubahnya kuburan terbuka bagi harapan empat belas anak manusia yang nyaris menyerah pada kepungan badai es, kabut buta, dan bisikan gaib sang gunung kramat. Setiap jengkal batu andesit berlumur jelaga yang mereka raba dengan jemari membeku hanya menyisakan sunyi, kehampaan, dan ketakutan paling biadab bahwa salah satu saudara terbaik mereka telah ditelan selamanya ke dalam perut bumi Pagaralam.
Tiga puluh enam jam tanpa tidur, tanpa kepastian, dan tanpa makanan yang sanggup mereka kunyah dengan wajar. Tenggorokan mereka kering oleh kepedihan, sementara doa-doa terus dipanjatkan hingga air mata mengering di pelupuk mata. Mereka telah menyisir jalur cadas berulang kali, merayap di tepi jurang dengan penerangan headlamp yang temaram, memanggil satu nama yang sama sampai pita suara mereka robek dan berdarah.
Lalu, di saat fajar mulai memucat di ufuk timur dan asa mereka nyaris remuk menjadi abu keputusasaan, sesosok bayangan lunglai melangkah keluar dari pekatnya tirai kabut putih.
Bayangan itu bergerak perlahan, tertatih namun mantap di atas undakan batu tajam yang licin berembun. Langkah kakinya berat menapak kerikil cadas, namun sorot matanya yang sayu menyala dengan ketenangan ganjil—sebuah kedamaian transendental yang tak pernah mereka saksikan seumur hidup pada manusia fana yang baru saja tersesat di alam liar. Kabut putih pekat yang biasanya menelan pandangan seolah-olah membuka jalan baginya, merenggang dengan patuh bagai tirai istana yang disibakkan oleh tangan tak terlihat.
Sebelum kabut sempat merapat kembali menutupi celah tebing, sepasang mata elang milik Qoifun Habibillah menangkap siluet jaket windbreaker hitam-oranye yang terkoyak di beberapa bagian lengan.
"GHAZIII!" lolongan Qoifun merobek kesunyian pelataran cadas.
Teriakan itu bukan sekadar panggilan biasa; itu adalah ledakan kepedihan, jeritan dari palung jiwa seorang sahabat yang selama dua hari dua malam merasa jiwanya telah tercabut separuh. Suara itu begitu menggelegar hingga memantul di dinding-dinding kaldera Dempo, mengejutkan kawanan burung endemik yang bertengger di balik dahan cantigi kerdil.
Tubuh Ghazi seketika diterjang oleh pelukan erat Qoifun Habibillah dan Fadhilul Amal. Ketiga lelaki itu terhempas ke tanah kerikil cadas dalam tangisan haru yang tak lagi mereka sembunyikan.
Bebatuan kecil menghunjam lutut dan siku mereka, merobek lapisan celana lapangan dan menorehkan luka memar, tetapi tak ada satu pun di antara mereka yang peduli pada nyeri fisik. Qoifun membenamkan wajahnya ke kerah jaket Ghazi yang anehnya beraroma wangi bunga hutan yang tak wajar—aroma kelopak kemuning basah yang semerbak menindih anyirnya uap belerang kawah. Sementara itu, kedua lengan kekar Fadhilul Amal mengunci tubuh Ghazi dari samping dengan kekuatan seorang pria yang bersumpah tak akan pernah melepaskan nyawa saudaranya lagi ke cengkeraman maut.
"Kau gila, Zi! Kau membuat kami hampir mati jantungan!" isak Qoifun sambil menepuk-nepuk punggung jaket Ghazi dengan keras. Tangannya gemetar liar, memukul jaket itu bukan karena amarah, melainkan demi meyakinkan akal sehatnya sendiri bahwa sosok yang ia peluk adalah daging dan darah yang nyata, bukan bayang-bayang ilusi gunung. Suaranya serak bergetar, tercekik oleh air mata panas yang meleleh di atas pipinya yang tergores duri ranting cantigi. "Tapi kau hebat... kau luar biasa... kau masih hidup, demi Allah kau masih hidup..."
Fadhilul Amal tak sanggup menyusun kalimat panjang yang runtut. Dadanya naik-turun dalam sesak napas yang liar, dihantam gelombang kelegaan yang begitu dahsyat hingga membuatnya tersengal-sengal. Keningnya menempel erat di pelipis Ghazi yang sedingin es, namun uap napas hangat yang berhembus teratur dari bibir pemuda itu membuktikan bahwa denyut kehidupan masih berdenyut gagah di dalam dadanya. "Kami mencarimu sampai ujung tebing Merapi, Ghazi... kami memanggil namamu sampai kerongkongan kami berdarah dan kepala kami pusing berputar... jangan pernah lakukan ini lagi pada kami, brengsek... jangan pernah tinggalkan kami lagi..."
Ghazi tergeletak pasrah di antara kedua sahabat karibnya, membiarkan tubuhnya ditekan ke tanah cadas yang basah oleh tetesan embun dan air mata. Pandangannya berputar sejenak menatap langit Dempo yang kelabu keperakan. Selama berjam-jam berada di alam yang membentang di balik tabir mata manusia—ruang hampa waktu yang sunyi dan memesona—ia sempat mengira tak akan pernah lagi merasakan kasarnya kerikil bumi, dinginnya tiupan angin Sumatera Selatan, atau dekapan hangat penuh cinta dari manusia fana.
Ketika kesadaran penuh itu membanjiri relung sanubarinya, pertahanan batin Ghazi yang selama ini ditopang oleh ketabahan baja akhirnya runtuh berkeping-keping. Air mata mengalir deras dari sudut matanya, membasahi noda jelaga, debu vulkanik, dan sisa lumpur cadas yang menempel di pipinya.
─── 🧭 🕌 🧭 ───
Bagian 02: Lingkaran Persaudaraan Empat Belas Jiwa
Satu per satu ikatan yang teruji di ambang maut kembali bersatu utuh tanpa ada yang tercecer.
━━━━ 👣 ━━━━
Langkah-langkah sepatu gunung berderap panik mendekat dari segala penjuru pelataran. Suara deru napas yang terengah-engah, gesekan gaiter di celana lapangan, dan pekikan tak percaya berbaur riuh dalam udara dingin ketinggian tiga ribu meter. Para pendaki yang sebelumnya tersebar menyisir punggungan kini berlari tanpa memedulikan risiko tergelincir di atas batu andesit yang curam.
Satu per satu sahabat-sahabatnya memeluk Ghazi bergantian: Ghaffar, Rafan, Rifki, Fardhan, dan Zahirul. Sementara Fariha, Qonita, Nashirah, Baiza, Ghasia, dan Walida berdiri melingkar dengan senyuman terindah bersimbah air mata syukur.
Ghaffar, lelaki yang bertubuh paling gempal dan tegap di antara mereka semua, berlutut dengan suara berdebum keras di atas cadas. Dengan sepasang tangannya yang kasar berbalut sarung tangan polar berlumur tanah merah, ia mengangkat kepala Ghazi perlahan, memeriksa tempurung kepala dan ruas tulang lehernya untuk memastikan sahabatnya itu tidak mengalami cedera fatal. Begitu mata mereka bertatapan dalam jarak sejengkal, ketegaran Ghaffar yang selama dua hari memimpin barisan fisik penyisir jurang runtuh tanpa sisa. Tangis lelaki perkasa itu pecah seketika. Ia menarik Ghazi ke dalam dekapannya yang luar biasa kuat, hingga tulang rusuk Ghazi berderak pelan tanda kehangatan yang tak terbantahkan.
"Kau masih bernyawa, Bocah Keras Kepala," bisik Ghaffar parau di telinga Ghazi, pundaknya berguncang tak tertahankan. "Ranselmu boleh hilang ditelan jurang, logistikmu boleh lenyap, tapi nyawamu milik kita bersama. Jangan pernah kau berani mati mendahului kami! Kau dengar itu?"
Rafan merangsek maju berikutnya. Matanya merah padam dan bengkak karena kurang tidur selama dua malam berturut-turut. Tangannya yang memegang peta topografi dan kompas Suunto bergetar saat menyentuh pergelangan tangan Ghazi. Selama pencarian, Rafanlah yang paling tersiksa rasa bersalah karena dialah navigator yang menentukan jalur pergerakan sebelum badai kabut memisahkan mereka. Ia memeriksa nadi Ghazi, menatap telapak kakinya yang masih terbungkus sepatu gunung berlumpur, memastikan bahwa sahabatnya itu benar-benar menjejakkan kaki di tanah duniawi dan bukan arwah penunggu kawah yang menyerupai Ghazi. Begitu menyadari kehangatan denyut nadi yang stabil, Rafan bersujud di atas tanah cadas, mencium bumi perkemahan sembari menggumamkan takbir berkali-kali dalam tangis tak terbendung.
Rifki, sang petugas medis regu yang sedari tadi menggenggam tas P3K dengan jemari kaku, segera berlutut di sisi kanan Ghazi. Dengan ketelitian terlatih, Rifki memeriksa pupil mata Ghazi dengan senter pena kecil, memeriksa pernapasan, serta meraba suhu tubuh di balik jaketnya. "Pupilnya merespons normal... suhu tubuhnya turun tapi tidak mengalami hipotermia stadium lanjut. Demi Tuhan yang menguasai nyawa manusia, bagaimana mungkin kau bertahan dua malam di ketinggian ini tanpa shelter, tanpa sleeping bag, dan tanpa api unggun, Zi? Ini di luar nalar medis! Ini mukjizat mutlak!"
Fardhan, sosok pemuda pendiam yang biasanya paling tenang dan jarang mengumbar emosi, merangkul pundak Ghazi dari belakang. Jemarinya mencengkeram kain jaket Ghazi begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Kacamata minusnya berembun tebal oleh uap napas dan tetesan air matanya sendiri. Fardhan tidak mengucapkan satu patah kata pun, namun tetesan air matanya yang jatuh menimpa bahu Ghazi berbicara lebih lantang daripada seribu baris puisi tentang arti sebuah persaudaraan.
Di sekeliling lingkaran pemuda itu, keenam pendaki perempuan berdiri melingkar dengan dada yang berdegup kencang oleh kelegaan yang membuncah. Fariha menangkupkan kedua tangannya di depan dada, bibirnya tak henti melafalkan selawat nabi dan ungkapan tasbih, sementara air matanya mengalir deras membasahi syal rajut toska yang melilit lehernya. Qonita menutupi separuh wajahnya dengan ujung buff tebal, menangis tersedu-sedu tanpa suara sembari menyandarkan keningnya ke pundak Baiza yang berdiri tegak dengan senyuman bergetar.
Nashirah yang cekatan segera menurunkan ransel daypack-nya, mengeluarkan termos vakum stainless steel berisi air jahe hangat yang telah mereka rebus dengan susah payah di tengah terpaan angin badai tadi malam. Tangannya dengan sigap menyiapkan cangkir seng enamel, siap memberikan asupan cairan pertama bagi sang penyintas. Sementara itu, Ghasia dan Walida bersimpuh di atas kerikil cadas yang dingin, menatap Ghazi dengan tatapan mata yang dipenuhi rasa syukur tak terhingga, seolah-olah mereka baru saja menyaksikan kebangkitan seseorang yang telah dicatat hilang di daftar takdir.
"Terima kasih, kawan-kawan..." suara Ghazi serak menahan haru. Kerongkongannya terasa bagai tergores pasir kasar, namun setiap kata meluncur dengan getaran ketulusan yang menggetarkan dada siapa pun yang mendengar. "Terima kasih sudah tidak meninggalkanku di gunung ini."